Media Indonesia Jum'at, 29 April 2005
Memahami Universalitas Islam Mohammad Nasih: Fungsionaris PP Pemuda Muhammadiyah, Jakarta ILMU pengetahuan dan teknologi telah banyak memberikan kontribusi untuk kemudahan hidup manusia. Tetapi, di sisi lain, ia juga telah membuat dunia ini mengalami sofistikasi luar biasa. Problem kehidupan bermunculan, bertambah banyak dan saling tumpang tindih. Kondisi kehidupan yang demikian, menjadi tantangan baru bagi agama dan pemeluknya. Dikatakan sebagai tantangan bagi agama, karena agama selama ini dianggap sebagai pemberi solusi bagi problem sosial. Persoalannya adalah apakah agama saat ini masih mampu memberikan kekuatan solutifnya itu, mengingat kondisi riilnya sudah sangat berbeda dengan pada saat agama itu lahir. Kalau memang agama masih bisa menunjukkan kontribusinya, maka itu berarti klaim agama bahwa ia adalah ajaran universal tidaklah berlebihan. Sebaliknya kalau ia sudah kehilangan elan vital, maka nampaknya adalah sulit tetap mempertahankan agama sebagai pegangan atau petunjuk dalam mengarungi kehidupan. Menjadi tantangan bagi pemeluk agama, karena secara normatif teks-teks agama tidak pernah berubah. Sementara teks itu menginginkan agar pemeluk agama mempunyai komitmen kuat kepada agama dan menjalankannya secara murni dan konsekuen yang menuntut totalitas (kaffah) dalam pemikiran maupun perilaku. Dalam konteks ini, kemudian juga muncul pertanyaan yang hampir sama, apakah pemeluk agama sekarang ini masih bisa menjalankan agamanya secara kaffah di samping ia harus realistis dalam hidup? Ini adalah sebuah persoalan yang harus dibicarakan dengan lapang dada dan sikap moderat. Sikap ekstreme harus dibuang jauh-jauh, karena hal itu justru menunjukkan kompleks rendah diri. Perintah untuk menjadi muslim kaffah, secara normatif memang sangat jelas dalam sebuah ayat Alquran (al-Baqarah: 208). Tetapi yang jadi persoalan adalah pemahaman kaffah ini mengalami bias yang kemudian mengundang implikasi yang menyusahkan. Yang populer tetapi sebenarnya juga rancu adalah kaffah diidentikkan dengan atribut-atribut Arab yang (kebetulan) menjadi tempat kelahiran dan berkembangnya Islam. Jadi seorang muslim kaffah dalam alur pemahaman ini adalah seorang yang mengenakan pakaian Arab, penampilan Arab, nama diri Arab, menyebut Tuhan dengan nama Arab dan seterusnya yang tidak jauh dari yang Arab-Arab dan segala nuansanya. Singkatnya, untuk menjadi muslim kaffah, seseorang harus menjadi Arab. Misalnya beberapa tahun lalu Mike Tyson, si leher beton, melakukan konversi agama dan memeluk Islam. Ia kemudian mengganti namanya menjadi Malik Abdul Aziz. Demikian juga yang dilakukan oleh Cassius Clay yang juga adalah petinju kelas dunia pada tahun enam puluhan. Karena masuk Islam, ia mengganti namanya menjadi Mohammad Ali. Atau seorang pebasket terkenal Christ Jhon, mengganti namanya menjadi Muhammad Abdul Rauf setelah memeluk Islam. Ini bukti bahwa atribut-atribut semacam ini masih dianggap sebagai sesuatu yang cukup fundamental. Sebagai konsekuensi dari deklarasi Islam bahwa ia adalah agama universal, maka ia pasti mengalami peragaman pola sesuai dengan ruang dan waktu yang melingkupinya. Jadi, untuk tetap mempertahankan relevansi deklarasi universalitasnya, Islam dituntut untuk mempunyai kelenturan. Pandangan yang mengatakan bahwa hanya ada satu Islam adalah pandangan yang sangat kaku yang menurut Hassan Hanafi, seorang pemikir Islam berkebangsaan Mesir, adalah pandangan naif dan mengacu pada prinsip atau sesuatu yang berada di luar realitas historis umat Islam sendiri. Jadi, menurut Hanafi, ini berwatak ahistoris. Pandangan ini tidak bertitik tolak pada realitas sosial budaya umat masa lampau dan masa kini. Dengan kata lain, bila kita berpikir empiris dan sedikit keluar dari spektrum kiri Islam yang dibuat Hanafi, maka kita akan menemukan wajah Islam yang warna-warni. Agama vs budaya yang terjadi, umat Islam sering kali tidak mampu membedakan antara yang ajaran Islam20dengan yang sebenarnya hanyalah budaya Arab saja. Akibatnya, kemudian terjadi agamaisasi budaya Arab. Atribut-atribut budaya dan kultur Arab dianggap sebagai bagian atau elemen pokok dari agama. Paradigma semacam ini tumbuh subur terutama sekali di kalangan umat Islam yang memahami agama secara literal. Bahkan tak jarang masuk pula tradisi-tradisi yang sebenarnya muncul dari mitos-mitos Yunani, Yahudi, dan Nasrani yang menyebabkan pengamalan agama semakin terasa memberatkan. Sebagian umat Islam memahami sunah Nabi secara keliru dengan menganggap perilaku Nabi yang bersifat sangat parsial dan kasuistik sebagai ajaran yang substansial, seperti makan dengan menggunakan tiga jari yang sebenarnya adalah ajaran untuk berpola makan secara lebih beradab dan tidak rakus. Prinsip pola inilah yang sebenarnya adalah sunah beliau. Digunakan tiga jari karena yang dimakan adalah kurma. Sulit dibayangkan kalau yang dimakan adalah nasi atau bahkan mi. Yang paling mudah ditemukan adalah pandangan bahwa memakai sorban dan jubah adalah sunah Nabi. Sekali lagi harus ditegaskan bahwa hal itu sebenarnya sekadar budaya Arab. Dan tentu saja karena Nabi adalah orang yang berada dalam lingkup budaya itu, maka ia pun menggunakan cara yang sama, karena ini bukan persoalan substansial yang menjadi sasaran misi dakwahnya. Buktinya, Abu Jahal dan Abu Lahab, dua orang yang sebenarnya masih kerabat Nabi sendiri tetapi dikenal sebagai orang yang sangat memusuhi perjuangan Nabi, bahkan permusuhan Abu Lahab diabadikan oleh Alquran (al-Lahab: 1) adalah termasuk orang-orang yang tidak pernah menanggalkan sorban dan jubahnya. Untuk tetap memegang teguh agama dalam artian tetap menggunakan teks-teks keagamaan sebagai acuan tetapi juga tidak mengabaikan realitas sosial, yang tepat dilakukan adalah menggunakan hermeneutika sebagai basis pemahaman keagamaan. Dengan hermeneutika inilah, pesan-pesan atau ide-ide moral agama akan didapatkan guna menyumbangkan solusi-solusi problematika sosial kontemporer. Dengan menggunakan hermeneutik sebagai alat bantu bagi sentuhan episteme, para penganut agama akan menjadi orang-orang yang realistis dalam beragama dan menjalani hidup di dunia ini. Dan memang fungsi agama adalah memberikan bimbingan kepada umat manusia dalam menghadapi hidup di dunia agar tercipta keteraturan dan keseimbangan.*** [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

