MEDIA INDONESIA
Selasa, 07 Juni 2005

Kesejahteraan Guru tidak Penuhi Standar


JAKARTA (Media): Tingkat kesejahteraan guru Indonesia baru mencapai kurang dari 
seperlima (20%) standar minimal guru yang profesional. Dengan demikian, sulit 
diharapkan guru tersebut dapat berkonsentrasi dalam menjalankan profesinya.

Hal itu dikemukakan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru RI Mohammad Surya 
kepada wartawan, usai bertemu Wakil Presiden Jusuf Kalla, di Kantor Wapres, 
Jakarta, kemarin.

"Tahun 1999 ada studi, seorang guru dengan satu istri dan dua anak seharusnya 
paling tidak berpenghasilan Rp2,5 juta. Kalau sekarang, setidaknya dua kali 
lipatnyalah," katanya. Penghasilan itu untuk memenuhi kebutuhan guru agar dapat 
hidup layak, seperti tempat tinggal layak, langganan koran, dan menyekolahkan 
anak, jelas Surya.

Menurut dia, saat ini paling tidak ada enam macam penggajian guru. Pertama, 
guru berstatus pegawai negeri sipil (PNS) dibayar sebesar Rp800 ribu per bulan 
bagi guru baru. Kedua, guru yang dibayar pemerintah pusat, atau yang disebut 
guru bantu, yang berhonor Rp460.000. Ketiga, guru yang dibayar pemerintah 
provinsi Rp300 ribu. Keempat, guru yang dibayar pemerintah kota/kabupaten 
antara Rp150 ribu dan Rp200 ribu. Kelima, guru yang dibiayai orang tua murid 
dengan honor Rp75 ribu-100 ribu.

"Keenam, adalah guru padamu negeri. Kalau ada uang atau hasil tani, baru 
dibayar. Itu pun semuanya masih kena pajak. Guru TK malah lebih parah," katanya.

Surya menambahkan, dengan kondisi demikian, sukar mengharapkan guru 
berkonsentrasi mengajar. "Dia harus mengepulkan dapurnya, sehingga dia hanya 
memikirkan bagaimana meningkatkan penghasilan, seperti ngojek, atau mengajar di 
tempat lain. Akhirnya energinya habis," katanya.

Oleh karena itu, sambung Surya, satu-satunya cara adalah pemerintah harus 
memberi jaminan bagi guru. "Kalau swasta tidak mampu, ya itu kewajiban 
pemerintah," katanya.

Dalam pertemuan dengan Wapres, Surya mengaku sempat mempertanyakan pernyataan 
Wapres beberapa waktu lalu tentang perbaikan gedung sekolah dalam tiga tahun. 
"Saya tanyakan, kapan masalah guru akan dinyatakan? Beliau merespons dalam tiga 
tahun masalah guru akan selesai secara bertahap," kata Surya.

Surya menjelaskan, setidaknya ada lima permasalahan yang dihadapi guru, yaitu 
jumlah, mutu, distribusi, kesejahteraan, dan manajemen. "Tadi kami minta 
prioritas pada jumlah, mutu, dan kesejahteraan. Untuk jumlah, beliau menyatakan 
secara bertahap guru bantu yang memenuhi syarat akan diangkat sebagai PNS," 
ujar Surya.

Wapres juga menjelaskan, bahkan bukan hanya kalangan guru saja yang akan 
ditingkatkan kesejahteraannya, melainkan para PNS pada umumnya. Selain itu, 
sistem penggajian PNS pun akan diperbaiki. "Intinya, beliau menyatakan akan 
berupaya menyelesaikan masalah guru dalam tiga tahun," kata Surya.

Minim kualitas

Sementara itu, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta Suyanto menegaskan minimnya 
gaji guru telah berpengaruh pada minimnya kualitas pendidikan di Indonesia. 
Guru menjadi enggan berinovasi dan mengembangkan metode mengajar karena merasa 
upaya tersebut tidak akan dihargai.

"Oleh karena itu, saya usulkan agar sistem penggajian untuk tenaga pengajar ini 
diubah menjadi merit sistem. Artinya, guru tidak hanya naik pangkat berdasarkan 
lama ia bekerja, tapi juga atas komitmennya yang tinggi pada anak-anaknya," 
kata Suyanto saat dihubungi Media, kemarin.

Suyanto menyatakan, minimnya gaji yang diterima guru juga tidak lepas dari 
keterbatasan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk sektor 
pendidikan yang kini baru terealisasi 6% dari target 20%. Pasalnya, hampir 
separuh dari total anggaran diperuntukkan untuk membayar gaji guru berstatus 
PNS.

Ia juga menegaskan, hingga kini profesi guru belum dipandang sebagai pekerjaan 
yang menjanjikan. Tingginya minat menjadi guru PNS lebih dipicu oleh kurangnya 
lapangan kerja di sektor lain. "Setiap tahun ribuan guru pensiun sehingga 
dibutuhkan pula ribuan PNS guru baru. Itulah yang kini diserbu. Sekolah kami 
juga meningkat peminatnya hingga 30%. Tapi kebanyakan masuk karena menganggap 
peluang menjadi PNS bagi guru lebih besar," ujar Suyanto. (Hnr/Tia/Zat/H-2)

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke