----- Original Message ----- From: Rinto Jiang To: Milis Budaya Tionghoa Julie Lau menulis :
kesimpulan sementara: menyinggung no 2 diatas berarti agama yang sejalan sengan budaya_tionghua cuman khonghucu dan budha? lha yang kristen dan muslim pegimana? terus mesjid yang mirip kelenteng itu apa termasuk budaya_tionghua enggak? Chris menulis : Satu hal lain yang kita sadari adalah, manusia itu multi-dimensi. Kita tidak bisa memilah2 manusia menjadi cuman bagian dari budaya tertentu. Seseorang etnis tionghoa, misalnya, bisa saja dia bergelar raden, mempraktekkan ritual2 Jawa, hari minggu ke gereja, lalu sampai di rumah makan bakcang. Itu bisa saja terjadi. Dan masyarakat tionghoa dulu, ada era (biasanya golden-age) dimana masyarakatnya lebih inclusive dan mudah menerima hal2 dari luar, dan ada era (biasanya waktu krisis) dimana masyarakatnya menjadi lebih exclusive dan xenophobic. Rinto Jiang : Sebenarnya menurut pengamatan saya mengapa kebiasaan dan tradisi Tionghoa dibuang begitu memeluk agama lain dapat diuraikan dalam 3 alasan : a.. Ritual budaya, adat tradisional tersebut dianggap merupakan ritual dari agama lain, sehingga harus dihindari karena tidak boleh beragama dua. Ritual, bila teringat kata ini, pikiran kita pasti akan menuju kepada yang berbau keagamaan, kepercayaan. Ini jelas pandangan yang salah. Namun di dalam tulisan Bung Chris saya melihat satu kalimat "......Seseorang etnis tionghoa, misalnya, bisa saja dia bergelar raden, mempraktekkan ritual2 Jawa, hari minggu ke gereja, lalu sampai di rumah makan bakcang......". Di dalam kalimatnya, tersirat bahwa ia membedakan ritual budaya (Jawa) dan ritual keagamaan (Kristen, ke gereja). Saya mengajak anggota yang menyimak untuk memikirkan sebentar, berapa banyak ritual dan tradisi budaya yang sebenarnya bukan ritual dan tradisi agama namun kemudian diklaim menjadi menjadi ritual agama tertentu. Menghormati leluhur dengan hio, merayakan Imlek dan masih banyak yang lainnya dianggap merupakan ritual dan tradisi dari agama tertentu sehingga diharamkan oleh agama tertentu. Bagi saya ini pandangan yang sempit yang cuma memandang sisi luar ritual tadi tanpa memandang esensi yang melatarbelakanginya. Dulu, gereja di Indonesia akan melarang perayaan Imlek oleh umatnya yang Tionghoa, apalagi di zaman Orde Baru. Sampai pada zaman reformasi sekarang ini, setelah adanya euforia kebangkitan kebudayaan Tionghoa di Indonesia, barulah gereja2 mulai menerima perayaan Imlek di gereja maupun oleh umat mereka di lingkungan masing2. Bila Katolik lebih permisif dengan adat dan tradisi kebudayaan Tionghoa itu karena Vatikan memperbolehkannya pada masa Dinasti Qing, namun sebelumnya juga pernah melarang keras adat tradisi Tionghoa. Saya pusing sebenarnya, bentar dilarang, bentar boleh dan umat beragama kelihatannya cuma disetir ke sana ke sini hanya karena ada motivasi tertentu di balik kebijakan melarang dan memperbolehkan tersebut. Saya sedang mendalami topik tentang persinggungan ritual budaya dan agama ini dengan membaca buku2 yang bersangkutan, jadi bila disuruh menjelaskan mungkin belum dapat saya urai dengan jelas. a.. Adat tradisi yang tidak sesuai dengan agama yang dipeluk harus diharamkan, disetankan dan ditinggalkan sepenuhnya. Point ini kira2 sama dengan point di atas, cuma tidak ada unsur agamanya. Ini misalnya pada masalah Hongshui dan ramalan2 yang ditentang keras oleh salah satu anggota di sini yang beragama Buddhis. Agama lainnya (Barat) juga menentang hongshui dan ramalan2 (ba zi, shio) ini. Menentang dan tidak setuju terhadap sebagian dari hongshui, ramalan2 tersebut karena alasan tertentu yah boleh saja karena itu kemerdekaan masing2 orang, namun tidak perlu sampai membuang dan mengharamkan seluruh yang berkaitan dengannya. Yang membuat masalah itu berbau tahyul itu kan pikiran kita, jadi yang direformasi harusnya adalah cara kita memandang segala sesuatu yang berkaitan dengannya dan bukan menentangnya mentah2 serta mengharamkannya, apalagi dengan cara membakar. Sebagai orang yang rasional, seharusnya kita ambil yang positif dari sesuatu masalah dan buang sisi negatifnya. Ini akan lebih berguna bagi kemajuan peradaban manusia pada umumnya dan kita pribadi pada khususnya. Saya ada beberapa teman (di Indonesia) yang rajin ke gereja dan ketika ditanya pendapatnya mengenai hongshui, jawaban mereka pasti negatif, dan ketika ditanya seberapa mengertinya mereka akan hongshui, mereka tak akan bisa menjawab disebabkan penolakan terhadap hongshui cuma karena doktrin dari pemuka2 agama. Saya pribadi sangatlah tidak simpatik dengan sikap pre-judice, fanatisme tidak berdasar seperti ini, memutuskan pandangan kita sebelum mendalami suatu permasalahan. a.. Memuja kebudayaan Barat sehingga harus membuang segala sesuatu yang dianggap kuno. Point ini tidak ada hubungannya dengan agama, lebih pada aspek budayanya. Cuma karena pemujaan terhadap kebudayaan Barat menyebabkan banyak orang malu berbudaya leluhur karena takut dianggap kuno dan tidak responsif terhadap kemajuan zaman. Globalisasi memang menjadikan budaya Barat mendunia namun ini tidak harus menjadikan kita meninggalkan dwi bahkan tri-identitas kita sebagai seorang Tionghoa. Dua point pertama mungkin ada hubungannya dengan kemurnian ajaran agama dan point ketiga lebih pada segi budayanya. Mudah2an keyakinan saya akan agama dan budaya dapat bersanding bersama tanpa banyak friksi adalah benar adanya. Rinto Jiang [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Dying to be thin? Anorexia. Narrated by Julianne Moore . http://us.click.yahoo.com/FLQ_sC/gsnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

