Dear All, 

 

Sekedar urun rembuk  masalah krisis listrik, terlampir disampaikan tulisan
kolom yang telah dimuat di Majalah trust Edisi 30 Mei-5 Juni 2005. 

Catatan, tulisan ini mengalami editing pada terbitan Majalah Trust.

 

Semoga bermanfaat.

 

Wassalam

 

Eddy Satriya

 

 

FENOMENA MAGIC JAR

(Judul Asli: "Hemat Energi Yang Terlupakan)

 

Oleh: Eddy Satriya*)

 



 

Catatan: Telah diterbitkan di kolom Majalah Trust No.35. Edisi 30 Mei-5 Juni
2005

 

Pelaksanaan penyambungan pipa gas ke pembangkit listrik PT. PLN (Persero) di
Tanjung Priok dan Muara Karang telah membuat Departemen Energi dan Sumber
Daya Mineral (ESDM) menerbitkan surat yang berisi himbauan untuk menghemat
pemakaian energi di kantor-kantor Pemerintah dengan cara mematikan lampu
yang tidak diperlukan. Seandainya penghematan energi minimal 50 Watt per
pelanggan tidak tercapai, maka untuk mengatasi defisit pasokan listrik PT.
PLN terpaksa mengambil langkah pemadaman bergilir di seluruh Jawa dan Bali
secara merata. Jika kondisi tersebut menjadi kenyataan, itu berarti suatu
kemunduran besar yang memaksa kita kembali ke zaman byar pet belasan tahun
lalu. Kondisi ini berpotensi memperburuk iklim investasi yang justru sedang
mati-matian diperjuangkan oleh pemerintahan baru di bawah Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono yang telah dilakukan antara lain melalui penyelenggaraan
Infrastructure Summit maupun Road Show ke Eropa dan Amerika Serikat.

Seperti disampaikan Dirut PT. PLN Eddie Widiono, kondisi terparah
diperkirakan akan terjadi pada hari Kamis (26/5) dan Jum'at (27/5) yang
diperkirakan mengalami defisit sekitar 385 MW (Suara Pembaruan, 26/5/05).
Sungguh disayangkan PT. PLN tidak mampu menjaga margin yang aman pada saat
beban puncak untuk wilayah Jawa-Bali selama bulan Mei dan Juni 2005. Defisit
pasokan listrik ini diperburuk pula oleh lemahnya kemampuan PLN dalam
menyinkronkan jadwal perbaikan dan pemeliharaan beberapa pembangkit besar
dengan jadwal pemasangan pipa gas serta banyaknya industri yang beralih
kepada sambungan PLN setelah terjadinya kenaikan harga BBM beberapa waktu
lalu. 

Memahami kelemahan PLN di atas serta belum berhasilnya pemerintah mendorong
masyarakat secara maksimal untuk menggunakan sumber-sumber energi alternatif
seperti angin, gas, sel surya, panas bumi, ataupun jenis energi baru dan
terbarukan lainnya, maka sudah sepatutnya pula masyarakat dihimbau untuk
berpartisipasi seperti isi surat Sekjen ESDM di atas. Pada akhirnya, memang
pelanggan jugalah yang diharapkan untuk mengurangi pemakaian listrik pada
saat beban puncak. Peran masyarakat ini telah diakui oleh General Manager
Pusat Penyaluran dan Pengaturan Beban PLN yang menyatakan bahwa partisipasi
masyarakat selama tiga hari telah menghemat listrik sebesar 4.200 MW atau
senilai Rp 3,8 milyar (Kompas, 27/5/05).

Sementara itu, reaksi pelanggan listrik terhadap kemungkinan terjadinya
pemadaman bergilir cukup beragam. Ada yang mengkhawatirkan prospek usaha
mereka seperti para penjual makanan jadi, Warung Tegal (Warteg), dan
restoran yang sangat bergantung kepada listrik PLN dalam menjaga
kesinambungan suplai bahan makanan. Ada pula masyarakat yang mencemaskan
akan matinya ikan-ikan hias mereka. Demikian pula rasa cemas pengusaha jasa
persewaan komputer, warung telekomunikasi, dan warung Internet yang khawatir
akan rusaknya beberapa peralatan mereka jika terjadi pemadaman bergilir.
Apapun reaksi masyarakat -mencemaskan sumber nafkah atau sekedar hobi
mereka-, suatu yang pasti adalah "Societies collapse when the energy flow is
suddenly impeded" seperti diuraikan oleh Jeremy Rifkin (2002) dalam bukunya
"Hydrogen Economy". 

Pengaruh globalisasi serta kebutuhan untuk memenuhi gaya hidup praktis telah
mendorong penggunaan energi secara boros dan tidak efisien melalui
penggunaan peralatan yang mengonsumsi daya besar. Mahalnya perumahan dan
sulitnya transportasi telah memaksa banyak orang memilih apartemen atau
mengontrak di dalam kota yang membutuhkan pendingin ruangan, mesin cuci,
microwave dan lemari es berdaya besar. Peningkatan pendapatan biasanya
diikuti pula oleh keinginan memperoleh hiburan di dalam rumah dengan membeli
berbagai jenis peralatan hiburan seperti stereo set, DVD/VCD, komputer, dan
perangkat elektronik lainnya. 

Praktek boros energi juga semakin terlihat dengan banyaknya pusat-pusat
perbelanjaan (mall) dan apartemen yang cenderung tertutup rapat oleh beton
-mungkin untuk alasan keamanan dan terhindar dari teror bom- sehingga
konsumsi energi untuk pendingin ruangan dan pencahayaan cenderung meningkat.
Parahnya lagi, sikap tidak hemat energi di Indonesia telah menjangkiti bukan
hanya orang berpunya, tetapi hampir merata dari kampung hingga kota.

Fenomena Magic Jar mungkin bisa menjelaskan betapa masyarakat semakin tidak
hirau dengan ketersediaan energi. Dalam "Kongres Energi Nasional" bulan
November 2004 lalu di Jakarta, pernah saya sampaikan bahwa untuk hanya
sekedar bisa memakan nasi panas, masyarakat kita telah memborong jutaan
Magic Jar. Meski rata-rata setiap Magic Jar mengonsumsi 50 Watt, penggunanya
nyaris tidak pernah mematikan pemanas nasi tersebut. Singkat kata,
kebanyakan pengguna Magic Jar memakainya 24 jam sehari. Dengan asumsi
sepertiga saja dari 30 juta pelanggan PLN atau rumah tangga menggunakan satu
pemanas nasi, akan memberikan angka 10 juta x 50 Watt x 24 jam = 12 Giga
Watt Hour. Padahal penggunaan Magic Jar atau Rice Cooker juga bisa dihemat
dengan mengatur waktu masak dan waktu bersantap, tanpa harus memanaskan
semangkok nasi sepanjang hari. Magic Jar creates magic Watthour!

Memperhatikan surat edaran ESDM yang hanya menghimbau pemadaman lampu di
kantor-kantor pemerintah serta masih rendahnya budaya hemat energi di
kalangan masyarakat, maka sudah selayaknyalah pemerintah, PT.PLN serta
seluruh pemimpin masyarakat memulai kembali upaya-upaya pemahaman pentingnya
budaya hemat energi yang selama ini terlupakan. Budaya hemat energi
hendaklah terpadu dan menyeluruh, mengingat banyak kantor-kantor pemerintah
sekarang yang semakin dilengkapi oleh berbagai peralatan tambahan seperti
televisi, radio, dan microwave. Begitu pula untuk masyarakat pengguna
listrik, budaya hemat energi sebaiknya dimulai sedini mungkin dan
berkelanjutan. Semoga kita tidak kembali ke zaman gelap.

 

________

 

*)Kasubdit Energi di Bappenas. Pendapat pribadi.

 

 

 



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/HO7EnA/3MnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke