http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=109943



            Pseudo Democracy dalam Kongres Partai
            Oleh Umar Sholahudin 



            Kamis, 26 Mei 2005
            Kekuatan sipil dalam partai politik yang diharapkan dapat membawa 
rakyat Indonesia keluar dari krisis multidimensional, justru mengalami krisis, 
ditandai dengan adanya konflik internal partai yang terus bermunculan. 
Bagaimana mau membawa dan memperjuangkan aspirasi politik rakyat, jika kondisi 
internalnya saja sudah dipenuhi konflik dan perpecahan? Kalau ngurus partainya 
saja tidak becus, apalagi ngurusi rakyat! Begitulah kira-kira kecaman yang 
muncul terhadap sejumlah partai yang mengalami konflik internal. Dan, yang 
lebih ironis lagi, konflik dan perpecahan itu tak terkait langsung dengan 
aspirasi dan kepentingan rakyat, tapi kepentingan elite kekuasaan parpol karena 
perebutan kursi. 

            Seperti diketahui, beberapa parpol seperti PKB, PAN, PDIP, PBR dan 
PD telah melakukan kongres, muktamar atau munas. Namun yang patut disayangkan 
dan bahkan ironis adalah kongres, muktamar atau munas tersebut ternyata hanya 
dijadikan sebagai ajang perebutan kekuasaan saja. Orientasi kekuasaan lebih 
mengedepan daripada orientasi untuk menyelesaikan persoalan rakyat melalui 
program-program yang kontributif untuk rakyat. Ini yang kemudian menjadikan 
kongres, muktamar atau munas partai-partai tidak menghasilkan produk apa-apa 
untuk konstituennya dan masyarakat, kecuali masalah dan konflik internal. 

            Di PKB misalnya, saat ini sedang dirundung masalah konflik internal 
yang cukup serius, yakni soal pemecatan Alwi Shihab sebagai Ketua Umum dan 
Saefullah Yusuf sebagai Sekretaris Jendaral oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKB 
atas restu politik Gus Dur. Pemecatan tersebut sampai saat ini masih 
menimbulkan masalah yang berlarut-larut. Karena merasa tidak puas, Alwi Shihab 
dan Saefullah Yusuf dengan "restu politik" dari para kyai khos Langitan 
berencana akan menggugat secara hukum keputusan DPP PKB soal pemecatan secara 
sepihak tersebut. Menurut keduanya, pemecatan tersebut di nilai cacat hukum, 
karena tidak melalui prosedur organisasi partai yang semestinya. 

            Konflik di tubuh PKB semakin keras pasca Muktamar II di Semarang. 
Muncul dualisme kepemimpinan, yakni kepemimpinan pro Muktamar yang diwakili 
Muhaimin Iskandar dan Gur Dur serta kepemimpinan kontra Muktamar yang diwakili 
Alwi Shihab dan Saefullah Yusuf. Keduanya saling mengklaim bahwa dirinyalah 
yang paling sah. Bahkan kedua kubu tersebut sudah saling "mengancam" akan 
melakukan pemecatan dan pembekuan kepengurusan PKB di daerah. Kedua kubu pun 
dilaporkan akan sama-sama menggelar Muktamar Alim Ulama versi masing-masing. 

            Selanjutnya di PDIP, juga tak sepi dari konflik elit di internal 
partainya. Partai "Moncong Putih" yang baru melaksanakan Kongres II di Bali 
terbelah menjadi dua kubu, yakni kubu "status quo" yang diwakili oleh Megawati 
Soekarnoputri, Pramono Anung, dan Sutjipto serta kubu pembaruan yang diwakili 
oleh Kwik Kian Gie, Shophan Shophian, dan Arifin Panigoro. Bahkan pembelahan 
politik tidak saja terjadi di tingkat elite-elite PDIP, tetapi sudah mengarah 
pada pembelahan di tingkat grass root. 

            Konflik elite juga menimpa PPP. Kelompok elite PPP yang "anti 
status quo" yang diwakili oleh Andi Ghalib, Suryadarma Ali dan kawan-kawan 
lainnya akhirnya menggugat Hamzah Haz selaku Ketua Umum DPP PPP karena dengan 
sewenang-wenang melakukan pemecatan secara sepihak. Bahkan berkas gugatan 
Suryadarma Ali dan kawan-kawan tersebut sudah didaftarkan ke Pengadilan Negeri 
di Jakarta. Konflik di tubuh PPP semakin keras, ketika beberapa hari yang lalu 
kelompok "anti status quo" dan Pemuda Ka'bah melakukan aksi unjuk rasa di 
Kantor Pusat PPP di Jakarta dan bahkan sempat merusak dan menyegel kantor 
tersebut. Mereka sangat kecewa dengan kepemimpinan Hamzah Haz yang dinilainya 
otoriter. 

            Parpol lain yang muktamarnya melahirkan konflik adalah Partai 
Bintang Reformasi (PBR) pimpinan KH Zaenudin MZ. Muktamar I PBR yang 
berlangsung di Jakarta, beberapa waktu lalu telah melahirkan kepengurusan 
kembar PBR, yakni PBR versi KH Zainudin dan Bursah Zanubi serta PBR versi 
Zaenal Ma'arif dan Djafar Badjeber. Kedua kubu saling mengklaim bahwa dirinya 
didukung oleh konstituennya di struktural daerah. 

            Situasi ketidakpuasan di lingkaran internal partai juga terjadi 
dalam muktamar, kongres atau munas untuk memilih Ketua Umum PAN, PBB dan 
terakhir PD. Permasalahannya terkait dengan aksi pemberian "restu" ketua umum 
lama kepada calon tertentu, atau gugurnya sejumlah calon karena terganjal 
persyaratan, dan lain-lain, yang dinilai tidak demokratis. 

            Orientasi Kekuasaan


            Fenomena konflik parpol tersebut semakin menambah deretan panjang 
konflik yang terjadi di tubuh parpol. Jika kita cermati dan kita kritisi, dari 
berbagai konflik dan perpecahan di tubuh sejumlah parpol tersebut semuanya 
berkaitan dengan perebutan jabatan pimpinan puncak partai. Sehingga susah 
dibantah bahwa konflik dan perpecahan di tubuh parpol tersebut lebih bernuansa 
perebutan kekuasan dan konflik interest yang sifatnya pragmatis. 

            Konflik dan perpecahan yang berlarut-larut ini menunjukkan fenomena 
sebagai berikut. Pertama, tingkat kedewasaan politik para elite partai masih 
begitu rendah dalam menyelesaikan persoalan internal partainya sehingga 
terkesan belum siap hidup berdemokrasi. Ibaratnya, mereka bagaikan anak-anak 
kecil yang saling berebut permen. Sehingga yang muncul adalah semangat 
kekuasaan bukan semangat untuk menyelesaiakan persoalan. 

            Kedua, konflik itu semakin mempertegas adanya komitmen para 
politisi kita yang cenderung lebih mementingkan kepentingan kekuasaan dan 
kemaslahatan pribadi atau kelompok daripada kemaslahatan masyarakat dan negara. 

            Ketiga, konflik tersebut semakin membingungkan masyarakat (baca: 
konstituen). Rakyat semakin diombang-ambingkan oleh tingkah polah elitenya 
sehingga semakin tidak jelas arah perjuangan politiknya ke depan. Masyarakat 
selama ini hanya dijadikan sebagai objek dan klaim-klaim politis oleh 
segelintir orang. Para politisi gemar memperalat rakyat untuk kepentingan 
politik pribadi atau kelompoknya sendiri. Atas nama rakyat mereka berteriak, 
menjegal, dan mengancam sesamanya dan berbagai perilaku politik yang jauh dari 
semangat demokrasi. Kondisi ini bukan tidak mungkin akan membuat rakyat semakin 
apatis terhadap parpol. Elite partai dinilai tidak bisa diandalkan dan bisa 
dianggap tidak becus ngurusi partainya sendiri, apalagi ngurusi rakyat dan 
bangsa. 

            Keempat, konflik dan perpecahan itu memberikan image buruk bagi 
partai. Parpol dinilai tidak mampu memberikan suri tauladan politik yang baik 
bagi rakyat. Sebaliknya justru memberikan pendidikan politik yang sangat buruk 
bagi rakyat. 

            Demokrasi Semu


            Proses demokrasi yang diharapkan muncul dari "gawe besar" (baca: 
kongres atau muktamar) partai ternyata hanya isapan jempol. Justru yang terjadi 
adalah pseudo democracy (demokrasi semu). Demokrasi yang terjadi adalah 
demokrasi elite, yakni demokrasi atas kemauan dan restu politik elite. 
Praktiknya seolah-olah demokrastis, tapi yang terjadi justru sebaliknya. 

            Demokrasi kelembagaan partai direduksi sedemikian rupa menjadi 
demokrasi yang bersifat personal. Mekanisme kelembagaan parpol dikalahkan oleh 
otoritas kekuasaan sang ketuanya atau orang yang memiliki pengaruh dan kharisma 
kuat. Ini yang kemudian menghasilkan pemimpin partai "karbitan" dan instan. 

            Tentu, perilaku dan praktik politik ini tidak kondusif dan 
mematikan proses demokratisasi di internal partai. Aspirasi kader-kader partai 
dan masyarakat hanya menjadi slogan politik yang kemudian dimatikan oleh 
otoritas personal partai yang 'otoriter'. PKB maupun PDIP sebagai partai besar 
(pemenang dan runner up pemilu) seharusnya memiliki tanggung jawab moral dan 
politik terhadap konstituensnya. 

            Partai seharusnya tidak terjebak dan menjebakkan diri pada proses 
politik "karbitan" hasil pesanan dan kemauan politik elite tertentu dengan 
mengorbankan proses-proses politik dan kelembagaan partai yang semestinya harus 
dilalui dan dilakukan. Kongres partai seharusnya dijadikan momentum bagi parpol 
untuk membangun budaya politik yang sehat, rasional, dan elegan, bukan 
sebaliknya menciptakan pendistorsian dan pembusukan demokrasi. 

            Partai seharusnya juga lebih mengedepankan proses-proses politik 
secara kelembagaan (institutional building). Biarlah proses demokrasi 
berkembang secara wajar dan alami di lingkungan internal partai, tanpa adanya 
intervensi politik yang terlalu berlebihan dari seorang Gus Dur atau Megawati, 
misalnya. Proses kelembagaan ini yang seharusnya ditumbuhkembangkan di 
lingkungan parpol, bukan malah disumbat oleh otoritas kekuasaan yang sifatnya 
personal. *** 

            (Penulis, peneliti pada Center for Public Policy Studies -
            CPPS, alumnus FISIP Unair Surabaya).  
     
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/HO7EnA/3MnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke