Suara Karya

            Pelembagaan Teror dan Krisis Keadaban
            Oleh Bambang Widiatmoko 


            Kamis, 2 Juni 2005
            Aksi pemboman di Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, 
baru-baru ini sungguh menghentakkan perasaan kemanusiaan karena menimbulkan 
korban cukup besar (23 tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka). Sebagian 
besar korban adalah warga masyarakat tak berdosa yang sedang melakukan kegiatan 
di pasar tradisional kota itu. Aksi terorisme ini menambah daftar panjang aksi 
kekerasan yang terjadi di bumi Nusantara setelah teror bom besar, seperti bom 
Bali, bom Hotel JW Marriott dan bom Kedubes Australia di Jakarta, beberapa 
waktu sebelumnya. Dengan demikian jumlah anak bangsa yang menderita akibat 
menjadi korban teror bom semakin bertambah. Ini membawa konsekuensi perlunya 
memaksimalkan usaha mengatasi aksi terorisme secara lebih serius lagi. 

            Poso memang daerah rawan bom. Sejak Maret 2002 sedikitnya terjadi 
13 kali ledakan bom, dengan perincian: tahun 2002 dua kali, tahun 2003 tiga 
kali, tahun 2004 dua kali. Sementara khusus di tahun 2005 sudah terjadi enam 
kali peledakan bom. 

            Gangguan keamanan yang dilatarbelakangi oleh konflik hirizontal 
yang berdimensi SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) melanda Poso sejak 
1998. Namun, menilik aksi pemboman terakhir, sangat jelas bahwa bom di kawasan 
Poso tidak memiliki kaitan dengan konflik horizontal tersebut. Bom yang 
diledakkan itu lebih ditujukan untuk membakar emosi warga dan mencabik-cabik 
persaudaraan yang sudah terjalin. 

            Sehubungan dengan merebaknya aksi kekerasan dan terorisme di Poso 
akhir-akhir ini, ada beberapa hal yang patut direnungkan. 

            Pertama, aksi terorisme tidak mengenal batas-batas geografi atau 
batas wilayah negara. Ledakan bom akibat terorisme bisa terjadi di berbagai 
wilayah negara di seluruh dunia. 

            Kedua, aksi terorisme selalu menimbulkan korban pihak yang tidak 
berdosa, yang tidak tahu menahu latar belakang dan motif dilakukannya tindak 
teror tersebut. 

            Krisis Keadaban

            Apa yang dilakukan di Tentena merupakan upaya pihak-pihak tertentu 
melakukan proses pelembagaan kekerasan atau terorisme, yakni secara intensif 
dan terus-menerus melakukan aksi kekerasan dengan menimbulkan banyak korban 
jiwa dari kalangan masyarakat awam. Maksud dan tujuannya adalah secara perlahan 
namun pasti menjadikan cara ini diterima oleh memori kolektif masyarakat 
sehingga pada akhirnya masyarakat menganggap aksi-aksi antikemanusiaan seperti 
aksi pemboman sebagai sesuatu yang "biasa" atau "wajar". Para pelaku aksi teror 
ini secara sengaja menginjak-injak nilai-nilai keadaban manusia yang dianut 
secara kolektif oleh komunitas umat manusia, dan memaksakan penerapan 
"nilai-nilai" baru yang sama sekali mengabaikan harkat hidup manusia. 

            Ditilik lebih jauh, tindakan itu merupakan tantangan serius 
terhadap institusi agama yang secara normatif menjunjung nilai-nilai luhur, 
seperti persaudaraan antarsesama umat manusia dan menghargai nilai-nilai 
kehidupan. Oleh karena itu, segenap komponen masyarakat perlu melakukan langkah 
penyelamatan terhadap institusi agama. Hingga kini, persoalan mendasar yang 
dihadapi umat manusia dalam konteks keberadaan agama terletak dalam tataran 
strategis, yaitu bagaimanakah cara menafsirkan dan mengamalkan agama secara 
tepat dan efektif dalam dinamika kehidupan umat manusia. 

            Kecenderungan luasnya domain teologi dalam aktualisasi agama selama 
ini telah menimbulkan sejumlah konsekuensi serius, khususnya terhadap 
keharmonisan hubungan sosial antarumat beragama. Faktor penyebab pokok adalah 
dominannya klaim kebenaran (truth claim) setiap kelompok agama terhadap ajaran 
agamanya, yang sering kali disertai sikap kurang apresiatif terhadap keyakinan 
agama lain dan kurangnya hasrat untuk mempelajari pokok-pokok ajaran agama lain 
sebagai dasar untuk mengembangkan sifat toleran. 

            Ironisnya, sikap menjaga jarak bahkan konfrontatif terhadap 
penganut agama lain dianggap sebagai hal biasa dalam dinamika kehidupan 
beragama. Bahkan, terkesan dibenarkan sebagai hak dalam usaha menegakkan ajaran 
agamanya. Akibatnya, perselisihan bahkan benturan yang terjadi antarumat 
penganut agama dijustifikasikan sebagai bagian dari perjuangan menegakkan 
agama. Secara langsung ataupun tidak, hal ini seolah-olah memberi "angin" pada 
aksi-aksi kekerasan yang mengatasnamakan agama. Bentuk paling mengkhawatirkan 
adalah penyalahgunaan agama untuk melakukan tindakan terorisme. 

            Kebutuhan bersama akan kehadiran agama yang lebih kontekstual dan 
berdaya guna dalam aspek sosiologis-budaya telah mendorong berbagai bangsa 
penganut beragam agama menjalin kerja sama dan menjalin saling pengertian. 
Pengalaman empiris di masa lalu berupa konflik antarpenganut agama yang 
dilatarbelakangi oleh pertarungan ideologi dan keinginan menegakkan ajaran 
agama masing-masing dapat diambil hikmahnya dengan melakukan langkah terobosan 
dalam hal metodologi pemahaman agama. Langkah terobosan ini perlu dilakukan 
untuk menghindari terulangnya pengalaman traumatis umat manusia yang 
dilatarbelakangi oleh tafsir agama yang sempit dan tidak kondusif karena sering 
memusuhi penganut agama lain. Secara intensif perlu diusahakan kegiatan membuka 
ruang baru bagi persentuhan, interaksi dan saling mengisi antarberbagai 
penganut agama pada masa-masa mendatang. 

            Dewasa ini krisis kemanusiaan berupa hilangnya watak kemanusiaan 
pada sebagian umat manusia, termasuk masyarakat Indonesia, sudah demikian 
parah. Kerusakan ini bukan disebabkan oleh kukuh dan perkasanya faktor-faktor 
eksternal atau pengaruh lingkungan, namun lebih disebabkan oleh kekeroposan 
karakter dan kelemahan kepribadian individu. Fakta ini mengisyaratkan perlunya 
bangsa Indonesia meningkatkan apresiasi, penghayatan, serta pemahamannya 
terhadap sumber nilai hakiki yang berfungsi sebagai pedoman dan petunjuk hidup. 

            Pertanyaan yang relevan dikemukakan, apakah umat manusia 
benar-benar beriman dan percaya kepada Tuhan? Jawaban atas pertanyaan ini tidak 
cukup dalam konteks verbal atau lisan namun lebih dalam konteks praksis, 
konteks perilaku hidup sehari-hari. 

            Semua krisis kemanusiaan adalah persoalan kultur, lebih spesifik 
lagi, merupakan persoalan mentalitas dan kepribadian. Ini sekaligus menunjukkan 
demikian strategisnya penanganan masalah kultur atau budaya dengan melibatkan 
berbagai komponen dan institusi pemberdaya. Institusi agama diharapkan 
sumbangsihnya dalam melakukan pencerahan bahwa prospek yang disandangnya cukup 
baik. Namun, dengan catatan tafsir agama yang dikembangkan adalah tafsir yang 
secara akademis maupun sosiologis-kultural terlepas dari ciri-ciri 
konservatisme. 

            Sudah tiba saatnya aktualisasi agama memberikan porsi yang lebih 
pada domain kultural dengan menekankan pengembangan kepribadian serta 
mentalitas manusia Indonesia dalam menafsirkan ajaran agamanya. 

            Gerakan Anti-terorisme

            Menilik skala kerugian dan kerusakan yag ditimbukan oleh aksi 
terorisme, perlu segera dicananangkan gerakan bersama anti-kekerasan dan 
terorisme. Sebagai sebuah gerakan bangsa berdimensi budaya, gerakan ini 
memerlukan langkah komprehensif dan terpadu dengan mengikutsertakan berbagai 
komponen bangsa. Berbagai elemen masyarakat sepatutnya didayagunakan guna 
mendukung upaya membantu para korban aksi terorisme. 

            Sejauh ini, berbagai pihak, termasuk media massa, memainkan peran 
yang tidak kecil sebagai agen kampanye anti-teorisme. Potensi ini perlu terus 
dipertahankan sambil menjaga konsistensinya. 

            Kerja sama masyarakat dan pemerintah dalam menangani setiap aksi 
terorisme, termasuk di Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, perlu digalang 
secara maksimal dalam skala makro dengan menggunakan berbagai saluran dan media 
yang ada. Inilah aktualisasi konkret rasa kesetiakawanan sosial dalam rangka 
mempertahankan nilai-nilai keadaban manusia. Di sinilah terletak urgensi 
aktualisasi rasa solidaritas sosial dan kemanusiaan segenap komponen bangsa. 

            Mereka perlu secara tegas menyatakan perlawanan terbuka dan masif 
terhadap kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab, anti-humanis, yang 
melakukan pelembagaan aksi kekerasan dan terorisme. *** 

            (Penulis, pemerhati masalah sosial-budaya, dosen Unisma Bekasi).  
     
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Does he tell you he loves you when he's hitting you?
Abuse. Narrated by Halle Berry.
http://us.click.yahoo.com/aFQ_rC/isnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke