Shonjiki
Siang ini aku bertemu Dewa, lelaki asli Bali yang berniat mengiklankan
perusahaannya di koran tempatku bekerja.
�Mbak dari Tokoh?� tanyanya di depan gerbang. Aku mengangguk.
�Tunggu sebentar ya, saya lanjutkan ini dulu,� sambungnya sembari menunjuk
nampan yang berisi canang. Ia sedang bersembahyang. Aku mengernyitkan dahi.
Sekali ini aku melihat laki-laki dewasa sembahyang keliling rumah. Biasanya,
aku melihat ibu-ibu atau anak gadis yang menghaturkan sesajen tiap hari.
Sangat jarang dilakukan laki-laki.
Aku menunggu di pelataran yang sangat sejuk. Tak lama, laki-laki muda dengan
rambut dikuncir satu itu datang. �Kenalkan, saya Dewa,� katanya ramah. Tanpa
basa-basi, kami langsung membicarakan keinginannya tersebut.
�Minggu ini beritanya apa?� tanyanya. Segera saja aku berikan contoh koran yang
sedari tadi masih di map plastikku.
�Perceraian,� jawabku singkat.
�Ada apa dengan perceraian?�
�Akhir-akhir ini kasus perceraian meningkat di Bali. Bisa dipastikan enam dari
sepuluh kasus perdata adalah kasus perceraian.�
�Oh ya? Alasannya apa?�
�Pertama, karena perselingkuhan. Kedua, karena ditinggal kawin suami.�
�Munafik.�
Aku bengong. Dia tertawa. Giliran aku memburunya. Katanya, orang zaman sekarang
itu kebanyakan yang munafik. Mereka tak mau mengatakan yang sebenarnya.
�Pernah dengar shonjiki ?� tanyanya.
Aku menggeleng.
Di Jepang, kata ini sangat populer. Shonjiki artinya jujur. Dewa yang tak
menyebutkan nama lengkapnya itu, bercerita pengalamannya tinggal selama
beberapa tahun di Negeri Matahari Terbit itu.
Perceraian di Jepang sangat minim. Bukan karena disana tidak ada kasus
perselingkuhan. Tapi, menurut Dewa, karena efek samping ditanamkan pentingnya
berkata dan berlaku jujur sejak kecil. Ia lantas membandingkan kasus
perselingkuhan yang terjadi.
Disini, orang berselingkuh sudah menjamur. Mungkin orang sudah tahu sama tahu
saja. Selingkuh menjadi sebuah tren. Ketika orang berselingkuh, kerap kali
mereka menggunakan hati. Pikiran orang, selingkuh identik dengan seks. Orang
akan melakukan apa saja untuk itu. Tak peduli pada komitmen awal saat menikah.
Kalau diingatkan dengan dosa, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.
Dingatkan dengan malu, rasa-rasanya sama saja.
Herannya, kita sangat berbeda dengan warga Jepang. Kalau boleh dikata, mereka
bahkan mengenal tuhan saat memasuki usia dewasa. Kebanyakan dari kita sudah
diajarkan agama sejak dini. Namun, agama seakan tak ampuh untuk membentengi
diri. �Kita hanya harus belajar jujur,� tegasnya. Mereka, orang Jepang itu, tak
akan pernah mengatakan �I Love You� jika ia memang tak sungguh-sungguh
mencintai.
Jujur? Ah, bisa jadi. Semua orang punya kejujuran. Sayang, tak semua orang
menggunakannya. Semua orang punya perasaan bersalah. Sayang, tak semua orang
mendengarkannya. Tiap kali berbuat tak jujur, jauh di dalam kita, ada rasa tak
bersalah itu. Mungkin, tiap kali kita tak jujur, ia akan berteriak, �Jangan
lakukan itu!� Tapi suaranya terlalu rendah. Sangat rendah, karena ia �terlalu
jauh� berada di dalam hati. Hati yang terlalu lama kita tinggalkan�
Untuk orang yang saya cintai, tak ada pengorbanan. Semuanya memang untuk dia,
setulusnya.
---------------------------------
Discover Yahoo!
Find restaurants, movies, travel & more fun for the weekend. Check it out!
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Ever feel sad or cry for no reason at all?
Depression. Narrated by Kate Hudson.
http://us.click.yahoo.com/LLQ_sC/esnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/