http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/21/opini/1764936.htm
Korupsi Hadang Kebangkitan Bangsa Oleh HS Dillon Secara alamiah dalam sebuah negara, korupsi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu korupsi sebagai fact of life, di mana korupsi merupakan tindakan penyimpangan norma yang dilakukan oleh individual dan bukan merupakan hal yang sistemik, atau korupsi sebagai way of life, di mana korupsi terjadi dengan tidak terkontrol, di seluruh lini masyarakat, sehingga bukan lagi merupakan penyimpangan norma, melainkan menjadi norma itu sendiri (Fighting Corruption to Improve Governance, UNDP, 1999). Apa kemudian yang dipilih oleh bangsa ini? Apakah kita sudah sedemikian buruknya terperangkap dalam jejaring maksiat korupsi sehingga menerima korupsi sebagai way of life? Pendapat beberapa penulis akhir-akhir ini justru memojokkan values yang ada di masyarakat, seperti nilai kekeluargaan yang menghambat penghukuman ko- ruptor bila koruptor merupakan anggota keluarga sendiri (T Sudarto, Kompas, 18/5). Dan Z Barron mengutarakan (Kompas, 18/5) bahwa korupsi sebagai kesalahan (dosa) sistemik menjadi sebuah keniscayaan. Karena, menurut dia korupsi tidak lagi dipandang sebagai dosa personal yang harus dipertanggungjawabkan oleh pelaku kepada Tuhan saja, tetapi korupsi harus didudukkan sebagai proses dialektika antara personal pelaku dan kesempatan yang diberikan aspek-aspek eksternal yang ada di luar dirinya. Untuk menanggapi dua pernyataan ini, marilah kita kembali kepada fitrah kita masing- masing. Tanpa kita sadari, seperti yang telah saya utarakan tahun 2004, manusia Indonesia masih mewarisi budaya pembangunan jasad yang fana, di mana dilakukan pembangunan fisik, elitis, dan sentralistik dengan meniscayakan kearifan sejarah dan nilai-nilai luhur bangsa. Akar masalah kekusutan yang terpintal dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara selama ini tidak hanya terletak pada tataran implementasi dan mental elite pelaksana saja, tetapi juga pada sistem. Mustahil untuk memperbaiki kekusutan seperti itu kita mencoba melakukannya dengan sekadar tambal sulam. STRATEGI terpenting untuk mencegah dan mengurangi korupsi adalah dengan mengurangi insentif dan kesempatan untuk perilaku korupsi serta meningkatkan insentif dan kesempatan bagi perilaku nonkoruptif (JA Gardiner, TR Lyman, 1989). Di Indonesia, akar dari korupsi adalah perilaku "pembiaran" oleh masyarakat terhadap para koruptor, seakan- akan korupsi adalah hal yang wajar dan biasa. Bahkan, di beberapa tempat tertentu, koruptor yang telah menyumbangkan ratusan juta rupiah untuk pembangunan fasilitas masyarakat (misalnya, pembangunan masjid atau gereja) disanjung tinggi oleh masyarakat di sekitarnya. Selama ini pembiaran korupsi begitu mendarah daging, bahkan dianggap sebagai budaya bangsa. Harus ditegaskan kepada masyarakat atau siapa pun yang menanyakan keberadaan korupsi menahun di negara ini bahwa korupsi bukanlah budaya dan kearifan masyarakat, melainkan perbuatan individu secara personal maupun bekerja sama dengan person lain yang kejam dan dilarang oleh budaya mana pun di dunia ini. Budaya selama ini dijadikan kambing hitam dan tameng untuk menutupi kebobrokan mental pelaku korupsi dan mental lingkungan sekitar yang "takut" atau "segan" menegur kesalahan pelaku korupsi. Harus diakui oleh masyarakat bahwa selama ini mereka juga berbuat kesalahan yang fatal dengan melakukan pembiaran terhadap beranak-pinaknya korupsi bahwa omission is betrayal. Selain dosa "pembiaran", sebagian orang pun masih belum dapat mengorbankan kepentingan pribadi atau golongannya. Dengan berkaca pada pengalaman yang baru lalu saja, terlihat betapa kaum elite politik masih menjunjung kesejahteraan golongan di atas kesejahteraan rakyat, misalnya dengan meminta kursi kekuasaan sebagai bayaran "pampasan perang". Kemenangan partai dianggap sebagai sebuah kemenangan yang didanai oleh keringat partai politik lain sehingga partai pemenang harus menyerahkan upeti tanda terima kasih berupa jabatan dan posisi terpenting dalam strata kekuasaan. Tidak ada rasa bersalah dan berutang sedikit pun dari mereka kepada kaum petani, buruh, pekerja pabrik, yang bekerja siang malam demi sesuap nasi yang mereka injak dan nistakan setiap hari di panggung politik. Demi kepentingan pribadi dan golongan, mereka melakukan pencurian atas uang rakyat. Untuk menutup kebodohan dan perih luka sayat korupsi ini diperlukan kesadaran pribadi. Keinginan untuk melakukan tindakan nonkoruptif harus timbul dari diri sendiri, dengan melintasi kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan. Menimbulkan keinginan ini pun tidak mudah, tetapi bukan tidak mungkin. Agama, budaya, dan kearifan lokal telah mengajarkan kita betapa pentingnya mendahulukan kepentingan orang lain, kepentingan bangsa. Bangsa ini tidak akan dapat bangkit tanpa kesadaran individual yang tulus yang terbit seiring dengan rasa kebangsaan masing-masing rakyat. Kesadaran individu yang berlandaskan afeksi dan kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang miskin dan terpinggirkan, akan membuat bangsa ini kuat dalam menghadapi tantangan apa pun menuju kesejahteraan dan kemakmuran yang dicita-citakan bersama. MEMBERANTAS korupsi hanya bisa dimulai dengan mewakafkan kepentingan diri, golongan, dan kelompok untuk dan demi kepentingan bersama. Kita saksikan di media massa akhir-akhir ini, keberanian anggota masyarakat dan organisasi yang masih memiliki hati nurani dan kepedulian terhadap rakyat untuk berbicara dan membongkar aib korupsi. Berbagai kasus korupsi sudah mulai terbongkar dan mulai diproses secara hukum yang memberikan secercah harapan, seperti SORAK Aceh yang menginisiasi program antikorupsi yang hasilnya saat ini diadilinya Abdullah Puteh, Saldi Isra dari Universitas Andalas yang mengangkat kasus korupsi yang dilakukan anggota DPRD Sumatera Barat, dan KPK yang telah menjadi lembaga cukup kredibel dan mempunyai integritas dalam komitmennya memberantas korupsi di Indonesia. Selain itu, political will untuk memberantas korupsi telah ditunjukkan Presiden dengan membentuk Tim Pemberantasan Korupsi (Timtaskor), demikian juga komitmen NU dan Muhammadiyah dalam pemberantasan korupsi yang tidak hanya mengampanyekan gerakan ini keluar, tetapi juga menerapkannya di dalam tubuh organisasi mereka sendiri. Inilah momentum yang kita nantikan, bersama kita akan membongkar aib-aib korupsi lain yang masih ditutup-tutupi. Kini saatnya kita bangkit bersama memerangi korupsi yang sudah merajalela. Selain kesadaran dalam diri, upaya pemberantasan korupsi akan lebih efektif apabila sistem tata kelola yang baik (good governance), yaitu sistem berdasarkan pada prinsip tranparansi, akuntabilitas, partisipasi masyarakat, orientasi pada kepentingan publik, dan supremasi hukum, dapat diterapkan dalam institusi publik dan lekat dalam semua tahapan proses pembangunan dan dipastikan pelaksanaannya untuk mencegah adanya penyelewengan kekuasaan. Tidak bisa tidak, untuk memerangi korupsi yang sistemik yang telah masuk ke semua sendi kehidupan bangsa dan memiskinkan rakyat adalah dengan mengedepankan penerapan good governance. HS Dillon Partnership for Governance Reform in Indonesia [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Dying to be thin? Anorexia. Narrated by Julianne Moore . http://us.click.yahoo.com/FLQ_sC/gsnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

