Mas/Mbak Aris ysh,
Makasih atas tanggapannya. Saya setuju sebagian pendapat anda. Saya
juga bukan pendukung neo-liberalisme. Tetapi kita hidup di zaman yang
sudah tidak memungkinkan kita untuk memusuhi bulat2 kapitalisme, dan
saya melihat -despite of unfair sides- masih ada bagian dari
liberalisme yang tidak salah. Dari zaman Rasulullah SAW pun tidak ada
pelarangan orang menjadi kaya dan memiliki modal. Kalau Islam punya
mekanisme zakat untuk redistribusi modal, maka didunia kapitalisme ini
ada yg namanya pajak; atau spt di Malaysia: keduanya. 

Ketika kita berdiri di track bersama pelari2 lain yg mampu berlari
cepat sedangkan kaki kita masih lemah, apakah yg harus kita lakukan?
Tidak mau berlari dan mengutuk para pelari lainnya? Atau mencoba
sekuat tenaga berlari dijalur yang aman -spy tidak ditabrak pelari
lain- sambil menguatkan diri kita? 

Tulisan tsb saya maksudkan untuk menggugah pemikiran kita, karena kita
cenderung lebih suka menyalahkan orang lain daripada melihat kelemahan
diri kita sendiri. Kalau begini terus, kapan kita akan memperbaikinya?
Sejarah tidak membuktikan bahwa model sosialisme bisa mengungguli
liberalisme, sehingga berangan2 bahwa azas sosialisme akan memperbaiki
ekonomi kita dan menghancurkan kapitalisme hanyalah utopia. Bagi saya,
yg penting kita bisa bermain smart, karena kita toh tidak bisa menutup
diri dari dunia luar. 

Soal konspirasi, ada benar ada tidaknya. Saya ulangi lagi: play smart.
Tidak melulu yg dari luar itu salah, tidak semua juga benar. Khusus
kasus IMF, IMHO, ada 2 kesalahan utamanya di Indonesia: salah diagnosa
dan memberikan resep generik. Tetapi ada bbrp kesalahan utama
pemerintah kita saat itu: bermain2 dg waktu (tidak alert akan bahaya
yg mengancam), mengabaikan sekuensial liberalisasi pasar uang
(ceroboh), dan mengamini saja resep generik IMF (tidak play smart). 

Tapi ada sedikit yg meringankan kesalahan 2 belah pihak: nobody knows
what really should do at that time. Situasinya sangat buruk, tidak ada
pengalaman yg memadai, dan tidak banyak pilihan karena seolah waktu
berjalan sangat cepat. Kalau anda yang menjadi Presiden, atau Menkeu
saat itu, yakinkah anda bahwa bisa menghandle situasi menjadi lebih
baik? (Maaf bukan nantangin, ttp ini yang ditanyakan ke saya pada saat
saya mengkritisi IMF dan Pemerintah RI disuatu sesi diskusi dg
profesor2 dan pejabat IMF. Katanya gini: analisis anda bagus karena
hal itu sudah berlalu :D ).

Saya pikir, hubungan kita dg IMF adalah hubungan transaksi. Ada ijab
kabul, kita bebas bilang ya atau tidak. Kalau ada hal2 yg kita lihat
berpihak pada kepentingan US dan merugikan kita, kita bisa bilang No.
Tidak adil kalau kita menimpakan semua kesalahan pada IMF, peran kita
sendiri cukup besar didalamnya, bahkan sampai saat ini. (Saya bisa
bilang ini karena pernah bbrp kali lihat langsung rapat penyusunan LoI). 

Saya orangnya pragmatis, dan mencoba rasional. Kalau orang menentang
habis2an liberalisme, saya mencoba menempatkannya pada realita. Kalau
kita tidak rela ada pemain swasta masuk di pembangunan listrik,
silahkan nikmati saja kekurangan listrik bbrp tahun mendatang dan
biarkan daerah pedalaman tetap tak terjangkau listrik. Memangnya kita
masih sangat kaya raya sehingga punya modal besar buat membangun semuanya?

Soal ketimpangan pemain di perdagangan dunia, yes, saya melihat itu
ada. Makanya kita juga seharusnya berusaha pegang truf spy tidak
dipermainkan. Kita adalah pasar yang besar untuk market dunia, ini
salah satu truf kita.. eh malah kita dijadikan tempat buang "sampah".
Kalau dirunut ternyata banyak hal yg sangat bisa diperbaiki, soal
ekspor, soal hak cipta, soal kuota, soal buruh, dll... sayangnya nggak
banyak yg dilakukan sampai sekarang. 

Soal ISO, mmmm... panjang kalau dibahas disini, tetapi perlu
diperbandingkan juga bagaimana negara2 lain spt Malaysia dan Thailand
menyikapinya. Tidak selalu ada hubungannya antara penerapan ISO dan
lepasnya industri kita. Spt pernah saya tulis sebelumnya: jangan
tergesa2 menyimpulkan kalau A maka B hanya karena keduanya ada,
mungkin sekali ada C,D,E yang mempengaruhi B ini. Thanks to
econometrics, we can apply the data to see relationship among those
factors. 

Maaf ya Mas/Mbak Aris, saya malah panjang banget jawabnya. Padahal
belom tuntas yg ada dikepala saya, tapi saya harus menyelamatkan
masakan saya dikompor ;) .. sorry ya... tak cukupkan sampe disini.
Maaf kalau ada kata yg salah; kalau sempat saya akan cek imel lagi
nanti dikantor.

pisss,

fau





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/MCfFmA/SOnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke