http://www.kompas.com/kompas-cetak/0504/28/opini/1715485.htm

 
TNI Kita yang Lemah 

Oleh M Alfan Alfian M

"Kenapa Amerika Serikat disegani negara lain? Selain memiliki kekuatan ekonomi, 
mereka memiliki angkatan perang yang kuat. Dua kekuatan itu membuat mereka 
memiliki bargaining power dengan negara dan kekuatan mana pun. Mengganggu AS 
atau kepentingannya sama dengan membangunkan macan tidur. Kalau saja angkatan 
perang kita kuat, tak mungkin Malaysia meremehkan kita seperti ini."

UNGKAPAN Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Endriartono Sutarto di 
atas (Kompas, 9/3) bernada pengandaian, yang berujung pada keprihatinan atas 
kondisi kekuatan pertahanan nasional dewasa ini. Alat utama sistem persenjataan 
yang dimiliki TNI amat terbatas sehingga membuat gerak langkahnya dalam 
penanganan bencana tsunami di Aceh dan dalam rangka show of force dengan pihak 
Malaysia, berkenaan dengan sengketa Blok Ambalat, juga terbatas.

Kalau sudah begini, banyak yang sadar kembali dan bertanya mengapa pertahanan 
Indonesia tidak diperkuat sejak dulu. Waktu 32 Orde Baru sesungguhnya merupakan 
waktu yang cukup untuk menjaga kekuatan pertahanan nasional "lebih kuat" dari 
kenyataan yang ada kini. Presiden Soeharto yang juga seorang Jenderal TNI 
Angkatan Darat (AD) seharusnya memerhatikan postur pertahanan nasional dengan 
penuh perhatian. Tetapi, faktanya lain, alat utama sistem persenjataan 
(alutsista) TNI tidak terperhatikan, sebagaimana juga kesejahteraan prajurit 
para prajuritnya. Sebaliknya justru yang menonjol adalah merambahnya militer 
dalam dunia politik-dan bisnis.

Pertahanan memang tidak sekadar berurusan dengan alutsista. Namun, alutsista 
yang lengkap dan kuat dapat dijadikan indikator nyata kondisi pertahanan 
nasional suatu negara. Angkatan perang yang kuat tentu diimbangi dengan 
alutsista yang kuat pula. Dalam hal ini, bermodal semangat "tidak takut mati 
membela bangsa" saja tidaklah cukup. Di sisi lain, yang paling utama adalah 
bagaimana desain strategi pertahanan nasional dikembangkan secara tepat, 
terfokus, dan menjawab tantangan ke depan. Maka, sudah saatnya kita harus mau 
belajar pada kelemahan selama ini dan memperbaikinya.

Anggaran dan alutsista

Agar postur pertahanan nasional kuat, maka salah satu konsekuensinya berkaitan 
dengan anggaran. Selama 2000-2004 anggaran pertahanan mencapai Rp 14,27 triliun 
per tahun. Angka itu kira-kira 0,88 persen PDB rata-rata per tahun atau 
kira-kira 4,29 persen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) rata- rata 
per tahun. Itu artinya anggaran pertahanan Indonesia paling rendah di antara 
negara-negara Asia Tenggara (ASEAN), yang alokasi anggaran pertahanan rata-rata 
per tahun masih sudah di atas 2 persen produk domestik bruto (PDB).

Menurut catatan, tahun 2004 total anggaran pertahanan Rp 13,266 triliun atau 
naik 15 persen dari anggaran pertahanan tahun 2003 yang sebesar Rp 11,536 
triliun. Dari Rp 13,266 triliun, sebanyak Rp 10,721 triliun dialokasikan untuk 
anggaran pembangunan, khususnya memantapkan satuan operasional dan kesiapan 
alutsista. Sisa Rp 2,544 triliun digunakan untuk kesejahteraan prajurit. 
Walaupun alokasi kesiapan alutsista kelihatan lebih besar daripada untuk 
kesejahteraan prajurit, kondisinya masih tetap jauh dari optimal.

Maka, peningkatan anggaran pertahanan mutlak adanya. Cuma, mesti dilihat juga 
kepentingan sektor lain. Indonesia kini masih dalam kondisi multikrisis 
sehingga kalaupun ada peningkatan semestinya secara proporsional. Apa pun 
adanya, di tengah keterbatasan TNI makin dituntut untuk profesional. Ini tentu 
merupakan sebuah tantangan yang tidak ringan. Tetapi, dengan terfokusnya TNI 
sebagai alat pertahanan (bukan politik seperti zaman Orde Baru dengan 
legitimasi dwifungsi), tantangan tersebut semestinya lebih ringan. Apresiasi 
dunia luar terhadap TNI kini juga sudah mulai membaik, antara lain ditandai 
dengan dibukanya kembali program International Military Education and Training 
(IMET) oleh Amerika Serikat (AS).

Program IMET merupakan satu hal yang harus dihargai meski TNI dan Pemerintah 
Indonesia harus hati-hati dengan "udang di balik batu" AS. Jangan sampai AS 
memanfaatkannya sebagai kartu penekan bagi kepentingan subyektifnya-misalnya 
dengan dalih pemberantasan terorisme. Indonesia harus tetap mengedepankan akal 
sehat dan memanfaatkan program itu secara proporsional.

Soal lemahnya TNI dalam konteks pertahanan dapat dijelaskan bahwa dulu karena 
condong atau terfokus kepada persoalan politik, TNI kurang memfokuskan ancaman 
yang datang dari luar. Masih belum lekang dalam ingatan frase "ekstrem kanan" 
dan "ekstrem kiri" demikian populer untuk mengidentifikasi macam ancaman dari 
dalam. TNI, atau yang dikenal dengan nama Angkatan Bersenjata Republik 
Indonesia (ABRI), sibuk berurusan dengan "ancaman dari dalam" ini. Tetapi, 
sejak jatuhnya Orde Baru, "ancaman dari dalam" ternyata lebih banyak sekadar 
mitos. Sementara ancaman dari luar kian terasakan: Timor Timur lepas, Aceh 
bergejolak, lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan, serta konflik Blok Ambalat.

Kalau sudah begini, dapatlah dipahami apabila TNI berkeinginan "menghidupkan 
kembali" atau memodernisasi sistem persenjataannya. Dan soal penambahan 
anggaran pastilah perlu persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Strategi pertahanan

Dalam konteks ini, penulis setuju dengan pandangan peneliti Center for 
Strategic and International Studies (CSIS) Edy Prasetyono bahwa penambahan 
anggaran berapa pun besarnya tidak berarti apa-apa tanpa ada perubahan strategi 
pertahanan. Bahwa Indonesia harus segera bergerak dari strategi pertahanan 
kontinental menuju strategi pertahanan maritim dengan zona berlapis. Strategi 
pertahanan maritim memiliki matra terbuka, manuver fleksibel, dan pergerakan 
lebih leluasa untuk penangkalan dan penindakan. Ini sesuai dengan karakter 
geografis kita. Dalam strategi pertahanan maritim, tumpuan kekuatan akan 
diletakkan pada kekuatan pertahanan laut dan udara. Untuk itu, TNI Angkatan 
Laut (AL) dan TNI Angkatan Udara (AU) harus terus diperkuat di masa mendatang 
(Kompas, 9/3).

Dengan demikian, pengalihan fokus pembangunan pertahanan nasional dari 
pertahanan darat, ke laut dan udara, bukan tanpa alasan yang lemah. Ke depan, 
seiring dengan tidak terlibatnya lagi TNI dalam politik, maka konsekuensinya 
fokus ke pertahanan darat pelan-pelan mesti digeser. Hal ini bukan berarti 
meremehkan posisi dan peran TNI AD- yang selama ini terkesan selalu termanjakan 
oleh anggaran-tetapi semata-mata demi masa depan postur pertahanan nasional 
yang kokoh.

Ke depan perlu meredesain strategi pertahanan nasional Indonesia secara serius. 
Tentu ini merupakan kerja besar dan berjangka panjang. Untuk menjadi bangsa 
yang memiliki bargaining position yang tinggi di mata negara-negara lain, 
sesungguhnya tak hanya bergantung pada kekuatan militer, tetapi dalam kasus 
Indonesia ialah kesanggupannya untuk dengan cepat mengakhiri multikrisis. 
Indonesia adalah negara dengan batas- batas kedaulatan wilayah yang "amat 
besar", maka di masa depan seharusnya mampu tampil sebagai negara yang kuat dan 
demokratis.

Kemampuan untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam negeri secara baik, kuat, 
dan sehatnya segala bidang, akan menjadikan modal dasar bagi politik luar 
negeri Indonesia- di mana Indonesia tidak dapat dipandang "sebelah mata". 
Indonesia memang telah sukses melaksanakan demokrasi elektoral (pemilu 
legislatif dan presiden) dan masih menanggung risiko pemilihan kepala daerah 
secara langsung. Jadi eksperimentasi demokrasi yang ada masih menyisakan risiko 
(kegagalan) tak ringan. Kalau sampai proses demokrasi gagal, mimpi menjadi 
bangsa yang "mandiri", khususnya dalam hal pertahanan nasionalnya, makin 
menjauh.


M Alfan Alfian M Dosen FISIP Universitas Nasional, Jakarta


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/MCfFmA/SOnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke