http://www.kompas.com/kompas-cetak/0505/21/opini/1760665.htm
Sabtu, 21 Mei 2005 



Ilmu Politik Pertanian 
Oleh Sjamsoe'oed Sadjad


SAYA pernah membaca pernyataan Dr (hc) Siswono Yudohusodo, mantan Ketua Umum 
HKTI, kalau menteri-menteri pertanian kita selama ini kurang menguasai politik 
pertanian. Saya bisa memahami kekecewaan itu karena banyak kebijakan yang 
diambil para menteri pertanian tidak nyekrup dengan kepentingan petani.

Barangkali karena keterikatannya pada seluruh sistem birokrasi yang ada, 
pengaturan bidang pertanian yang ada di tangan para menteri pertanian dirasakan 
kurang memuaskan. Masalah pertanian selalu menyangkut ke bidang politik dan 
lebih spesifik lagi politik pertanian. Saya mengistilahkan masalah ini dengan 
agropolitics agar sejajar dengan istilah yang sudah lahir lebih dulu, seperti 
agroindustri, agrobisnis, agroekonomi.

Bila diamati, paling tidak di IPB, sejak Orde Baru yang namanya Ilmu Politik 
Pertanian menjadi pudar, bahkan sepertinya hilang dari peredaran. Padahal, di 
zaman saya mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, politik pertanian 
menjadi topik yang dijadikan mata ajaran mayor untuk penulisan skripsi pada 
akhir pendidikan insinyur pertanian.

Meski saat itu yang diajarkan hampir berkisar pada aspek mikro, aspek-aspek 
makro hampir tidak disinggung sama sekali. Akan berbeda sekali dengan keadaan 
yang kita hadapi kini. Aspek makro harus bisa dibahas dalam ilmu politik 
pertanian. Karena itu, para mantan menteri pertanian, apalagi yang berangkat 
dari kalangan pendidikan tinggi, diharapkan bisa mengisi ilmu politik pertanian 
dengan aspek makro.

Membijaksanai bidang pertanian dan petani, seyogianya bertolak dari beberapa 
kaidah. Pertanian adalah proses industri, karena itu petaninya adalah 
industriawan. Tak berbeda dengan industriawan yang memiliki pabrik sebagai aset 
industri, petani memiliki lahan. Sebagai industriawan, petani mengelola 
industrinya dalam satu sistem. System thinking demikian hendaknya membijaksanai 
bidang pertanian.

MEMBIJAKSANAI pemberdayaan petani untuk mencapai kesejahteraan hendaknya 
bertolak dari pemikiran, petani dan kehidupan desa tidak terpisah. Karena itu, 
desa dengan komunitasnya harus dibangun dengan jiwa industrial. Pertanian yang 
berproses industrial bisa dihadapkan kepada desa yang juga industrial. Desa 
industri yang berbasis pertanian industri hendaknya menjadi isi agropolitics 
kita. Karena itu perhatian tentang politik pertanian tak cukup hanya dimiliki 
menteri pertanian saja. Kondisi mikro demikian mungkin baru bisa diandalkan 
untuk menghadapi aspek makro.

Apa yang kita dapati dari era Orde Baru jauh dari keadaan itu. Kebijakan untuk 
bidang pertanian hanya difokuskan pada politik pertanian yang isinya sebatas 
produktivitas lahan pertanian. Petaninya digiring untuk sekadar pelaksana 
berproduksi hasil pertanian, jauh dari mengenal seluruh sistem, sehingga petani 
bukan seorang industriawan, tetapi sekadar "aparat" proses produksi. Sampai 
kini pun belum berubah meski selalu didengung-dengungkan, pertanian merupakan 
basis pembangunan.

Membijaksanai luas lahan pertanian yang dapat dikelola industrial oleh petani 
juga belum menjadi kaidah politik pertanian kita. Kebijakan pengelolaan luas 
lahan minimal untuk suatu komoditas tertentu juga belum ada wujudnya. Meski 
pemindahan pemilikan lahan terjadi, tetapi tidak bisa diwujudkan ke proses 
konsolidasi pengelolaan lahan sehingga menjadi efisien dan menghidupi 
petaninya. Apa yang diketahui ialah bertambahnya jumlah buruh tani yang semula 
petani pemilik lahan gurem. Tidak ada politik pertanian yang membijaksanai 
penampungan penjualan lahan menjadi bentuk pemilikan saham dan diatur oleh 
kelembagaan keuangan negara sehingga terjadi proses konsolidasi lahan pertanian 
yang lalu dikelola secara modern dan efisien oleh profesional dalam pertanian 
industrial.

HINGGA kini, kita belum melihat bagaimana politik pertanian disusun secara 
nasional. Seperti dikemukakan di atas, kurang tepat jika membijaksanai 
pertanian hanya diarahkan kepada menteri pertanian saja. Betapa besarnya 
jelajah agropolitics jika hendak dijabarkan di negeri ini yang katanya 
merupakan negara agraris.

Sebagai contoh fenomenal dapat dikemukakan, pembangunan infrastruktur berupa 
jalan-jalan tol akan menjadi garapan kalangan swasta. Pembangunan infrastruktur 
demikian nyata mempercepat mobilitas perhubungan darat di antara dua kota 
besar. Namun, pembangunan demikian sedikit sekali mendampakkan berkembangnya 
perekonomian pedesaan atau kecamatan di sepanjang jalan tol. Bahkan, boleh 
disebut menyusutkan kegiatan bisnis kecil menengah nonformal yang semula ramai 
disinggahi pemakai jalan.

Coba simak, adakah pemakai Jalan Tol Jagorawi ingat nikmatnya laksa di 
Cibinong, atau pemakai Tol Surabaya-Malang akan bernafsu mampir di Sidoharjo 
membeli produk kelautan. Siapa ingat soto di Subang jika sudah melintasi Tol 
Cikampek- Bandung. Dengan demikian, dirasa perlu mengimbangi pembangunan 
infrastruktur jalan tol dengan mengembangkan ekonomi pedesaan, yang menjadi 
jabaran agropolitics yang seharusnya digarap bukan saja oleh Departemen 
Pertanian saja.

MEMANG ada dampak mobilitas warga desa atau petani di pedesaan dengan 
pembangunan infrastruktur pedesaan. Sayang, mobilitas itu bukan ditujukan untuk 
memodernkan proses industrial bidang pertanian, tetapi mendorong petani melepas 
pemilikan lahan tani dan mengonsumsi motor-motor untuk diusahakan sebagai ojek 
oleh generasi penerusnya. Petani lalu turun harkatnya menjadi buruh tani dan 
generasi mudanya di desa tidak lagi ingin melanjutkan karya usaha tani. Kondisi 
ini tentu jauh dari ajaran yang didapati dalam ilmu politik pertanian.

Pemilikan lahan ke tangan orang lain juga tidak banyak bermanfaat karena 
konsolidasi lahan tidak terjadi sehingga tidak ada peningkatan efisiensi 
pengelolaan lahan pertanian seperti dikemukakan di atas. Apalagi akan lebih 
buruk apabila pemilik lahan baru tidak menghayati pertanian dan tidak lagi 
tinggal di desa tempat lahan berlokasi.

Politik pertanian seharusnya bisa mengatur semua proses itu sehingga dapat 
diwujudkan pengelolaan lahan yang proporsional. Mengapa tidak bisa diwujudkan 
mekanisme pelepasan lahan pertanian sehingga bisa diarahkan membangun pertanian 
yang kondusif industrial yang semua pengelola lahan menargetkan produksinya 
sebagai bahan mentah industri meski itu berwujud conditioning (membersihkan, 
memilah, mengemas, menyimpan, dan mentranslokasi) dan bukan processing menjadi 
produk baru.

Pembangunan infrastruktur pedesaan hendaknya jangan mendorong proses industri 
terjadi di daerah perkotaan. Memilah cabe atau tomat saja harus dilakukan di 
kota, padahal orang dari desa juga. Akhirnya sampah menumpuk di kota dan tidak 
kembali ke desa sebagai kompos.

Sekiranya elite birokrasi kita ini memegang kaidah-kaidah agropolitics mungkin 
pembangunan desa akan bisa diwujudkan dan peristiwa urbanisasi tidak terjadi. 
Begitu pula nasib TKI yang diusir di Malaysia tidak akan kita temui. Kini, 
siapa yang akan mencoba memelopori system thinking yang berbasis agropolitics? 
Saya menunggu-nunggu itu, demikian juga Pak Siswono.

Sjamsoe'oed Sadjad Guru Besar Emeritus Institut Pertanian Bogor

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/MCfFmA/SOnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke