http://www.indomedia.com/bpost/052005/21/opini/opini1.htm
Pemimpin Tengil Oleh: Imam Suharjo Beberapa waktu silam, dai murah senyum Abdullah Gymnasiar biasa dipanggil A'a Gym dalam tauziahnya yang disiarkan salah satu media elektronik, menyampaikan pentingnya masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam proses pemilihan seorang pemimpin. Dalam kultur masyarakat yang masih paternalistik seperti di Indonesia, peranan pemimpin sangat penting untuk memberikan contoh dan membawa bangsa ini meninggalkan keterpurukan yang sudah sekian lama hinggap di negeri ini. Dalam pemilu 2004, kita memilih pemimpin nasional yang sekarang bekerja untuk mewujudkan janji saat kampanye. Memang tidak mudah bekerja dalam kondisi bangsa yang sedang sakit. Namun beberapa sikap sang pemimpin, telah memberikan contoh yang baik untuk masyarakatnya. Dimulai dari gelar doktor yang diperoleh SBY dengan kerja keras melalui pendidikan formal di perguruan tinggi negeri terkenal di Bogor. Sementara kondisi yang berkembang saat ini, banyak orang tanpa harus susah payah meperoleh gelar kesarjanaan dengan membayar beberapa puluh juta rupiah. Tidak berapa lama setelah dilantik menjadi presiden, SBY menyatakan perang terhadap illegal logging yang begitu besar kontribusinya dalam pengrusakan lingkungan dan paru-paru dunia. Selama ini illegal logging sulit diberantas karena banyak melibatkan pengusaha besar dan oknum aparat, sehingga perlu dibentuk tim terpadu yang terdiri atas unsur departemen terkait, penegak hukum serta militer. Terakhir adalah keputusan presiden untuk membersihkan 'rumah sendiri' seperti sekretariat negara, sekretariat kabinet, istana negara beserta yayasan yang ada di dalamnya dari tikus-tikus yang sudah lama bersarang di lembaga tersebut. Secara simultan juga dibentuk Tim Task Tipikor yang langsung bertanggungjawab kepada presiden, sebagai upaya untuk lebih mempercepat akselarasi pemberantasan korupsi di Indonesia. Tindakan tersebut sedikit banyak menjadi obat luka, akibat adanya kebijakan pemerintah yang kontroversial dan tak terhindarkan seperti penaikan harga BBM. Pada 2005, beberapa wilayah di Indonesia bersiap-siap melaksanakan pemilihan pemimpin daerah. Banyaknya spanduk dan gambar raksasa terpasang di jalan, terkadang sangat mengganggu ruang pengawasan jalan. Terganggunya fungsi jalan disebabkan oleh pemanfaatan ruang pengawasan jalan yang tidak sesuai peruntukannya, dapat dikategorikan pelanggaran UU No 38 Tahun 2004 tentang Jalan. Ironis, di tengah maraknya slogan manis calon pemimpin yang disertakan dalam gambar dan spanduk ternyata ada contoh nyata sikap pemimpin yang tidak konsisten mematuhi peraturan. Kasus yang lebih menyedihkan terjadi di satu kabupaten di Pulau Jawa. Seorang bupati yang mungkin merasa dirinya hebat, sehingga gambar dan visi misinya layak dipersandingkan dengan Kalam Illahi. Sungguh suatu kecerobohan atau kesombongan sang pemimpin dalam upaya menarik simpati, agar dipilih kembali. Menghadapi Pilkada Juni 2005, sangat relevan bila kita merenungkan kembali isi tauziah A'a Gym agar tidak salah memilih pemimpin. Manusia memang cenderung hidup di belakang topeng tanpa mau menunjukkan wajah aslinya, dan bagi sebagian orang menjelang pilkada adalah saat yang tepat untuk menggunakan topeng tersebut. Ada topeng dermawan, agamawan dan topeng kebaikan lainnya untuk menutupi keburukan wajah yang penuh penyakit. Untuk itu, agar tidak mendapatkan kucing dalam karung, A'a Gym mengingatkan kita untuk tidak memilih pemimpin tengil. Tengil dari segi bahasa memang sudah menunjukkan suatu sikap negatif. Namun dalam tauziah tersebut, tengil juga merupakan sebuah singkatan dari tamak, egois, norak, galak, iri dan licik. Tamak Tamak identik dengan keserakahan pada materi. Di benak orang tamak, hanya terpikir cara mengumpulkan harta benda sebanyak mungkin. Salah satu caranya adalah menjadi kepala daerah. Tidak peduli berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk mencapai tujuan itu, karena jika sudah terpilih semua biaya yang telah dikeluarkan dapat dikumpulkan kembali bahkan jauh lebih besar. Dapat dibayangkan apabila seorang pemimpin memiliki sifat tamak, maka segala kebijakan yang dibuatnya selalu didasarkan atas kepentingan pemenuhan materi. Masa kerja lima tahun yang akan dijalani, hanya berkutat pada sekitar harta dan kekuasaan. Tahun pertama kebijakan balas jasa dan belajar mencari peluang, tahun kedua melaksanakan program pengembalian biaya (modal), tahun ketiga menambah kekayaan, tahun keempat program pengumpulan modal untuk kampanye berikutnya dan tahun kelima persiapan untuk kembali bertahta. Egois Egois adalah salah satu sifat yang sering muncul dalam dunia anak. Orang egois hanya sibuk pada kepentingan diri sendiri tanpa mau memikirkan orang lain. Dominasi sifat egois, lambat laun seharusnya berkurang dengan semakin dewasanya seseorang dan semakin seringnya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Namun tidak menutup kemungkinan, sifat ini terus mendominasi dalam diri seseorang. Pemimpin egois tidak memiliki kepekaan sosial dan kurang memperhatikan kepentingan masyarakat. Orientasi kebijakan yang dijalankan selalu tertumpu pada diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Dan, selalu menganggap dirinya paling benar dan tidak mau menerima saran pertimbangan orang lain. Norak Istilah norak banyak digunakan di kalangan remaja, untuk menunjukkan tingkah laku seseorang di luar batas kepatutan dan kewajaran. Pencarian eksistensi diri di masa remaja memang sering diwujudkan dalam bentuk tindakan yang menyimpang dari nilai etika sosial. Namun mengingat kondisi kejiwaan masa remaja yang masih labil, maka perilaku ini dalam batas tertentu masih dapat ditoleransi. Tetapi perilaku norak ini tentu tidak pantas dimiliki oleh seorang pemimpin. Pemimpin norak senang mencari popularitas dengan cara yang yang tidak lazim, bahkan bisa terjadi pelanggaran norma susila dan agama. Yang terjadi di sebuah kabupaten adalah salah satu contoh konkrit dari seorang pemimpin norak. Hanya karena ingin menjadi populer, maka sang pemimpin tidak segan-segan menampilkan foto pribadi lengkap dengan baju kebesarannya di dalam Kitab Suci Alquran. Galak Pemimpin yang tidak memiliki rasa percaya diri biasanya ditutupi dengan sifat galak (pemarah), dengan maksud mendapatkan kewibawaan dan kepatuhan dari bawahannya. Sikap pemimpin yang mengedepankan kegalakan pada saat ini sebenarnya tidak efektif untuk meningkatkan kinerja pemerintahan, tetapi malah menciptakan bawahan yang hanya bisa 'Asal Bapak Senang'. Dengan demikian pemimpin tidak dapat mengambil suatu keputusan yang tepat, karena setiap laporan yang diterima tidak menunjukkan kondisi sebenarnya. Bawahan terpacu melaksanakan tugas hanya bila ada pimpinan. Tetapi ketika pemimpin tidak berada di tempat, maka tak ada satu pun tugas yang dikerjakan. Iri Bila dalam diri pemimpin terdapat sifat iri hati, maka dapat dipastikan kinerja pemerintahan tidak akan berjalan semestinya. Pemimpin merasa tidak senang apabila orang lain, baik itu masyarakat maupun bawahannya mendapatkan kesenangan. Pada akhirnya masyarakat tidak mendapatkan pelayanan yang seharusnya diterima dari pemerintah, sehingga timbul istilah dalam pelayanan 'kalau bisa dipersulit mengapa harus dipermudah'. Bagi bawahan yang memiliki pemimpin dengan sifat iri, maka kesempatan untuk mengembangkan diri akan tertutup rapat. Licik Pemimpin licik akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Bila tidak dapat menggunakan tangan sendiri, maka dia akan menggunakan orang lain. Pemimpin licik akan mengembangkan budaya konspirasi, manipulasi maupun intimidasi dalam menjalankan kebijakannya. Di zaman sekarang, memang tidak mungkin mendapatkan seorang pemimpin yang ideal karena tidak ada satu pun manusia yang sempurna. Namun dengan hati yang jernih masyarakat dapat menelaah kembali sebelum memilih calon pemimpinnya, dengan kriteria seperti yang disampaikan A'a Gym. Janganlah nurani menjadi tertutup hanya karena lembaran rupiah yang diterima, karena akan membawa sengsara lima tahun ke depan. Semoga pilkadal yang dilaksanakan untuk pertama kali ini dapat berlangsung dengan aman dan damai. Calon pemimpin dapat mengendalikan diri maupun massanya untuk tidak berbuat anarki, dan bertekad untuk siap kalah atau menang. Sesungguhnya kesuksesan sesorang bukan diukur dari keberhasilan untuk menjadi pemimpin, tetapi dilihat dari sejauhmana orang itu bermanfaat bagi orang lain. Pengamat sosial, tinggal di Banjarbaru e-mail: [EMAIL PROTECTED] [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Ever feel sad or cry for no reason at all? Depression. Narrated by Kate Hudson. http://us.click.yahoo.com/LLQ_sC/esnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

