Justice Terlebih Dahulu! Nova Poerwadi (NP): Terima kasih anda kembali bersama Jurnal VOA, kini kita memasuki segment Opini Anda. Pemirsa, Tragedi Mei telah berlalu sekitar 7 tahun namun luka akibat peristiwa tsb. tampaknya masih belum terobati. Untuk membahas Tragedi Mei 1998 kami akan berbincang-bincang dengan pengamat sosial Jonathan Goeij yang saat ini berada di studio VOA di Los Angeles, dan anda di Indonesia dapat ikut serta dengan memberikan pertanyaan atau komentar singkat lewat nomor telpon 021-58-3 ribu 22. Selamat datang diacara kami pak Jonathan.
Jonathan Goeij (JG): Selamat siang atau selamat pagi di Indonesia. NP: Sebetulnya ini kasus yang sudah berjalan lama tetapi apakah bapak kecewa dengan tindakan konkrit � atau tidak adanya tindakan konkrit yang telah dilakukan? JG: Benar, saat ini terlihat sekali usaha-usaha untuk melupakan kejadian Mei, padahal kejadian Mei adalah suatu tragedy nasional yang sebenarnya berulang kali terjadi di Indonesia baik tahun 65 atau sekarang ini tragedy Mei. Dan tragedy Mei merupakan suatu kejadian yang sudah dijaman modern yang datanya sebetulnya sedemikian lengkap. Seharusnya kalau pemerintah berniat untuk mengupasnya, tentu hal ini akan mudah untuk dilakukan. NP: Apakah bapak khawatir bahwa makin lama kita meninggalkan tahun 98 itu makin terlupakan pula kasus ini? JG: Kalau kita melihat pengalaman yang sudah-sudah dinegara kita, maka hal itu hampir pasti. Maka itu kasus ini harus terus diperingati setiap tahun dan untuk dibuka. Hal ini bukan karena dendam atau sakit hati tentunya, tetapi merupakan suatu prosedur hukum yang baik dimana untuk mencegah hal-hal seperti ini terulang lagi dimasa depan. NP: Lalu mungkin kuncinya juga terletak pada DPR mengingat bahwa undang undang ini mengharuskan DPR menyatakan sesuatu sebagai kejahatan pelanggaran HAM berat. Apa yang bisa dilakukan dengan adanya anggota DPR yang kelihatannya kurang mau menyentuh masalah ini? JG: Begini ya, DPR merupakan representasi suara rakyat tentunya, karena itu anggota-anggota DPR itu harus turun kebawah mendengarkan suara rakyat. Korban dari peristiwa Mei ini banyak sekali, yang terbakar saja lebih daripada 1000. Dan ini harus didengarkan oleh anggota DPR sehingga aspirasi rakyat ini bisa dibawa agar kasus ini bisa dituntut dengan tuntas. NP: Sebetulnya khan pada sekitar tahun 99 tahun 2000 sudah ada hasil temuan Tim Pencari Fakta. Mengapa ini tidak dilanjutkan pak, kalau dari pantauan bapak? JG: Dari kemauan politik mereka yang ada dikekuasaan ataupun mereka yang ada di DPR, karena tidak ada keinginan yang serius untuk menuntaskan kasus ini. Dan beberapa hal seperti misalnya mereka-mereka yang pada temuan TGPF diduga terlibat dalam kasus ini pada realitasnya juga masih berada di pemerintahan baik dilembaga eksekutif maupun dilembaga legislative. NP: Sejak 1998 pemerintah sudah silih berganti berubah terus dari presiden satu ke pemerintahan satunya. Apakah ini tidak membuat bapak dan kalangan lain yang juga mungkin masih mempermasalahkan masalah ini menjadi kecil hati pak? JG: Tentu jangan kecil hati ya, kalau kita lihat didunia semua peristiwa tragedy baik itu di Amerika ataupun semuanya itu memerlukan waktu bertahun-tahun dan diperlukan suatu persistensi untuk menekan agar kasus-kasus seperti ini terus diungkap. Kalau itu dihentikan tentunya hanya akan menjadi pembodohan sejarah bahkan mungkin dilupakan seakan-akan tidak ada. Sekarang inipun terlihat sekali usaha-usaha seperti itu dilakukan, seakan-akan tidak ada perkosaan tidak ada pelanggaran HAM berat dan sebagainya. Dan realitas korban-korban itu ada, dan mereka yang mati terbakar sedemikian banyaknya. Itu tentu merupakan suatu fakta yang tidak bisa kita elakkan lagi. NP: Apakah sudah cukup pak adanya upaya untuk merehabilitasi korban-korban ini yang sementara ini banyak yang disebut penjarahlah dan lain-lain? JG: Begini, para korban itu sebenarnya adalah korban kita nggak bisa bilang mereka adalah penjarah. Sebenarnya mereka adalah masa yang dipancing oleh para provokator dan mereka sebenarnya adalah korban. Jadi kita tidak bisa mengatakan bahwa mereka adalah penjarah yang kemudian sudah terhukum, itu sama sekali tidak. Itu salah sekali. Dan para korban ini saya lihat belum dapat santunan yang berarti. Yang pertama santunannya belum ada untuk mereka. Dan yang kedua juga pelaku daripada, mastermind maksud saya, daripada peristiwa ini sama sekali belum diungkap. Bagi para korban hal ini menyakitkan hati sekali tentunya. NP: Pak Jonathan kita bergabung dahulu dengan pak Mulyono dari Jakarta, silahkan pak Mulyono. Mulyono (penelpon dari Jakarta): Halo, selamat pagi pak Jonathan. JG: Selamat pagi. M: Pak saya ingin tanya, mohon maaf saya baru gabung. Diperistiwa Mei itu menurut pengamatan bapak apa ada campur tangan asing yang meng-create peristiwa luar biasa itu sehingga segala sesuatu seakan-akan menjadi begitu terorganisir yang bekerja dengan elemen-elemen didalam negeri. NP: Baik, terima kasih untuk pak Mulyono. Mungkin kami mohon maaf juga atas jawabannya. Mungkin pak karena kita cuma ada sekitar waktu satu menit. Pak Jonathan, apakah rekonsiliasi, apa yang dilakukan di Afrika Selatan berubah dari balas dendam menjadi rekonsiliasi apakah itu langkah kita selanjutnya? JG: Langkah rekonsiliasi itu bagus, tapi dengan didasari bahwa kasus ini harus diungkap dulu. Diungkap dulu dengan tuntas baru kemudian terlihat siapa saja mastermind-nya, apa yang terjadi sebenarnya, baru kemudian diadakan rekonsiliasi. Rekonsiliasi pada umumnya adalah saling memaafkan, tentunya �.. NP Tapi tentunya dengan justice terlebih dahulu. Baik terima kasih pak Jonathan atas kehadirannya distudio kami di Los Angeles. rtsp://a1327.r.akareal.net/ondemand/7/1327/2110/973023381/voice.download.akamai.com/2110/real/voa/eap/indo/video/indo2205v0516.rm -- Nia, Duta Remaja Untuk Kemanusiaan Dan Perdamaian Nia, demikian panggilan akrabnya. Gadis cilik ini baru saja berumur 13 tahun, namun dia telah berbuat sesuatu yang jarang dapat dilakukan oleh orang dewasa, apalagi diantara usia yang sebayanya. Nia telah menjadi Duta universal untuk kemanusiaan dan perdamaian pada Dunia umumnya dan untuk Indonesia pada khususnya. Ayahnya Rudy Agus, dan Ibunya Sakri Dewi Tirtowidjojo, tak pernah berpikir putrinya bisa mengerjakan hal yang sekolosal ini, menemui kepala negara adikuasa, Presiden Bill Clinton, dan Ibu negara Hillary Rhodam, sekaligus dalam kesempatan yang sama. Nia, yang nama lengkapnya Marniati Agus, mengungkapkan keperduliannya terhadap kekerasan yang terjadi didunia akhir akhir ini, khususnya Indonesia. Dia sangat terpukul hatinya mendengar kejadian perkosaan terhadap wanita keturunan Tionghoa di Indonesia, juga hal hal tentang Rasisme dan Diskriminasi di dunia. Nia, yang ternyata cucu dari Alm. Oey Ho Tjai, alias Gono Tirtowidjojo, pejuang �45 yang mengangkut senjata TNI dengan kapalnya, "KM Kota Silat", dalam perjuangan melawan Belanda. Kisah perjuangannya telah di filmkan di layar perak dengan judul "Mustika Ibu" (yang diperankan oleh Deddy Sutomo dan Debby Cynthya Dewi) pada tahun 1978. Pak Gono pernah ditangkap Belanda, disiksa, dan dipenjarakan sampai mengidap penyakit TBC. Sumbangan Pak Gono pada Ibu Pertiwi tidak sampai disitu saja, beliau malah merelakan seluruh koleksi barang antiknya di dermakan ke Museum Fatahillah di Jakarta. Oey Ho Tjai, pernah disematkan bintang Satyalencana didadanya oleh presiden RI, atas jasa-jasanya. Ternyata pepatah yang mengatakan; "buah yang manis turun dari pohon yang unggul" ada benarnya. Nia rupanya juga Cucu dari Auw Man Tok, yang lebih dikenal dengan Amanto Agus (YB�AE), salah satu pendiri dari ORARI (Organisasi Radio Amatir Indonesia) yang juga merupakan salah seorang pejuang kemerdekaaan Republik Indonesia, yang memberi sumbangannya melalui pemancar radio gelap, untuk melawan sekutu, pada masa mudanya. Oom Toha yang sekarang tinggal di Los Angeles adalah salah satu kawan kental dari Pak Amanto, membenarkan semangat heroiknya. Asal mulanya hasrat ingin bertemu Presiden Clinton Kejadian ini bermula dari terdengarnya percakapan yang memilukan atas korban perkosaan perempuan Tionghoa pada bulan Mei 1998. Anak yang semuda ini tidak dapat melupakan isi pembicaraan menyeramkan, yang terdengar olehnya sewaktu orang tuanya sedang berbincang dengan tamu yang menceritakan kejadian di Tanah Air waktu itu. Nia yang diduga oleh orang tuanya sudah tidur, ternyata mencuri dengar percakapan ini. Sejak saat itu dia tidak bisa tidur dengan tenang, serasa dia mau menjerit sekeras kerasnya, tidak dapat menerima kenyataan atas perlakuan dari manusia manusia yang biadab, dan tak berperikemanusiaan itu, dan hal ini berlangsung terus hingga lebih dari sebulan. Pikiran stress membuat Nia tidak cukup tidur, dan turun kondisi kesehatannya. Orang tuanya membawa Nia ke dokter, setelah dokter memeriksanya, ternyata Nia diduga mendapatkan stress kejiwaan. Maka dokter mengatur pemeriksaan psikis, dan hasilnya Nia membuka segala rahasianya . Dokter sangat terharu mendengar cerita yang dituturkan Nia, bahkan Dokter Shaham tak kuasa membendung air matanya sendiri. Dokter Shaham menanyakan apa sebenarnya yang diingini oleh Nia, dan apa sekiranya yang dapat menenangkan hati Nia? Dokter berjanji akan memenuhi permintaan Nia. Lalu Nia mengutarakan keinginannya, yaitu dia ingin bertemu dengan presiden Bill Clinton untuk menyampaikan kesedihannya atas nasib manusia yang teraniaya, dan memohon presiden Bill Clinton sebagai kepala negara adikuasa untuk turun tangan meredakan kekerasan yang berlangsung di dunia, dan khususnya di Indonesia sepertinya tidak pernah akan berhenti, dia bahkan bisa menyebutkan tempat tempat seperti; Timor Timur, Aceh, Ambon, dan Irian, padahal anak bungsu yang satu ini tidak pernah mengenyam sekolah di Indonesia. Dokter sangat terpukau dan tidak tahu harus menjawab apa, karena tak pernah terpikirkan oleh dokter bahwa anak ini akan mengeluarkan kata kata semacam itu. Beban moril menghantui Dokter Shaham karena dia sudah kepalang janji dengan Nia. Dokter lalu berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi masalah Nia, dengan merundingkan kasus ini bersama dengan staff nya dan pihak keluarga tentunya, serta berusaha mengontak pejabat dan badan-badan terkait, akhirnya disarankan agar Nia sendiri yang menuliskan surat permintaannya kepada White House, dengan harapan setidaknya Nia sudah menyalurkan keinginannya, agar ketegangan jiwanya bisa terakomodasi, dan kesehatannya bisa berangsur pulih kembali. Tidak ada seorangpun yang berkeyakinan surat Nia akan mendapat tanggapan yang positif, apalagi untuk bisa diluluskan bertemu dengan presiden, bahkan banyak presiden dari negara-negara lain yang ingin diundang ke White House untuk bertemu dengan presiden AS saja, sulit terlaksana cita-citanya, apa-lagi anak imigran yang kurang dari 10 tahun ini . Ibu Nia, Sakri Dewi, selalu taat bersembahyang, beliau sangat sayang kepada anak-anaknya dan selalu berusaha meme-nuhi kebutuhan anak-anaknya, terutama dalam bidang pendidikan dan kekaryaan, setiap kali bersembahyang beliau selalu memohon perlindungan yang maha kuasa kepada anak-anaknya. Nia, adalah anak yang kecerdasannya tidak disangka oleh kedua orang tuanya, GPA nya disekolah mencapai 3,7. GPA ini yang mana merupakan persyaratan untuk mendaftarkan diri berkunjung ke Gedung Putih. Itu hanya salah satu syarat. Nia sendiri mengontak Social worker Ms Diane, anggota LSM yang ada di Los Angeles (CHI), Ms Vicky dari Make a wish Foundation , kepala sekolahnya sendiri, guru bahasanya Ms Burno, dan banyak lagi pihak-pihak yang tak sempat kami muat disini, dalam rangka menggoalkan cita-citanya, bertemu dengan Presiden Bill Clinton. Usahanya sangat keras, tanpa diketahui orang tua dengan sepenuhnya. Orang tuanya tak pernah mengira kesanggupan anak yang bercita cita jadi dokter anak-anak ini . kembali ke atas Lukisan perwayangan Diam diam, si anak yang juga berambisi jadi Lawyer hukum Internasional ini, membuat lukisan pewayangan yang memuat tokoh-tokoh Bharata Yudha, lukisan ini diselesaikan secara sedikit demi sedikit dengan memanfaatkan waktu yang tersisa dari ekstra kurikulernya, dengan bimbingan pamannya Hakim Tirta, seorang yang mempunyai latar belakang Art & Printing. Lukisan ini diinspirasikan dari pameran pasar seni di Ancol, ketika dia pulang kampung ke Jakarta bersama orang tuanya. Maksudnya lukisan ini kalau sudah selesai akan dipersembahkan kepada Presiden Clinton sebagai cindera mata. Uang jajan yang tidak begitu banyak dari orang tuanya, disisihkan untuk membeli bingkai lukisan tersebut, sebab lukisan ini adalah untuk seorang presiden, maka bingkainya harus diselaraskan juga tukasnya. kembali ke atas Kabar gembira Kira-kira pada awal tahun ada beberapa penelpon yang tidak jelas berasal darimana, kemudian disusul dengan pemberitahuan lewat tilpon bahwa permintaan Nia sedang diproses, namun Nia tidak begitu yakin hasilnya. Tepat awal musim semi tahun ini 1999, di kotak pos keluarga Agus terselip sebuah amplop besar berwarna kuning dengan segel dari White House. Dengan hati berdebar amplop itu dibuka bersama diha-dapan keluarga, Nia menjerit kegirangan : "I got it ! , I got it, Oh my God, I can�t believe it, I can�t believe it", Presiden Bill Clinton melalui protokol Gedung putih memberi instruksi tentang undangan kepada Nia sekeluarga, untuk bertemu dengan Beliau dan sekaligus Ibu negara. Keluarga Agus sangat bersukacita, selama satu minggu mereka sibuk mempersiapkan segalanya, diantaranya juga mengkontak Indonesia Media. Kami, Indonesia Media segera menginstruksikan reporter kami Dave Lin, yang berada di Washington D.C. untuk membuat persiapan liputan, dan pemanduan, untuk Nia ke White House sebagai Duta Remaja untuk Kemanusiaan dan Perdamaian. Urusan jurnalistik untuk Gedung Putih tidaklah semudah yang kita duga semula. Banyak sekali prosedur-prosedur yang harus dijalankan berkenaan dengan sekuriti. Indonesia Media terpaksa harus membung-kam selama beberapa bulan untuk menunggu clearance dari Gedung Putih dalam me-�release� berita ini. Selang 2 minggu kemudian, 4 ticket pesawat United Airlines dan voucher hotel di kirim untuk bertemu presiden Clinton di White House, beserta schedule di White House yang tercatat sampai ke menit-permenitnya. Pada hari H nya, tanggal 3 April,1999, mereka berangkat sekeluarga dengan pesawat United Airline, dan mendarat di Airport Dulles pada pukul 3:32PM, langsung mereka dijemput dengan limousin menuju hotel J.W. Mariott. Ms Linda Rubin mengatur jadwal acara ke White House di Washington DC, Mr Dave Lin reporter Indonesia Media, langsung menghubungi Nia dan keluarga di hotel. Bagi keluarga Agus ini adalah hal yang sangat menye-nangkan, dan merasa suatu kehangatan karena selama disana mereka di pandu oleh reporter Indonesia Media yang berbahasa Indonesia. Sudah pasti Dave Lin yang terkenal ramah mengantarkan mereka sight seeing melihat Cherry Blossom, museum Holocaust (museum peringatan pembantaian orang yahudi oleh Nazi), Dave Lin yang juga bergerak untuk UFHR (United Front for Human Rights) sempat menceritakan makna dari Holocaust, yang banyak persamaannya dengan nasib minoritas tertindas di Indonesia. Ternyata, Nia sudah paham tentang Holocaust ini, dia tidak dapat menahan emosinya, karena hal tersebut juga menyangkut apa yang hendak dibicarakan kepada presiden Bill Clinton. kembali ke atas Masuk Gedung Putih Tanggal 5 April, Pagi pagi jam 7:00 mereka sudah bangun, dan kami sarapan pagi bersama di hotel, tepat jam 9:00 kami dijemput oleh Ms Linda Rubin, dan berjalan kaki menuju White House, yang jaraknya sangat dekat dengan hotel. Kami masuk ke White House melalui Northwest Gate, Pennsylvania Ave. Setelah kami melalui security clearance, tibalah di taman South Lawn yang kebetulan sedang ada Ester Egg Roll di Gedung Putih, karena pada saat itu sedang dalam suasana Paskah. Nia dan keluarga sempat pula bergabung dengan mereka, dan mengambil gambar bersama Ester Bunny. Tepat pukul 10:00, Clinton dengan Hillary menuruni tangga dari rumah kepresidenan menuju ke halaman, lalu beliau menuju mikrophon mengucapkan pidato menyambut hari Paskah. kira kira selama 20 menit. Nia merasa menjadi orang yang sangat penting karena didudukkan ditribun yang khusus, (VIP). Setelah itu kami dipersilahkan masuk kedalam, melihat-lihat di China Room (ruangan pameran barang barang keramik), dan dipersilahkan menunggu di Red Room, ruangan yang selalu digunakan oleh Ibu Negara, Hillary Rhodam Clinton untuk menerima tamunya. Tak lama kemudian staff protocol gedung putih mempersilahkan kami masuk ke "Map Room" (ruangan peta), yang digunakan untuk merundingkan strategi perang semasa perang dunia ke II semasa administrasi Franklin D. Roosevelt. Disanalah Bill Clinton dan Hillary menemui kami. Clinton beramah tamah dengan keluarga Agus. Nia pun tanpa canggung canggung berbincang dengan "The First Family", bahkan bersenda gurau dengan Buddy, anjing kesayangan orang nomor satu Amerika itu. Me-reka tampak sang-at akrab, serasa sudah saling mengenal lama. Nia sempat menanyakan keberadaan Chelsea, putri tunggal dari keluarga nomor satu ini, yang dijawab oleh Hillary, bahwa Chelsea hanya pulang sehari, dan harus kembali lagi kesekolah. Ibu Negara yang sebenarnya telah mengenal Nia cukup dalam lewat surat yang ditulis Nia kepada presiden Clinton, dan dirinya, sangat hangat menyambut Nia. Pada kesempatan itu Nia menyerahkan hasil karyanya, lukisan perwayangan kepada presiden Clinton. Clinton sangat mengagumi lukisan itu, dan sempat menanyakan maksud dari lukisan perwayangan tersebut. Dengan sigapnya Nia menjawab: "Ini adalah pelakon-pelakon cerita Bharata Yudha, ada yang baik, ada yang jahat, ada yang sedang sedang saja, dan ada yang tidak diketahui baik atau jahatnya, sampai ceritanya berakhir baru diketahui predikatnya. Ini hanyalah panggung sandiwara di cerita yang kita ketahui akhirnya, dan selalu ada seorang dalang yang memainkan wayang-wayang ini. Tapi panggung sandiwara yang ada didunia sekarang tidak dapat kita ketahui, kadang kita tidak dapat mengetahui siapa yang baik dan siapa yang jahat walau sandiwaranya sudah berakhir, bahkan dalangnyapun sering tidak diketahui". Presiden Clinton sempat terperangah sejenak, mendengar tutur dari si anak 13 tahun ini, lalu suasana hening itu di pecahkan oleh tertawa terbahak-bahak oleh Clinton dan Hillary, disusul oleh yang lainnya menyadari kebenaran tutur kata anak ini. Lalu segera presiden berkata: "Bagus, lukisan kamu ini akan saya tempatkan di ruang makan". Nia tidak percaya omongan Clinton ini, dan berusaha mendapatkan konfirmasi atas ucapan beliau. "Betul", tukas presiden: "saya akan gantungkan diruang makan saya". Tentang peletakan lukisan perwayangan ini sempat juga dirundingkan antara Hillary Clinton dengan sekretarisnya, dan memang ditetapkan untuk digantung di ruang makan White House. kembali ke atas Pokok pembicaraan "OK, tuan presiden, kalau tidak adalagi kata-kata dari Anda, maka kini giliran saya masuk pada pokok pembicaraan" demikian sela Duta Remaja untuk Kemanusiaan dan Perdamaian ini. Suasana tiba-tiba menjadi lebih serius. Presiden Clinton dengan wajah sungguh-sungguh membuka pembicaraan; Presiden Clinton: "Saya telah membaca surat Anda seluruhnya, saya mengerti, dan sudah lama saya tahu tentang masalah negeri dimana Anda berasal, namun ini bukanlah hal yang sederhana". Nia : "Tapi bagaimana dengan korban yang terus berjatuhan? Dan anak-anak serta wanita yang selalu menjadi korban? Tuan Presiden, Saya atas nama anak-anak yang ada didunia meminta kepada Anda untuk segera turun tangan meredakan kekerasan yang terjadi akhir akhir ini di dunia, dari Bosnia, Indonesia dengan Mei 13-15 riotnya, Timtim , Aceh , Ambon, Irian, dan Kosovo. Seperti yang Anda ketahui pada Mei 13 - 15 di Indonesia, negara dimana saya dan orang tua saya dilahirkan terjadi pemerkosaan atas anak-anak dan perempuan keturunan Tionghoa. Perempuan-perempuan itu di telanjangi di jalan, diperkosa beramai-ramai, ada yang dibakar bersama anak-anaknya, bahkan ada pula seorang ayah dipaksa harus memperkosa anaknya, �." Nia berhenti bicara sebentar, tangisnya tak terbendung lagi. Kemudian Nia melanjutkan lagi; "Yang terlebih lagi, anak-anak sebaya sayapun tak luput dari perkosaan, mengapa hal ini harus terjadi. Saya selaku orang keturunan Tionghoa, yang dilahirkan di Indonesia merasa sangat sedih atas kejadian itu. Dari kakek, ayah, dan saya, kami semua cinta Indonesia, Saya tidak rela melihat negara dimana saya berasal terjerembab kedalam lembah kenistaan, hanya dikarenakan oleh segerombolan orang-orang biadab. Pada saat setelah terjadi Holocaust, dunia bilang; "Tak boleh lagi terjadi" (Not again), tapi mengapa sekarang terjadi lagi? Dimata Tuhan, semua orang mempunyai hak yang sama, entah dia African American, Mexican, atau Chinese, dan agama apapun tidak boleh didiskriminasikan. Di Indonesia mengapa etnis Tionghoa selalu disakiti? Saya sadari, saya hanyalah anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan andaikata saya bicara didepan umum-pun, orang tidak akan mendengarkannya. Saya pernah bicarakan ini kepada Ayah dan Ibu, namun mereka hanya menasehati saya untuk tidak membicarakan masalah ini, mereka hanya menganjurkan agar saya belajar pelajaran sekolah saja. Mereka sudah terbiasa dengan keadaan dimana penguasa melarang pembicaraan yang menyangkut politik. Tapi ini masalahnya adalah kemanusiaan dan menyangkut keselamatan jiwa orang banyak, terlebih anak-anak yang selalu jadi korban. Jangan lagi orang-orang menyangkali masalah ini, termasuk presiden Indonesia yang sekarang, menyangkali adanya perkosaan masal, bagaimana mungkin dia mengelak dari kenyataan ini, akuilah apa yang terjadi, dan berbuat sesuatu untuk menyetop segala bentuk kekerasan ini. Saya cari tahu semua ini dari pembicaraan kawan-kawan saya, dan saya temukan banyak lagi data-data dari Internet diseluruh dunia, kalian tidak dapat menutupi ini. Tuan Presiden, Anda adalah satu satunya orang yang saya kira dapat mengatasi ini, Anda adalah laki laki yang saya kagumi setelah Ayah saya, itulah sebabnya saya harus bertemu, dan bicarakan ini kepada Anda. Tuan presiden, Anda sebagai orang yang paling berkuasa harus mengambil langkah cepat, kalau tidak, tak akan lagi ada masa depan generasi muda kita, maka tolong katakan sekali lagi; Tak terjadi lagi (Not Again) ", serunya dengan mata berkaca-kaca. Sejenak suasana menjadi hening, presiden menarik nafas panjang, dan dengan nada lirih beliau mengatakan: "Baiklah Nia, saya akan sangat memperhatikan masalah ini, dan berusaha untuk berbuat sesuatu untuk mengatasinya, saya pastikan hal itu tak terulang lagi." Nia : "Saya juga mewakili kawan-kawan sekolah saya, memohon kepada Anda tuan presiden, untuk mengambil langkah yang lebih serius lagi dalam hal keamanan sekolah, pada masalah kekerasan, senjata, obat terlarang, sex, dan gang. Bagaimana kami harus belajar dengan tenang kalau kami juga harus ketakutan memikirkan masalah-masalah tersebut. Tuan Presiden, Anda adalah orang kuat, dan Anda adalah presiden yang terbaik dalam sejarah, walaupun Anda pernah melakukan kesalahan pada waktu yang lalu, tapi dimata saya, Anda tetap adalah presiden yang terkuat, dan terbaik, prestasi Anda yang telah membuktikannya itu, dengan Budget Surplus dan rendahnya angka penganguran, Saya menganggap Anda sebagai malaikat Jibrail, oleh karena itulah saya datang pada Anda". Ibu Negara menghampiri Nia dan memeluknya seraya berkata: "Tenanglah Nia, kami akan beritahu mereka untuk melakukannya" Hillary : "Nia ,apa cita-cita Anda bila sudah besar?" Nia : "Saya mengidamkan menjadi dokter anak-anak (pediatrician), karena dengan itu saya bisa mengobati anak-anak diseluruh dunia yang menderita, saya mau ke Africa untuk mengobati anak-anak yang jauh dari jangkauan fasilitas. Oh ya, saya juga ingin jadi lawyer hukum internasional, kalau ada yang berani macam-macam ,biar saya tuntut." Hillary : "Wah, Nia cita-cita Anda sangat luhur, saya bangga Amerika mempunyai bunga bangsa seperti Anda." Nia : "Saya juga mengagumi Anda, Anda adalah wanita yang sangat tangguh". Hillary: "Nyonya Agus, walaupun Nia bukan anak kandung saya, saya sebagai Ibu Negara menitipkan kepada Anda untuk menjaga semangat yang ada pada Nia agar tetap berkobar terus, Amerika memerlukan orang-orang semacam Nia". Nia: "Ya, saya mau menjadi orang seperti Anda (Hillary), Anda adalah idola saya" kembali ke atas Dukungan Gedung Putih Sewaktu pertemuan ini sudah hampir selesai, staff protocol Gedung Putih menyampaikan komentarnya kepada kami, "Hari ini, dunia tak pernah menyangka apa yang terjadi di White House, ternyata hari ini seorang anak kecil yang baru berusia 13 tahun, datang ke White House berhadapan dengan tuan presiden, semata hanya meminta perdamaian untuk negara dimana dia pernah dilahirkan, dan keamanan serta kedamaian anak-anak. Namanya akan terukir dalam sejarah Gedung Putih". Sedangkan dalam kesempatan yang lain dia mengatakan juga bahwa: "Nama Nia sudah tercatat di White House, dan bila pada suatu hari, Nia sudah siap terjun ke dunia politik, atau mencalonkan diri jadi senator, Gedung pu-tih akan memberi dukungannya." Linda Rubin juga menambahkan: "Saya tidak pernah mendu-ga anak semuda ini bisa dengan sangat cekatan mengungkapkan semua ini dihadapan presiden, saya sungguh bangga dan terharu, Nia adalah "Angel" untuk dunia anak-anak, dia adalah Duta Remaja untuk Kemanusiaan dan Perdamaian", seraya menyeka air matanya karena terharu. Dalam kesempatan itu juga Nia menyampaikan surat pribadi dari kepala sekolahnya, yang ditujukan kepada presiden Clinton, yang kabarnya sudah mendapat balasannya dari presiden Clinton secara pribadi baru-baru ini. Marniaty Agus, dan keluarga meninggalkan Gedung Putih dengan berlega hati, karena semua uneg-uneg Nia selama ini sudah tersalurkan sesuai dengan keinginannya. Bukan saja uneg-uneg Nia, dan uneg-uneg anak-anak, tapi juga uneg-uneg dari seluruh dunia juga ikut tersalurkan rupanya. Dave Lin, DrHilman, Rudy, Dr.Irawan /Indonesia Media. http://www.indonesiamedia.com/rubrik/localnews/localnews99october-nia.htm __________________________________ Yahoo! Mail Stay connected, organized, and protected. Take the tour: http://tour.mail.yahoo.com/mailtour.html ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Has someone you know been affected by illness or disease? Network for Good is THE place to support health awareness efforts! http://us.click.yahoo.com/OCfFmA/UOnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

