http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=172021

Jumat, 20 Mei 2005,


Reformasi tanpa De-Orba-isasi
Oleh Darul Qutni *


Akhir 1997, krisis moneter mengguncang perekonomian berbagai negara di kawasan 
Asia. Sebut saja Thailand, Malaysia, Cina, dan tak terkecuali Indonesia. 

Di Indonesia, krisis ini disikapi pemerintah Orde Baru (Orba) di bawah 
kepemimpinan Soeharto yang terpilih kembali pada Sidang Umum MPR Maret 1998 
dengan mengeluarkan kebijakan kontraproduktif, yakni menaikkan harga BBM 
sebesar 75 persen. Tak pelak, kebijakan ini mengundang reaksi keras dari 
sebagian besar rakyat Indonesia, terutama gerakan mahasiswa. 

Dengan kepeloporan mahasiswa, rakyat turun ke jalan menolak kenaikan harga 
dengan membawa isu "Turunkan Harga". Karena pemerintah keras kepala, akhirnya 
tuntutan rakyat berubah menjadi tuntutan reformasi dengan isu utama "Turunkan 
(Soe)Harto". Mahasiswa dan rakyat berhasil menduduki gedung MPR, 19 Mei. Dua 
hari kemudian, akhirnya Soeharto lengser dari jabatannya sebagai presiden. Bola 
reformasi pun bergulir. 

Kini, tujuh tahun reformasi sudah bergulir. Namun, pascakrisismoneter, kondisi 
Indonesia sangat paradoks dengan kondisi negara-negara lain di kawasan Asia. 
Bila negara-negara tetangga kita mampu bangkit dengan segera mengatasi 
perekonomiannya, Indonesia masih saja terpuruk. 

Ada apa dengan reformasi? Apakah ia telah mati muda? Mengapa lengsernya 
Soeharto tidak membawa perubahan yang lebih baik dalam kehidupan rakyat?

Lengsernya Soeharto bukan hanya faktor adanya gerakan mahasiswa dan rakyat yang 
mendesaknya mundur. Tapi memang menjadi akumulasi dari kebobrokan sistem rezim 
Orde Baru yang korup dan otoriter. Pembangunan yang dilahirkan Orde Baru 
ternyata dibangun di atas sistem pemerintahan yang penuh korupsi, kolusi, dan 
nepotisme (KKN), serta otoriter dan refresif. Herbert Feith menyebutnya sebagai 
repressive developmentalist regime. 

Kebobrokan sistem ini makin sempurna karena ditunjang oleh mesin politik 
bernama "ABG" (ABRI -sekarang TNI-, birokrasi, dan Golkar). Dengan demikian, 
menurut saya, gerakan reformasi setelah lengsernya Soeharto sulit -kalau bukan 
mustahil- melakukan pembaruan sistem jika tidak disertai langkah-langkah 
deorbaisasi. Inilah yang kita rasakan benar selama tujuh tahun, yaitu reformasi 
tanpa deorbaisasi.

Makin merajalelanya KKN di setiap lini birokrasi reformasi, tidak tuntasnya 
pelanggaran HAM masa lalu, tidak tegaknya supremasi hukum, kembalinya militer 
ke panggung politik, melemahnya kontrol rakyat, dan gagalnya konsolidasi sipil 
merupakan konsekuensi dari proses reformasi tanpa deorbaisasi.

Deorbaisasi mengandaikan pembongkaran terhadap nilai-nilai, watak, 
praktik-praktik, dan lembaga-lembaga pada masa Orba yang secara dominan 
melanggengkan kekuasaan Orba yang otoriter dan antidemokrasi. 

Dengan asumsi bahwa kekuasaan Orba yang korup dan otoriter ditunjang secara 
sistematis kekuatan ABG, deorbaisasi berarti mengembalikan secara 
sungguh-sungguh institusi militer (TNI) kepada fungsi pertahanannya, melakukan 
restrukturisasi birokrasi hingga akar-akarnya, dan membubarkan Partai Golongan 
Karya (Golkar) sebagai bentuk pertanggungjawaban politik. Tanpa deorbaisasi, 
transisi demokrasi di Indonesia akan berbalik mundur kepada status quo.

Hingga saat ini, kita belum melihat langkah substansial deorbaisasi dari 
tatanan politik yang baru. Misalnya saja, meski secara prosedural sudah keluar 
dari panggung politik, namun secara substansial, ternyata TNI masih bermain 
dalam domain politik. 

Hal ini tampak jelas dalam UU TNI yang membuka ruang bagi prajurit TNI untuk 
berpolitik. Dalam UU TNI, prajurit diperbolehkan mencalonkan diri dalam pemilui 
dengan syarat nonaktif. 

Tak heran, dalam pemilihan kepala daerah (pilkada), banyak prajurit TNI yang 
mencalonkan diri menjadi kepala daerah karena legitimasi UU tadi. Padahal, 
profesionalisme TNI mengandaikannya sebagai penjaga pertahanan negara dan 
kekuatan angkatan perang. 

Bila TNI kembali berpolitik, bukan mustahil musuh politiknya akan dianggap 
sebagai musuh yang wajib diperangi secara represif. Bukan mustahil tragedi 
Tanjung Priok, Waduk Nipah, Talang Sari, Bulukumba, Tri Sakti, Semanggi I dan 
II, dll akan terulang. 

Masih merajalelanya KKN hampir di setiap lini birokrasi kita, baik di tingkat 
lokal maupun nasional, juga menjadi penghambat reformasi pascalengsernya 
Soeharto. Saat ini, negara kita masih menempati urutan ketiga sebagai negara 
terkorup di dunia.

Berdasar data Indonesian Corruption Watch (ICW), birokrasi pemerintahan 
merupakan sarang utama KKN di era reformasi. Dengan demikian, debirokratisasi 
korup masih menjadi keharusan politik menuju clean and good government. 

Restrukturisasi birokrasi yang dilakukan pada era reformasi tidak pernah 
menyentuh pejabat eselon hingga tingkat bawah. Meski ciri khas birokrasi 
memiliki otoritas hierarkis, sebagaimana teori Max Weber, namun masalahnya 
birokrasi korup melembaga selama tiga dasawarsa. 

Karena itu, pembongkaran struktur birokrasi hingga akar-akarnya merupakan 
langkah mutlak deorbaisasi sebagai prasyarat terwujudnya reformasi total.

* Darul Qutni, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, 
Jakarta 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/MCfFmA/SOnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke