http://www.indomedia.com/bpost/062005/9/opini/opini1.htm


PADU Sebuah Harapan Masa Depan
Oleh : Misni Irawati


Salah satu misi pendidikan sebagaimana dituangkan dalam penjelasan UU No 20 
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, adalah membantu dan 
memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak lahir sampai 
akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar. Misi ini dijabarkan 
dalam pasal 28 ayat (1) sampai (6), yang membahas lebih detil tentang PADU 
(Pendidikan Anak Dini Usia).

Pasal 28 (1) UU No 20 Tahun 2003 ini menyebutkan, penyelenggaraan PADU adalah 
bagi anak sejak lahir sampai usia enam tahun dan bukan merupakan persyaratan 
untuk mengikuti pendidikan dasar. Berdasarkan ketentuan ini, Direktorat PADU 
Ditjen Pendidikan Luar Sekolah Pemuda (PLSP) Depdiknas memberikan pengertian 
PADU adalah pendidikan yang ditujukan pada anak sejak lahir sampai usia enam 
tahun yang diselanggarakan di jalur nonformal dalam bentuk Taman Penitipan 
Anak, Taman Bermain dan satuan PADU sejenis, guna mempersiapkan tumbuh kembang 
anak secara optimal agar anak siap memasuki jenjang pendidikan dasar.

PADU memiliki misi sangat penting, yaitu mengupayakan pemerataan pelayanan 
peningkatan mutu dan efesiensi penyelenggaraan pendidikan dini. Selain itu, 
PADU mengemban misi meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam 
memberikan pelayanan pendidikan pada usia dini.

Anak usia dini merupakan aset sangat vital bagi negara untuk melangsungkan 
kehidupan sebuah bangsa, karena anak adalah penerus generasi. Pengasuhan dan 
pendidikan anak saat ini dituntut lebih baik, karena tantangan zaman sekarang 
jauh lebih berat dibanding tantangan zaman yang dialami orangtua terdahulu. 
Untuk menjadikan bangsa yang dapat survival dan eksis berkarya dalam percaturan 
dunia, generasi mudanya harus benar-benar teruji dan tahan banting.

Sekarang, anak-anak kita hidup di abad modern di mana di segala bidang 
diperlukan orang yang tidak hanya memiliki kepintaran tetapi juga kecerdasan. 
Kecerdasan bukan hanya didapat di bangku sekolah, tetapi lebih pada pengalaman. 
Dalam program PADU yang holistik, hal itu yang diutamakan. Karena, kecerdasan 
bukan hanya IQ (intelligence quotion), EQ (emotional quotion) dan SQ (spiritual 
quotion) tetapi ada sembilan kecerdasan lain. Seperti dikemukakan Gardner, 
sembilan kecerdasan itu adalah kecerdasan visual/spesial; verbal; musik; 
kinestetis; logis/matematis; interpersonal; intrapersonal; naturalis; 
eksistensial/kharisma diri.

Untuk mendapatkan kecerdasan, tentu tidak hanya dengan belajar tetapi juga dari 
bermain. Dalam bermain, anak memperoleh banyak pengalaman yang sangat berguna. 
Seperti disampaikan Drs H Anta Sukma Kasubdin, PLSP Propinsi Kalsel, pada 
pembukaan Diklat Menggambar untuk guru TK di Banjarmasin pada 6-8 Juni 2005. Ia 
mengatakan, kecerdasan anak akan tergali melalui kegiatan bermain dan belajar 
yang menghasilkan pengalaman. Terlebih pada kegiatan menggambar. Dalam 
menggambar segala daya imajinasi anak dapat terapresiasi. Bila segala potensi 
yang dimiliki anak dapat dikembangkan sesuai konsep tumbuh kembang anak, maka 
anak akan kaya pengalaman, dan pengalaman adalah guru yang paling baik. Anak 
yang kaya pengalaman, kelak dewasa ia akan jadi orang yang berkepribadian 
tangguh dan andal, mampu menghadapi segala tantangan zaman.

Manusia sejak dalam rahim ibunya, oleh Allah dibekali struktur otak yang 
lengkap baik neuron sel glia dan synap yang sama banyaknya, tidak dikurangi 
atau dilebihkan. Selain itu diberi kemampuan untuk belajar, kreatif dan 
produktif yang tidak terbatas. Setiap anak berpeluang sama untuk menjadi 
genius, sepanjang pemberian stimulus pada otak dilakukan sejak dini. Bila 
stimulus diberikan dengan benar, maka terjadi percepatan yang besar dalam 
proses merekatnya neuron melalui sel glia untuk membentuk synap. Kecepatan 
sambungan antarsynap ini yang menyebabkan anak menjadi genius.

Di samping itu, anak usia dini merupakan masa kritis, terutama dari segi gizi, 
kesehatan dan psikologi. Oleh karena itu, kebutuhan tumbuh kembang anak 
mencakup kebutuhan gizi seimbang, kesehatan, pendidikan dan psikososial. 
Kebutuhan itu merupakan satu kesatuan yang utuh untuk dikembangkan pada masa 
usia balita tersebut.

Dapat disimpulkan, betapa pentingnya program PADU untuk ditumbuhkembangkan 
dalam pembinaan anak. Tentu saja hal ini tidak lepas dari peran utama orangtua 
(ibu) sebagai orang yang paling dekat dalam kehidupan anak. Berdasarkan 
kenyataan pragmatis di masyarakat, peran lembaga resmi seperti Diknas hanya 
untuk menutupi kesenjangan yang seharusnya dilakukan oleh ibu dan masyarakat. 
Peran lembaga bukan utama, tetapi hanya ditempatkan sebagai pemberi fasilitas, 
pembantu, koordinasi dan pengembangan. Fungsi utama tetap berada pada kaum ibu 
dan masyarakat.

Terlepas dari semua itu, satu hal paling penting dan mendasar yang perlu 
diperhatikan semua pihak dalam pelaksanaan PADU di Indonesia adalah konsep 
dasar dan pendekatan. Mengingat, usia dini merupakan waktu yang tepat untuk 
menanamkan dasar pendidikan yang meliputi moral agama, sosial dan inteletual 
anak. Pengasuhan dan pengembangan anak dini usia sangat tergantung pada konsep 
pendekatan yang digunakan. Pendekatan yang paling tepat adalah pendekatan 
holistik (menyeluruh). Dengan pendekatan holistik diharapkan mampu 
mengembangkan potensi anak dari berbagai aspek, baik aspek fisik, mental maupun 
intelektual dan moral sosial. Dalam strategi, penerapannya bisa dilakukan 
secara terintegrasi, parsial dan sektoral.

Selain itu, implementasi PADU perlu memperhatikan faktor lingkungan yang 
kondusif untuk pengasuhan dan pengembangan anak baik di lingkungan mikro (TPA, 
play group dll) maupun lingkungan makro (tempat tinggal). PADU dengan 
pendekatan holistik, di dalamnya menyangkut hak anak untuk bermain dan 
melakukan kegiatan yang merangsang seluruh aspek perkembangan potensi anak. 
Aspek itu mencakup pemeliharaan kesehatan, pemberian nutrisi yang seimbang, 
stimulasi intelektual dan meberikan kesempatan luas kepada anak untuk 
mengeksplorasi dunianya melalui belajar sambil bermain. Dengan belajar dan 
bermain anak secara aktif memacu pengembangan sosial dan emosionalnya, 
pengasuhan dan bimbingan untuk memahami potensi diri anak. PADU dengan visi 
terwujudnya anak dini usia yang sehat, cerdas ceria dan berahklak mulia, 
berpotensi dapat meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesia.

Kendala terbesar yang dihadapi dalam menjalankan program PADU selama ini adalah 
kurangnya perhatian pemerintah, khususnya pemda di untuk merespon positif PADU 
(harian Terbit 13/5/05). Hal ini terungkap pada sosialisasi PADU wilayah timur 
beberapa waktu lalu, di Mataram NTB. Dan itu tidak hanya terjadi di satu-dua 
propinsi, tetapi hampir di seluruh tanah air kita. Padahal, jika pemda 
menangani dengan serius bukan tidak mungkin problem anak yang mengalami 
gangguan tumbuh kembang yang meliputi kemampuan verbal, intelektual dan 
psikomotorik sebanyak 10-30 persen dari jumlah keseluruhan anak dapat diatasi.

Kurangnya perhatian selama ini, tidak semuanya kesalahan pemerintah. Rendahnya 
pengetahuan orangtua dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya PADU, ditambah 
kurangnya keterampilan dan pemahaman pendidik terhadap konsep PADU serta 
rendahnya mutu pendidik juga menjadi masalah. Seandainya pemerintah antusias 
dalam menangani masalah ini, tentu akan dapat mengatasi masalah tingginya angka 
tinggal kelas di SD yakni 13 persen dari seluruh anak SD (harian Terbit 22 Mei 
2005.

Direktur PADU Ditjen PLSP Depdiknas, Gutama, mengimbau pengambil kebijakan di 
daerah melalui ketua TP PKK di daerah agar memberikan perhatian yang besar 
terhadap masalah pendidikan dini usia. Sebenarnya, penguasa daerah adalah pilar 
utama dalam pengembangan PADU di daerahnya yang diprakarsai oleh TP PKK dengan 
kegiatan Posyandu, Bina Keluarga Balita. Kader PKK merupakan ujung tombak dalam 
mengembangkan program PADU.

Namun, selama ini pengambil kebijakan di daerah baik kepala dearah, dinas 
terkait maupun legislatif tidak begitu peduli terhadap masalah anak usia dini. 
Seharusnya dalam setiap kegiatan PADU, Ditjen PLSP dan instansi terkait tidak 
hanya mengikutkan istri kepala daerah, tetapi juga gubernur, bupati, walikota 
dan anggota dewan di daerah. Dengan terlibat langsung, pengambil kebijakan 
menjadi tahu dan memahami pentingnya pendidikan anak dini usia. Selanjutnya 
mereka memberi perhatian kepada program PADU melalui penyedian anggaran khusus 
untuk kelancaran pengembangan PADU di daerahnya.

Selama ini, mutu pendidikan di negara kita sangat jauh tertinggal dibanding 
negara tetangga seperti Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia bahkan Vietnam. 
Menurut penelitian International Education Achievement (IEA) pada 1999, 
kemampuan membaca siswa SD di Indonesia berada pada urutan ke 38 dari 39 negara 
yang diteliti. Padahal, selama ini kita mengklaim pendidikan dasar sudah 
berjalan dengan baik. Sementara itu, hasil penelitian The Third International 
Mathematic and Sience and Study Repeat, untuk tingkat SLTP Indonesia berada 
pada urutan ke 32 di bidang IPA dan ke 34 di bidang Matematika dari 38 negara 
yang diteliti.

Rendahnya mutu pendidikan juga berpengaruh langsung pada SDM Indonesia. Laporan 
UNDP pada 2002 tentang Human Development Index (HDI), Indonesia menduduki 
peringkat 110 dari 173 negara yang diteliti. Sangat jauh tertinggal dibanding 
negara ASEAN lainnya (Singapura 25, Brunei Darussalam 34, Malaysia 59, Thailand 
70, Vietnam 109 dan Afrika Selatan 107).

Bangsa kita sekarang sedang menghadapi tantangan sangat besar. Dampak krisis 
multidimensi belum kunjung teratasi, globalisasi di segala aspek kehidupan dan 
pelaksanaan kebijakan otonomi daerah. Tantangan itu harus dijawab, salah 
satunya dengan ketersediaan SDM yang sanggup menghadapinya. Pengembangan SDM 
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, antara lain ditandai dengan semakin 
meningkatnya mutu kehidupan dan martabat bangsa Indonesia di tengah peradaban 
dunia.

PADU sebuah program yang bertujuan memberikan pembinaan terhadap upaya 
pelayanan (penyelenggara) pendidikan dini usia melalui Taman Penitipan Anak, 
Kelompok Bermain dan satuan PADU sejenis. Kita semua berharap, PADU benar-benar 
menjadi langkah pasti untuk masa depan.

Guru TK Swadaya, tingal di Banjarmasin


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke