MEDIA INDONESIA
2 Juni 2005

Korban Busung Lapar di NTT Bertambah


KUPANG (Media): Jumlah penderita busung lapar di Provinsi Nusa Tenggara Timur 
(NTT) bertambah menjadi 54 anak. Untuk menanggulanginya, pemerintah provinsi 
itu kemarin mulai mengirim bantuan makanan tambahan bagi penderita busung lapar 
yang tersebar di 8 kebupaten.

Bantuan makanan tambahan berupa susu, kacang hijau, dan beras tersebut dikirim 
dari ibukota kabupaten untuk penderita busung lapar yang umumnya berdomisili di 
desa-desa terpencil.

"Bantuan makanan tambahan tersebut hanya bersifat darurat dengan jangka waktu 
90 hari. Tetapi petugas keseharan terus memantau kesehatan penderita," kata 
Kepala Dinas Kesehatan NTT Stefanus Bria Seran kepada wartawan di Kupang, 
kemarin.

Dikatakan, dari 54 korban, sebanyak 53 orang menderita kekurangan karbohidrat 
(marasmus), dan satu orang menderita kekurangan protein (kwashiorkor).

Korban kwashiorkor terdapat di Kabupaten Flores Timur, sedangkan penderita 
marasmus tersebar di Kabupaten Timor Tengah Utara (2 orang), Timor Tengah 
Selatan (9 orang), Kota Kupang (8 orang), Kabupaten Kupang (7 orang), Alor (2 
orang), Lembata dan Manggarai masing-masing 2 orang.

Menurut Stefanus, petugas kesehatan mendatangi tiap-tiap rumah penderita untuk 
menyerahkan langsung bantuan bahan makanan. Tim pemantau busung lapar yang 
dikirim Dinas Kesehatan setiap kabupaten saat ini masih berada di desa-desa. 
Mereka mengumpulkan informasi mengenai penyebab terjadinya busung lapar, serta 
mencari kemungkinan ada penderita yang belum melapor.

"Yang paling penting adalah mengetahui penyebab terjadinya busung lapar. 
Sehinga, dinas bisa memberikan penanganan kesehatan secara menyeluruh dengan 
melibatkan berbagai sektor," katanya.

Namun dia memastikan busung lapar di NTT disebabkan dua faktor. Yaitu anak 
tidak mendapat makanan bergizi dan penderita telah mengidap jenis penyakit lain 
yang menyebabkan kekebalan tubuh lemah. Kedua, minimnya pendapatan masyarakat 
sehingga tidak mampu membeli makanan bergizi bagi balita dan anak-anak.

Tetapi Stefanus menolak ada kendala serius dalam penanganan kesehatan anak dan 
balita di NTT. Kondisi lingkungan dan ketiadaan makanan bergizi bagi anak juga 
menjadi penyebab terjadinya busung lapar.

Seorang warga bernama Agustinus Tlonaen, ayah Ardi Tlonaen,2, yang menderita 
busung lapar mengakui memang tidak pernah memberi makanan bergizi, termasuk 
susu kepada anaknya itu.

Saat ditemui Media di rumahnya di Kelurahan Kelapa Lima, Kota Kupang, kemarin, 
Agustinus mengatakan sejak kecil Ardi tidak pernah diberi minum susu, apalagi 
makanan bergizi seperti telur atau kacang-kacangan, karena tidak ada uang untuk 
berbelanja. Sejak kecil, Ardi hanya diberi makan bubur dan sayuran. Kedua jenis 
bahan makanan ini mudah diperoleh dengan harga terjangkau.

Gajinya sebagai tenaga honorer di Dinas Kebersihan Kota Kupang sebesar Rp450 
ribu per bulan tidak cukup untuk biaya hidup keluarga dengan enam anak itu. 
Untuk menambah penghasilan, setelah membersihkan sampah di sejumlah ruas jalan 
di Kota Kupang, Agustinus mengumpulkan barang-barang bekas, seperti botol bekas 
minuman air mineral untuk dijual. Harga per satu kilogram botol itu sebesar 
Rp600, dan dia hanya mendapat sekitar 20 kg setiap bulan.

Agustinus merupakan salah satu dari keluarga penderita busung lapar yang 
mendapat bantuan makanan tambahan. Rumahnya berjarak sekitar 200 meter dari 
rumah dinas Bupati dan Walikota Kupang. Sekitar 100 meter dari rumahnya juga 
terdapat dua restoran mewah yang sering digunakan sebagai tempat resepsi 
pernikahan keluarga pejabat.

Kemarin, dia mendapat bantuan 12 bungkus susu formula untuk anak usia 1-5 
tahun. "Tetapi saya bingung karena Ardi tidak mau minum susu. Kalau dikasih 
susu ia selalu menolak, tapi kalau dikasih bubur dan sayur ia langsung terima. 
Ini mungkin karena dia memang tidakpernah minum susu sejak kecil," kata Orance 
Oetpah, istri Agustinus.(PO/FL/X-7)

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/HO7EnA/3MnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke