artikel berjudul :
----------------
Leo Kristi Trubadour Indonesia
rasanya pernah di muat Tempo
di tahun 1980 an. Kutipan
artikel dari Tempo di bawah
ini jadi merupakan update
setelah 20 tahun kemudian.

Ternyata Leo Kristi masih
'hidup' dan masih bikin
konser-2 musik :)

You want to know one of
his songs that 'we' used
to play in the 1980's?
here we go ... :)

==================( ihm )=====

hanya setitik sinar
Am

k'tika ku berjalan
G F Am

di sisi terali-terali
Am

s'tinggi lima kaki
G F Am


yang membatasi diriku
G

dari dunia kelilingku
G

dari cinta di hatiku
Am

dari keagungan Mu
Am

reff:
-----
rakkaka kukku rakkaka kukku
burung hantu ...
rakkaka kukku rakkaka kukku
senandung sepi
di tengah malam ...

:)

=================( ihm )=====

< http://groups.yahoo.com/group/indonesia_damai >

--------------------------------------------
F ro m : "tatiek_yuliatin"
D a t e : Tue May 10, 2005 11:37 pm
Subject : LEO KRISTI: Jejak Seorang Trubadur
--------------------------------------------

Copyright @ tempointeraktif

Tempo No. 11/XXXIV/09 - 15 Mei 2005

Info lengkap:
------------

***** <http://leo_kristi.blogs.friendster.com>

Millist:
--------
[EMAIL PROTECTED]

< http://groups.yahoo.com/group/LeoKristi >

Leo Kristi, seniman yang biasa menaruh kaki kanannya di atas
tong dalam pertunjukannya, kembali naik panggung. Ia tidak
pintar berkata-kata-baik di atas panggung maupun dalam
keseharian. Tapi eksplorasinya di dunia musik dan lirik
telah lama menerbitkan kontroversi: sebagian orang mencibir,
sebagian lainnya memujanya setengah mati.

Kritikus musik Franky Raden, dalam sebuah artikelnya, membayangkan
betapa indahnya bila ia berkesempatan mendengarkan Leo menyanyi dan
bermain gitar sendiri. Leo seorang yang bebas. Ada yang menyebut
dialah seniman "trubador" kita setelah Chairil Anwar. Yang terang ia
banyak bertualang, dan petualangannya menjadi inspirator utama untuk
musik dan puisinya.

Leo memang lama tenggelam dari dunia rekaman dan pentas. Dan ia
menyimpan banyak cerita tentang pengalamannya, hidupnya yang
bohemian, dan seterusnya. Tempo mewawancarainya panjang pekan lalu,
dan menuliskan kembali dalam beberapa artikel untuk Anda.

Lihat menara mercu
Tinggal siluet
Tepat di balik kubah, matahari jatuh
Seratus burung melayang
Katia, Amanda, dan aku...

Sebuah lorong kampung di bilangan Buaran, Jakarta timur.
Malam larut. Sesosok bayangan dengan gitar di punggung,
melompat, menuruni trap semen. Seperti berkelebat,
menyusuri tepi sebuah empang luas dengan sampah
mengambang. Menuju deretan rumah petak.

Dan di depan rumah bernomor seng RT 013, RW O8, Blok B93, ia
berhenti. Cahaya lampu masih terang. Gadis cilik berlesung pipit itu
belum tidur. Kopi kental pahit, kacang kulit, keripik singkong
dihidangkan orang tuanya. Kamar kontrakan sempit berukuran 2 x 3
meter seharga tiga ratus ribu sebulan itu sontak pepak.

Ryan Sendangsari Lutfiani, 14 tahun, gadis cilik siswi SMP
Muhammadiyah Duren Sawit itu, memegang gitar, yang mungkin lebih
besar dari tubuhnya.
Dan Leo Kristi, 57 tahun, memberikan aba-aba. Suara bening, suara
kanak yang telanjang, masih murni memecah: "...di tanah merdeka ini,
putih tetap putih..., hitam tetap hitam.... Janganlah kau cemas...."
Malam itu, gitar Leo putus tiga senar.

Para penggemar Leo Kristi yang hadir di pentas Leo bertajuk Puisi
Gelap di Graha Bakti Budaya, TIM, pekan lalu, menyaksikan munculnya
wajah-wajah belia baru: Louise, siswi SMA 7 Malang; Dian, alumni
Sastra Sunda Universitas Padjadjaran. Ditambah seorang gadis cilik
bergitar yang berduet khusus dengan Leo membawakan tiga lagu, Hitam
Putih, O Danae, Oh Surabaya. Ya, sesuatu yang mengingatkan pada kakak-
beradik Monica Maria Lita Jonathans dan Theodora Maria Jilly, kakak
beradik Yana dan Nana van Derkley, serta Cecilia Fransisca-mantan
penyanyi-penyanyi Leo dulu yang suka mengenakan long dress hitam atau
putih bila berpentas. Mereka bergabung dalam konser-konser Leo selagi
masih di SMP atau SMA.

"Lita dan Jilly dahulu masih SMP, diantar mamanya di pertunjukan
pertama saya di TIM tahun 1973," kata Leo mengenang. Dan kini Louise
dan Dian-di antara mereka tak saling kenal-datang ke Jakarta Kamis
pagi, malamnya langsung manggung. Sementara itu, Ryan baru dikenal
Leo seminggu sebelum pentas. "Ketiganya baru saling bertemu
sekarang," kata Leo.

Anggota Leo silih berganti datang dan pergi, tersebar di mana-mana.
Pementasan pekan lalu melibatkan teman-teman lama Otte Abadi-pemain
bas dan harmonika yang dahulu rambutnya panjang dan kini, karena
sehari-hari main di kaf�, harus tampil necis. Juga Jasin Burhan,
pemain cello andal.

Keduanya datang ke pinggiran empang Buaran, dekat rumah Ryan.
Gadis cilik itu awalnya dilihat Leo berdiri di tepi jalan, saat ia
melintas naik bajaj. Dan feeling Leo mengatakan bahwa ia memiliki
bakat. "Leo lalu seminggu tidur di rumah petak. Tiap pagi bangun,
lalu melatih anak saya," tutur Mohammad Lutfi, yang sehari-hari
bekerja di pabrik asbes.

* *

Apa adanya. Itu cermin sikap pentas Leo yang bertolak dari hidup
sehari-hari rakyat bersahaja. Ia menamakan pertunjukannya sebagai
konser rakyat. "Seolah-olah di sudut mana saja, kita terus main," ia
mencoba merumuskan konsepnya. Panggung adalah sebuah jeda, rekaman
adalah jeda.

Denyut utamanya terletak pada perjalanan, silaturahmi dari kota ke
kota. Sebuah sikap yang mungkin bagi musisi siapa saja di era
profesionalitas ini pasti terlalu liar, tak terduga, terlalu riskan
dan amat bohemian.

Tapi, mengingat Leo adalah mengingat sebuah kejujuran. Tatkala para
pemusik dan artis-artis kita sibuk dengan konser amal tsunami-lalu
mendadak mencipta lagu-lagu solidaritas dan bertubi-tubi disiarkan di
televisi-muncul kerinduan untuk mendengarkan lagu-lagu Leo. Bukan
karena ia pernah mencipta Bencana Tanah Negara..., sebuah lagu
tentang gempa di Negara, Bali. Tapi dialah yang selama ini sungguh-
sungguh menyuarakan jiwa nelayan, laut, bau garam, angin, seperti
nelayan-nelayan Aceh yang gigih itu....

Lagu-lagu Leo seolah menyajikan bagaimana gejolak emosi kita juga
terpantul pada perubahan alam. Transisi pagi-malam yang membuat luruh
hati. Siluet. Temaram pasar. Lungsur subuh. Luruh cahaya. Bayang-
bayang puncak menara. Kaki langit yang jauh. Tebaran daun rontok.
Tepi cakrawala.
Bintang-bintang berkedip. Redup senja. Burung malam yang melintas....
Dan yang lebih penting adalah sisi optimisme dari rakyat jelata.
Lagu-lagunya adalah lagu rakyat kecil bergembira. Yang remuk redam,
sumpek, tertekan karena "sepatu-sepatu larsa di negara merdeka" dalam
lagu Walsa Aria sampai "tiada alas tidur, selain tangan penuh kasih"
dalam lagu Bulan Separuh Bayang, tapi tetap tegar. Nyalang memandang
kehidupan. Walau hanya berbekal siul.

Indonesia mungkin dalam bayangan Leo terlalu romantis. Malam itu, di
Stasiun Manggarai, Jakarta, ia terlihat betah. Banyak lagunya lahir
dari stasiun. Bangku-bangku peron malam itu terlihat jinak. Dahulu ia
sering tidur di stasiun. Stasiun adalah dunia hibuk. Tapi suasana
gerbong yang padat, gaduh, dan cenger bayi menangis itu yang
disukainya. Menjelang Lebaran, ia sering ke stasiun Bandung, turut
berjejalan dengan para pemudik yang berpakaian baru di kereta rakyat
tak ber-AC. "Bau jins baru itu khas, saya suka."

Dan dari balik kaca-kaca buram kereta yang melintas itu, ia saksi
panorama yang makin lama makin lenyap. "Tahun '78, Kiara Condong
(masih daerah Bandung-Red) masih banyak sawah, banyak anak-anak,
kini padat sekali," katanya.

"Lagu-lagu saya yo nggak isoh mencetak seperti Camelia I, Camelia II,
III, IV. Lagu saya bukan seri-serian kayak Kho Ping Ho, ngawur ae
rek," katanya dengan logat medok Jawa Timur yang kental. Ia meyakini
sebuah jiwa. Jiwa tak pernah mati, tak pernah berhenti mencari.

* *

Dan keyakinan itu mahal.

"Saya sampai menempel-nempel poster pertunjukan Om Leo di Gambir,"
tutur Muflihatul Firdaus, 18 tahun, kini asisten Leo. "Nggak tahu
jalan di Jakarta, ya, aku tempel saja di stasiun," tutur lulusan SMA
di Surabaya yang akrab dipanggil Firda itu.

Terasa ironis. Dibandingkan dengan banyak grup band muda era sekarang
yang dua tahun berkarya telah menjadi jutawan, dan bila pentas baliho-
baliho iklan segede gajah gagah terpasang di jalanan, pertunjukan Leo
yang telah malang-melintang puluhan tahun di dunia musik itu begitu
minim publikasi. Apalagi iklan.

Apa komentar "burung hantu malam" itu tentang berbagai band sekarang
yang cepat melejit? "Semua sama rasa membawakan nyanyian," katanya,
tegas. "Dan syair-syairnya menyedihkan." Ia tertawa.

Orang memang mengakui Leo memiliki teknik vokal unik. Penuh greget.
Hampir mendekati seriosa. Bila ia melengking, getar vibrasinya
terasa. Dan suaranya penuh tikungan falseto yang tak terduga. Dan itu
semakin hari semakin halus. "Pendidikan dasar musik itu penting,"
ujarnya. Saat sekolah SMP 4 Surabaya, ia belajar di Sekolah Musik
Rakyat Surabaya pimpinan Tino Kardijk, yang berasal dari Belanda. Ia
ingat kursus bersama dua orang Rusia. "Dua guru kesenian saya, Nuri
Hidayat dan John Topan, juga sangat berpengaruh."

Leo masuk Institut Teknologi Surabaya (ITS) pada tahun 1968, jurusan
arsitektur. "Dekan di ITS dulu, Pak Haryono, mengejar saya terus
karena berambut gondrong. Akhirnya saya semester tiga mengundurkan
diri," tuturnya mengenang. Tahun 1971, rumahnya di Jalan Sindoro
menjadi tempat mangkal anak muda. Di situ ia sering memutar piringan
hitam album-album Bob Dylan, Woody Guthrie, Carlo Guthrie yang
didapatnya dari loakan Pasar Turi, belajar lirik-lirik Dylan
seperti "blowin in the wind, the times they are changin." Gombloh,
Frankie Sahilatua, semua ngumpul. Gombloh adik kelas angkatan '70
di ITS. Lalu, bersama Gombloh, ia mendirikan kelompokLemon Tree's

"Itu sebenarnya nama pacar-pacar saya, singkatannya Leo, Monie,
Triesje." Ia ingat kakaknya lalu menorehkan kata Lemon Tree's
besar-besar di tembok dekat gardu samping rumah. Almarhum
Gombloh meneruskan kelompok tersebut.

Lalu, tahun 1975, Leo memakai bendera konser rakyat. "Aku pakai
baret hitam, Gombloh pake baret merah. Aku pakai bendera merah-putih,
Gombloh juga pakai." Dan lahirlah lagu-lagu berwatak patriotik dan
asmara yang tak
cengeng.

Para penggemarnya ingat misal album Nyanyian Cinta, yang sekarang
susah didapat itu. Segudang kobar asmaranya diungkapkan. Ada Baptis
Theresa, Seikat Mawar Eliza, Marga Souvenir Pojok Somba-Opu, Siti
Komariah Ikal Mayang. "Di tempat jual besi Haji Sukri, dekat Pasar
Keputran, Surabaya, itu lagu Anna Rebana saya ciptakan."

Dan ia mengenang sebuah gundukan tanah di Jalan Raya Darmo, dekat
Rumah Sakit Darmo tahun 1970-an. Di situ biasanya ia siang-siang, di
terik kerontang panas, mencangklong gitar di punggung-ciri khasnya
sekarang-latihan menyanyi. "Dianggap gila, tapi anak-anak Santa Maria
yang lewat itu cantik ha-ha-ha...."

Dan mungkin tidak ada seorang pemusik yang begitu cinta akan kotanya
seperti Leo. Ia banyak menulis lagu bertema Surabaya ..Sudut Jalan
Surabaya,1979, Catatan Jalan Surabaya, Surabaya Bernyanyi, Tepi
Surabaya, Oh Surabaya. Ketika garang menyanyikan tentang kota, saat
menyusuri pesisir-pesisir Jawa Timur, ia bisa lirih begini: ...kota
kecil dalam suara-suara ronda malam.

"Masihkah ia bisa menulis teks, tentang kota kecil nan indah-seperti
ketika di Bondowoso ia menulis Umi Muda Serambi Tua?"

* *

Musim dingin. Athena, Desember, 2003. Suhu udara bergerak melampaui
13 derajat Celsius. Angin berembus, menusuk sumsum.
Leo, ber-sweater biru, bersama serombongan seniman Indonesia, Sudjiwo
Tejo, Dorothea Rosa Herliany, Ubiet, Davy Linggar, Taufik Rahzen,
serta rohaniwan Mudji Sutrisno, berada di kaki tebing Akropolis yang
tersohor. Tas-tas dititipkan dahulu-di pintu penjagaan. Giliran Leo,
ia menolak gitar yang dicangklongkan di punggungnya diserahkan.
"Nggak, nggak, diancuk..., aku nggak mau." Ia menampik kesempatan
langka, naik melihat Parthenon, kuil pemujaan Dewi Athena yang
dibangun beberapa abad sebelum Masehi itu, hanya karena tak mau
dipisahkan dengan gitarnya. Lalu ia ngelayap sendiri di kedinginan.

"Gitar itu adalah anaknya," Mudji Sutrisno berseloroh Leo memang
cinta pada anak. Bila kita simak album Nyanyian Cinta, misalnya,
sampul depannya adalah potret dirinya saat bocah. Sampul depan
album Tanah Merdeka juga menampilkan Leo memeluk anak. Banyak lagunya
juga sering disisipi suara tangis atau tawa bayi. Katia Amanda dan
Aku, lagu yang syairnya dikutip di awal tulisan ini, adalah salah
satunya. Lagu ini dikarang saat Leo di Gresik menjelang Maulid Nabi.
Ia melihat dari rumah-rumah tua, saat senja bersemburat ribuan walet.
Dan di pantai, banyak keluarga sederhana bersama bayinya berperahu.
Suatu kali di tahun 1985, ketika ia rekaman Album Biru Emas-album
yang kemudian gagal beredar-ia bertemu dengan Ferdi, saat itu 7
tahun, anak pegawai studio Usaha Remaja. "Ayah-ibunya mau cerai, saya
ajak ia mengembara, membuat skets di pantai-pantai Klungkung, Bali."
Hal yang sama juga dilakukan saat bertemu Sam, seorang anak Bugis,
di Pantai Lovina, Bali. Ia ajari menggambar menggunakan krayon,
charcoal, atau bunga-bunga bekas upacara.

Mengembara bersama anak mengingatkan Leo akan masa kecilnya sendiri.
Tatkala SD, menggunakan otoped ia ngeluyur ke tambak-tambak, bahkan
jauh ke Gresik. "Cari cap rokok klobot yang aneh-aneh," katanya. Ia
juga suka bila musim jangkrik malam-malam bertandang ke gubuk-gubuk
seng gelandangan di pinggir kali, senang melihat mereka menyorotkan
lampu-lampu sepeda.

Ada suatu masa di tahun 1990-an, para penggemar Leo melihat ia begitu
bersukacita bermain dengan kedua anaknya, Panjirangi Pidada Subima
dan Rayu Rana Ramadhani. Keduanya ia biarkan di atas piano saat ia
menyanyi di panggung. Atau orang memergoki ia bersepeda sembari
menggendong anaknya.

Tapi, tatkala ia ingin membawa anaknya bertualang menyanyi dari kota
ke kota, mertuanya yang masih brahmana Bali melarang. Dan Januari
2000, ketika Panji berumur hampir 5 tahun, sang mertua "menculik"
cucu-cucunya, membawanya pulang ke Bali. Sampai sekarang ia tak boleh
menengok. "Kakek Panji selalu tahu kalau aku datang."

Tak sampai hati menanyakan pada Leo soal anaknya, kita hanya ingat
kata-kata Tagore bahwa seseorang yang mencintai anak-anak pasti
memiliki kepekaan rohani. Dan memang, sesungguhnya pada beberapa
lagunya seperti Nyanyian Maria, Bludru Sutra Dusunku, Synago Gue,
napas spiritual anak kedua dari empat bersaudara yang muslim tapi
sejak di SD aktif dalam kegiatan menyanyi di gereja ini-sebagai
bagian dari kegiatan sekolahnya yang Katolik-mencuat.

Dengarkan Siluet Katedral Tua: "... Rahib tua dalam requiem
diriku...Kristus Agung aku datang...dalam luka menganga merah, asap
mesiu, melati putih di pelukku...," berakhir dengan kor gloria
bersama. Ia yang tak pernah ke Timor Timur juga bisa menghasilkan
lirik kuat "tubuh-tubuh terbujur kaku, di antara altar dan bangku-
bangku, rumput sabana jadi merah." Tahun 1993, Leo menunaikan umrah.
Adakah lagu yang ia ciptakan dari tanah Mekah? "Belum, tapi saya
terkenang terus makam nabi di Madinah." Ia tertawa membayangkan
dirinya religius.

"Mungkin penggemar saya kini paling 5.000-an," Leo menerka. Tentu tak
sesedikit itu. Apa yang masih ingin dicapai oleh pemusik yang
memiliki 150 lagu tapi hanya direkam 90-an ini? Ia mengangankan
sebuah pertunjukan besar dengan banyak instrumen hingga bisa merebut
perhatian.

"Aku ingin gabungan gitar, vibraphone, timpani, xylophone, trombone,
trompet, sax," katanya. Untuk itulah, kadang, bila menyelinap di
kafe-kafe, ia sering mencatat pemusik-pemusik yang baik. Di sebuah
pub di bilangan Lokasari, Jakarta, misalnya, ia pernah bertemu dengan
seorang pemain trompet lagu-lagu Batak yang dianggapnya bagus. Leo
meminta waktu. "Ia bingung tak kenal saya..., untuk apa?"

Mengenaskan, seniman sekaliber Leo mencari-cari seperti itu. "Apakah
mau misal dengan Erwin Gutawa?" Leo ketawa. "Mengapa tidak?" Tapi
memang, untuk kemungkinan-kemungkinan seperti itu, Leo harus banyak
mengerem "kesablengan"-nya.

"Rakakuku. Rakakaku burung hantu.." Lagu terkenalnya malam itu
disambut tepuk hangat. "Cak, sound system dibenakno dhisik," seorang
penonton berteriak meminta agar sound system yang memang kacau bret-
bret-bret itu diperbaiki. "Ya, ya," sahutnya. Malam itu Leo banyak
guyon.

"Ini lagu Caligula..., eh gu lagalagu.... Ini lagu Boomerang..."
Penonton tertawa, tahu maksud Leo adalah lagu Kereta Laju yang pernah
diaransemen ulang oleh grup rock Boomerang. Lalu suara Leo
menggelegar: "..Kereta melaju berlari, di atas kopor kuangkat kaki,
seraya melayang, serasa terbang, senyumku terkembang.., walau
kusendiri." Ditimpali suara Dian yang halus, "Bawalah aku cepat
berlari, bawalah aku jauh, jauh pergi..ai ..ai..ai...."

Rata-rata penggemarnya tak menggerutu bila pertunjukannya
"compang-camping". Senar putus, stem gitar yang terlalu lama, kabel
centang-perenang, celoteh-celoteh yang tak perlu. Semuanya maklum.
Semuanya mafhum bahwa Leo adalah Leo. "Masih Leo yang dulu. Ya, Leo
yang berjins belel, bersepatu bot hitam, suka menyantap kepiting,
tak mau tertib, terkesan susah diatur, tapi selalu membawa nyala
api di dalam hatinya. Yang lalu berjalan lagi, entah ke mana....
Bung, jabat tangan erat-erat....

Seno Joko Suyono
-----------------------------------
Copyright @ tempointeraktif
Tempo No. 11/XXXIV/09 - 15 Mei 2005






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Ever feel sad or cry for no reason at all?
Depression. Narrated by Kate Hudson.
http://us.click.yahoo.com/LLQ_sC/esnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke