http://www.suarantb.com/2005/05/21/wilayah/Mataram/detil3.htm
Pasien Busung Lapar di RSU Mataram.........Tak Punya Uang, Bingung Masuk Rumah
Sakit
updated:Sabtu21/05/05
Miris. Begitulah kesan yang muncul ketika melihat tiga bayi di bawah lima
tahun (balita) yang kini menjalani perawatan intensif di RSU Mataram akibat
menderita busung lapar. Memandang balita yang tergolek lemah, terbayang pada
ingatan wajah-wajah warga Ethiophia yang kelaparan di negerinya nun jauh di
seberang sana. Adakah negeri kita yang konon subur dan kaya hasil bumi ini tak
mampu memberi kehidupan yang layak bagi warganya?
WAJAH-WAJAH mengenaskan akibat gizi buruk itu ternyata dialami juga oleh
sejumlah warga di Pulau Lombok. Kemiskinan yang membelit, membuat mereka
terpaksa tidak bisa makan normal. Pun ketika balita mereka terpaksa dilarikan
ke rumah sakit karena kondisinya parah. Mereka pun bingung karena uang tak ada.
Wajah Suli (25) tampak lelah. Bayi kurus buah kasihnya dengan Saleh (27),
kini tergolek lemah di RSU Mataram karena menderita busung lapar. Tidak ada
suami yang menemaninya menjaga putra keduanya dalam menjalani perawatan di RSU
Mataram. ''Suami saya bekerja di Malaysia. Ia berangkat sudah cukup lama,''
katanya tanpa ekspresi.
Saleh meninggalkan Suli ketika M. Azmi, buah kasihnya, masih berada dalam
kandungan. ''Suami saya ke Malaysia saat saya hamil enam bulan,'' tuturnya
sambil mengelus rambut Azmi yang berada di pangkuannya. Otomatis saat Azmi
lahir 18 bulan yang lalu, Saleh tak berada di sampingnya. Selama lebih dari dua
tahun bekerja di Malaysia, memang sudah ada sejumlah uang yang dikirim Saleh
kepada istrinya.
''Sudah ada uang yang dikirim, tetapi hanya cukup untuk bayar utang,
karena suami saya berangkat ke Malaysia dengan biaya pinjaman,'' ujarnya.
Sepeninggal suaminya, Suli harus bekerja sendiri menghidupi dua orang anaknya.
Pekerjaan yang ditekuninya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serabutan.
Penghasilan yang diperolehnya tak seberapa. Apalagi ia punya anak kecil,
sehingga sebagian besar perhatiannya tertuju untuk merawat anak.
Terbatasnya penghasilan yang diperoleh, membuat kemampuan Suli membeli
kebutuhan sehari-hari sangat terbatas. ''Saya mendapat beras miskin (raskin)
yang harganya murah. Hanya itu yang bisa saya beli, yang lain tidak ada uang,''
katanya polos. Akibatnya, kebutuhan gizi untuk anaknya sangat terbatas dan
bahkan sangat kurang.
Kondisi itu mengakibatkan Azmi sering sakit. ''Badan anak saya dari kecil
tidak bisa gemuk dan sering sakit. Saking kurusnya, saya malu membawanya
berobat ke puskesmas,'' katanya polos. Karena sakit anaknya parah, seminggu
yang lalu Suli terpaksa membawanya ke Puskesmas Narmada. Diagnosa paramedis
menyebutkan sakit yang diderita Azmi cukup parah dan akhirnya terpaksa dirujuk
ke RSU Mataram.
Begitu dirujuk ke RSU Mataram, Suli makin bingung. Ia tidak lagi malu
diketahui anaknya sangat kurus. ''Saya tidak punya uang. Memang kami mendapat
pengobatan gratis, tetapi ada obat yang harus kami beli sendiri. Saya bingung
harus mencari uang di mana,'' katanya pilu. Ungkapan senada juga keluar dari
bibir kelu Rusmini, orangtua Mardianah (2), warga Karang Pule, Ampenan, Mataram.
''Anak saya sekarang harus dirawat di rumah sakit. Saya bingung harus
mencari uang di mana,'' katanya pilu sambil menggendong Mardianah. Suami
Rusmini yang tak memiliki pekerjaan tetap, membuatnya bingung memikirkan biaya
pengobatan. Memang Mardianah termasuk pasien JPS yang mendapat pengobatan
gratis. ''Tetapi ada obat yang harus kami beli,'' katanya terbata-bata.
Keluhan senada juga diungkapkan orangtua Husnurrahmah, warga Desa
Menemeng, Pringgarata, Loteng. ''Bagaimana caranya membeli obat kami bingung.
Barangkali ada yang bisa membantu kami,'' harapnya.
Terkait dengan keluhan para orangtua pasien busung lapar, Dokter
Spesialis Anak RSU Mataram Dr. dr. Hananto Wiryo, DSA. berharap partisipasi
berbagai pihak. Pemerintah dan seluruh masyarakat yang mampu hendaknya bisa
membantu. Menurutnya, persoalan yang menimpa korban busung lapar ini tidak
hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan semata, melainkan tanggung jawab
seluruh masyarakat NTB. (rak)
�Copyright Suara NTB
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/HO7EnA/3MnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/