Republika Minggu, 15 Mei 2005
Begundalisme Oleh : Haedar Nashir Anda suka begundal? Begundal menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya kaki tangan. Lebih gawat lagi, kaki tangan penjahat. Orang Pasundan menyebutnya jongos, dengan konotasi sangat buruk. Mungkin setipe dengan centeng dalam budaya premanisme. Sosok lain yang kini populer ialah pembisik. Juga provokator, tukang memanas-manasi keadaan. Setara pula dengan kroni. "Crony is begundal," ujar Dr M Amien Rais, ketika ditanya arti kroni oleh wartawan dalam debat publik dengan Jaksa Agung Andi Thalib di era kepemimpinan BJ Habibie. Pasti tak seorang pun mau dijuluki begundal dan suka memelihara begundal. Sangat tidak sedap dan nyaman, meski bagi seorang begundal sekalipun. Amit amit jabang bayi untuk jadi begundal. Tak akan ada orang tua sebodoh apa pun yang mau kasih nama "Begundal" untuk anaknya. Itulah kira-kira logika orang tentang sosok dan predikat begundal, sang kaki tangan untuk hal-hal yang serba buruk. Lebih-lebih untuk sebuah perilaku pengkhianatan seperti para begundal di zaman kolonial Belanda. Jadi begundal penjajah. Atau jadi kaki tangan penguasa dan tokoh yang lalim. Ingat begundal penjajah, teringat roman Max Havelaar. Sebuah kisah paling menyedihkan tentang penderitaan rakyat Lebak yang ditulis Multatuli, nama lain Eduar Douwes Dekker yang terkenal itu. Di musim dingin, dari sebuah losmen di Belgia tahun 1859, Douwes Dekker menulis buku paling monumental itu. Saat itu Dekker tengah menjalani masa-masa sulit dalam sejarah hidupnya setelah minta berhenti dari jabatannya sebagai Asisten Residen di karesidenan Lebak (Banten) karena cenderung membela rakyat Lebak dan membongkar kebobrokan birokrasi kolonial di daerah paling miskin di wilayah Banten itu. Pengalaman menjadi pejabat kolonial yang peduli pada derita rakyat pribumi yang hanya dijalani sekitar empat bulan, dari 21 Januari hingga 4 April 1856, telah cukup bagi Dekker (Multatuli) untuk menguak betapa Bupati Lebak dan Demang Parangkujang yang juga mantu sang Bupati kala itu, melakukan banyak praktik penindasan terhadap penduduk setempat. Padahal kedua pejabat tersebut sama-sama pribumi sebagaimana rakyat Lebak. Demikian marahnya Dekker kala jadi Asisten Residen, hingga pernah membubarkan penduduk yang tengah dipekerjakan (kerja rodi) oleh Bupati Lebak di rumah dinasnya hanya untuk menjamu keponakannya yang juga jadi Bupati di Cianjur. Multatuli tak tahan penduduk setempat dijadikan budak oleh pejabat pemerintah yang seharusnya mengayominya. Dekker juga jengkel dengan birokrasi Gubernemen yang bermarkas di Betawi, yang membiarkan kesewenang-wenangan itu terjadi. Padahal kala Dekker pertama kali menginjakkan kakinya di Rangkas Bitung (ibu kota Lebak) sungguh penuh dengan harapan tinggi karena Gubernur Jenderal Duymaer van Twist yang mengangkatnya tahu betul kalau dirinya peduli pada derita rakyat pribumi. Tapi apa daya, akhirnya Dekker pun harus berhadapan dengan tembok birokrasi kolonial yang tak mau kehilangan muka. Dialah yang kalah. Dalam pengasingan dirinya yang terhempas dan jatuh miskin, Dekker yang juga pernah lama menyaksikan derita penduduk Bumi Putera di Sumatra Barat, menggoreskan pena tajamya tentang Lebak yang kelam. Tentang Bupati Lebak dan Demang Parangkujang yang bermental begundal. Apa yang kita peroleh dari Max Havelaar? Ya tentang sosok pejabat pribumi yang bermental begundal. Ke bawah (rakyat Lebak) menginjak, ke atas (pemerintah jajahan) menjilat. Dua karakter kembar itulah yang jadi ciri utama begundal. Persis seperti dialami Si Pitung. Sang "Robinhood" Betawi itu ketika membela rakyat dari cengkeraman penjajah dengan caranya sendiri, juga harus menghadapi para begundal pribumi yang jadi jongos kolonial. Pribumi lawan pribumi, yang satu pembela rakyat, lainnya begundal. Siapa pemenang? Tentu saja penjajah. Para begundal selalu hadir dalam sejarah. Inilah sosok broker sosial yang liar. Kisah para begundal sering jadi derita banyak orang. Para begundal selalu memanfaatkan situasi untuk keuntungan dirinya. Mereka menghambakan diri pada siapa pun yang memiliki sumber kekuatan hegemoni. Pada saat yang sama memeras siapa pun yang tuna kuasa tetapi dapat dijadikan modal untuk keuntungan diri sang begundal. Para begundal itu pandai sekali memberikan sesaji bagi tuannya, yang diperoleh dari keringat dan derita orang lain. Di negeri ini sejarah para begundal bukan hanya bersemi dalam kultur penjajahan yang mengembangkan corak pemerintahan dualisme sebagaimana ditemukan di era Tanam Paksa. Tetapi juga pada masa kerajaan sebelum penjajah Eropa datang. Sistem kerajaan merupakan lahan cukup subur bagi lahirnya kultur begundal. Mereka yang ingin naik pangkat dan masuk ke inner circle (lapisan inti) kekuasaan cenderung menggunakan cara-cara begundal, yakni menginjak ke bawahan dan menjilat ke atasan. Di antara para begundal pun berperilaku sama karena harus saling berebut masuk ke lingkaran inti kekuasaan, sehingga terjadilah proses pembiakan "begundalisme". Kebegundalan telah jadi alam pikiran dan tabiat berperilaku di ruang publik. Begundalisme di era kerajaan subur dalam budaya patrimonial dan feodal. Budaya patrimonial maupun feodal menumbuhkan relasi-relasi sosial yang asimetris, yang selalu menyediakan rongga lebar untuk ketimpangan. Dalam ketimpangan jarak sosial antara para elite di puncak dan tengah dengan lapisan massa di bawah itulah mekar para begundal yang memainkan peran "broker kultural". Mereka yang selalu jadi penghubung atas dan bawah tetapi dengan perilaku sebagai pengejar keuntungan sendiri, bukan sebagai agen atau transformator sosial. Di situlah para begundal lahir dan berkembang-biak laksana rayap. Apa untungnya para begundal? Tentu banyak. Bagi para begundal itu sendiri, "profesi" atau peran seperti itu merupakan jalan pintas meraih keuntungan pribadi. Keuntungan berupa kenaikan karier, materi, maupun jabatan, dan kekuasaan. Dengan menginjak ke bawah dan menjilat ke atas, para "begundalis" memperoleh energi sosial dari dua jurusan, dari atas maupun bawah. Persis seperti peran para broker baik di dunia bisnis maupun politik, tetapi dengan lebih memihak siapa pun yang menguntungkan dirinya. Kalau ada potensi konflik antardua pihak, para begundal biasanya sigap memanfaatkan kesempatan untuk adudomba. Dari proyek adudomba itulah dia memperoleh imbalan jasa kebegundalannya. Mereka selalu bermain di antara jarak sosial "patron" dan "client", antara "elite" dan "massa", bahkan di antara masing-masing kategori sosial itu. Maka para begundal itu lincah sekali, dan wajahnya pun mudah dikenali. Bibirnya manis, kata-katanya renyah, tulisannya bagaikan sesaji bagi si tuan, dan tindakannya terkesan serba menyenangkan. "Tukang ngolor," kata orang Jawa. Lalu, apa keuntungan bagi para elite? Tokoh besar, mereka yang di puncak piramida kekusaan, atau tokoh-tokoh kharismatik biasanya dikelilingi para begundal. Terutama setelah mereka sukses. Meminjam logika Eric R Wolf ketika mengupas pola hubungan asimetris antara petani dan kekuatan-kekuatan hegemonik di luarnya dalam karya monumentalnya Peasants, para tokoh semacam itu akan memperoleh bermacam-macam sesaji dari para begundal. Bisa sesaji fund of power, dana kekuasaan dari dan lewat para negundal, terutama yang berada di dunia usaha, yang nanti akan dibayar dengan konsesi-konsesi bisnis lewat jalur kekuasaannya. Bisa dalam bentuk ceremonial fund, dana-dana upacara, terutama dari para begundal yang berada di jalur sosio-kultural. Lebih spesifik lagi memperoleh "kesetiaan-kesetiaan sosial-politik" untuk menambah investasi politik para tokoh. Hubungan antara begundal dan elite atau tokoh memang berlangsung tersistem sekaligus terselubung. Kata Wolf, "Ketika Adam mencangkul dan Hawa menenun, siapa gerangan yang jadi tuan?" Ini nyanyian klasik para petani yang melakukan pemberontakan terhadap sistem penindasan dari luar, yang berkembang di Eropa pada akhir abad tengah. Serumit itu pulalah hubungan para begundal dan tuannya dalam setiap komunitas sosial-kultural di mana dan kapan pun. Ada semacam kultur begundalisme yang selalu terawetkan, bahkan diproduksi tak ada hentinya, Karena sama-sama menguntungkan. Dan yang jadi begundal di era kontemporer saat ini tidak seperti zaman tradisi lampau yang terkesan bodoh dan tribal, kini malah banyak begundal berdasi. Begundalisme sebagai kultur akhirnya menjadi sulit dihilangkan karena melekat dalam relasi-relasi kepentingan yang abadi. Terutama di antara elite dan lingkaran kekuasaannya. Dengan para punggawanya. Dengan para abdi-dalem-nya di lingkaran kekuasaan apa pun. Elite memberi keamanan dan kenyamanan materi maupun politik dan kultural. Sedang para begundal pun memperoleh rabat atau keuntungan yang dihasilkan dari profesi menjilat sang elite. Laiknya pesta laut dalam budaya tradisional kerajaan, begundalisme selalu menjadi sesaji yang saling menguntungkan. Begundalisme melahirkan ideologi elite yang haus sanjungan, puja-puji, dan kisah gembira. Para tokoh besar selalu memerlukan jongos yang menyenangkan hatinya. Ketika sang tokoh pada awalnya tampil sebagai sosok pembawa perubahan, seperti Soekarno di zaman kebangkitan menentang kolonialisme, di kemudian hari setelah berkuasa selalu memerlukan orang-orang terdekat (kroni, begundal) yang menyajikan kisah-kisah dan fakta-fakta menyenangkan. Tak boleh ada kisah sedih dan tak sedap. Selalu harus tersaji cerita riang dan menyenangkan bagi sang tokoh, kendati itu maya dan ilusi. Ideologi begundalisme yang merasuk tokoh, selain selalu haus cerita riang, juga alergi terhadap kisah sedih. Tak boleh ada kegagalan, meski faktual. Tak boleh ada perbedaan, meski kenyataan. Juga tak boleh ada kritik, meski itu benar. Para tokoh yang sudah dininabobokan oleh kultur atau ideologi begundalisme bisanya sangat sensitif terhadap perbedaan, apalagi pada kritik dan perlawanan. Perbedaan adalah musuh. Kritik adalah lawan. Perlawanan adalah sebuah genderang peperangan. Tak penting salah ataupun benar, yang harus selalu tersaji ialah puja-puji, yang membuat kakinya melayang ke angkasa. Para begundal di lingkaran elite selalu membuat sang tokoh mengalami eskstasi psiko-sosial yang luar biasa. Tokoh-tokoh besar yang bersyahwat otoritarian dan diktator seperti Hitler bahkan mengalami paranoid seperti itu. Dunia maya seolah nyata. Ambisinya yang tak terbatas melampaui takaran normal untuk terus ingin jadi penguasa. Apa Indonesia hari ini juga terjangkiti kultur begundal? Terserang wabah begundalisme? Begundal selalu hadir tanpa kenal zaman. Lebih-lebih ketika sisa-sisa patrimonialisme, feodalisme, budaya kharisma, kultur "darah biru", dan penyakit-penyakit "pra Indonesia" masih juga mekar di tubuh bangsa ini. Para elite dan tokoh kontemporer pun dalam praktiknya memelihara "broker" sosio-kultural semacam itu. Bisa dari kerabat, orang terdekat, hingga siapa pun yang selama ini memiliki relasi kepentingan saling menguntungkan. Mulanya wajar, tetapi lama kelamaan jadi kroni alias begundal dan menumbuhkan begundalisme. Tapi jangan pesimis dulu. Di negeri ini masih banyak ruang publik yang sehat walafiat. Mulai tumbuh kesadaran bahwa pengalaman sejarah masa lampau, juga pada dua rezim Orla dan Orba, telah cukup hal-hal buruk menimpa bangsa ini karena keruwetan-keruwetan struktural dan kultural. Kini saatnya membangun tatanan sosial baru yang lebih segar dan mencerahkan. Begundalisme adalah warisan masa lampau yang harus dibuang. Tak cocok dengan demokrasi dan moral publik. Lebih-lebih dengan moral agama. Hanya saja untuk memulai yang baik biasanya banyak tantangan dari dalam diri sendiri, selain dari luar. Tak kecuali untuk mengakhiri kultur begundalisme. Ada memang yang kehilangan harapan. Kata mereka, masih adakah tokoh-tokoh di jagat politik Indonesia yang selain bersikap negarawan, juga bersih dari begundalisme dan penyakit-penyakit kronis lainnya? Saya sih optimis. Tapi mereka yang pesimis dan sangat kritis menyatakan, cobalah tunjukkan mana ada tokoh politik di negeri ini yang bebas dari kroni dan nepotisme, selain korupsi. Lihatlah lingkungan sekitarnya, juga dalam dunia nyata mereka. Anggota keluarga, kerabat, orang-orang terdekat, dan lingkaran sang tokoh berubah jadi kroni yang menyebar di berbagai tempat dari ranah dan jabatan politik hingga ruang sosial lain. Mereka juga menyangsikan pemberantasan korupsi di pemerintahan, karena pada saat yang sama politik uang dan bagi-bagi uang oleh para elite makin jadi kebiasaan. Uang seolah mudah didapat dan gampang pula disebar laksana televisi swasta bagi-bagi hadiah ke masayarakat. Entahlah, tapi agama kan mengajarkan untuk tidak berputus asa dan ber-shuudhan. Orang beriman harus selalu optimis. Agama dapat menjadi tameng terakhir dan kokoh dalam memberantas begundalisme, juga penyakit-penyakit kronis di tubuh bangsa ini. Dimulai dari para tokoh, kemudian menularkan keteladanan ke masyarakat. Begundalisme, KKN, dan penyakit-penyakit lainnya yang kini mewabah telah menjadi beban sejarah dan warisan buruk bagi generasi bangsa ini. Harus digerakkan kesadaran kolektif bahwa tak semua yang menguntungkan itu mesti diawetkan dan diproduksi terus, jika hal itu buruk bagi masa depan bangsa. Untuk apa mau jadi begundal dan hidup nyaman dalam ninabobo begundalisme? Nanti jatuh sendiri lho. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Does he tell you he loves you when he's hitting you? Abuse. Narrated by Halle Berry. http://us.click.yahoo.com/aFQ_rC/isnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

