Republika
Rabu, 18 Mei 2005
Citra Islam dan Kemiskinan Umat
(Bagian Terakhir dari Dua Tulisan)
M Amin Aziz
Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang
Agar kita tidak terus terpuruk pada rasa rendah diri dalam melihat kemiskinan
umat ini, baiknya melihat pendapat Prof Dr Yusuf Qardhawi yang menyatakan,
''Kita pernah berposisi sebagai lokomotif peradaban dunia. Saat itu
universitas-universitas kita menjadi tujuan belajar para pelajar dan mahasiswa
seluruh dunia. Beberapa abad lamanya nama-nama intelektual kita menempati
urutan teratas. Kekurangan dan kelemahan itu ada pada diri kita, pada dua
bidang sekalilgus, thabi'i qauni (bidang ilmu alam) dan insani ijtimai (bidang
sosial kemanusiaan).''
Dalam kaitan dengan metodologi menghapal itu, kami kutip hasil karya sejumlah
anak muda yang menamakan dirinya Da'i Fi-ah Qaliilah (DFQ) yang melakukan apa
yang disarankan oleh Prof. DR Yusuf Qardhawi di atas: insani ijtimai. DFQ
menyebarkan sejumlah kuesioner kepada para pelajar sejumlah sekolah favorit di
DKI Jakarta, dan ke sejumlah jamaah shalat jumat di masjid-masjid di DKI
Jakarta mewakili perkotaan, dan ke sejumlah masjid di Kabupaten Bogor mewakili
daerah perdesaan. Kepada para pelajar dan jamaah mesjid dimintakan untuk
mengisi arti dari lafaz-lafaz yang telah sangat biasa dibaca dalam shalat.
Seperti terlihat di tabel di bawah ini yang ditanyakan adalah arti lafaz-lafaz
yang umum dan biasa dari bacaan shalat. Jawaban dianggap benar dari keragaman
jawaban. Misalnya jawaban pada maaliki adalah benar jika menjawab ''raja,
penguasa, berkuasa, penentu'', dan lain sebagainya yang sejalan dengan itu.
Begitu dengan yaumiddien, jawaban dianggap benar dengan sejumlah keragaman,
misalnya ''hari yang akhir, akhirat, hari kemudian, hari penentuan, yang
akhirnya''.
Tabel Persentase Jawaban Benar dari Sekolah Sampel
--------------------------------------------------------------------------------
No Bacaan MAN SMAN MTsN SLTP
--------------------------------------------------------------------------------
1 Maaliki 64 % 78 % 65 % 22 %
2 Yaumiddin 59 % 62 % 58 % 16 %
3 Warzuqni 54 % 33 % 60 % 22 %
4 Iyyakana'budu 42 % 37 % 32 % 7 %
5 As Salaam (u) 67 % 54 % 60 % 31 %
6 Mubarakaat (u) 48 % 29 % 26 % 9 %
7 Alladziina 23 % 22 % 27 % 6 %
8 Warhamni 37 % 7 % 35 % 6 %
9 Attahiyyat (u) 6 % 5 % 13 % 24 %
10 Warfa'ni 32 % 1 % 14 % 12 %
11 Wahdinii 21 % 3 % 31 % 5 %
12 Thayyibaat (u) 50 % 2 0 % 30 % 25 %
------------------------------------------------------------------------------------
Jumlah Kuisioner 263 258 209 232
------------------------------------------------------------------------------------
Walaupun ada perbedaan kebenaran jawaban antar jenis sekolah, secara umum dapat
kita simpulkan bahwa penguasaan para pelajar akan arti dari lafaz-lafaz penting
dari shalat adalah sangat rendah. Dikatakan sangat rendah, karena seharusnya
para pelajar menguasainya 100 persen, harusnya tanpa salah. Mengapa? Karena,
para pelajar tersebut telah belajar agama Islam sejak mereka di TK. Jadi,
sungguh memprihatinkan jika kurang dari 10 persen pelajar SMUN yang menjawab
benar akan arti warfa'ni, wahdinii, attahiyat(u) dan warhamni. Demikian pula
pelajar SLTP, kurang dari 10 persen pelajar yang menjawab benar arti dari
wahdinii, warhamni, alladziina, mubarakaat(u).
Tabel Persentase Jawaban Benar dari Semua Masjid Sampel
----------------------------------------------------------------------------------------
No BACAAN MASJID KOTA MASJID DESA
----------------------------------------------------------------------------------------
1 Maaliki 25 %
49 %
2 Yaumiddin 27 % 48
%
3 Warzuqni 20 %
48 %
4 Iyyakana'budu 21 % 42 %
5 As Salaam (u) 27 % 51 %
6 Mubarakaat (u) 18 % 25 %
7 Alladziina 17 %
30 %
8 Warhamni 13 %
35 %
9 Attahiyyat (u) 9 %
23 %
10 Warfa'ni 9 %
34 %
11 Wahdinii 13 %
25 %
12 Thayyibaat (u) 19 %
38 %
--------------------------------------------------------------------------------------
Jumlah Kuisioner 228 372
--------------------------------------------------------------------------------------
Lebih memprihatinkan lagi data dari jamaah masjid yang persentasi jamaah
menjawab benar jauh lebih sedikit dari jawaban para pelajar, dan hampir
sebanding dengan jawaban pelajar-pelajar SLTP. Mungkin sekali, setelah
menyelesaikan sekolah sebagai pelajar, para jamaah jumat atau umat Islam tidak
belajar lagi agama Islam yang mampu memberikan pengertian dan pemahaman setelah
menyelesaikan sekolah. Dakwah yang diterima dan didengar dari waktu ke waktu
dalam artian yang umum-umum saja, tidak khusus pada yang memberikan pengertian
dan pemahaman yang lebih bermakna untuk kehidupan, sehingga apa yang diucapkan
dalam shalat pun tidak mengetahui apa artinya ataupun untuk apa diucapkannya.
Hal itu terjadi karena dari kecil lafaz tersebut telah dihapalnya. Menarik
sekali, bahwa lebih banyak jamaah masjid di perdesaan justru memberi jawaban
yang benar dari pada jamaah masjid perkotaan. Mengapa? Apakah pengajian di
perdesaan lebih baik dari pada pengajian untuk masyarakat kota? Mungkin yang
lebih benar adalah masyarakat kota mempunyai perhatian yang lebih banyak pada
isu-isu lain atau lebih disibukkan dengan berbagai masalah kehidupan kota
ketimbang memberi perhatian pada pemaknaan lafaz shalat yang berhubungan dengan
kehidupannya.
Apa hubungan Data DFQ dengan kemiskinan umat?
Betapapun kondisinya data di atas, penguasaan arti lafaz pelajar antarsekolah
ataupun jamaah mesjid kota dan desa, persentasi umat yang menguasai arti
terhadap lafaz shalat sangat memprihatinkan. Artinya apa? Shalat adalah fundasi
ibadah umat Islam. Sesuai ajaran Nabi Muhammaw SAW, shalat adalah tiang agama,
siapa yang menegakkan (baca: menyempurnakan) shalat dia menegakkan agama, dan
siapa yang meninggalkan (baca: tidak menyempurnakannya) shalat maka ia
meruntuhkan tiang agama. Karena itu pula, shalat secara khusus diperintahkan
Allah langsung melalui mi'raj Nabi Besar SAW. Melalui shalat seorang Muslim
membentuk, menguatkan, dan menyempurnakan pribadinya (QS. 2: 2-5; 23: 1-2).
Melalui shalat seorang Muslim memohon pertolongan Allah untuk mampu membangun
budaya dan peradaban umat karena mampu menemukan kekuatan Allah dalam dirinya
(QS 2: 45-56) serta untuk berbakti mewujudkan kehidupan bahagia untuk sesama
(QS 107: 4-7). Dengan shalat yang lebih sempurna, manusia akan mampu
mendapatkan kekuatan ruhiyah yang luar biasa dan kekuasaannya (QS 7:180) dengan
memperoleh keagungan moral melalui penyucian hati (QS. 91:9), mengarahkan
perilaku (QS 29:45; 11:14), penyadaran batin tanpa henti (QS 20:14) yang
selanjutya mampu mewujudkan karya-karya besar (QS 38:45) termasuk menghapus
kemiskinan di tengah-tengah kehidupan umat (QS 107: 4-7; 90: 11-20).
Bagaimana mungkin kekuatan ruhiyah dan kekuatan moral yang luar biasa besarnya
itu akan diperoleh seorang Muslim melalui shalat jika mengerjakan shalat, tidak
menegakkan shalat, apalagi tidak menyempurnakan shalat. Terbukti dari data DFQ
di atas, sebagian besar pelajar dan sebagian besar umat kita (22-99 persen
pelajar, 49-91 persen jamaah mesjid) tidak tahu, apalagi mengerti, memahami,
dan menghayati apa yang diucapkannya sewaktu shalat. Itu berarti tidak
menegakkan shalat, tidak menyempurnakan shalat. Para da'i mendakwahkan kita,
bahwa shalat itu adalah sarana komunikasi kita berdialog dengan Allah. Shalat
adalah mi'raj-nya kaum Muslimin. Jika junjungan kita Muhammad SAW mi'raj
berdialog dengan Allah, kita meyakini Beliau pasti mengerti apa yang Beliau
dialogkan itu.
Seharusnyalah para da'i dan guru pengajar agama di sekolah-sekolah mengajar dan
meyakinkan jamaah dan anak muridnya, bahwa shalat itu adalah sarana berdialog
dengan Allah. Dan karenanya, para da'i dan pengajar di sekolah-sekolah haruslah
mengajar agama demikian rupa sehingga anak didiknya menguasai benar arti dan
makna lafaz shalat, jangan hanya menghapal lafaznya. Jika tidak, kita tidak
pernah menerima kekuatan ruhiyah yang luar biasa yang dijanjikan Allah itu
sehingga kita mampu menanggulangi kemiskinan umat.
Karena, jika kualitas shalat kita sebagaimana data DFQ itu, umat Muslimin tidak
mampu dan tidak efektif dalam berdialog memohon pertolongan Allah untuk mampu
membentuk, menguatkan dan menyempurnakan kekuatan pribadinya, mampu memperoleh
memperoleh keagungan moral melalui penyucian hati, penyadaran batin tanpa
henti, menemukan kekuatan Allah dalam dirinya, mengarahkan perilaku, mewujudkan
karya-karya besar membangun budaya dan peradaban umat, berbakti mewujudkan
kehidupan bahagia untuk sesama termasuk menghapus kemiskinan ditengah-tengah
kehidupan umat. Bagaimana kemiskinan umat akan kita hapuskan, bagaimana umat
ini akan bangkit jika metoda pengajaran agama tetap bertumpu pada metodologi
menghapal?
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Dying to be thin?
Anorexia. Narrated by Julianne Moore .
http://us.click.yahoo.com/FLQ_sC/gsnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/