rupa�nya ke acara inilah habisnya duit rakyat itu yah, cian deh rakyat 
kuh..bangsakuh..
(kebayang deh gimana saat pemilu, sodara�ku sebangsa setanah air, 
berbondong-bondong dr seluruh pedalaman tanah air menu7 kotak suara, dengan 
penuh harapan agar negara ini menawarkan perubahan yg lebih baik, menuju 
kemakmuran di segala bidang..ternyata..ahhhh..bahkan untuk ikut ujian nasional 
aja masih ada yg ga mampu.........) pedih jendral!!!!..

Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Refleksi: Siapa rekanan pemberi dana taktis? Dana taktis artinya dana penutup 
mata, mulut dan kuping? Dana taktis untuk membawa kemenangan bagi partai-partai 
politik dan orang-orang tertentu guna menduduki kursi kekuasaan? Kagumilah 
pertunjukan sulapan sapu yang kotor untuk membersihkan lantai yang kotor. 
Abrakadabra simsalabim ! 

Pujikan dan panjatkan syukur kepada Yang Mahasegala Kuasa bahwa berkat 
bimbingannya Indonesia telah melakukan pemilu yang bebas dan demokratis, 
demikian kata seorang petinggi terpilih.


http://www.suaramerdeka.com/harian/0505/14/nas01.htm

BPK Dapat Rp 520 Juta
a.. Kesaksian Hamdani Amin 
JAKARTA - Abidin, pengacara tersangka Kepala Biro Keuangan KPU Hamdani Amin, 
kembali mengungkapkan dana taktis Rp 20 miliar yang diperoleh dari rekanan 
tidak saja dibagi-bagikan ke semua anggota mulai dari karyawan sampai pimpinan 
KPU. Dana taktis tersebut juga dibagikan kepada lembaga lain, seperti BPK 
mendapat jatah Rp 520 juta dan DPR RI Rp 120 juta.

Data itu diungkapkan Abidin semalam seusai mendampingi kliennya yang diperiksa 
oleh KPK. Pada kesempatan tersebut, tersangka Hamdani dan Plh Sekjen KPU 
Sussongko Suhardjo diperiksa dan dipertemukan oleh KPK untuk dikonfrontasikan.

Berdasarkan penuturan kliennya, pengacara tersebut mengungkapkan, wakil sekjen 
dan sekjen KPU masing-masing mendapat jatah 75.000 dolar AS, sedangkan wakil 
ketua dan ketua KPU memperoleh lebih besar masing-masing 125.000 dolar AS. Dana 
taktis tersebut diberikan kepada mereka dalam bentuk uang kehormatan, pokja, 
honorarium, dan insentif. 

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla mempersilakan KPK untuk memeriksa 
Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin jika dia memang diduga terlibat 
penyimpangan dana saat masih duduk sebagai anggota KPU. 

Bahkan tidak menutup kemungkinan Hamid dinonaktifkan dari kabinet jika dalam 
proses hukum telah ditetapkan sebagai tersangka.

''Sistem hukum Indonesia tidak mengenal diskriminasi antara rakyat biasa dan 
pejabat termasuk juga menteri. (Semua sama) di hadapan hukum. Dengan demikian, 
siapa pun dapat diperiksa untuk kepentingan hukum,'' ungkap Wapres di Istana 
Merdeka Selatan, Jumat (13/5).

Kalla mengemukakan, berdasarkan informasi yang dia dapatkan dan juga telah 
dijelaskan oleh Menkum HAM sendiri lewat media massa, Hamid tidak tahu-menahu 
soal adanya dana taktis seperti disebutkan Kepala Biro Keuangan KPU Hamdani 
Amin kecuali uang yang dia terima sebagai honor tambahan.

''Sejauh apa yang dijelaskan Hamid di media, dia tidak mengetahui dan tidak 
terlibat dalam hal yang banyak disiarkan tersebut. Jadi, sementara ini saya 
berpegang pada itu. Akan tetapi, KPK bebas untuk memeriksanya,'' ungkap Wapres.

Saat ditanya kemungkinan Hamid dinonaktifkan dari Kabinet Indonesia Bersatu, 
Kalla tidak menampik hal itu. Dia memastikan, siapa pun pejabat yang dalam 
proses hukum telah ditetapkan sebagai tersangka akan dinonaktifkan dari 
jabatannya.

Pribadi

Secara terpisah, Wakil Ketua KPU Ramlan Surbakti mengatakan, tanggapan atas 
dana taktis tidak akan dilakukan secara kelembagaan (KPU-Red) tetapi akan 
disampaikan secara pribadi. ''Nanti akan disampaikan secara pribadi atau orang 
per orang dan lebih baik di forum resmi di depan KPK,'' paparnya.

Saat disinggung masalah bagian dana yang dia terima, Ramlan enggan menjelaskan 
secara detail. ''Selain uang kehormatan dan honor, saya juga mendapat bagian 
dari kelompok-kelompok kerja (pokja) yang saya ikuti. Yang saya terima 
tergantung pada berapa banyak pokja dan berapa lama yang saya ikuti. Saya tidak 
hafal (jumlah persisnya), ada standar-standar tertentu.'' 

Ketika ditanya tentang anggota KPU yang mengikuti beberapa pokja, Ramlan 
menekankan, itu tergantung pada tugasnya. ''Saya kan pimpinan, jadi saya ikut 
dalam semua pokja,'' lanjutnya. Dia menyebutkan, pengadaan bahan-bahan pemilu 
tersebut sudah masuk proses hukum sehingga tidak melalui proses institusi.

Ramlan tidak mempermasalahkan, jika keterangan yang diberikan tiap-tiap anggota 
KPU berbeda. ''Kita lihat saja nanti,'' ujarnya.

Anggota KPU Valina Singka menuturkan, setiap anggota KPU menerima uang 
kehormatan Rp 12,5 juta dipotong pajak. Mengenai uang bensin bulanan, diberikan 
dalam bentuk voucher, honor pokja dibuat sesuai dengan proses tahapan pemilu. 
''Itu resmi sesuai dengan SK KPU. Soal dana taktis, tanyakan ke Pak Hamdani 
(Hamdani Amin, Kepala Biro Keuangan KPU-Red), saya tidak tahu-menahu.''

Menanggapi keterangan Hamdani yang menyatakan adanya dana taktis, Valina yang 
belum memberikan klarifikasi menyebutkan, tiap-tiap anggota KPU akan 
menyampaikan keterangan di KPK. Dia mengaku tidak mengetahui kapan KPK akan 
memanggil dirinya.

Terjawab

Sementara itu, tidak tampaknya anggota KPU di kantornya akhir-akhir ini, kini 
terjawab. Mereka ternyata memindahkan ruang rapat dan memarkir mobilnya di 
sebuah rumah yang terletak di perempatan Jalan Imam Bonjol - HR Rasuna Said 
yang bersebelahan dengan kantor KPU.

Lokasi rumah dihubungkan dengan sebuah lorong yang memiliki tangga dan selalu 
dijaga oleh polisi. Anggota KPU dapat dengan mudah menghindar dari kejaran 
wartawan. Sekilas, rumah tersebut tampak tidak berpenghuni. Namun, di tempat 
itu beberapa wartawan melihat ruangan itu baru digunakan untuk rapat.

Terdapat meja memanjang dan belasan gelas yang yang terlihat baru dipakai 
karena sebagian isinya sudah kosong. Yang lebih mengejutkan, wartawan dapat 
melihat dengan jelas anggota KPU Anas Urbaningrum yang bersembunyi di belakang 
tembok ketika melihat kedatangan wartawan. Anas yang tidak menduga kedatangan 
para kuli disket itu, tidak bersedia berkomentar.

Sebelumnya, Anas menjadwalkan akan melakukan konferensi pers namun dibatalkan 
tanpa alasan jelas. Selain Anas, wartawan juga bertemu dengan Valina yang 
hendak pulang melalui ''jalan rahasia'' tersebut.

Akan Dipanggil

Sementara itu, BPK diminta melanjutkan audit investigasi terhadap 10 item 
pengadaan barang kebutuhan pemilu di KPU yang sebelumnya telah dihentikan. KPK 
siap membantu mengaudit dan bahkan siap memfasilitasi.

Hal ini dikemukakan Ketua KPK Taufikkurahman Ruki dan Ketua DPR RI Agung 
Laksono kepada wartawan seusai pertemuan tertutup, Jumat kemarin. 

Dalam pertemuan itu, Ruki didampingi dua wakilnya, sedangkan Agung didampingi 
Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar. Ruki mengemukakan, pihaknya akan membantu 
BPK sehingga suasananya kondusif untuk pengauditan lanjutan di KPU.

Yang penting, lanjut Ruki, audit investigasi terhadap 10 item barang kebutuhan 
pemilu di KPU itu harus tetap dilanjutkan. Bahkan kalau dianggap perlu, 
orang-orang KPU yang kini ditahan bisa didatangkan untuk dimintai keterangan. 
''Penegasan ini akan saya sampaikan agar masyarakat tahu duduk persoalannya,'' 
tegasnya.

KPK siap kerja sama dengan BPK untuk mempercepat penyelesaian masalah di KPU 
termasuk mempercepat agar hasil penyidikan di KPU dapat segera dilimpahkan ke 
pengadilan. ''Akan kami buktikan siapa yang terlibat dan berbuat apa dalam 
kasus korupsi di KPU ini,'' ujarnya.

Menanggapi pengakuan Menkeh dan HAM Hamid Awaluddin bahwa dia telah menerima 
sejumlah uang sebagai honor selaku anggota KPU, Ketua KPK berjanji akan 
menyelidiki masalah tersebut. ''Kami ingin tahu dulu siapa yang memberikan uang 
tersebut. Uang itu untuk apa dan sebagainya. Jadi, saya akan konfirmasi dulu 
dari mana asal uang itu,'' ungkapnya.

Menurut keterangannya, penerimaan uang itu belum bisa dikatakan legal atau 
tidak. ''Saya harus tahu sumber dana di KPU, dan KPU sendiri punya aturan 
internal. Keterangan dari saksi belum bisa dijadikan bukti kuat. Jadi, masih 
harus dipanggil lagi.''

Saat ditanya, kapan Awaluddin diperiksa, Ruki menyatakan akan melihat jadwalnya 
terlebih dulu. ''Ya, pokoknya akan kami panggil,'' tandasnya. 
(A20,sas,aih-48,49j) 


[Non-text portions of this message have been removed]




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links







                
---------------------------------
Discover Yahoo!
 Stay in touch with email, IM, photo sharing & more. Check it out!

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/OCfFmA/UOnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke