kayak ga tahu mbak Carla ini aja, dia itu kan G W Bush Maniac. 
American wanna be person. Juga fake story lover not to mention 
Harley Davidson story teller. The optimist girl who always sees war 
from the bright sides, not from the bodies or the continuing hatred 
caused or even the raising oil's price. 
If there would be any chance or US promotion girls needed. I believe 
this Carla would be the most suitable amongst others.Even For free 
of course.

Salam, 


--- In [email protected], Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> 
> 
> carla, kawan saya menulis dengan cara yang sangat berimbang....
> simaklah....
> 
> 
> Yang `Kudus'� yang Berdarah
> 
> Film Kingdom of Heaven menampilkan sisi lain dari Perang Salib. 
Itulah 
> perang yang diawali para pemeluk baru yang fanatik.
> 
> Dengan mimik muak, Tiberias, pangeran dari Tripoli itu, menghentak 
kudanya 
> menjauhi Yerusalem. "Mulanya kupikir kita perang demi Tuhan, 
ternyata demi 
> tanah dan kekayaan�. Aku malu�." Ia undur, meninggalkan sendiri 
Balian, 
> pangeran Ibelin yang memandang hamparan mayat pasukan Salib 
diserbu ribuan 
> gagak.
> Kalimat ini terasa menohokbagi kita yang menonton adegan film 
Kingdom of 
> Heaven. Sebuah kalimat yang, konon, oleh sutradara Ridley Scott 
ditujukan 
> untuk Presiden Bush. Intinya: betapa pembelaan berlebihan pada 
yang suci 
> bisa berakibat suatu  paranoia yang fatal.
> Inilah sebuah film dengan setting berabad-abad lampau, tapi masih 
aktual 
> dipakai sebagai cermin masa sekarang. Film ini mengambil kisah nun 
jauh di 
> tahun 1099. Serombongan kafilah muslim Sarasin dibantai oleh 
seorang baron 
> bernama Reynauld de Chatillon, dan Saladin membalas. Yerusalem 
jatuh ke 
> tangan Saladin, peristiwa yang  akhirnya menggulirkan Perang Salib 
ke-3.
> Banyak teolog atau sejarawan yang menegaskan bahwa asal-usul 
Perang Salib 
> tidak bersumber pada nilai-nilai agama Kristen atau Islam, dan 
film ini 
> menyuguhkan  sisi-sisi itu. Sisi yang sering dilupakan bahwa dari 
kedua 
> belah pihak muncul banyak tokoh yang berusaha keras membina 
toleransi, 
> menjaga gencatan senjata. Tapi akibat langkah  baron-baron yang 
bermotif 
> campuran antara ekonomi dan religi, sejarah pun mencatat enam kali 
tragedi 
> besar itu berulang.
>    Awal Perang Salib, kita tahu, adalah ketika kaum Turki Seljuk 
merangsek 
> ke wilayah-wilayah Bizantium, dan mulai menjamah Anatolia. Ketika 
itu 
> Bizantium (pusat kekristenan timur) yang sesungguhnya telah 
berpisah resmi 
> dengan Roma (pusat kekristenan barat) pada 1054, meminta tolong 
pada Roma. 
> Lalu, Paus Urbanus II di Konsili Clermont, November 1095, 
menyerukan 
> sukarelawan seantero Eropa Barat agar bergabung.
> Sejarah mencatat ksatria-ksatria Eropa kala itu: Inggris, 
Prancisterutama 
> ujung tombaknya, kaum Frank Normandiamengalir ke Bizantium. Tanda-
tanda 
> salib ditempelkan pada bahu. Mereka bersatu padu menghalau Turki 
Seljuk dan 
> kemudian mengarahkan diri  merebut Yerusalemmembebaskan makam suci 
Kristus.
>   Menurut buku Dr Th. van den End dan Dr Christiaan de Jonge dari 
Sekolah 
> Tinggi Teologia Jakarta, ada persamaan antara tentara Normandia 
dan Turki 
> Seljuk. Turki Seljuk baru saja masuk Islam, kaum Frank baru masuk 
Katolik. 
> Keduanya fanatik dan masing-masing tengah mencari jati diri. Turki 
> menentang kemapanan Arab,  sementara kaum Frank mencari jiwa 
Kristen baru 
> yang berbeda dengan Bizantium.
> Bila antara orang-orang Bizantium dan Arab telah belajar saling 
menghargai, 
> siap hidup berdampingan antara Kristen dan Islam, tidak demikian 
halnya 
> dengan kaum Turki dan Normandia waktu itu. Peradaban mereka masih 
rendah. 
> Sementara itu, Bizantium dan Arab adalah ahli waris kebudayaan 
Helenis. 
> Keduanya warga kosmopolitan yang telah lama saling tukar 
pengetahuan 
> sehingga orang-orang Konstantinopel saat itu mungkin lebih betah 
tinggal di 
> Kairo atau Bagdad daripada di Paris atau London.
>     Karen Armstrong, misalnya, menulis, ketika pasukan Salib 
berduyun-duyun 
> datang dari seantero Eropa Barat ke Konstantinopel. Raja dan warga 
> Konstantinopel kaget melihat betapa penyelamat mereka itu sangat 
> barbar,  buas, dan tak beradat. Warga Konstantinopel  ketakutan 
sendiri. 
> Sebaliknya, pasukan Salib semakin defensif begitu menyaksikan 
kemegahan dan 
> keanggunan Konstantinopel.
> Bizantium sendiri tidak pernah memaknai perang melawan Turki 
Seljuk sebagai 
> sebuah "perang suci" atau perang agama. Namun, di tangan pasukan 
Salib, itu 
> menjadi sebuah perang religius. Dengan rasa percaya diri  tinggi, 
sering 
> sepanjang perjalanan pasukan Salib merasa dilindungi secara gaib 
oleh Santo 
> George, Santo Demetrius, dan mendapat halusinasi dibimbing untuk 
menemukan 
> azimat-azimat, relik-reliktermasuk lembing suciyang dipakai untuk 
menombak 
> Kristus yang dianggap membawa kesaktian. Pada 15 Juli 1099, 
Yerusalem 
> takluk, seisi kota dibantai habis, dan Godfrey de Bouillon 
diangkat menjadi 
> Raja Yerusalem.
> Armstrong menerangkan, lambat-laun penghuni Yerusalem terbagi dua. 
Pertama, 
> mereka yang mengawini masyarakat Timur Tengah setempat dan menjadi 
lebih 
> toleran terhadap kaum muslim. Tiberias, misalnya, yang nama 
lainnya adalah 
> Raymond, sehari-hari mampu berbicara Arab secara fasih, dan 
sosoknya lebih 
> Timur daripada Baratkulitnya gelap. Kingdom of Heaven tak 
menampilkannya 
> demikian. Demikian pula Putri Sybilla, saudari Raja Yerusalem, 
Baldwin IV, 
> yang parasnya ditampilkan mirip wajah perempuan-perempuan Timur 
Tengah.
> Kelompok kedua adalah masyarakat yang tak mau melakukan asimilasi 
dengan 
> penduduk setempat. Terutama dari golongan ini adalah kelompok-
kelompok 
> ksatria yang menjadi armada kepolisian penjaga kuil-kuil istana 
yang 
> disebut Ksatria Kuil atau The Templars. Juga, kaum imigran dari 
Eropa Barat 
> yang terus-menerus beremigrasi ke Yerusalem, dan kemudian heran 
melihat 
> banyak keturunan kaum Frank di sana malah bersahabat dengan kaum 
muslim, 
> sehingga menyebut mereka pengkhianat.
> Konflik antara mereka yang toleran yang lalu disebut kaum Merpati 
dan yang 
> anti yang lalu berjulukan kaum Elang inilah inti skenario Kingdom 
of 
> Heaven, terutama ketika Reynauld de Chatillon, pemimpin kelompok 
Elang yang 
> baru beremigrasi ke Yerusalem pada 1147 dan Guy de Lusignan 
membantai 
> kafilah yang melakukan perjalanan ke Mekkah, termasuk adik 
Saladin. Mereka 
> juga mendesuskan kabar rencananya menyerbu Mekkah. Dua ratus ribu 
pasukan 
> Damaskus Saladin, pangeran asal Mesir itu, lalu menyerang, 
memanfaatkan 
> menara-menara katapel yang pada saat itu canggih.
> Musim panas Oktober 1187, Saladin menaklukkan Yerusalem. Ia masuk 
kota 
> tanpa pembunuhan warga dan penjarahan. Ia bahkan mengundang  kaum 
Yahudi di 
> pengasingan untuk kembali ke Yerusalem. Dan seperti Abu Bakar yang 
> menaklukkan Yerusalem pada 637, atau di dunia Islam Arab lain kala 
itu, ia 
> mengizinkan warga Yahudi untuk melakukan  pekerjaan apa saja, 
mulai dokter 
> sampai pegawai. Bukan hanya menjadi rentenir, seperti bila mereka 
hidup di 
> Eropa Barat (seperti diperlihatkan dalam Merchant of Venice karya 
> Shakespeare, yang difilmkan pada 2004 oleh sutradara Michael 
Radford dengan 
> aktor Al Pacino).
> Balian, yang menjadi tokoh sentral dalam Kingdom of Heaven, 
mungkin 
> perannya dalam film didramatisasi. Sejak berkapal dari Italia 
menuju 
> Yerusalem, badai menerjang terus, dan hanya dia dan kudanya yang 
selamatitu 
> tak masuk akal. Dalam riwayat aslinya, konon, Sybillia juga tak 
pernah 
> jatuh cinta padanya, tapi film menampilkan keduanya bercinta di 
ranjang. 
> Akan halnya Raja Baldwin yang menderita lepra itu, Hollywood 
membuatnya 
> mengenakan topeng keperakan yang terkesan teatrikal seperti Iron 
Mask.
> Tapi harus diakui, Kingdom of Heaven dilandasi riset yang teliti. 
Ketika 
> Reynauld de Chatillon dan Guy tertangkap, Saladin memberi Guy 
sekantong air 
> yang diberi es dari salju di Gunung Hermon. Itu ada dalam 
film. "Raja tidak 
> membunuh raja," kata Saladin  kepada Guy. Reynauld de Chatillon 
dipenggal, 
> tapi Guy dibiarkan hidup. Yang agak dikarikaturkan adalah peran 
Uskup Agung 
> Heraclius yang ditampilkan begitu ketakutan. Dalam riwayat, sang 
uskup 
> memang dikatakan membayar pajak dan dibebaskan oleh Saladin.
> Film ditutup dengan sekilas munculnya Richard Berhati Singa. Ini 
membuat 
> film ini seperti bersambung. Penonton tahu bahwa setelah itu 
sesungguhnya 
> terjadi pertempuran dahsyat Saladin melawan Richard. Perang Salib 
dalam 
> catatan sejarawan berakhir sekitar 1291. Tapi sampai 
sekarang, "daki" sang 
> perang berkeliaran ke sana kemari. Masih ada juga titik darah 
penghabisan 
> untuk sebuah paranoia. Film ini seolah berpesan, ketika Balian 
berteriak di 
> Yerusalem: "Tidak ada yang paling suci antara  Tembok Ratapan, 
Bukit 
> Golgota, Masjidil Aqsa�!"
> 
> Seno Joko Suyono
> (TEMPO, 16-22 Mei 2005)
> 
> 
> At , you wrote:
> 
> >The Real History of the Crusades
> >A series of holy wars against Islam led by power-mad popes and 
fought by
> >religious fanatics? Think again.
> >by Thomas F. Madden | posted 05/06/2005 09:00 a.m.
> >
> >
> >With the possible exception of Umberto Eco, medieval scholars are 
not used
> >to getting much media attention. We tend to be a quiet lot 
(except during
> >the annual bacchanalia we call the International Congress on 
Medieval
> >Studies in Kalamazoo, Michigan, of all places), poring over musty
> >chronicles
> >and writing dull yet meticulous studies that few will read. 
Imagine, then,
> >my surprise when within days of the September 11 attacks, the 
Middle Ages
> >suddenly became relevant.
> >
> >As a Crusade historian, I found the tranquil solitude of the 
ivory tower
> >shattered by journalists, editors, and talk-show hosts on tight 
deadlines
> >eager to get the real scoop. What were the Crusades?, they asked. 
When were
> >they? Just how insensitive was President George W. Bush for using 
the word
> >crusade in his remarks? With a few of my callers I had the 
distinct
> >impression that they already knew the answers to their questions, 
or at
> >least thought they did. What they really wanted was an expert to 
say it all
> >back to them. For example, I was frequently asked to comment on 
the fact
> >that the Islamic world has a just grievance against the West. 
Doesn't the
> >present violence, they persisted, have its roots in the Crusades' 
brutal
> >and
> >unprovoked attacks against a sophisticated and tolerant Muslim 
world? In
> >other words, aren't the Crusades really to blame?
> >
> >Osama bin Laden certainly thinks so. In his various video 
performances, he
> >never fails to describe the American war against terrorism as a 
new Crusade
> >against Islam. Ex-president Bill Clinton has also fingered the 
Crusades as
> >the root cause of the present conflict. In a speech at Georgetown
> >University, he recounted (and embellished) a massacre of Jews 
after the
> >Crusader conquest of Jerusalem in 1099 and informed his audience 
that the
> >episode was still bitterly remembered in the Middle East. (Why 
Islamist
> >terrorists should be upset about the killing of Jews was not 
explained.)
> >Clinton took a beating on the nation's editorial pages for 
wanting so much
> >to blame the United States that he was willing to reach back to 
the Middle
> >Ages. Yet no one disputed the ex-president's fundamental premise.
> >
> >Well, almost no one. Many historians had been trying to set the 
record
> >straight on the Crusades long before Clinton discovered them. 
They are not
> >revisionists, like the American historians who manufactured the 
Enola Gay
> >exhibit, but mainstream scholars offering the fruit of several 
decades of
> >very careful, very serious scholarship. For them, this is 
a "teaching
> >moment," an opportunity to explain the Crusades while people are 
actually
> >listening. It won't last long, so here goes.
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke