http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=169823

Kamis, 05 Mei 2005,


Pasar yang Empuk

Pengamat pendidikan yang juga Rektor Universitas Islam Negeri Syarif 
Hidayatullah Prof Dr Azyumardi Azra MA mengajak kalangan peruguruan tinggi 
berbenah menghadapi globalisasi dunia pendidikan. Berikut petikan wawancaranya.

Globalisasi dan liberalisasi tak dapat kita hindari, apa yang harus dilakukan 
oleh pendidikan tinggi kita?


Proses globalisasi telah membuat perubahan besar dalam lapangan ekonomi dan 
politik. Karena itu, mau tidak mau juga akan menimbulkan perubahan-perubahan 
besar dalam bidang pendidikan, baik pada tingkat nasional, internasional, 
maupun lokal.

Pada tingkat internasioal, terjadi reorientasi pendidikan baik 
pada tingkat kelembagaan, kurikulum maupun manajemen sesuai 
dengan perkembangan-perkembangan baru yang terjadi dalam proses globalisasi itu.

Reorientasi itu sendiri mencakup, antara lain pengembangan 
kurikulum yang lebih sesuai dengan knowledge-based economy, 
HAM, demokratisasi, dan multikulturalisme. Pada tingkat nasional, 
arah pandangan pendidikan juga berubah. Pendidikan harus mampu berperan dan 
menyiapkan peserta didik dalam konstelasi masyarakat global. Pada waktu yang 
sama, pendidikan juga memiliki kewajiban untuk melestarikan karakter nasional.

Konsekuensinya, banyak hal yang mesti diadopsi oleh sistem 
pendidikan kita dong?


Betul, konsekuensinya akan seperti itu. Kenyataan ini 
tecermin dari rumusan paradigma baru pendidikan nasional yang mencakup arah 
seperti desentralisasi (otonomi), kebijakan yang bottom up, orientasi 
pendidikan holistik untuk pengembangan kesadaran untuk bersatu dalam 
kemajemukan budaya, menjunjung tinggi nilai moral, kemanusiaan dan agama, 
kesadaran kreatif, produktif dan kesadaran hukum, peningkatan peran serta 
masyarakat secara kualitatif dan kuantitatif, serta pemberdayaan institusi 
masyarakat yang terkait dengan pendidikan seperti keluarga, LSM, pesantren, dan 
dunia usaha.

Namun, dalam praktiknya, tidak semua yang harus kita 
adopsi berjalan dengan mulus. Bahkan, kalau boleh jujur sejak 
diperkenalkan paradigma baru pendidikan nasional itu belum terlihat peningkatan 
kualitas yang berarti. Pada saat yang sama infrastruktur pendidikan malah terus 
mengalami kemerosotan.

Bila GATTS dan pasar bebas diberlakukan, Indonesia bakal jadi 
sasaran empuk bagi institusi asing termasuk pendidikan ini?


Bisa jadi demikian. Apalagi bagi institusi yang hanya ingin meraup keuntungan 
ekonomis semata. Pasalnya, besarnya jumlah penduduk Indonesia serta tingginya 
minat masyarakat Indonesia akan pendidikan berkualitas membuat kehadiran pihak 
asing dipastikan akan disambut positif oleh pasar.

Kondisi itu jelas akan sangat berpengaruh pada kelangsungan hidup perguruan 
tinggi lokal. Sebab, persaingan jelas akan semakin berat. Guna memenangkan 
pasar, perguruan tinggi yang mampu secara finansial jelas akan memilih bermitra 
dengan pihak asing, sedangkan mereka yang tidak mampu akan semakin tersisih.

Intinya, dunia pendidikan kita akan menjadi komoditas yang sangat mahal dan 
serba ekonomis. Kesenjangan antara mereka yang mampu dengan yang tidak akan 
makin tinggi. Ini adalah konsekuensi yang harus kita hadapi karena telah 
melibatkan diri dalam WTO ini sejak awal.

Sebenarnya apa dampak yang paling terasa dari liberalisasi pendidikan itu?


Ada beberapa dampak pokok yang akan terasa oleh pendidikan tinggi kita, 
misalnya berkurangnya pendanaan pendidikan tinggi oleh pemerintah sehingga akan 
memaksa perguruan tinggi harus mengembangkan sumber-sumber pendanaannya 
sendiri. Selain itu, meningkatnya kebutuhan bagi pengembangan program-program 
studi yang relevan dan dibutuhkan. 

Termasuk semakin mendesaknya pengembangan bentuk-bentuk baru dalam pengelolaan 
dan manajemen pendidikan tinggi yang lebih efisien dan efektif dalam merespons 
berbagai perkembangan.

Selain menghadirkan banyak tantangan, era pasar bebas itu 
memunculkan peluang juga kan?


Ya, ada juga peluang yang memang harus direspons. Contohnya, peluang 
pengembangan kapasitas perguruan tinggi (PT) baik secara kuantitaif maupun 
kualitatif. PT bisa melakukan diversifikasi program yang relevan dengan 
kebutuhan dan tantangan perkembangan zaman. Tetapi pada saat yang sama harus 
juga melakukan proteksi dan affirmative action bagi program-program yang 
merupakan core bagi ilmu pengetahuan, nation and character building budaya dan 
tradisi kultural bangsa.

Harus diingat, bahwa proses pendidikan bukan hanya transfer 
pengetahuan, melainkan pembentukan watak dan moral. Dalam 
konteks Indonesia, penyelenggaraan pendidikan tidak boleh 
mengabaikan watak dan moral yang berlandaskan nilai-nilai 
keindonesiaan. 

Solusi menghadapinya bagaimana?


Langkah antisipatif jelas harus sudah kita 
lakukan.Pemerintah juga dalam mengeluarkan kebijakan-kebijakan itu harus 
cerdas, strategis, dan antisipatif menghadapi gelombang globalisasi yang juga 
akan menyentuh pendidikan tinggi. Dengan demikian, nilai-nilai positif dari 
arus globalisasi itu dapat ditepis dan sebaliknya menyerap nilai-nilai 
positifnya. 

Selain itu, PT lokal sendiri harus berani melakukan 
diversifikasi program yang relevan dengan kebutuhan zaman, mengembangkan 
sumber-sumber pendanaan yang tidak hanya mengandalkan dari biaya yang 
dibayarkan mahasiswanya. (wda)





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/OCfFmA/UOnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke