SUARA KARYA
Meningkatkan Efektivitas Pemerintahan
Oleh John Palinggi
Rabu, 27 April 2005
Hingga kini penilaian sumir dari sementara pengamat terhadap
kinerja pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) - Jusuf Kalla (JK) masih
sering kita dengar. Penilaian itu, antara lain datang dari sekelompok pengamat
ekonomi yang menamakan diri Tim Indonesia Bangkit. Menurut penilaian sementara
orang, SBY tidak menepati janjinya untuk melakukan perubahan. Kemudian SBY
mengecewakan rakyat, berkaitan dengan kenaikan harga BBM. Dan, SBY tak serius
dalam memimpin pemberantasan korupsi, karena yang diusut hanya koruptor kelas
teri.
Harapan masyarakat terhadap pemerintahan SBY-JK memang sangat
besar. Karenanya, ketika harapan itu tidak terpenuhi, masyarakat kecewa. Maka,
berbagai kecaman pun ditumpahkan kepada pemerintahan SBY-JK. Saya kira kecaman
dan kritik-kritik yang tajam tersebut perlu kita pahami sebagai kecintaan
masyarakat terhadap pemerintahan SBY-JK. Dengan kritik dan koreksi itu,
pemerintahan SBY-JK diharapkan akan semakin sungguh-sungguh mengupayakan
kesejahteraan rakyat dan melakukan perubahan keadaan ke arah yang lebih baik.
Tentu saja, saya tidak dalam kapasitas untuk menyanggah penilaian
masyarakat. Saya cenderung mencoba untuk melihat dan menghargai apa yang sudah
dilakukan oleh pemerintah. Secara jernih harus kita akui bahwa pemerintahan
SBY-JK kini masih menerima beban yang sangat berat. Bagaimana tidak, utang kita
sekitar Rp 1.800 triliun, dengan kondisi masyarakat yang terengah-engah karena
beban ekonomi. Penyelundupan begitu sistematis, korupsi super merajalela dan
masalah TKI juga tak kalah memrihatinkan. Sementara itu terjadi
ketidaksepahaman di antara anak bangsa yang dipercaya mengurus negara. Karena
itu, ironis sekali, kita mencaci maki Presiden, sementara kita sendiri tidak
produktif.
Kondisi seperti itulah yang diwarisi pemerintahan SBY-JK dari
pemerintahan sebelumnya. Jadi, mana mungkin mereka bisa mengubah keadaan dalam
waktu hanya tujuh bulan hingga sekarang ini? Saya kira tidak adil terlalu
menyalahkan pemerintahan SBY-JK. Banyak orang tidak sabar, bahkan cenderung
memaki-maki pemerintahan SBY-JK. Pernahkah di dunia ini ada orang yang mampu
mengubah keadaan menjadi lebih baik hanya dalam tempo tujuh bulan atau setahun?
Tentu tidak pernah.
Jadi, saya kira, akan lebih bijaksana kalau kita memberi kesempatan
kepada SBY-JK untuk melanjutkan upayanya mewujudkan perubahan. Kenapa? Sekarang
ini beban masyarakat sangat berat akibat daya beli menurun. Persatuan dan
kesatuan antarwarga bangsa tidak terlalu kondusif. Belum lagi, cadangan
keuangan kita sangat memrihatinkan. Sementara cicilan utang harus dibayar
dengan defisit cicilan utang yang tertunda dari anggaran 2004 mencapai Rp 40
triliun.
Jadi, kalau sampai ada orang berpikir bahwa SBY-JK tidak pantas
lagi duduk di kursi presiden dan wakil presiden, terus terang, saya ngeri;
negara ini bisa pecah. Mungkin kita kecewa dengan keadaan yang belum kunjung
baik, tapi kita semua harus tetap menjaga persatuan dan persatuan. Caci-maki
dan kritikan yang tidak konstruktif hanya akan memperkeruh keadaan. Inilah yang
dihadapi pemerintahan SBY-JK. Yang jelas, bagi SBY-JK, layar sudah terkembang.
Saya kira pemerintahan SBY-JK dengan segenap jajarannya siap menerima kondisi
seperti itu, tanpa menyalahkan pemerintah sebelumnya. SBY sendiri telah
menghindarkan diri dari menyalahkan pemerintah sebelumnya.
Tentu, itu sikap yang baik. Setiap anak bangsa sebaiknya jangan
mudah mencaci-maki pemimpinnya, termasuk mencaci-maki pemerintahan yang sah.
Soal kerusakan negara di sana-sini, itu bukan monopoli kesalahan presiden.
Kerusakan negara di sana-sini, bukan hanya tanggung jawab presiden. Artinya,
ada menteri-menteri dan bagian-bagian pelaksana seperti gubernur, walikota, dan
bupati yang tidak bekerja secara efektif. Mereka harus juga bertanggung jawab.
Hasil pemeriksaan BPK menunjukkan tak kurang dari 216 bupati dan
walikota melakukan korupsi. Tak kurang dari 162 BUMN melakukan penyimpangan
keuangan. Dua puluh tujuh institusi negara, sektoral juga melakukan
penyimpangan. Apakah semua itu bisa beres selama enam bulan? Tidak.
Memikirkan Partai
Harapan dan tuntutan rakyat terhadap pemerintahan SBY memang besar.
Di republik ini ada kebebasan bagi warganya untuk berkeluh-kesah, ada kebebasan
untuk melakukan kritik. Tapi, keluh kesah dan kritik itu tidak boleh meniadakan
upaya-upaya yang sudah dilakukan pemerintahan SBY.
Masalahnya, memang, banyak pelaksana pemerintahan belum melakukan
tugasnya secara maksimal. Sejumlah pembantu presiden (menteri) cenderung hanya
memikirkan partainya. Padahal, sebagai pembantu presiden mestinya mereka
konsentrasi membantu Presiden SBY. Semua aparat birokrasi mestinya berupaya
meningkatkan efektivitas pemerintahan. Kepercayaan yang diberikan SBY kepada
para pembantunya mestinya direspon dengan kesediaan untuk menjalankan tugas
dengan sebaik-baiknya. Mereka mestinya loyal pada Presiden SBY.
Kasus llegal logging, misalnya, itu tidak akan terjadi jika
instrumen kewilayahan melaksanakan fungsi pengawasan secara baik, sesuai UU No
41 tahun 1999 mengenai Kehutanan. Lini terdepan adalah kecamatan, kabupaten dan
walikota. Kalau di wilayahnya ada kayu yang dihanyutkan lewat sungai, mestinya
diselidiki dari mana kayu-kayu itu. Kalau mereka diam saja, berarti fungsi
pengawasan yang diamanatkan undang-undang, tidak jalan.
Memang sudah terlalu banyak orang kini tidak merasa malu melakukan
korupsi. Banyak pejabat tidak merasa malu karena gagal melaksanakan tugasnya.
Banyak aparat birokrasi tidak merasa malu karena tidak bisa melaksanakan
kewajiban dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya. Keadaan pun tidak
bertambah baik, tapi sebaliknya;, bertambah buruk.
Banyaknya musibah di negeri ini mestinya kita pahami sebagai cara
Tuhan untuk mengingatkan kita agar menjadi lebih baik, mau melakukan tugas yang
diamanatkan kepada kita secara baik, dan lebih peduli kepada sesama. Krisis di
negeri ini mungkin merupakan pola Allah untuk memperbaiki bangsa ini.
Tidak mudah memperbaiki keadaan negara yang nyaris bangkrut ini.
Memperbaiki keadaan ini merupakan pergumulan yang teramat berat. Belum selesai
masalah Aceh, kini muncul masalah Nias. Bencana alam pun merembet ke
daerah-daerah lain. Ini semua membutuhkan perhatian dan ada yang harus
diberikan prioritas. Memberantas korupsi penting, tapi menolong korban bencana
alam juga tak kalah penting untuk dilakukan pemerintah.
Di sisi lain, dari musibah-musibah itu pun akhirnya kita tahu sikap
saudara-saudara kita yang sesungguhnya. Banyak saudara kita dari luar negeri
datang dengan keikhlasan, tanpa membedakan suku, bangsa, dan agama. Ini semua
bisa kita lihat hikmahnya.
Presiden SBY sudah memulai tugasnya dengan baik. Dalam rangka
mendorong, memotivasi upaya pemberantasan korupsi, SBY pun mengunjungi
kepolisian, Kejaksaan Agung, dan mengunjungi Bea Cukai. Maksudnya, supaya
mereka melakukan tugasnya secara baik. Lalu, diterbitkan Perpu mengenai
Percepatan Pemberantasan Korupsi. Kalau dengan langkah-langkah itu
pemberantasan korupsi tidak jalan juga, berarti sistem kinerja para pembantu
presiden ada yang perlu dibenahi dan disempurnakan. Dan, hak prerogatif untuk
"menyempurnakan" itu hanya ada pada presiden dan wakil presiden. Dalam tahun
ini mungkin akan ada "perbaikan".
Sebagai orang Jawa, dalam melakukan upaya-upaya perubahan SBY
tampaknya tidak ingin grusa-grusu (tergesa-gesa). Sesuai dengan namanya, Susilo
itu berarti sopan santun. Kelihatannya, dalam melakukan upaya-upaya perubahan
pun SBY tidak melupakan sopan santun. Celakanya, sikap seperti ini yang sering
diartikan orang sebagai ragu-ragu dalam mengambil kebijakan. Ia tidak ragu-ragu
mengambil kebijakan, tapi ia melakukannya dengan cermat. SBY cukup tanggap
sasmita. Ia mendengarkan dulu masukan dari para pembantunya, ia pelajari dulu
kecenderungan orang-orang di sekitarnya, lalu mengambil tindakan. SBY
membiarkan mereka jalan, sehingga nanti tahu siapa sesungguhnya yang setia
kepadanya. SBY tahu siapa-siapa yang mengkhianatinya, dan suatu saat nanti SBY
akan mengambil tindakan.
Analisis saya begitu. Enam bulan ke depan, atau sekitar bulan
Oktober kemungkinan SBY akan mengambil tindakan terhadap para pembantunya yang
tidak menjalankan tugasnya secara baik. Oktober nanti mudah-mudahan ada suara
Tuhan untuk Presiden SBY.
Saya melihat, ada menteri-menteri yang departemennya tidak diurus
tapi teriak-teriak di luar dengan memberikan pernyataan di koran mengenai
partai mereka. Kalau demikian, bagaimana loyalitasnya sebagai pegawai tinggi
negara? Bagaimana kesetiaan mereka kepada pemimpin, kesetiaan untuk melakukan
tugas yang dipercayakan kepadanya?
Hal yang mendasar dalam negara adalah pendayagunaan aparatur
negara. Bagaimana seluruh aparatur negara tanpa kecuali diarahkan kepada satu
titik bahwa mereka adalah adminstratur negara yang harus memberikan pelayanan
yang baik kepada masyarakat dan tidak mencuri uang rakyat. Sebagai
administratur negara, mereka harus sadar bahwa sumpah jabatan itu merupakan
bentuk otoritas yang diberikan Tuhan agar mereka sungguh-sungguh mau melayani
masyarakat. Jadi, gunakan otoritas yang diberikan Tuhan, melalui pemberian
kepercayaan kepada Presiden SBY, untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.
Di suatu negara yang kacau balau - negara yang penuh dengan
pencuri, perampok, maling, pembunuh, dan penuh dengan orang-orang yang menghina
orang lain, -maka penegakan hukum harus dikedepankan. Mana mungkin kita mau
menegakkan hukum kalau aparatus negara tidak mampu menertibkan dirinya sendiri?
***
(Dr John Palinggi, Ketua Paguyuban Antar-umat Beragama).
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/