Bali Post, Minggu, 29 Mei 2005.
 
Kontroversi ''Ratu Indonesia'' di Pentas Dunia

Kontes Miss Universe (Ratu Sejagat) 2005 yang kini sedang berlangsung di 
Bangkok, Thailand, dan puncak acaranya akan digelar Selasa (31/5) mendatang, 
mendapat perhatian cukup tajam di Indonesia. Putri Indonesia, Artika Sari Dewi, 
ikut dalam kontes itu. Kehadirannya justru memicu perdebatan  terutama saat 
para kontestan diharuskan mengenakan pakaian renang. Argumentasi yang muncul di 
Indonesia bahwa kemunculannya dengan pakaian mini itu tidak etis dan tidak 
sesuai dengan kultur bangsa.

----------------

 

PERDEBATAN ini sebenarnya bersifat klasik karena juga muncul sejak dekade 
1980-an, sejak Titi Dwijayati hendak dikonsep ikut lomba ini. Tetapi, pemakaian 
pakaian renang sebenarnya hanya salah satu acara dari sekian rangkaian acara 
yang mesti diikuti dalam kontes tersebut. Kontestan juga diwajibkan memakai 
busana nasional serta diuji berbagai elemen intelektual mereka.

Dalam lingkup internasional terutama dari kalangan kaum moralis, eksplorasi 
pemakaian pakaian renang (baca: busana mini) ini juga disorot dan dipandang 
sebagai eksploitasi tubuh wanita ke hadapan umum. Bahkan disebutkan sebagai 
eksploitasi tubuh wanita demi kepentingan bisnis. Kelompok-kelompok industri 
mancanegara akan memanfaatkan kemolekan tubuh wanita untuk kepentingan usaha 
mereka, misalnya  promosi parfum, pelembut kulit, atau perancang busana.

Namun, kalangan seni justru memandang sebaliknya karena mereka bisa melihat 
perpaduan antara bentuk dan lekuk tubuh wanita dengan busana yang dikenakan, 
warna yang memancar  serta lingkungan yang dihadapi. Sampai di sini, 
sesungguhnya perdebatan tersebut berakhir seri, karena sama-sama  mempunyai 
nilai kebenaran.

Jika pemakaian pakaian renang itu dilihat berat sebelah dengan mengatakan 
semata-mata mengeksplorasi tubuh wanita, nampaknya ini juga keliru. Dalam jagat 
lelaki, eksplorasi keindahan dan simbol kejantanan tubuh laki-laki malah sudah  
"resmi" dipertontonkan di dunia melalui peristiwa-peristiwa olah raga 
internasional. Kontes binaraga dunia yang memperlihatkan kehebatan otot 
laki-laki juga mewajibkan kontestannya mengenakan pakaian minim.

Sekali lagi, ini sudah diakui dalam kegiatan olah raga internasional. Di 
Indonesia juga ada kontes binaraga dan diperlombakan secara nasional. Dari sini 
bisa dilihat, pria maupun wanita sesungguhnya mendapatkan "porsi" yang sama 
dalam hal "eksploitasi dan eskplorasi tubuh" tersebut.  Filosopinya mungkin 
terletak pada pandangan bahwa tubuh manusia itu menyimpan unsur keindahan dan 
keindahan itu universal.

Perdebatan ini hampir sama dengan apa yang dilakukan Dewi Sukarno dalam buku 
"Madame de Syuga" yang melukisi tubuhnya dengan berbagai gambar yang dipadu 
dengan nuansa lingkungan. Persoalannya kemudian, apakah pemilik tubuh itu 
bersedia  untuk dieksploitasi dan dieksplorasi? Dari sinilah kemudian muncul 
masalah budaya di dalamnya.

Perdebatan yang terjadi terhadap Artika Sari Dewi ketika ia memakai pakaian 
renang, terletak kepada "kepemilikan"  tubuh Artika itu. Pada saat ia 
menyandang predikat sebagai putri Indonesia, "tubuhnya" seolah telah "dimiliki" 
oleh masyarakat Indonesia. Dalam pengertian lebih jauh, sesungguhnya klaim 
kepemilikan ini masih banyak kontroversinya.

Kontroversi pertama terletak pada kultur berpakaian wanita ala Indonesia. Jika 
mengacu pada kultur berpakaian model  Indonesia wilayah Barat, terutama wanita 
Jawa, adalah benar jika pakaian renang itu amat kurang etis. Wanita tradisional 
Jawa, memakai pakaian yang membalut seluruh tubuhnya dengan ketat. Tetapi jika 
kultur berpakaian itu dibawa ke Indonesia Timur, terutama wilayah Papua, 
perdebatan mengenai etika kultural ini kurang mengena. Elemen tari-tarian Papua 
membolehkan pakaian minim di dalam tubuh wanita asal menutup rapat 
bagian-bagian yang memperlihatkan aurat. Bukankah Papua juga wilayah Indonesia, 
dan dengan demikian juga "memiliki" Putri Indonesia yang bernama Artika Sari 
Dewi?

Kontroversi kedua adalah siapakah sesungguhnya "pemilik" putri tersebut? Apakah 
ia dimiliki oleh pemerintah, masyarakat, ataukah dimiliki oleh 
komponen-komponen tertentu semisal perusahan kosmetika yang membiayai seluruh 
kegiatan putri Indonesia tersebut di Bangkok? Jika ternyata putri ini dibiayai 
dan diusahakan masuk ke kancah Miss Universe tersebut oleh para pengusaha 
industri kosmetika ini, maka tidak ada lagi  yang terlihat janggal dalam 
penampilannya.   Unsur-unsur industri pasti masuk dalam hitungan mereka, 
termasuk dalam berpakaian renang. 

Kontroversi ketiga adalah soal keputusan ikut kontes. Ketika Indonesia 
memutuskan ikut dalam kontes ratu sejagat ini, itu sudah berarti siap dan 
tunduk dengan aturan yang dimiliki oleh lembaga internasional yang mengkreasi 
kontes Miss Universe ini. Berpakaian renang, merupakan salah satu syarat yang 
harus diikuti oleh kontestan. Dan ini sudah berlangsung bertahun-tahun. 
Perdebatan yang muncul pada saat kontes berlangsung kurang bermakna karena 
seharusnya perdebatan itu muncul sebelum keputusan pengiriman kontestan dari 
Indonesia.

Akhirnya, harus dikatakan bahwa kontes Miss Universe ini harus dipandang 
sebagai salah satu jalan pembuka ke arah pengenalan internasional. Negara yang 
ikut mengirim utusan, akan semakin dikenal secara internasional dan karena itu 
akan mampu membuka mata dunia terhadap negara ini. Entah membuka investasi, 
pariwisata atau hal lain yang mungkin menarik bagi pasar internasional. Inilah 
yang membuat sebagian dari negara-negara anggota PBB (81 negara) mengikuti 
kontes Miss Universe agar negara nereka lebih dikenal lagi. Bukankah secara 
akumulatif, mereka yang berhasil menjuarai ajang ini dipandang sebagai gadis 
yang cerdas bukan semata-mata indah dilihat karena berpakaian renang. 

* gpb suka arjawa



Untuk orang yang saya cintai, tak ada pengorbanan. Semuanya memang untuk dia, 
setulusnya.

 

 


                
---------------------------------
Do You Yahoo!?
 Yahoo! Small Business - Try our new Resources site!

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Ever feel sad or cry for no reason at all?
Depression. Narrated by Kate Hudson.
http://us.click.yahoo.com/LLQ_sC/esnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke