Media Indonesia
Jum'at, 29 April 2005


KUII dan Masa Depan Dialog Antaragama
Hamdi: Alumnus Pondok Pesantren Darussalam Ciomas, Bogor



PERSOALAN-PERSOALAN kemanusiaan dewasa ini semakin menyadarkan kita akan 
pentingnya keterlibatan agama untuk ikut memperhatikan dan mengupayakan 
penyelesaian secara bersama-sama. Keterlibatan agama semacam itu tidak 
terhindarkan, karena iman tidak cukup hanya diucapkan dengan lidah dan 
diwujudkan dalam bentuk ritualnya saja,ia menuntut keterlibatan konkret dalam 
seluruh problem etis umat manusia.

Dialog adalah satu-satunya pilihan yang logis dan etis dalam upaya melibatkan 
agama dalam persoalan pluralisme agama.

Pluralisme agama bukanlah sesuatu yang baru, pascakenabian Muhammad pun sudah 
terjadi pluralisme agama. Pluralisme Agama merupakan konsekuensi logis yang 
harus diterima umat Islam, sebab sebelum Islam datang ke muka bumi ini, umat 
manusia sudah memiliki agama seperti Hindu, Budha, Kristen, dan yang lain.

Untuk itu 'dialog' antariman menjadi sentral yang mewarnai Alquran. Alquran 
mengajak pemeluk agama lain dan agama Islam sendiri, untuk mencari 'titik temu' 
(kalimatun sawa) di luar aspek teologis yang memang sudah berbeda sejak awal. 
Pencarian titik temu melalui perjumpaan dan dialog yang konstruktif dan 
berkesinambungan adalah tugas manusia yang abadi tanpa henti. Pencarian titik 
temu antaragama bisa dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya melalui 
pintu etika, lewat pintu etika manusia beragama memiliki tantangan yang sama. 
Tantangan sainisme dan berbagai implikasinya, tantangan lingkungan hidup, 
menjunjung tinggi harkat kemanusiaan. Di Indonesia tantangan itu adalah korupsi 
yang merajalela, pelecehan seksual, aborsi, pornografi, pornoaksi, eksploitasi 
sumber daya alam, perusakan lingkungan, dan illegal loging.

Tantangan yang menyedot perhatian umat antaragama saat ini ialah bencana alam 
yang terjadi di Indonesia. Tsunami di Aceh dan gempa bumi di Nias membangkitkan 
kebersamaan antarumat beragama. Bantuan-bantuan dari luar yang notabene 
nonmuslim terus mengalir masuk ke Aceh, yang mayoritas penduduknya beragama 
Islam. Ini merupakan salah satu bukti bahwa sebuah tantangan universal bisa 
menumbuhkan sikap pluralisme agama. Karena memang pada dasarnya semua agama 
mengajarkan etika dan moral.

Semua agama menjunjung tinggi martabat manusia dan menolak penginjakan atas 
martabat manusia. Menghormati hak asasi manusia adalah merupakan agenda bersama 
umat manusia tanpa pandang 'bulu' keagamaannya. Lewat pintu etika ini, seluruh 
penganut agama-agama dapat tersentuh 'relegiositas'nya. Untuk tidak hanya 
menonjolkan having relegionnya. Lewat pintu etika, dimensi spiritualitas 
keberagamaan lebih terasa dan bukannya hanya terfokus dimensi formalitas 
lahiriah kelembagaan agama.

Tuntutan spiritualitas keberagamaan yang sejuk dan berwajah ramah jauh lebih 
dibutuhkan oleh manusia modern yang dihempas oleh gelombang-gelombang besar 
konsumerisme-materialisme. Dimensi spiritualitas keberagamaan, yang erat 
kaitannya dengan persoalan-persoalan etika rasional universal juga dapat 
dijadikan pintu masuk untuk berdialog secara terbuka dan jauh dari kecurigaan 
kelembagaan formal keagamaan. Kita akui bahwa panggilan untuk mencari titik 
temu yang kreatif sudah barang tentu sangat bergantung kepada situasi dan 
kondisi yang melingkarinya.

Atmosfer sosio-kultur yang mengitari seorang muslim dalam wilayah dan era 
tertentu juga berbeda dari wilayah atmosfer sosio-kultur yang mengitari muslim 
dalam wilayah dan era yang lain. Perbedaan ini secara antropologis dapat 
diterangkan sekaligus dapat dibenarkan. Atmosfer sosio-kultural di India, Timur 
Tengah, Indonesia itu berbeda. Situasi sosial-politik Indonesia saat ini kurang 
mendukung untuk mencari titik temu antaragama.

Secara praksis pluralisme agama belum sepenuhnya dipahami umat beragama di 
Indonesia dan sebaliknya semangat untuk membenarkan agamanya (claim of truth) 
sangat kuat dalam lingkungan sosial keagamaan masyarakat Indonesia. Ditambah 
lagi dengan adanya beberapa partai saat ini yang menggunakan agama sebagai 
simbol partainya.

Kongres Umat Islam Indonesia ke-4 yang digelar pekan lalu di Jakarta berakhir 
dengan penyampaian rekomendasi kepada pemerintah. Rekomendasi itu juga 
dimaksudkan sebagai tuntutan dari sebagian umat Islam terhadap sistem politik 
Indonesia. Salah satu tuntutan tersebut adalah penerapan syariat Islam di 
Indonesia. KUII meminta kepada pemerintah supaya Syariat Islam dijadikan 
sebagai "solusi" dalam mengatasi berbagai problematika bangsa.

Penerapan Syariat Islam di Indonesia sangat rentan sekali dengan konflik antar 
agama, sebab ketika Islam dijadikan sebagai simbol dan sistem politik maka umat 
Islam masuk ke dalam paradigma kekhususan. Menurut kerangka berpikir ini orang 
selain agama Islam tidak akan diselamatkan kecuali mengakui iman yang diimani 
orang Islam. Hanya Islam sajalah yang menjadi media keselamatan, ajaran yang 
paling benar dan absah hanyalah ajaran Islam. Sementara pada agama lain 
diberikan standar lain sebagai 'yang salah' dan bahkan 'tersesat'.

Dalam pandangan penganut eksklusif ini, baik agama maupun pemeluknya dianggap 
'terkutuk' dan 'refused' di hadapan Tuhan. Mereka cenderung memonopoli klaim 
kebenaran agama (claim of truth) dan klaim keselamatan agama (claim of 
salvation). Padahal secara sosiologis, klaim kebenaran agama dan keselamatan 
itu, disamping akan memicu berbagai konflik sosial dan politik, juga hanya akan 
memancing "perang suci antaragama". Paradigma ini tidak bisa diterima karena 
bersifat negatif terhadap atau bahkan merendahkan agama-agama lain. Paradigma 
eksklusif tidak melihat kenyataan, bahwa umat beragama bagaimanapun juga adalah 
kenyataan manusiawi, pluralisme agama merupakan kehendak Tuhan.

Maka jika sikap eksklusif dalam beragama. ini terjadi di Indonesia bukan 
persatuan dan kesatuan yang akan timbul akan tetapi disintegrasi antar umat 
beragama yang akan muncul, karena dari sinilah akar konflik antaragama sering 
kali terjadi, dan akhirnya merusak rajutan tata kerukunan umat beragama.

Dalam kerangka pemikiran ini, sangat menarik mempertimbangkan nalar pikir Paul 
F Knitter, bahwa pada dasarnya semua agama --sebagai jalan dalam melihat segala 
sesuatu-- adalah relatif, yakni terbatas, parsial dan tidak lengkap. Menganggap 
bahwa semua agama secara intrinsik lebih baik dari yang lain (oleh ahli 
agama-agama) dirasakan sebagai sebuah sikap yang agak salah, ofensif, dan 
merupakan pandangan yang sempit, sikap seperti ini yang harus dikikis habis 
oleh umat beragama.***

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Does he tell you he loves you when he's hitting you?
Abuse. Narrated by Halle Berry.
http://us.click.yahoo.com/aFQ_rC/isnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke