--- In [email protected], "irwank2k2" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Yang saya maksud di atas bukan hanya terjadi pada kalangan 
> umat Islam. Istilah zhalim itu cuma 'term' saja. 
> Hal itu bisa saja dilakukan kalangan umat (agama) lain.

DH: Setuju. PengAGAMAan manusia masih belum membuktikan munculnya 
bangsa yang luhur.
> 
> Contoh sederhana adalah kaitan kemiskinan dan korupsi.
> Saya pernah mendengar (ayat/hadits?) bahwa sebenarnya alam 
> dan seisinya ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan 
> seluruh umat manusia (dan penghuni lainnya). 
> Namun keserakahan segelintir oranglah yang menyebabkan
> terkonsentrasinya sebagian besar resource yang ada -->
> menyebabkan/membiarkan kemiskinan tetap ada. 

DH: Memang, natural resources adalah melimpah. namun, kemampuan meng-
exploitasi resources itu yang langka, dan tak dimiliki setiap 
manusia atau bangsa. Misalnya, timbunan emas, tembaga, minyak 
diperut pulau Irian apa gunanya bagi teman teman kita, yang sedang 
duduk duduk relax (sorry ya?) berkoteka? Setiap investasi, apalagi 
yang ber-juta juta Euro, harus menghasilkan yield yang tertentu 
minimalnya, RoA ataupun RoI, dibawah 5%? tak uk uk ya?

 
> Karena terjadi ketimpangan dan ketidakadilan. 
> 'Common sense' dan 'akal sehat' mengatakan korupsi 
> (sama seperti drugs) adalah sesuatu yang buruk dan wajib 
> dimusuhi. Ya, minimal 'say no to them'.. :D

DH: Benar sekali. Orang korup lupa, bahwa keuntungan yang mereka 
nikmati, sekaligus membusukkan rumah yang mereka diami. Korupsi 
membuat iklim investasi makin tak menarik. Daya saing menghilang, 
karena timbulnya high cost economy.

Jadi, bukan saja dari sisi moral, ini konyol, juga in the long run, 
bunuh diri. Negara negara mapan, seperti Sw�ss, Austria, Denmark, 
Jerman, dll, bersih dari korupsi, karena seluruh masyarakat 
menyadari dampak mautnya.

Rumania, adalah calon anggauta Uni Eropa. Namun sebagai prasyarat 
untuk masuk, haruslah menggasak korupsi dahulu, yang dimonitor ketat 
oleh wakil Uni Eropa dinegeri itu!

> 
> Saya tidak punya data akurat soal ini. Namun yang jelas, berapa 
> banyak orang yang mampu melihat dan menganalisa suatu topik atau
> persoalan, baik yang tersurat/tersirat amat ditentukan latar 
> belakang yang berlangsung selama ini. Termasuk soal penerapan 
> nilai" mulia yang diajarkan oleh agamanya.
> Dengan kata lain nyaris tidak ada yang 'bebas nilai', diantaranya
> terkait pendidikan dan pengajaran formal/informal yang diterapkan
> pada/oleh masyarakatnya.

DH: Tanpa banyak bahan statistik, kita dapat menyimpulkan, bahwa 
pasti sedikit sekali, umat beragama, yang menjalankan agama 
sedimikian rupa, hingga nilai keluhuran mampu membangkitkan bangsa. 
Pasti sedikit sekali, kalau tidak, negara kita sudah lama take off, 
dan tak merayap seperti kaki seribu begini...

> 
> Apakah para penjajah (kolonialisme) modern dan penggagas 
globalisasi akan membiarkan (yang katanya) negara dunia ke-3 maju 
tanpa halangan?
> Padahal sebenarnya ada gerakan 'anti globalisasi' atau
> 'anti kapitalisme' dan 'anti neokolonialisme(?)' di luar sana..
> Namun sebaliknya di sebagian negara, isu globalisasi justru
> dihembuskan para penganutnya dengan kuat seolah merupakan 
> keniscayaan yang harus diterima apa adanya (taken for granted)..

DH: Jangan lupa, dibelakang penggagas dan pendukung globalisasi 
adalah perusahaan perusahaan dengan assets yang melebihi budget 
sebuah negara. Tidak saja itu, ketergantungan banyak bangsa atas 
produk mereka adalah sedemikian dahsyatnya. Mereka memiliki lobby 
group disetiap pemerintahan, juga di Eropa, hingga sulit, 
kepentingan nasional, juga Eropa, untuk demikian saja berhadapan 
dengan mereka.

Misalnya saja, industri pesawat terbang. Hanya dua didunia. Tak ada 
negara yang mampu exist tanpa mereka. Mau naik getek?

 Wah, jadi bahas matematika nih.. :-)
> Bukannya kalau bicara matematika itu artinya sudah ada pembatasan
> topik. Jadi sudah ada batasan pembahasan dan (logikanya) nyaris
> tidak ada ruang untuk perbedaan pada hasilnya. Kecuali pada langkah
> menuju hasil tersebut.. -mirip dengan cara pengerjaan soal 
> matematika waktu di sekolah-..

DH: Seharusnya, semua kebenaran besar (bukan sekedar bahwa kupu kupu 
yang saya lihat itu biru), adalah menuju satu titik. Hasil 
mathematica kita pakai dalam 99,99% hidup kita. Suatu titik 
orientasi yang tak dapat kita lewati, kita anggap sepi.

Nah, apalah ini, sebenarnya dibandingkan, dengan kebenaran mengani 
hidup dan mati? Mengenai Ilahi?

Kita teropong mati2an, kebenaran sebuah fossil Homo Sapiens, yang 
memang terbukti, dan dapat dihitung exact dibuktikan dengan DNA, 
untuk menerimanya sebagai kebenaran. namun, tiba tiba, kita terima 
at the same time kisah Adam yang gedebug jatuh dari angkasa luar?

> 
> Ngomong soal virus, mirip dengan di atas.. Areanya sudah terbatas.
> Yang mungkin terjadi memang kolaborasi. Tapi dalam soal 'virus
> komputer' adalah sah" saja terjadi perbedaan penamaan virus/worm 
> baru antara satu perusahaan antivirus dengan yang lain. 

DH:Penamaan TAK menjadi soal, namun pendefinisian harus exactly sama!
Anda namakan pisang itu pisang, yang lain menamakannya banana. Na so 
what? kalau anda analisa kimiawi sang pisang itu, dan memakai nama 
Latin-nya, sarjana biologi Jerman juga setuju dan manggut manggut.

 
> Sorry, maksudnya adanya kesepahaman bahwa memang perbedaan adalah
> keniscayaan. Bukankah manusia datang ke dunia ini dilengkapi dengan
> kecenderungan yang buruk (fujuroha) dan yang baik (taqwaha)..
> BTW, saya juga gak ngerti banget filsafat koq, Mbah..
> Jadi tolong dimaklumi kalau pendapatnya ya ala kadarnya.. :D

DH: perbedaan dalam memahami yang hakiki, tak boleh terlalu besar. 
Bahwa kita ada perbedaan bahasa, adat dan cara pandang OK. Bahwa 
Islam itu bukan Yahudi atau Kristen, OK. Tak perlu kita teropong 
lebih lanjut. Perbedaan itu ada. Tetapi, pada saatnya, kita mau 
mendefinisikan yang Esa, Yang maha Ada, tak boleh ada perbedaan.

Kalau anda bertiga dikelas memecahkan PR mathematica, hasilnya beda 
beda.Maka mungkin, anda bertiga salah, atau hanya satu yang benar. 
Nah, anda harus upayakan memecahkannya, sampai keluar hanya SATU 
solusi.
 
> Keberagaman Tuhan? Mungkin maksudnya keberagaman persepsi, ya?
> Kalau saya percaya Allah itu untuk semua mahluk. 

DH: Exactly! Nah, kalau yang Maha ada itu satu (bukan dalam 
pengertian bilangan, karena sang Pencipta tak mungkin dicakup dalam 
bilangan), maka yang dikatakanNya pasti hanya SATU. Sekarang, masih 
banyak yang mengatakan, sabdaNya ini itu, tapi tidak sama.How 
possible?. Yang satu katakan, "Tuhan bersabda, Ibrahim itu begini", 
yang lain katakan "Tuhan bersabda Ibrahim itu begitu". 


> Persepsi masing" kelompok besar (baca: agama) bisa saja berbeda.
> Ya situasinya mirip dengan 'penamaan' oleh vendor antivirus.
> Tapi bukan maksud saya menyamakan kedua topik bahasan itu lho ya..

DH: Sebuah virus yang ecatly sama dan sebangun, boleh saja mau 
diganyang oleh perusahaan perusahaan yang berbeda, dengan methoda 
berbeda. Tetapi, virus itu sendiri harus dahulu diakui sebagai sama.

Satu contoh: dalam ritus agama Katholik Roma, dikatakan (ini adalah 
ajaran sentral diseluruh dunia), bahwa dalam ibadah, yang 
dinamakan "consecratio", Kristus akan berubah menjadi roti kudus 
(hosti). At the same time, umat Kristen Protestant mengatakan, no, 
roti kudus itu ya tetap roti kudus, tak ada yang berubah, apalagi 
Kristus. Nah, bagaimana? Keduanya mengangkat sang Pencipta sebagai 
asal dari kepercayaan ini.

Selama manusia eyel eyelan begini, jangan harap akan menangkap 
hakiki Ilahi.

Bagaimana kalau anda jalan jalan dengan teman. teman anda tiba tiba 
katakan, melihat seorang wanita lewat dan menyebrang jalan. Anda 
bersikeras tak melihat siapa siapa yang lewat. Keduanya "benar" 
dalam penangkapan indranya. Kalian berkelahi. 

Salam

danardono





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Ever feel sad or cry for no reason at all?
Depression. Narrated by Kate Hudson.
http://us.click.yahoo.com/LLQ_sC/esnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke