Apa Benar Reality Show Tidak Ada Dampak Negatifnya? Jika Anda melihat tayangan reality show yang bersegmen orang-orang tidak mampu, apakah anda merasa terhibur? Mungkin. Tapi yang jelas anda pasti akan turut larut dalam kesedihan dan keprihatinan. Tapi coba anda tanyakan pada orang-orang yang kelasnya sama dengan orang beruntung yang menjadi target acara itu, anda pasti mendapat jawaban yang sangat beragam. Bahkan anda akan mendapatkan jawaban yang mungkin tidak pernah anda pikirkan. Mereka ada yang menjawab "Tidak mungkin ada orang sebaik itu", "Lha wong saya ini lebih susah dari orang itu loh, kok dia yang beruntung dapat bantuan itu". Itu salah satu contoh jawaban dari mereka yang kurang beruntung tidak dilibatkan dalam acara reality show itu. Singkat kata, ternyata acara tersebut juga memunculkan perasaan iri hati sesama orang susah. Secara langsung, reality show semacam itu memang menolong sisi ekonomi orang-orang susah itu. Tapi apakah benar pasca mendapat keberuntungan itu, orang-orang yang tertolong itu tidak mendapat masalah dalam bentuk lain? Kekurangan dari PH yang mengadakan acara itu adalah tidak melakukan kontrol atau pengawasan target pasca tayangan. Ini beberapa contoh permasalahan baru yang ditimbulkan pasca reality show sociality itu. Di daerah Tangerang, salah satu target reality show (sebut saja namanya Mr X) awalnya senang dapat membeli barang- barang yang mungkin hampir tidak dapat dia beli seumur hidupnya. Tapi belum lama berselang, dia hampir mendapat penganiayaan seorang dept collector seorang rentenir. Rentenir itu tidak tahu kalau Mr X mendapat keberuntungan dalam acara reality show, yang dia tahu, di rumah Mr X terdapat barang-barang berharga. Si rentenir merasa tersinggung dan curiga bahwa Mr X melupakan hutang-hutangnya, malah memberi barang-barang mewah. Setelah diberi penjelasan, bukannya mengerti, malah dia menyita barang-barang tersebut. dan sekarang Mr X hanya bisa gigit jari melihat barang-barang itu hanya numpang lewat saja di rumahnya. Lain lagi informasi dari rekan saya dari Jakarta Timur. Sebut saja Mrs Z, dia adalah seorang pedagang perancangan yang mana dia mengaku belum pernah di tangannya memegang uang sebesar 10 juta. Dan akhirnya Mrs Z merasakannya juga berkat salah satu tayangan reality show. Seperti halnya Mr X, Mrs Z juga hanya merasakan bahagia yang sesaat setelah mendapatkan keberuntungan itu. Pasalnya dia mempunyai suami yang kelakuannya "kurang menyenangkan". Suami Mrs Z dikenal pengangguran, parahnya, dia juga suka berjudi. Melihat istrinya mendapat barang-barang yang totalnya senilai 10 juta, dialah orang yang paling bahagia. Bisa ditebak kan? Dia serasa mendapat modal segar untuk melanjutkan kebiasaan buruknya. Sedangkan Mrs Z, semakin terpuruk mendapati suaminya yang semakin menjadi-jadi. Dari contoh kasus itu membuktikan bahwa ada beberapa orang susah yang tidak tahu diri dengan keadaannya. Mengalami peristiwa semacam itu bukannya pikirannya terbuka, malah memanfaatkannya dan semakin bermalas-malasan., meskipun itu oknum orang-orang sekitar target reality show. Tayangan-tayangan reality show yang mengekspose sisi ekonomi kalangan bawah ini memang terbukti medapat kesuksesan. Hal itu terbukti semakin marak tayangan-tayangan serupa meski ada beberapa yang terlihat memaksakan temanya, tapi tetap saja berhasil. Meski tayangan semacam ini merupakan hanya hiburan saja, seharusnya tetap harus ada etikanya. Semisalnya salah satu tayangan yang bertemakan berharap pertolongan orang lain itu. Seharusnya, orang-orang yang menolak menolong itu wajahnya harus disamarkan. Karena selain mengganggu privasi orang, hal itu juga merupakan pencemaran nama baik dengan mengekspose orang yang tidak bersedia menolong. Hal itu menunjukkan ketidak baikan hati seseorang. Padahal, orang menolak membantu pasti punya alasan sendiri. Mungkin Anda pernah menemui seseorang yang meminta tolong yang nadanya sama persis dengan yang ada di tayangan. Ternyata tayangan- tayangan reality show macam itu menginspirasi seseorang untuk mendapatkan hasil. Sudah tentu banyak yang terpengaruh dengan acara macam itu, hingga ketika di jalan dia menemui seseorang yang minta tolong, tidak ragu-ragu menolongnya dengan berharap semoga si peminta tolong ini adalah kiriman tayangan reality show. Dan ternyata bukan, akhirnya, hal itu membuat orang menolong bukan karena keikhlasan, melainkan berharap pamrih. Permasalahan sebenarnya adalah para produsen-produsen tayangan reality show dari dulu sampai sekarang hanya mementingkan ratting dan omzet semata. Tayangan-tayangan tersebut seakan tidak memikirkan akibat, aturan dan kurang bertanggung jawab pasca tayangan. Khususnya tanggung jawab moral. Lihat saja reality show seperti Paranoid yang dulu hampir membuat celaka orang. Dengan tidak berprikemanusiaan, jiwa seseorang dipermainkan sedemikian rupa. Play Boy Kabel, dengan sengaja menjebak seorang pria dengan mengirim wanita murahan sebagai penggoda, dan akibatnya, hubungan asmara seseorang harus bubar hanya karena masalah yang direkayasa. H2C, sudah jelas-jelas sebuah tindakan kriminal yang serius. Menguntit dan menjebak seseorang. Tapi ada satu hal yang luput dari perhatian para PH tersebut. bisa jadi merekalah yang dimanfaatkan para targetnya demi mendapatkan hadiahnya. Jelasnya, para target itu hanya bersandiwara, kasarnya, tayangan itu ditipu. Seperti Katakan Cinta, sebenarnya banyak yang hanya dibuat-buat. Bedah Rumah, kerja sama target dengan pelapor yang menghubungi pengada acara berbuah bagi hasil apa yang diberikan tayangan pada mereka. Lumayan, dapat hadiah, masuk TV lagi. Sama halnya saat awal marak-maraknya Infotainment yang mana para peliputnya dianggap melanggar privasi kehidupan selebritis dengan begitu brutalnya hingga menimbulkan kejadian-kejadian memalukan seperti acaman tembakan dari salah seorang artis. Tapi akhirnya para Infotainment itu pun perlu dibuatkan peraturan untuk mengatur etika peliputannya. Sepertinya tayangan reality show pun juga perlu dibuatkan aturan- aturan serupa agar ide-ide "gila" itu tidak keluar jalur yang akhirnya merugikan salah satu pihak hanya demi kepentingan ratting dan materi semata. Kalau boleh memberi motto untuk reality show, saya mengusulkan "HATI NURANI MEMERLUKAN HATI NURANI JUGA.
Salam damai dari Budak tak bertuan� GIRI BRONX ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Has someone you know been affected by illness or disease? Network for Good is THE place to support health awareness efforts! http://us.click.yahoo.com/OCfFmA/UOnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

