http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=169454

Selasa, 03 Mei 2005,


Membebaskan Sekolah dari Kekerasan
Oleh M. Tohirin Hasan *


Kasus pemukulan yang dilakukan guru terhadap siswa di SMP Negeri 32 Semarang 
(Jawa Pos, 29/4) memantik reaksi yang beragam. Guru, orang tua, siswa, serta 
praktisi pendidikan lain turut berkomentar atas kasus yang sempat menghebohkan 
kota Tugu Muda itu. 

Persoalan tersebut menegaskan bahwa pendidikan kita masih terlalu erat dan 
belum bisa melepaskan diri dari rantai budaya kekerasan. Bila dilihat dari 
sudut pandang pendidikan sebagai proses humanisasi manusia, masalah kekerasan 
dalam pendidikan jelas menyimpan persoalan yang sangat serius.

Kekerasan dalam pendidikan telah dan akan terus menjadi kecemasan yang mengusik 
nilai-nilai moralitas. 

Dengan alasan apa pun, kekerasan dalam pendidikan bukan sebuah pilihan yang 
dapat diletakkan sebagai suatu hal yang wajar. Pendidikan sebagai proses 
penanaman hasrat untuk mewujudkan masyarakat berkeadaban yang mengedepankan 
nilai-nilai kemanusiaan, sejak dini, perlu dibiasakan dengan poses-proses yang 
nirkekerasan. 

Dalam hal ini, sekolah sebagai institusi pendidikan memiliki peran yang 
signifikan untuk menanamkan kesadaran humani kepada siswa. Sebagaimana 
dikatakan Zamroni (1988), sekolah sebagai wahana pendidikan nilai merupakan 
salah satu lingkungan vital dalam sosialisasi nilai-nilai serta berkembangnya 
kehidupan yang demokratis. 

Dengan demikian, sekolah menjadi lembaga yang dapat menanamkan tentang 
bagaimana hidup bersama dan hidup damai-berdampingan yang jauh dari segala 
bentuk kekerasan. 

Sekolah sebagai miniatur masyarakat yang terdiri atas beragam perbedaan adalah 
media aktualisasi diri siswa untuk saling berinteraksi dan membiasakan hidup 
bersama. 

Lewat sekolah pula, siswa membuka mata kesadarannya bahwa hidup bersama tidak 
selalu sama dan seragam. Siswa akan belajar bahwa ternyata dalam lingkup 
masyarakat kecil yang dinamakan "sekolah" selalu ada yang namanya perbedaan. 

Ada guru yang pintar, agak pintar, tidak jarang juga yang sok pintar, ada siswa 
yang menyenangkan, ada pula siswa yang karena suatu hal menjadi sangat 
menyebalkan. 

Namun, yang patut digarisbawahi ialah sekolah hanya menyediakan tempat untuk 
mewadahi segala bentuk perbedaan, baik perbedaan agama, suku, ras, status 
sosial-ekonomi siswa, maupun kedudukan guru-siswa. Sekolah tidak menyediakan 
tempat untuk membeda-bedakan seluruh perbedaan-perbedaan tersebut. 

Ironis, ketika misalnya, perbedaan kedudukan guru dan siswa memicu sebagian 
yang satu untuk menyakiti (melakukan tindak kekerasan) terhadap lainnya. 
Kesadaran akan pendidikan nirkekerasan itu menjadi penting agar napas 
pendidikan kita benar-benar bebas dari polusi kekerasan.

Saya tidak sedang berpretensi untuk menghakimi atau memperkeruh persoalan. 
Biarlah kasus tersebut menjadi kecelakaan sejarah yang tidak akan pernah 
terulang. Di atas semua itu, tulisan ini merupakan ungkapan kegelisahan penulis 
sebagai "siswa" yang sudah jenuh dengan kekerasan.

Kekerasan dalam pendidikan dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan oleh 
siapa saja, lebih-lebih di sekolah. Karena itu, menurut hemat penulis, 
setidaknya ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk membebaskan sekolah dari 
kekerasan. 

Pertama, menceraikan pendidikan dan kekerasan. Pendidikan dan kekerasan adalah 
dua hal yang berbeda, seperti perbedaan hitam dan putih. Keduanya semestinya 
dipisahjauhkan. Mengawinkan pendidikan dan kekerasan hanya akan melanggengkan 
dan melembagakan proses-proses dehumanisasi yang berkepanjangan dalam institusi 
sekolah. 

Kedua, pendidikan perlu diselenggarakan melalui proses pedagogis-didaktis yang 
membebaskan, tentunya dengan tidak menafikan disiplin. Barangkali kita sepakat, 
penegakan disiplin tidak identik dengan kekakuan, apalagi kekerasan. 

Hal itu mengandaikan adanya relasi egalitarian, baik antarsiswa maupun relasi 
guru dengan siswa. Karena itu, di dalam kelas tidak terdapat "raja-raja kecil" 
yang mendominasi dalam proses pembelajaran. Dapat pula dikatakan, relasi siswa 
satu dengan siswa lain dan relasi guru dengan siswa adalah relasi yang 
harmonis-dialogis dalam mencapai tujuan pembelajaran. 

Lebih dari itu, pendidikan diselenggarakan tidak hanya untuk menyentuh ranah 
kognitif, tetapi sekaligus memadukan dua ranah lain, afektif dan psikomotorik. 

Pada titik ini, pendidikan bersifat intelektualistik-integratif yang tidak 
boleh mengabaikan aspek moralitas dan sosial siswa. Lewat keterpaduan tersebut, 
pendidikan secara gradual akan membentuk kesadaran dan perilaku siswa yang jauh 
dari kekerasan.

Ketiga, peran dan keteladanan guru. Dapat dipahami, guru adalah seseorang yang 
digugu lan ditiru. Menjadi keharusan bagi guru untuk senantiasa mengusahakan 
satunya kata dan tindakan.

Sering terjadi, siswa diajarkan bahwa dia harus hidup sehat dengan tidak 
merokok, sementara pada kesempatan lain siswa menyaksikan guru yang sengaja 
atau tidak mengulum pipa seraya mengepulkan asap di dalam kelas. 
Paradoks seperti di atas masih sering kita jumpai. 

* M. Tohirin Hasan, mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri 
Malang





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke