http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=169916

Jumat, 06 Mei 2005,


Mengapa Ada Kekerasan di Sekolah?


Tanggapan atas Tulisan M. Tohirin Hasan
Tulisan M. Tohirin Hasan dalam koran ini (3/5/2005) tentang "Membebaskan 
Sekolah dari Kekerasan" menarik dicermati bersama. Selain diangkat berdasarkan 
pengalamannya sebagai siswa yang kenyang dengan kekerasan, tulisan itu juga 
berdasarkan adanya fakta kekerasan yang dilakukan guru dalam sekolah beberapa 
waktu lalu di Semarang. 

Memang, dalam satu hal, patut kita sepakati bersama bahwa tindak kekerasan 
dalam sekolah yang dilakukan guru terhadap siswanya sering terjadi. Namun, 
kekerasan dalam sekolah itu tidak hanya terjadi di Semarang. Bisa dikatakan, 
tindak kekerasan dalam sekolah oleh guru itu terjadi hampir di sebagian besar 
daerah.

Di Ciamis, misalnya, pernah terjadi kekerasan yang dilakukan guru di salah satu 
sekolah menengah yang mengakibatkan meninggalnya si murid. 

Di Pamekasan, Madura, misalnya, beberapa waktu lalu di tiga sekolah menengah 
terjadi tindak kekerasan terhadap para siswanya yang pelakunya adalah gurunya 
sendiri. Ironisnya, hal itu tak terekspos semua media lokal di sana (Sagoro, 
2005). Dan masih banyak lagi kasus kekerasan di dalam sekolah yang juga menimpa 
para muridnya. 

Namun, yang menjadi permasalahan sekarang, mengapa kekerasan dalam sekolah itu 
dilakukan guru sendiri yang notabene sebagai teladan para siswanya? 

Pertanyaan ini yang seharusnya dijawab terlebih dahulu sebelum kita (termasuk 
Hasan) memberikan sebuah konklusi atau solusi yang seakan-akan bersifat 
reduksionis dan cenderung mengimplisitasi masalah belaka. 

Ada beberapa hal yang patut dicermati bersama terkait dengan penyebab munculnya 
tindak kekerasan dalam sekolah yang dilakukan guru terhadap siswanya. Pertama, 
kualitas guru. Tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar kualitas guru di banyak 
sekolah tidak memenuhi standar. 

Di Malang, misalnya, diketahui bahwa sekarang ini kurang lebih 25% dari guru 
yang ada ternyata tidak layak mengajar karena tidak memiliki ijazah keguruan 
dan ilmu pendidikan. Selanjutnya, di DKI Jakarta. Menurut seorang pengamat 
pendidikan, tes tulis terhadap 22.899 guru negeri tingkat SLTP-SLTA se-DKI 
Jakarta mengenai materi bidang studi yang diajarkan kepada siswa menunjukkan 
nilai yang rendah. 

Rendahnya kualitas guru tersebut dapatlah dimengerti. Sebab, sebagian besar 
yang masuk ke sebuah universitas jurusan keguruan atau IKIP itu adalah 
orang-orang yang sebetulnya bisa dikatakan "tak punya pilihan lain" atau 
orang-orang pelarian.

Artinya, mereka pada awalnya ingin memasuki jurusan yang bonafide (seperti 
kedokteran, ekonomi, sosiologi, dll) melalui jalur SPMB atau khusus, tapi tidak 
lolos. Karena itu, dalam benak mereka muncul pemikiran, daripada menganggur, 
lebih baik masuk ke diploma keguruan. 

Selain itu, ada juga yang memang masuk ke fakultas keguruan di sebuah 
universitas tertentu melalui kedua jalur tersebut. Namun, orientasi mereka 
bukanlah benar-benar ingin menjadi guru sejati, melainkan lebih disebabkan 
alasan kemudahan mendapatkan kerja setelah lulus nanti atau karena tuntutan 
orang tua, bukan dari dalam diri mereka sendiri. 

Selanjutnya, rendahnya kualitas guru itu juga dipengaruhi sistem perekrutan 
guru yang cenderung bersifat KKN. Selama ini, sudah merupakan rahasia umum 
bahwa untuk menjadi seorang guru (PNS) saja sulitnya bukan main. Butuh 
taktik-taktik tersendiri, misalnya, melalui penyuapan, bantuan keluarga dekat 
yang mempunyai jabatan strategis, dll. Intinya, telah terjadi ketidaksportifan 
dan ketidakfairan dalam sistem perekrutan guru. Akibatnya, kualitas yang 
diharapkan dari seorang guru setelah dia menjadi PNS cenderung minim, bahkan 
tidak ada. 

Kedua, ekonomi atau kesejahteraan guru. Kita tentu menyadari dan memahami bahwa 
gaji seorang guru berbeda dengan gaji seorang anggota dewan yang bisa mencapai 
puluhan juta rupiah. 

Bahkan, tunjangan yang didapatkan seorang guru masih jauh lebih rendah 
dibandingkan dengan seorang buruh pabrik tekstil atau sepatu. Padahal, tanggung 
jawab moral dan kewajiban seorang guru sangatlah besar. Sebab, profesi guru 
lebih menuntut untuk mencetak SDM yang betul-betul berkualitas.

Apalagi jika dikaitkan dengan posisi HDI (kualitas sumber daya manusia) 
Indonesia (111) saat ini yang masih jauh tertinggal dari Malaysia (59), 
Thailand (76), dan Filipina (83), tentu peran dan tanggung jawab moral seorang 
guru tak bisa diabaikan begitu saja, sangatlah signifikan.

Ketiga, penetrasi didikan keluarga. Adanya atau terjadinya kekerasan dalam 
sekolah yang dilakukan guru tentu tak lepas dari adanya pola didik orang tua di 
rumah. 

Keempat, lemahnya kontrol sosial. Salah satu syarat fungionalistik di antara 
struktur-struktur dalam sekolah itu adalah dengan adanya saluran, yakni 
komunikasi timbal-balik. Komunikasi ini merupakan salah satu alat untuk 
menciptakan suatu kontrol sosial dalam sekolah. Nah, ketika komunikasi ini 
tidak terjalin dengan baik atau lemah, maka sangat mungkin munculnya suatu 
tindakan di luar batas, seperti tindak kekerasan (violencing action), tak bisa 
dihindarkan.
* Ardhie Raditya, mahasiswa FISIP Universitas Jember (email: [EMAIL PROTECTED]


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/OCfFmA/UOnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke