Republika Selasa, 26 April 2005
Di Balik Optimisme Perekonomian Sunarsip Director of Economic Affairs, Center for Indonesian Reform Banyak prediksi menyatakan bahwa prospek perekonomian Indonesia 2005 akan semakin cerah. Pemerintah, misalnya, memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2005 (APBN-P 2005) sebesar 5,5 persen dan inflasi sebesar 7 persen. Bahkan, menurut Kepala Bappenas Sri Mulyani Indrawati, pertumbuhan ekonomi 2005 bisa mencapai 6,6 persen dan inflasi dapat ditekan hingga di bawah 6 persen. Bank Pembangunan Asia (ADB) juga mengemukakan bahwa tingkat inflasi Indonesia tahun 2005 diperkirakan hanya 5,9 persen. Sedangkan Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2005 sekitar 5,4 persen. Menurut IMF, bencana gempa dan tsunami yang melanda Indonesia bulan Desember lalu, tidak banyak mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara nasional. Kecenderungan bahwa perekonomian Indonesia akan membaik juga terlihat dari animo pelaku di sektor keuangan yang sangat berniat memburu obligasi global (global bond) yang diterbitkan pemerintah. Sebagaimana telah diberitakan bahwa global bond pemerintah senilai 1 miliar dolar AS mengalami kelebihan pemesanan (oversubscribed) hingga 2,2 miliar dolar AS karena minat yang tinggi dari investor institusi (Republika, 15/4/2005). Tren bahwa perekonomian Indonesia ke depan akan membaik juga ditunjukkan oleh kinerja sektor riil. Berdasarkan data dari Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM), nilai realisasi investasi atau penanaman modal asing langsung periode Januari-Maret 2005 tercatat sebesar 2,216 miliar dolar AS, naik 147 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2004 sebesar 895,2 juta dolar AS. Namun demikian, nilai realisasi penanaman modal dalam negeri justru turun 46 persen ke posisi Rp 4,44 triliun, dari Rp 8,33 triliun pada triwulan I-2004. Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) memperkirakan investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) neto tahun 2005 sebesar 1,1 miliar dolar AS, atau sama realisasi tahun 2004. FDI neto merupakan selisih antara investasi asing yang masuk dan yang keluar. Seiring meningkatnya investasi, menurut data dari BI, posisi kredit perbankan per Februari 2005 mencapai Rp 560,8 triliun, tumbuh 28,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2004. Berdasarkan penggunaannya, komposisi kredit terdiri atas kredit modal kerja Rp 284 triliun, konsumsi Rp 158,9 triliun, dan kredit investasi Rp 117,9 triliun. Dibandingkan bulan sebelumnya, kredit investasi tumbuh 1,5 persen atau Rp1 ,7 triliun. Berbagai prediksi ini, tentu sesuatu hal yang menggembirakan. Dengan adanya prediksi seperti ini, itu berarti bahwa terdapat sebuah kepercayaan dari para pelaku ekonomi bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh secara mengesankan. Objektivitas tampilan Namun demikian, di tengah sikap optimisme yang tinggi tersebut, hendaknya hal itu tidak membuat kita lupa diri dan kemudian lengah. Bahkan dalam beberapa hal, tampaknya kita perlu jujur dengan tampilan-tampilan yang disajikan tersebut. Yaitu, apakah angka-angka yang ditampilkan tersebut didukung oleh sebuah kondisi yang objektif yang realistis? Kemudian, kita juga perlu waspada dengan berbagai gejala yang belakangan terjadi. Mengapa hal-hal seperti ini penulis kemukakan? Penulis ingin menggarisbawahi tentang objektivitas angka-angka yang ditampilkan oleh berbagai institusi tersebut. Misalnya, apakah angka inflasi sebesar 7 persen, bahkan bisa ditekan hingga dibawah 6 persen merupakan angka yang objektif? Melihat perkembangan terakhir dimana inflasi kumulatif Januari-Maret sudah mencapai 3,19 persen dan inflasi year on year per Maret 2005 mencapai 8,81 persen, tampaknya target 7 persen (bahkan di bawah 6 persen) sebagaimana dinyatakan oleh kepala Bappenas dan ADB merupakan hal yang sulit dicapai. Terlebih lagi, penyesuaian kenaikan harga BBM belum sepenuhnya terjadi dan di tambah lagi saat ini masih terjadi gejolak eksternal cukup mengkhawatirkan. Masih terkait dengan objektifitas angka, penulis berpendapat bahwa fenomena global bond yang oversubscribed tidak sepenuhnya merupakan bukti kuatnya permintaan atas global bond yang diterbitkan pemerintah. Meski momentum penerbitan global bond dinilai tepat dan minat investor cukup besar, namun imbal hasil dan kupon yang diberikan pemerintah sesungguhnya terlalu mahal, yang tentunya sangat menarik bagi investor membelinya. Sebagaimana diberitakan Republika (15/4), pemerintah telah melepas obligasi global berdenominasi mata uang asing INDO-15 (sebutan obligasi tersebut di pasar) senilai 1 miliar dolar AS, setelah tertunda dari rencana semula, Maret lalu. Obligasi berjangka waktu 10 tahun ini memberikan imbal hasil (yield) 7,375 persen dengan kupon bunga 7,250 persen. Penulis menilai bahwa selisih (spread) sebesar 302 basis poin di atas surat utang Pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) berjangka 10 tahun ini adalah terlalu mahal. Ini mengingat, terakhir spread INDO-14 adalah 277. Padahal, pemerintah telah menyatakan bahwa global bond tidak akan dilepas jika yield yang diminta di atas 6,85. Dengan demikian, kalau global bond dipaksakan dijual dengan yield 7,375 persen dan di tengah kondisi ekonomi global yang masih volatil, tentunya ada alasan pemerintah melakukan hal itu. Sebelum pemerintahan ini terbentuk, memang terdengar sinyalemen bahwa pemerintahan sebelumnya mewariskan ''brankas kas kosong'' kepada pemerintah baru. Pertanyaannya: mungkinkah dijualnya INDO-15 dengan yield yang tinggi merupakan refleksi dari sinyalemen ini? Penulis tidak tahu persis. Namun, kalau kita mencermati kondisi terakhir ini, terdapat indikasi pemerintah memang membutuhkan dana dalam jumlah besar. ebagai contoh, PT Pertamina (BUMN Migas) terancam tidak dapat membuka L/C di sejumlah bank karena belum mampu melunasi L/C lama sebesar Rp 9 triliun akibat seretnya pembayaran subsidi pemerintah ke PT Pertamina. Pemerintah memang akhirnya berjanji akan mencairkan dana subsidi sebesar Rp 4,1 triliun. Namun, dana tersebut masih perlu ditambah karena untuk kebutuhan pengadaan BBM selama satu bulan dibutuhkan subsidi sekitar Rp 8 triliun. Perlu waspada Selain perlu objektif dengan situasi saat ini, penulis berpendapat bahwa kita juga perlu waspada dengan perkembangan, terutama eksternal, yang terjadi belakangan ini. Terutama perkembangan sektor finansial global dan Indonesia sendiri. Menurut laporan Bank Dunia mengenai Perkembangan Keuangan Global 2005, adanya tiga tantangan yang harus dihadapi pasar finansial global. Pertama, kerentanan keuangan yang tidak terpisahkan dari ekonomi global dan ketidakseimbangan keuangan. Kedua, risiko-risiko akibat sensitifitas pertumbuhan pasar dari utang negara berkembang. Ketiga, kurangnya sumber keuangan bagi negara-negara berpendapatan rendah. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa peringkat kredit yang membaik dari lembaga pemeringkat bagi negara berkembang merupakan refleksi dari membaiknya makroekonomi, fiskal, dan kebijakan yang kemudian memberikan kontribusi bagi kepercayaan investor. Laporan tersebut juga menyatakan, semua negara berkembang pada 2004 tumbuh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan rata-rata mereka satu dekade terakhir ini. Namun, momentum pertumbuhan ini sudah mencapai puncaknya dan keuntungan yang diperoleh rentan terhadap risiko sehubungan dengan menggelembungnya ketidakseimbangan global terutama akibat 666 miliar dolar AS defisit anggaran. Di samping itu, sektor finansial global juga mengandung risiko seperti pergerakan nilai tukar yang tidak teratur, naiknya suku bunga, yang tentunya mengancam perolehan keuntungan negara-negara berkembang. Dengan demikian, negara berkembang (termasuk Indonesia) perlu mempersiapkan dirinya untuk menghadapi risiko-risiko yang datang mendadak. Di Indonesia sendiri, terjadinya gejolak di sektor finansial juga masih terbuka, meski saat ini gejolak tersebut telah terjadi. Sebagai contoh, belakangan ini kita dikagetkan dengan adanya ''gempa'' yang menimpa industri reksa dana. Produk yang naik daun ini tiba-tiba mengalami guncangan. Banyak investor melakukan redemption (mencairkan unit penyertaan) reksa dananya. Nilainya tidak tanggung-tanggung, per Maret mencapai Rp1 2 triliun. Total nilai aktiva bersih industri reksa dana turun menjadi Rp 91,742 triliun dari hari sebelumnya Rp 96,752 triliun. Intervensi Bank Indonesia (BI) yang mencoba meredam gejolak ini dengan membeli obligasi negara Rp 4,306 triliun di pasar ternyata tidak mampu meredam hasrat investor untuk mencairkan reksa dananya. Peluang terjadinya crash di sektor finansial juga bisa muncul karena tingginya aliran modal bersih yang ditanamkan dalam investasi portofolio di Indonesia. Menurut perkiraan BI, selama 2005 diperkirakan investasi portofolio atau dikenal sebagai ''uang panas'' karena mudah bergejolak dan berjangka pendek mencapai 4,4 miliar dolar AS yang sebagian besar masuk dalam instrumen investasi di pasar modal. Menurut pejabat BI, aliran modal bersih portofolio selalu mencatat surplus. Tahun 2003 mengalami surplus 2,3 miliar dolar AS, tahun 2004 surplus 2,8 miliar dolar AS dan tahun 2005 diperkirakan surplus 4,4 miliar dolar AS. Tingginya surplus aliran modal portofolio di tersebut merupakan indikasi bahwa investasi portofolio di Indonesia masih lebih menguntungkan dibandingkan negara lainnya. Keberadaan investasi portofolio ini, di satu sisi memang menguntungkan karena dapat membantu menutupi kesenjangan cadangan devisa. Namun, di sisi lain keberadaan investasi portofolio ini rentan memicu tekanan terhadap fundamental ekonomi. Dengan demikian, kita sesungguhnya sangat membutuhkan devisa yang berasal dari investasi permanen maupun hasil ekspor. Karena fakta membuktikan bahwa perekonomian yang terlalu banyak ditopang oleh dana-dana jangka pendek, biasanya akan mudah terjadi gejolak. Berdasarkan analisis di atas, tampaknya perekonomian Indonesia di tahun 2005 ini masih akan menghadapi banyak tantangan. Dengan demikian, jika kita ingin mewujudkan optimisme di atas, berarti perlu kerja ekstra dari pemerintah. Sebab jujur harus diakui bahwa dengan melihat infrastruktur pemerintahan saat ini, sesungguhnya teramat berat bagi pemerintah untuk dapat mewujudkan optimisme tersebut. Berdasarkan faktual di atas, kita memiliki peluang terjadi gejolak finansial. Saat ini saja, riak gejolak itu telah terjadi dengan melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS. Karena itu, ada baiknya bila pemerintah menengok kembali kebijakan devisanya. Kebijakan devisa yang terlalu liberal, telah membuat siapa pun, termasuk pengusaha dan eksportir, bebas menaruh uangnya di mana saja sesuai seleranya. Implikasinya, kita tidak mampu mengendalikan arus keluar masuk modal yang setiap saat dapat mengancam perekonomian kita. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for anyone who cares about public education! http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

