----- Forwarded by Carla Annamarie/PRUIDN/IDN/Prudential on 04/29/2005
09:46 AM -----
                                                                                
                           
                      "Pelenkahu,Andre"                                         
                           
                      <andre_pelenkahu@        To:       Hadrockaz              
                           
                      yahoo.com>                <[EMAIL PROTECTED]>, HRFM       
       
                      Sent by:                  <[EMAIL PROTECTED]>             
                  
                      [EMAIL PROTECTED]        cc:                              
                           
                      roups.com                Subject:  [hardrockfm] [info] 
SHARING PENGALAMAN/KISAH      
                                                NYATA                           
                           
                                                                                
                           
                      04/29/2005 09:42                                          
                           
                      AM                                                        
                           
                      Please respond to                                         
                           
                      hardrockfm                                                
                           
                                                                                
                           
                                                                                
                           





Rudy Martanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 To: <Undisclosed-Recipient:;>
 From: "Rudy Martanto" <[EMAIL PROTECTED]>
 Date: Thu, 28 Apr 2005 20:57:16 +0700
 Subject: [3490] Fw: SHARING PENGALAMAN/KISAH NYATA

 <?xml:namespace prefix = o ns = "urn:schemas-microsoft-com:office:office"
 />

 ----- Original Message -----
 From: EMI TRISNO
 Sent: Thursday, April 28, 2005 3:47 PM
 Subject: FW: SHARING PENGALAMAN/KISAH NYATA

 (Embedded image moved to file: pic16941.jpg)

 From
 cerita dari temen kantor, 2 minggu lalu anak satu2xnya meninggal


 Ini kisah  nyata  yang saya  alami, sebagai  informasi / pelajaran  bagi
 Rekan-rekan jika suatu saat ada yang menghadapi cobaan seperti yang saya
 alami.

 Saya salah satu karyawan Kantor Pusat di Perusahaan kita, saya menikah
 pada pertengahan tahun 2001, saya mempunyai Istri  "I"  yang dulunya juga
 adalah karyawan di Perusahaan kita (Cab. Fatmawati), dan karena untuk
 mematuhi peraturan di perusahaan (tidak boleh menikah antar sesama
 Karyawan), Istri saya mengundurkan diri dari Perusahaan.

 Sejak Menikah (th.2001), Istri saya telah mengalami dua kali keguguran,
 yang pertama +/- pada kehamilan berumur 2,5 bulan, dan yang kedua sempat
 di Operasi "Kuretase" karena usia kehamilannya telah berumur 3,5 bulan.

 Penyebab keguguran, menurut dokter "K" di RS "A"  Panglima Polim/Jakarta ,
 karena Istri saya "kecapaian"  (Istri saya bekerja di Perusahaan lain
 setelah pengunduran dirinya) dan kandungannya "agak lemah". Dokter
 memeriksa hasil Lab. komplit hasilnya " negatif ", tidak terdapat penyakit
 yang menyebabkan Istri saya keguguran. Jadi secara medis memang
 penyebabnya hanya "Kecapaian" dan "Kandungannya lemah". Jadi jika suatu
 saat Istri saya hamil lagi, dokter menyarankan harus extra hati-hati dalam
 merawatnya.

 Bulan Sept 2004, Pada saat Istri saya periksa (karena sudah terlambat
 bulan) ke dokter kandungan dr. "K" di RS "A", istri saya kembali
 dinyatakan Hamil, keluarga kami begitu bahagia mendengar berita ini. Lalu
 saya dan Istri dengan sangat hati-hati merawat kehamilan ini. Segala
 saran-saran dokter kami laksanakan dengan baik, minum penguat janin,
 vitamin-vitamin, susu ibu hamil, menjaga kesehatan makanan, makan makanan
 bergizi, menjaga pantangan-pantangan ketika Hamil, dan bahkan untuk
 menjaga kehamilannya (pada saat itu berumur 5 bulan), Istri saya rela
 kembali keluar dari tempat kerjanya (saat itu masih bekerja pada Bank "B")
 dengan tujuan ingin benar-benar konsentrasi dalam merawat/menyusui anak.

 Pada pertengahan bulan Juni 2005, Istri saya melahirkan dengan baik (walau
 dengan operasi caesar), bayi kami sehat tidak kurang suatu apapun,
 beratnya 3.150 Kg dengan panjang 49 Cm. Sekali lagi Kami sangat bahagia
 atas peristiwa ini.  Kembali Segala saran-saran dokter (Dokter Anak: Prof.
 "R" di RS "A") kami laksanakan dengan baik, minum vitamin-vitamin, susu
 ibu menyusui, menjaga kesehatan makanan/perlengkapan makan, makan makanan
 bergizi, menjaga pantangan-pantangan dalam merawat bayi. dan rutin
 melakukan Imunisasi.

 Disinilah mulai timbul bencana pada keluarga kami, pada saat anak/bayi
 kami berusia +/- 7 bulan, untuk kesekian kalinya kami datang untuk
 imunisasi, pada saat itu kami datang ke dr Anak kami Prof. "R" di RS "A" ,
 namun pada saat itu beliau tidak masuk, diganti oleh dokter
 pengganti/wanita yang masih muda/mungkin dokter baru (namun saya lupa
 namanya). Begitu melihat jadwal pada buku RS anak saya, dokter tersebut
 langsung siap melakukan imunisasi terhadap anak saya, "hari ini imunisasi
 HIB ya ?!" , saya & istri tahu bahwa imunisasi HIB tersebut salah satunya
 untuk mencegah radang Otak, makanya Istri saya sempat bertanya, "dok,
 seandainya imunisasi ini tidak dilakukan bagaimana ya ?!", lalu dokter
 pengganti tersebut menjawab dengan nada agak ketus, "apakah ibu mau, anak
 ibu jadi Idiot?! (sambil memperagakan tampang muka orang yang idiot dengan
 lidah dijulurkan keluar)" . Karena begitu sayangnya kami dengan anak kami,
 sudah barang tentu kami tidak mau anak kami idiot, lagi pula saya saat itu
 berfikir demi kesehatan anak kami tentulah kami menuruti apa kata dokter
 yang lebih tahu/berpengalaman dengan imunisasi tersebut. Lalu tanpa
 memeriksa dengan seksama kondisi anak kami dalam keadaan fit/tidak, dan
 perlu tidaknya imunisasi tersebut kembali diberikan kepada anak saya
 (karena sebelumnya pada saat berumur +/-  5 bulan anak kami telah pernah
 diberikan imunisasi HIB I) dokter pengganti tersebut langsung memberikan
 suntikan imunisasi HIB II kepada anak saya.

 Dua hari setelah pemberian imunisasi HIB yang kedua tersebut anak kami
 mengalami panas, lalu turun, panas lagi lalu turun ( 2 atau 3 hari sekali
 pasti mengalami panas ) dan anehnya panasnya hanya dikepala dan di
 pundak/leher serta di ketiak saja, badan/tangan dan kakinya tidak. Hal ini
 berlangsung +/- selama dua minggu, jika sedang panas, panasnya pernah
 sampai 40,6 derajat C.

 Sewaktu di kantor saya sempat bertanya kepada rekan-rekan yang
 masih/pernah punya anak kecil mengenai panas anak saya, banyak diantara
 mereka yang bilang panas setinggi itu berbahaya, malah sebagian teman
 bilang anaknya panas "cuma" 38 derajat C saja sudah Step/kejang-kejang,
 namun sampai hari itu anak saya belum pernah Step/kejang-kejang, padahal
 panasnya beberapa kali sampai 40 derajat C, dan biasanya akan turun dengan
 sendirinya, paling-paling hanya rewel, susah tidur. Saya mulai Panik dan
 khawatir, takut jika anak saya tiba-tiba kejang/step di rumah.

 Dan Saya mulai ke dokter, kebetulan di dekat rumah ada dokter Umum di RS.
 "D" ( Berhubung waktu itu hari minggu tidak ada dokter Spesialis anak yang
 Buka ). Dokter tersebut memberikan beberapa macam obat, ada yang syrup,
 ada yang serbuk. Setelah memakan obat-obatan tersebut selama 3 hari, anak
 kami masih belum membaik ( panasnya masih naik turun ), lalu kami ke RS
 "A" tempat dokter anak saya Prof. "R" dimana selain diberi obat-obatn juga
 disarankan untuk memeriksakan darah anak saya ke Lab. (waktu itu saya
 langsung periksakan anak saya ke Lab. "P" yang sudah berpengalaman),
 Karena setelah kami ketahui hasilnya "negatif/tidak ada penyakit" dan obat
 dari Prof. "R" di RS "A" juga belum efektif menyembuhkan panas anak saya,
 akhirnya saya membawa anak saya ke RS "B" Cikini ( karena saya tahu di RS
 "B" ada ruang perawatan anak, jika memang anak saya perlu di rawat).

 Di sinilah ketabahan/kesabaran kami di uji. Saya datang pertama kali ke RS
 "B" cikini, Kamis 17 Maret 2005 pagi +/- jam 7.00 Wib, dan setelah
 bertanya kesana-kemari saya langsung membawa anak saya ke UGD (Unit Gawat
 Darurat) karena masih pagi, dan disana ada dokter jaga, setelah dilakukan
 beberapa tindakan lalu +/- jam 08.30 saya bawa anak saya ke dokter
 Spesialis anak dr. "N", baru kemudian diminta untuk di bawa ke ruang
 perawatan untuk di rawat.

 Pintarnya RS, setiap mereka akan melakukan tindakan medis terhadap anak
 kami, kami/orang tua harus menyetujui terlebih dahulu tindakan tersebut,
 dengan catatan apabila orang tua pasien tidak menyetujui suatu tindakan
 medis, kami juga disodorkan surat penolakan tindakan medis, yang
 didalamnya tertera apabila terjadi apa-apa terhadap anak saya, maka pihak
 RS tidak bertanggung jawab karena tindakan medis yang akan mereka lakukan
 tidak disetujui. Itu artinya kami/pasien bagai memakan buah simalakama,
 dan tentunya harus mengikuti semua langkah-langkah medis yang dilakukan
 oleh pihak RS, karena memang tidak ada pilihan lain.

 Anak saya langsung di infus dan diambil darahnya untuk pengecekan (karena
 hasil cek darah yang saya bawa dari Lab "P" sebelumnya menurut pihak RS
 bisa berubah) walaupun akhirnya hasilnya juga masih "negatif" tidak
 diketahui penyebab/penyakit panas anak saya. Kemudian atas anjuran dokter
 anak saya harus puasa dari jam 15.00 (tiga sore) sampai dengan 21.00
 (sembilan malam) kerena akan diambil darahnya lagi untuk pemeriksaan.
 Selama waktu tersebut kami sedih melihat anak saya, walaupun ada infus di
 kakinya, namun anak saya tampak ingin makan/minum, namun kami tidak
 berikan walau mulutnya seperti orang yang kehausan. Kami sangat
 mengkhawatirkan fisik anak saya.

 Benar saja apa yang Saya dan Istri saya khawatirkan terjadi, esokan
 hari/Jum'at subuh begitu panas anak saya kembali tinggi sampai lebih dari
 40 derajat C, anak saya langsung kejang/Step (padahal sewaktu di rumah
 belum pernah sekalipun anak saya kejang/Step seperti saat itu),
 suster-suster RS mulai memberikan anak saya Oksigen melalui selang ke
 hidung, dan karena panas/Kejangnya lebih dari 1/2 jam, maka anak saya pagi
 itu juga langsung di bawa ke ruang ICU/PICU (Pedriatic Intensive Care
 Unit). Anak saya di diagnosa awal "kemungkinan" terkena Radang Otak yang
 disebabkan oleh Virus/bakteri, sehingga mengganggu fungsi pengaturan suhu
 tubuh. Dan dokter bilang kemungkinan sembuhnya hampir tidak ada,  kalaupun
 sembuh akan ada efek sisa, misalnya jadi Idiot, Lumpuh, dsb. (Pihak RS
 langsung Pesimistis untuk penyembuhan anak saya).

 Di ICU anak saya di rawat oleh Tim Dokter, dengan ketua Timnya yaitu dr.
 "Y" (dokter spesialis anak senior RS "B"), dengan anggota beberapa dokter
 Spesialis THT, Syaraf, Urologi, Bedah, dsb. Ditambah dengan
 dr.Konsulen/semacam penasihat, yaitu Prof. "A" dari RS "C", selain dokter
 tim tersebut dibantu oleh beberapa orang suster yang dalam sehari
 bekerjanya dibagi menjadi 3 shift, suster-suster inilah yang memonitor
 perkembangan kesehatan anak kami tiap saat. Suster juga sama seperti
 karyawan di kantor kita, ada yang teliti, ada yang rajin, ada yang
 baru/belum berpengalaman, ada yang text book, ada yang kurang berani
 bertindak, dsb.

 Sabtu subuh (hari ke dua perawatan) anak saya kembali panas tinggi dan
 kembali kejang, kali ini suster jaga pada saat itu terlihat kurang
 tanggap/cekatan dalam memberi tindakan terhadap anak saya, malahan pada
 saat kejang, karena tenaga medis tidak begitu "care", Istri saya sendiri
 yang harus mengganjal mulut anak saya dengan alat pengganjal agar lidahnya
 tidak tergigit, dan karena terlalu lama tidak ditangani dengan baik
 akibatnya anak saya semakin lemah, terlihat pada mesin yang memonitor
 Oksigen dan Jantung anak saya saturasinya (istilah mesin tsb) terus
 menurun. Pada saat tim Dokter datang kondisi anak saya sudah memburuk,
 bahkan pada layar monitor mesin saturasi sempat terlihat "Flat", artinya
 paru-paru/oksigen dan jantung anak saya telah berhenti bergerak. Saya dan
 Istri langsung Shock dan lemas tangis pun tak terbendung. Beberapa tenaga
 medis terus berusaha memompa secara manual nafas anak saya, lalu mereka
 segera memasang mesin Ventilator/alat bantu pernafasan (mesin yang sama
 dengan yang digunakan Almh. Sukma Ayu) dan menyalakannya. Seperti biasa
 pihak RS menyodorkan <?xml:namespace prefix = st1 ns =
 "urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" />surat persetujuan tindakan
 pemasangan mesin tsb.  Pada saat itu saya & istri sangat Shock, sehingga
 konsentrasi kami hanya kepada anak kami tersebut, oleh karena saya tidak
 begitu memperdulikan surat persetujuan melakukan tindakan yang disodorkan
 RS, akibatnya pihak RS langsung mencopot kembali selang-selang yang
 terpasang dan mematikan mesin/listrik Ventilator tsb. Kami kesal dan marah
 (walau hanya di dalam hati), lalu segera meraih surat persetujuan tindakan
 tsb dan menandatanganinya, barulah alat tersebut kembali
 dipasang/dinyalakan, dan selamatlah nyawa anak saya ketika itu (padahal
 menurut hemat saya hitungannya hanya detik untuk mengambil keputusan
 tersebut/terlambat sedikit mungkin akan berbeda ceritanya).

 Kurang lebih dua minggu alat Ventilator itu terpasang, dan dua minggu itu
 pula kami mengalami pengalaman yang sangat pahit dalam kehidupan kami,
 kami menyaksikan betapa tersiksanya anak yang kami sayangi yang terus
 menerus dilakukan tindakan medis, diantaranya :
 1. Diambil darahnya yang hampir setiap hari (dengan cara disedot dengan
 alat suntik), walaupun hasil Lab.-nya selalu negatif dengan jumlah
 pengambilan dalam sehari bisa 3X, dan dalam sekali ambil antara 5 - 10 CC
 darah, padahal kondisi anak saya ketika itu sangat lemah/terlihat kuning
 seperti kurang darah. Diambil sampel Urine, sampel cairan dari perut,
 Bahkan sampai diambil contoh cairan otaknya (melalui penyedotan pada ruas
 tulang belakang) walaupun hasilnya juga negatif.
 2. Berganti-ganti tempat untuk memasukan jarum Infus, dari vena-vena di
 kepala, tangan, kaki, selangkangan, malah karena Tim medis sudah kesulitan
 memasukan jarum infus, tim medis melakukan tindakan Vena Sectio (operasi
 kecil/merobek kulit/daging terluar) untuk dicari pembuluh vena yang berada
 agak ke dalam agar jarum infus dapat memasukan cairan infus ke tubuh anak
 saya. Kedua pergelangan tangan dan kaki anak saya telah di-Vena Sectio.
 3. Bius Total, dengan alasan takut mesin Ventilator tidak berfungsi dengan
 baik apabila anak saya dalam keadaan sadar.
 4. Diberi obat-obatan/anti biotik berganti-ganti sesuai
 indikasi/kemungkinan (Baru kemungkinan/seperti coba-coba) penyakitnya yang
 kadarnya tergolong keras, yang sudah pasti banyak efek sampingnya.
 5. Karena sudah tidak ada tempat untuk Infus dan pengambilan darah (semua
 titik venanya telah habis), beberapa kali tindakan infus/pengambilan darah
 tidak berhasil dilakukan, lalu dicoba lagi dan di coba lagi sehingga
 menimbulkan bekas luka lebam/biru/bekas-bekas jarum suntik yang sangat
 banyak.
 6. Dilakukan foto Thorax (Rongent) beberapa kali,  Padahal sekali saja
 dilakukan di yakini dapat membunuh banyak sel tubuh )
 7. Timbul efek samping, Paru-paru anak saya meradang/infeksi sehingga di
 penuhi banyak cairan, dan kepala belakang dan samping kiri
 memar/luka/lecet/bengkak. Karena terlalu lama dalam posisi tidur/di bius
 (hal ini seharusnya tidak perlu terjadi kalau tim medis sering merubah
 posisi tidur anak saya/setelah kami Complain baru hal ini dilakukan).
 8. Masalah Biaya. Sering kali pihak RS (dokter/suster), menanyakan masalah
 biaya, walaupun berkali-kali saya katakan ada surat jaminan pembayaran
 dari Kantor. ( Coba bayangkan seandainya memang kami tidak punya biaya).
 9. Diagnosa penyakit yang tidak didukung bukti yang pasti, tim Medis hanya
 selalu mengatakan "Kemungkinan". Dari +/- satu bulan di rawat, anak saya
 sudah beberapa kali dikatakan kemungkinan penyakitnya bersumber dari
 Radang Otak karena penyakit/Virus/bakteri: Herpes, berubah Toxoplasma,
 berubah Maningitis, berubah Ensevalitis, sampai kesimpulan terakhir/dari
 sampel darah terakhir anak saya masih belum mengetahui pasti penyebab
 penyakitnya (bukti lab. adanya virus/bakteri tersebut tidak pernah ada).

 Pada masa itu juga kami sempat beberapa kali bersitegang dengan beberapa
 Tim Medis anak saya, namun kami selalu kalah (mengalah) karena posisi kami
 sangat lemah, Ketua tim dokternya "dr.Y" sempat berujar bahwa mereka
 dokter-dokter ahli, " kalau di RS "C" bapak boleh bilang "begitu", karena
 banyak dokter muda yang sedang belajar disana" (maksudnya menanggapi guman
 saya dengan istri saya, "kok anak kita seperti kelinci percobaan ya!? dan
 kata-kata tersebut didengar Suster, yang lalu melaporkannya ke ketua Tim
 dokternya) , bahkan dokter itu juga sempat berkata " kalau bapak tidak
 puas, silahkan angkat anak bapak sekarang !!" . Padahal saat itu, hal
 tersebut tidak mungkin kami lakukan karena seluruh tubuh anak saya
 terpasang mesin (Ada mesin ventilator, ada mesin saturasi Oksigen/Jantung,
 ada infus, ada selang Sonde/makanan, dsb)

 Pernah seorang anggota Tim dokter yang didatangkan dari RS "C", yaitu dr.
 "I" ahli syaraf, setelah memeriksa anak saya mengatakan, "Penyakitnya
 malah dari RS ini semua, ya !!",  Setelah masa perawatan 2 minggu tersebut
 timbul berbagai komplikasi; mata anak saya buta/tidak bisa melihat
 (menurutnya  mungkin bisa sembuh karena anak saya masih bayi), Infeksi
 paru, memar di kepala, badan kaku/keras, padahal pertama kali masuk RS
 anak saya "hanya" sakit Panas. Kemudian dr "I" juga bilang " tadi saya
 coba lepas alat Ventilatornya agak lama, anak bapak bagus kok, dia sudah
 bisa bernafas sendiri ". Saya bersyukur berarti ada kemajuan pikir saya
 ketika itu.

 Awal minggu ke tiga beberapa orang tim medis (ada beberapa dokter dan
 beberapa suster), mencoba melepas alat bantu nafas/Ventilator (mungkin
 setelah diberi masukan oleh dr. "I" dari RS "C"), di coba 1 jam, 2 jam, 3
 jam dan seterusnya .... rupanya anak saya sudah bisa kembali bernafas
 sendiri/normal. Namun karena Sumber penyakitnya belum diketahui maka Tim
 medis beberapa kali melakukan penggantian Obat/anti biotik, diantaranya
 Acyclovir, Delantin, Tegatrol, TieNam, Meronem (dua jenis yang tertulis
 dibelakang katanya merupakan anti Biotik yang paling Ampuh/Mahal/Impor
 dari Amerika).

 Minggu ketiga dan selanjutnya Panas kepala anak saya relatif stabil
 (antara 36 - 38 derajat C), dan kondisinya relatif membaik "hanya" tinggal
 matanya yang Buta dan badannya yang kaku (sendi-sendinya tidak bisa
 ditekuk), namun pengambilan darah masih dilakukan secara berkala, dan
 hampir setiap hari dilakukan Terapi Fisioteraphy (Penyinaran dan
 pemijatan). Sehingga akhir minggu ke tiga semua Infus telah dicopot,
 oksigen dicopot, hanya tinggal selang Sonde (Selang makanan/di mulut) yang
 masih terpasang.

 Saya dan Istri (serta keluarga besar kami), terus berdoa setiap hari untuk
 kesehatan anak kami satu-satunya, sampai pada pertengahan minggu ke empat,
 dr. "I" (Specialis syaraf dari RS "C") bilang anak kami boleh di bawa
 pulang, namun minimal harus sehari masuk ke ruang perawatan biasa dahulu
 (sesuai prosedur RS "B"). Dan menurut  dokter "I" juga, anak kami hanya
 cukup rawat jalan ke RS "C", untuk berobat ke dr. "I" dan dr. "L"
 (specialis tumbuh kembang/penyembuhan tubuh anak saya yang masih
 kaku-kaku). Setelah sehari berada di ruang perawatan biasa, dan tidak ada
 masalah kami membawa anak kami pulang dengan membawa dua macam obat (Anti
 kejang dan anti Virus), dan sebelum pulang, lagi-lagi anak kami diambil
 kembali darahnya oleh RS untuk pemeriksaan penyebab penyakit anak kami,
 setelah itu barulah kami diperbolehkan pulang.

 Namun tidak sampai 2 hari anak kami di Rumah, kami/keluarga lupa akan luka
 dibelakang kepalanya (akibat perawatan yang lalai sebelumnya) yang masih
 belum sembuh total, lukanya terlihat memar/merah/agak bengkak/dan mungkin
 infeksi, yang mungkin juga membuat anak kami panas lagi/karena infeksinya,
 Panasnya kembali naik sampai 40 derajat C lebih, bahkan ketika akan kami
 beri obat (yang kami bawa dari RS), anak kami muntah hingga lemas, lalu
 tanpa banyak pikir lagi walaupun pada saat itu jam 02 pagi, kami kembali
 membawa anak kami ke RS "B" Cikini dan kembali kami mengalami kekesalan,
 anak kami diperlakukan layaknya seperti pasien yang baru masuk RS. Anak
 kami kembali masuk ICU, kembali harus Infus, puasa, diambil darahnya lagi
 (meskipun titik venanya sudah habis/tidak ada tempat lagi untuk
 infus/periksa darah, dan saya juga telah sampaikan mungkin panasnya akibat
 luka dibelakang kepalanya yang belum sembuh/infeksi), padahal saya sudah
 protes terhadap dr. jaga pada saat itu bahwa anak saya sebelumnya sudah
 dirawat hampir sebulan di RS tersebut, dan hasil lab. terakhirnya juga
 baru kemarin saya ambil dengan hasil "negatif",  juga saya kemukakan
 mengenai luka dibelakang kepalanya yang harus diprioritaskan
 pengobatannya. Namun karena dr. terus mengemukakan argumennya, akhirnya
 kami mengalah dan menyerahkan sepenuhnya apapun yang akan dilakukan oleh
 dr. Dan kembali anak saya dipakaikan selang Oksigen ke hidungnya , lalu
 dengan alasan "saturasi" nafasnya terus menurun, Tim medis berencana untuk
 memasang kembali mesin Ventilator pada anak saya, dengan sebelumnya
 meminta persetujuan saya lagi untuk diambil darahnya sebelum pemasangan
 mesin tersebut (padahal ketika itu kondisinya terlihat pucat/kuning
 seperti telah kehabisan darah). Kembali dengan berat hati dan berharap Tim
 Medis melakukan tindakan yang "benar" untuk anak saya, saya kembali
 menyetujuinya. Namun belum sempat mesin itu dipasang, belum sempat hasil
 lab I dan ke II (pengambilan darah pada pada hari itu) ada hasilnya,
 akhirnya anak saya dipanggil oleh yang Maha Kuasa ...... anak saya
 mengalami Gagal Nafas dan dinyatakan Meninggal oleh pihak RS, walau saat
 itu saya pegang denyut Nadi di leher/bawah dagunya masih ada (walau
 lemah), sewaktu kami minta untuk terus memompa alat bantu nafas manualnya,
 Dokter/suster yang ada pada saat itu sudah lepas tangan dan tidak
 melakukan tindakan apapun juga. Akhirnya dengan Ikhlas, didepan mata
 kepala saya dan istri saya, anak kami melepaskan nyawanya tanpa kami bisa
 berbuat apapun juga ( Selasa 12 April 2005 Jam 23.25 wib). Akhirnya Anak
 kami meninggal dengan sebab bukan karena penyakitnya (Panas),  menurut
 kami "kemungkinan" karena gagal nafas/Infeksi paru atau malah "mungkin"
 karena terlalu lemah  kehabisan darah.

 Innalillahi Wa inna illaihi roji'un selamat jalan Permata hatiku, ........
 doa kami 'kan selalu menyertaimu...Amin

 Dan tidak lupa saya & keluarga mengucapkan terimakasih yang
 sebesar-besarnya kepada rekan-rekan yang telah memberikan suport baik
 moril, materil maupun spirituil kepada saya dan keluarga, semoga segala
 kebaikan rekan-rekan akan dibalas dengan pahala yang berlipat-lipat oleh
 Tuhan Yang Maha Kuasa. Amin.

 Salam,
 Istriyanto & Keluarga



 Note :

 Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada Ilmu Kedokteran dan tenaga medis,
 sesuai dengan pengalaman berharga dan mahal yang telah saya alami, maka
 kami mencoba mengambil kesimpulan (Setelah kami juga mendengar dari sesama
 Pasien RS, rekan/sahabat, tetangga, saudara yang sempat bezuk dan
 mengatakan pada saya, selama dalam perawatan sampai saat Meninggalnya anak
 saya) sbb:

 1. Banyak kasus penyakit bayi/balita yang timbul setelah mereka disuntik
 imunisasi.
     - Pasien lain di RS yang sama mengatakan pada saya, anak saudaranya
 sampai dengan usia 2 tahun belum pernah suntik Imunisasi Hepatitis namun,
 setelah ada dokter (spesialis anak) yang tahu, lalu disarankan di
 imunisasi Hepatitis, kemudian tidak lama setelah itu akhirnya anak
 saudaranya positif terkena Hepatitis akut, dan harus bolak-balik berobat
 ke dokter.
     - Tetangga saya, sehabis Imunisasi campak, dua hari kemudian malah
 terkena campak.
     - Tetangga kami yang lain, anak pertamanya rutin diimunisasi, namun
 fhisiknya malah lemah sering sakit-sakitan, sedangkan anak keduanya sama
 sekali tidak pernah imunisasi namun malah sehat, hampir tidak pernah sakit
 (kalaupun sakit cepat sembuh/ringan)
     - Teman sekolah saya anaknya tidak pernah Imunisasi malah sehat, umur
 10 bulan sudah lincah berjalan, dan juga boleh dibilang tidak pernah sakit
 (kalaupun sakit hanya ringan saja).
     - dan banyak lagi kasus-kasus serupa yang tidak mungkin saya tulis
 satu persatu.

 2. Menurut saya, Jika bisa Hindari Imunisasi, kalaupun perlu/terpaksa
 pilihlah imunisasi yang pokok saja (bukan imunisasi lanjutan/yang
 aneh-aneh) alasannya :
     - Kita "Mendzolimi", anak kita sendiri yang memang sedang masa
 pertumbuhan dan pertahanan tubuhnya masih lemah, malah kita suntikan
 penyakit (walaupun sudah dilemahkan) ke tubuhnya.
     - Kita tidak pernah tahu kondisi anak kita sedang benar-benar sehat
 atau tidak, karena terutama anak yang masih di bawah 1 tahun biasanya
 belum bisa bicara mengenai kondisi badannya, sedangkan imunisasi harus
 dilakukan pada bayi/balita yang sehat (tidak sedang lemah fisiknya/sakit).
     - Sesudah kita memasukan penyakit ke tubuh anak kita, biasanya kita
 juga harus mengeluarkan banyak biaya. (Jasa dokter/RS, harga imunisasi,
 dsb),
     - Tidak ada jaminan (Dokter/RS/puskesmas) apabila setelah imunisasi
 anak kita bebas dari penyakit yang telah dimasukan ketubuhnya. Contoh
 nyata yang terjadi pada anak saya, padahal anak saya sudah 2 kali
 imunisasi HIB ( ketika berusia +/- 5 dan 7 bulan ), padahal sebelumnya
 dokter bilang imunisasi HIB untuk menghindari penyakit Radang Otak, namun
 nyatanya anak saya malah meninggal  akibat penyakit Radang Otak.
     - Menurut seorang rekan yang pernah membaca Literatur terbitan
 Prancis, justru Imunisasi sudah tidak populer di Amerika Serikat, dan
 terus berusaha dihilangkan dan tidak dipergunakan lagi, bahkan di Israel
 Imunisasi telah di STOP samasekali, padahal kita tahu negara-negara itu
 merupakan pelopor "industri", imunisasi.
     - Menurut pengalaman saya jumlah kadar/isi setiap pipet/tabung
 imunisasi semua sama, jadi imunisasi tidak melihat berdasarkan berat
 tubuh/perbedaan Ras/warna kulit, padahal kalau Obat/Imunisasi itu Impor,
 tentulah kadarnya disesuaikan dengan berat/fisik orang Luar (Barat) yang
 jelas lebih basar dan kuat fisiknya dibanding orang Asia, namun kita malah
 sama-sama menggunakan dengan takaran yang sama. (akibatnya overdosis).

 3. Jika tidak "urgent" sekali, hindari rawat inap di RS, karena banyak
 prosedur/step-step pengobatan yang akhirnya akan melemahkan tubuh
 pasiennya. (Contoh: keharusan berpuasa, pemasangan infus, pengambilan
 darah yang terus menerus, foto Rontgen, operasi, kemoteraphy, dsb).
 Jikalau perlu coba dulu dengan cara pengobatan alternatif/tradisional.

 4. Jika perlu dengan tegas untuk menolak suatu tindakan medis yang akan
 dilakukan RS, jika kita yakini manfaatnya tidak benar-benar berpengaruh
 terhadap kesembuhan pasien.

 5. Jika perlu lakukan 2nd opinion pada RS/dokter lain yang setara/lebih
 baik.

 6. Banyak tanya, biarlah kita dibilang "bawel", tanyalah setiap tindakan
 medis yang akan dilakukan, mengapa akan di lakukan, akibat-akibatnya, ada
 tidak cara-cara lain/alternatif lain yang lebih baik/tidak terlalu
 menyakiti pasien.

 7. Terus temani pasien (bisa bergantian dengan keluarga yang lain), karena
 setiap saat bisa ada tindakan medis yang memerlukan persetujuan, dan
 cermati semua pekerjaan perawatannya, jika ada yang habis/kurang jangan
 sungkan melaporkan ke tenaga medis yang ada segera.

 8. Terus berdoa, karena segala sesuatunya telah ditetapkan oleh "Yang Maha
 Kuasa", manusia hanya bisa ikhtiar dan berusaha.







 INFORMASI ALUMNI :
 [EMAIL PROTECTED]

 To Subscribe, send a blank message to:
 [EMAIL PROTECTED]

 To Unsubscribe, send a blank message to:
 [EMAIL PROTECTED]



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
Yahoo! Groups Links
      To visit your group on the web, go to:
      http://groups.yahoo.com/group/hardrockfm/

      To unsubscribe from this group, send an email to:
      [EMAIL PROTECTED]

      Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke