http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=548
Anda Kurang PD? Masih Ada Obral Gelar
Oleh Dirwan A Darwis
Oleh admin padek 1
Rabu, 01-Juni-2005, 10:23:26
Seringkali kita bertemu dengan para penyandang sederet gelar
akademis yang kalau diamati secara jeli sebenarnya dengan mudah dapat dibedakan
mana yang emas murni dan mana yang emas basapuah. Kita dengan mudah dapat
membaca bahwa kadangkala deretan gelar tidak sesuai kwalitas maupun kemampuan.
Sayangnya masih juga ada pihak-pihak yang bisa tertipu dan terpedaya
karena deretan gelar pada kartu nama. Yang paling menggelikan, disebabkan
deretan gelar plus penampilan fisik seseorang, bahkan ada pejabat penting atau
orang terpandang sekalipun menjadi korban penipuan melibatkan fulus alias uang.
Tidak salah kalau orang Inggris selalu bilang "do not judge the book from
the cover" (janganlah menilai sebuah buku itu hanya karena tampilan kulitnya
saja). Sebagus apapun disain kulit sebuah buku, adalah bukan jaminan kalau isi
buku tersebut juga akan sebagus kulitnya.
Makna dari kata-kata bijak diatas dalam konteks tulisan ini adalah
pengutamaan terhadap isi, kualitas atau kedalaman ilmu seseorang, bukan
penampilan melalui deretan gelar atau titel, apalagi gelar yang diperoleh
dengan cara titik-titik. Jujur saja, saya memang termasuk orang yang bingung
melihat fenomena yang berkembang dalam mayarakat Minang sekarang khususnya
berkaitan jual beli gelar tersebut.
Begitu tingginya ego dan gengsi, begitu pentingnya gelar atau titel oleh
"urang awak kini", tanpa peduli akan kwalitas diri, tidak mampu mengukur diri
dan tidak peduli akan ditertawakan orang. Mereka lupa kalau sebenarnya mereka
telah jadi korban para pebisnis yang memang pintar mambaca peluang.
Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke beberapa daerah di Kepulauan
Riau (Kepri). Saya bertemu dengan beberapa orang Doktor yang dulu sempat
berkenalan dengan saya. Tapi ketika baru-baru ini ketemu lagi diantaranya ada
yang tidak lagi pakai DR pada kartu namanya, dan ketika saya tanya kenapa?
Mereka jawab, lah maleh lo awak, lah banyak amek polu nan mamakai,
sampai-sampai ado nan ndak tamat SD bagai lah bagala Dotor pulo, katanya. Nah,
kan?!
Belakangan saya juga sempat mengikuti acara bedah buku sejarah di Kota
Sawahlunto. Bedah buku berjudul "Pemberontakan Komunis di Silungkang" karya DR
Mestika Zed, MA itu juga dihadiri para pakar tingkat nasional seperti DR Anhar
Gonggong (pakar sejarah), Prof. DR Amri Marzali (antropolog) dari Universitas
Indonesia yang kebetulan putra Silungkang serta beberapa lainnya.
Anhar Gonggong dalam paparannya sempat menyinggung fenomena penjualbelian
gelar-gelar kesarjanaan yang kini sedang marak. Menurutnya, "adalah berdosa
dengan gelar yang anda beli" katanya. Ditambahkannya lagi bahwa menurut pakar
sejarah UGM Professor Emeritus Sartono Kardiredjo, "sarjana itu adalah apabila
seseorang telah mambaca sekian banyak buku". Kalimat tersebut tentu sarat
makna, dan disini saya tidak akan membahas makna dari kata-kata Sartono
sebagaimana disampaikan Anhar. Karena dengan nalar kesarjanaan yang
sesungguhnya kata-kata tersebut sangat gampang dipahami dan dicerna.
Suatu ketika diawal tahun sembilan puluhan dulu saat masih berdomisili di
Malaysia. Saya seringkali bergabung dan terlibat diskusi dengan rekan-rekan
para mahasiswa kita yang belajar disana. Saat-saat tertentu dengan kelompok
masyarakat Indonesia termasuk dengan lingkungan kerja saya di KBRI (Kedutaan
Besar Republik Indonesia) Kuala Lumpur.
Disalah satu topik kala itu diinformasikan bahwa dalam beberapa kasus
pada perusahaan-perusahaan swasta tertentu di Malaysia, ternyata pemegang gelar
kesarjanaan Indonesia memperoleh gaji sedikit lebih rendah dibanding dengan
lulusan perguruan tinggi lainnya, meskipun tanggungjawab dan posisi mereka
berada pada level yang sama. Hal ini dialami dan dinyatakan sendiri oleh rekan
sekantor saya yang kebetulan alumnus UGM dan sempat bekerja di swasta Malaysia
sebelum di KBRI.
Ironis sekali memang, dan betapa mirisnya kita kalau alumnus salah satu
perguruan tinggi ternama negeri ini dapat perlakuan diskriminatif seperti itu
hanya karena dia bukan lulusan Eropa atau Amerika. Kalau dikatakan rekan saya
ini seorang sarjana bodoh, rasanya itu keterlaluan dan keliru karena dia punya
kepakaran dan sempat beberapa tahun bekerja diperusahaan swasta tersebut,
kebetulan pula yang bersangkutan adalah menantu dari mantan Menteri Besar
(setingkat Gubernur) Negeri Kelantan.
Intinya disini adalah, apabila kasus di atas dihubungkan dengan fenomena
yang berlaku di Indonesia sekarang menyangkut maraknya kegiatan jual beli titel
akademis, maka sudah barang tentu situasi ini tidak luput dari perhatian dunia
luar. Kiranya kedepan, akan semakin miringlah penilaian orang luar terhadap
para penyandang gelar-gelar kesarjanaan kita.
Saya yakin, negara-negara asing khususnya negara maju melalui
perwakilannya di Indonesia senantiasa mengamati secara cermat perkembangan yang
tidak sehat ini. Boleh jadi sekarang mereka sedang menertawakan kita yang lagi
mabuk berasyik masyuk membeli dan memakai sederet gelar, sementara kwalitas dan
kemampuan is really in a big question!
Kita khawatir jika pemerintah tidak segera menindak tegas kegiatan para
pihak yang terlibat bisnis jual beli gelar ini, bisa jadi suatu ketika nanti di
luar negeri sana akan ada gerakan pelecehan dalam kerangka strategis untuk
tujuan tertentu terhadap institusi pendidikan Indonesia secara umum.
Secara bertahap reaksi tersebut akan mengarah kepada black campign, dan
pada saatnya nanti Perguruan Tinggi formal kita yang berkwalitas pun akan
di-generalisasi sebagai institusi yang tidak berkwalitas sehingga ikut menjadi
korban juga. Apabila suatu ketika nanti tercipta opini yang kurang baik, maka
upaya mengembalikan imej tersebut bukanlah perkara mudah. Karena setelah itu
besar kemungkinan akan terasa dampak berganda atau multiplier effects
berkonotasi negatif yang bisa merembet ke sektor lain.
Kalau orang luar sudah merasa menuntut ilmu di Indonesia itu mutu dan
gengsi-nya rendah, maka warga Indonesia sekalipun akan enggan menyekolahkan
anak-anaknya ke perguruan tinggi dalam negeri, kecuali bagi mereka yang memang
sudah tidak ada pilihan lagi.
Dan, andai kata kondisi ini sempat terjadi, meminjam istilah para pakar
ekonomi, maka capital inflow melalui (industri) pendidikan akan semakin susah
masuk ke Indonesia, sementara capital outflow yang dibawa oleh anak-anak
Indonesia yang bersekolah keluar negeri malah akan semakin lancar.
*Penulis adalah Director BIS Center West Sumatra dan Peminat Masalah
Ekonomi dan Sosial.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/MCfFmA/SOnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/