Dear sohib sekalian;

Ini ada tulisan menarik tentang buku "The History of the Qur'anic 
Text: From Revelation to Compilation, A Comparative Study with the 
Old and New testaments" karya Prof. Muhammad Mustafa Al-A'zami, dari 
milis sebelah.

Ikra.-
 

Salam,
Buku yang ditulis oleh seorang peneliti hadis yang cukup terhormat 
dan
terpandang, Prof. Muhammad Mustafa Al-A'zami (sering disebut M. M. 
Al-A'zami)
tentang studi kompilasi Qur'an sangat menarik perhatian saya. Judul 
buku itu
sangat panjang, "The History of the Qur'anic Text: From Revelation to
Compilation, A Comparative Study with the Old and New testaments". 
Baru-baru
ini, buku tersebut diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit 
Gema Insani
Press (GIP). Beberapa waktu lalu, buku ini didiskusikan di Jakarta 
dalam acara
peluncuran yang cukup mendapat pemberitaan yang hangat. Hadir dalam 
diskusi itu
pengarang buku tersebut, didampingi oleh Gus Dur dan beberapa 
sarjana Islam yang
lain.

Penerbitan buku ini dalam bahasa Indonesia, tampaknya, terkait 
dengan "kampanye
intelektual" yang diselenggarakan oleh sejumlah mahasiswa dan 
sarjana Islam yang
sedang menempuh studi atau mengajar di sebuah lembaga pendidikan 
Islam di
Malaysia bernama ISTAC-IIUM. Ada tiga nama yang merupakan alumnus 
lembaga itu,
dan mempunyai "ambisi" yang cukup besar untuk "melawan" wacana Islam 
liberal
yang dikembangkan oleh sejumlah intelektual di Indonesia: Adian 
Husaini, Adnin
Armas, dan Ugi Suharto. Nama terakhir ini terlibat dalam 
penerjemahan buku itu,
bersama tiga nama lain: Sohirin Solihin, Anis Malik Thaha, dan Lili 
Yulyadi.
Sebagai info pula, Ugi Suharto yang merupakan alumni Gontor ini, 
saya kenal
sebagai salah seorang penentang gigih penggunaan metode hermeneutika 
dalam studi
dan penafsiran Qur'an, sebab hermeneutika dianggap sebagai ilmi yang 
lahir dari
kancah studi Bibel, sehingga tidak relevan dipakai untuk studi 
Qur'an. Menurut
dia dan orang-orang lain di ISTAC yang "sefaham", Qur'an harus 
didekati dengan
metode dan ilmu yang lahir dari "dalam" rahim sejarah penafsiran 
Islam sendiri,
bukan metode yang diimpor dari luar. Komentar kecil saya: mengapa 
mereka tidak
keberatan dengan metode penafsiran Qur'an dengan memakai temuan-
temuan saintifik
mutakahir yang datang dari "dunia Kristen" pula, seperti yang 
dilakukan oleh
Thanthawi Jauhari dalam tafsir "Al Jawahir" atau Maurice Bucaille 
dalam "Qur'an,
Bibel dan Sain Modern"? Pendekata saintifik semacam itu tak perbah 
dipakai oleh
seluruh penafsir klasik Islam, dan dengan demikian sebagai sebuah 
metode jelas
"asing" dalam sejarah penafsiran Qur'an. Orang-orang yang sefaham 
dengan Ugi
Suharto yang sikapnya terhadap Qur'an adalah apologetik, umumnya 
justru gembira
dan suka cita dengan pendekatan Bucaillisme; sutau pendekatan yang 
hendak
menunjukkan bahwa semua yang dikatakan sain modern suda ada dalam 
Qur'an. Jika
metode saintifik mereka terima, kenapa metode hermeneutika mereka 
tolak?
Dua-duanya dari Barat? (Saya tahu, kira-kira jawaban mereka adalah 
seperti yang
secara klise dikatakan kaum Hizbut Tahrir: harus dibedakan antara 
aspek
"madaniyyah" dan "hadlarah" dalam peradaban Barat).

Teman-teman yang ada di ISTAC, Malaysia, itu merasa "gerah" karena 
gelombang
pemikiran Islam liberal yang melanda Indonesia. Kegerahan ini 
tampaknya juga
sedang menggejala di sebagian kalangan di Malaysia, terutama 
kalangan Islam yang
konservatif. Akhir-akhir ini, saya mendapat banyak kiriman artikel 
yang ditulis
oleh penulis Malaysia dan mengkritik gagasan-gagasan Islam liberal 
di Indonesia.
Umumnya berisi analisa yang dangkal, tendensius, dan apologetik. 
Mereka gerah
antara lain karena pendekatan Islam liberal dianggap menimbulkan 
keraguan pada
umat Islam mengenai hal-hal yang "ma'lum min al din bil al 
dlarurah", sesuatu
yang telah dianggap final dalam agama (seperti, salat dan puasa itu 
wajib).
Salah satu hal final yang dianggap telah diungkit-ungkit kembali 
oleh kalangan
liberal adalah melalukan penafsiran kembali Qur'an dengan memakai 
pendekatan
kritis, seperti yang dipakai oleh Nasr Hamid Abu Zaid (yang 
mengtakan bahwa
Qur'an sebagai teks bisa dipandang sebagai "muntaj tsaqafy" atau 
produk budaya).
Hal ini menimbulkan kekhawatiran kalangan ISTAC itu, lalu mereka 
menerbitkan
jurnal ilmiah bernama "ISLAMIA" yang didedikasikan untuk menangkis
pikiran-pikiran kaum liberal yang dianggap berbahaya.

Sebagai diskusi, saya kira perkembangan ini sangat baik dan sehat. 
Sejak para
intelektual Islam liberal di Indonsia merintis suatu gerakan 
intelektual untuk
memahami Islam secara lebih kritis, kontektual dan humanis, muncul 
diskusi yang
sangat hidup dan penuh antusias di mana-mana, termasuk di Malaysia. 
Saya sangat
bangga sekali, bahwa Islam sekarang mengalami suatu "intellectual 
vibrance"
seperti sekarang ini, terutama di Indonesia. Sudah tentu ada 
kalangan yang tak
suka dengan maraknya diskusi semacam ini, karena diskusi yang 
terbuka dan kritis
memang mempunyai resiko membuka hal-hal yang --istilah Mohamed 
Arkoun-- "al
mustahil al tafikiru fihi", hal-hal yang mustahil difikirkan 
kembali. Kalangan
ortodoks sangat tidak suka jika hal-hal yang sudah final itu 
diungkit-ungkit
lagi.

Kembali ke solah buku M. M. Al-A'zami itu. Tertartik dengan isi dan 
publisitas
mengenai buku itu, saya mencoba untuk mencarinya, dan saya berusaha 
untuk
mendapatkan teks aslinya dalam bahasa Inggris. Saya cari di 
Amazon.com tidak
ada. Saya cari di Google dan saya temukan di sebuah toko buku 
virtual Islam,
"Islamic Book Store". Saya gembira sekali, karena saya akan 
mendapatkan buku
itu. Tetapi, sungguh saya kecewa berat ketika saya "check out" 
hendak membeli
buku itu, sebab dalam lembaran isian yang meminta kita untuk mengisi 
data
pribadi, saya tak menemukan Indonesa dalam daftar negara-negara yang 
ada.
Negeri-negeri "kafir" yang aneh-aneh seperti Zimbabwe, Sierra Leon, 
Bolovia
tercantum di sana, sementara Indonesia, negara Muslim terbesar di 
dunia, tak
dicantumkan di sana oleh sebuah tokoh buku yang menyebut 
dirinya "Islamic Book
Store". Saya sudah kirim protes keras ke pihak pengelola toko itu 
via email,
tetapi hingga sekarang (sudah satu bulan) tak ada jawaban. Saya kira 
hal semacam
ini tak akan kita temui pada toko-toko buku "kafir" seperti Amazon,
Barnes&Nobel, atau Borders.

Saya akhirnya memutuskan untuk mencari edisi Indonesia buku itu. 
Siang ini saya
pergi ke toko buku Walisongo di Kwitang, Senen. Alhamdulillah, saya
mendapatkannya. Malam ini, sepulang dari kantor, saya mencoba 
membaca buku itu.
Saya belum selesai membaca buku itu, dan masih berusaha untuk 
membacanya hingga
tuntas. Ada beberapa kesan sementara yang layak saya bagi dengan 
teman-teman:

- Pertama, saya sungguh kecewa berat dengan buku itu karena mutu 
terjemahannya
yang teramat jelek. Di halaman perancis buku ini, saya membaca 
sejumlah nama
penerjemah yang cukup berbobot dalam studi Islam, dan mestinya 
mereka bisa
menerjemahkan buku itu jauh lebih baik dari yang ada. Apalagi buku 
itu juga
melewati proses "proof reading" yang dilakukan oleh seorang sarjana 
hadis
terkenal di Indonesia yang merupakan murid langsung dari M. M. Al-
A'zami, yaitu
Mustafa Ali Ya'qub. Saya mengandaikan buku itu telah melewati 
proses "filtering"
yang cukup baik. Salah satu contoh buruk terjemahan itu adalah sbb.:

"Their variant readings and verse orders are all very significant. 
Everybody
agrees on that. These manuscripts say that the early history of the 
Koranic text
is much more of an open question than many have suspected: the text 
was
less stable, and therefore had less authority, than has always been 
claimed."

(Ini adalah kutipan pendapat dari Andrew Rippin yang dimuat dalam 
artikel yang
ditulis oleh Toby Lester erjudul "What is the Qur'an?" dalam 
Atlantic Monthly
[1999] dan membuat "marah hebat" M. M. Al-A'zami. Saya baca artikel 
Lester itu
dari sumber lain, bukan dari buku Al-A'zami, karena saya belum 
mempunyai naskah
aslinya).

Kutipan itu diterjemahkan dalam buku itu sbb.:

"Bacaan yang berlainan dan susunan ayat-ayat kesemuanya teramat 
penting. Semua
orang sependapat akan masalah ini. Naskah-naskah ini menyebut bahwa 
sejarah teks
Al-Qur'an di masa lampau melebihi dari sebuah pertanyaan terbuka 
dari apa yang
lazim dianggap orang banyak: teks itu tidak tetap dan memiliki 
kekurangan
otoritas dari anggapan yang ada." (hal. 3).

Membaca terjemahan seperti ini, saya benar-benar kebingungan, karena 
susunan
kalimatnya sangat kacau. Karena saya merasa pernah membaca tulisan 
Toby Lester,
maka saya cari artikelnya itu, dan syukur alhamdulillah saya 
temukan. Saya
bandingkan antara teks Inggris dengan teks Indonesianya: saya paham 
teks
Inggrisnya, tetapi tak paham sama sekali teks Indonesianya. 
Penggalan "is much
more of an open question than many have suspected" yang 
diterjemahkan sebagai
"melebihi dari sebuah pertanyaan terbuka dari apa yang lazim 
dianggap orang
banyak" jelas salah fatal: kalimat itu tak bunyi, dan susah dipahami.

Saya menemukan kekacauan-kekacaan terjemahan semacam ini dalam 
banyak bagian,
yang membuat selera saya untuk membaca buku itu kontan turun 
drastis. Karena
saya tak mempunyai teks aslinya, saya tak bisa mengecek terjemahan 
itu ke
naskah asal untuk menemukan kekeliruan-kekeliruan yang lain.

- Kedua, sekali lagi saya masih membaca bagian-bagian awal buku ini. 
Dan saya
masih mencoba bersabar untuk membaca lebih lanjut, meski berat 
sekali karena
terjemahan yang buruk. Pada bagian-bagian awal, saya agak kaget 
bahwa Al-A'zami
begitu marah menanggapi artikel yang ditulis oleh Toby Lester yang 
sudah saya
sebut di atas. Saya sudah membaca artikel itu, dan kesimpulan saya: 
artikel itu
cukup seimbang, kritis, meskipun membuat informasi-informasi tentang 
studi
Qur'an dan Islam yang skeptis dan "sengit" seperti karya-karya John 
Wansbrough,
Patricia Crone, Michael Cook, dll. Tetapi, Lester memuji kaum 
Mu'tazilah yang ia
anggap sebagai pendahulu pendekatan rasional dalam studi Islam dan 
Qur'an.
Lester juga menyebut kalangan sarjana Islam mutakhir yang merintis 
dan
melanjutkan kajian-kajian Qur'an yang kritis yang dulu dimulai oleh 
kaum
Mu'tazilah, seperti Nasr Hamid Abu Zaid dan Mohamed Arkoun. Bagi 
saya, rintisan
Nasr Hamid Abu Zaid, tokoh yang paling dibenci di kalangan sarjana 
ISTAC itu,
sangatlah penting dan merupakan "breakthrough". Nasr sendiri mengaku 
dalam
banyak bukunya bahwa apa yang dia lakukan adalah melanjutkan studi 
Qur'an dengan
pendekatan literer yang telah dimulai oleh murid Muhammad Abduh, 
yaitu Amin Al
Khauli dan istrnya, A'isyah bint al Syathi'. Bagi saya, tulisan 
Lester sama
sekali tidak merupakan serangan pada Islam seperti yang dianggap 
oleh Al-A'zami.


Apapun, saya menyambut gembira penerbitan buku Prof. Al-A'zami dalam 
bahasa
Indonesia. Bagaimanapun, buku ini akan memberikan kontribusi penting 
dalam studi
dan diskusi tentang Qur'an di kalangan sarjana Islam di Indonesia. 
Lepas dari
nadanya yang polemis (ini bisa dimaklumi, karena nada "sengit" kaum 
orientalis
seperti Patricia Crone pasti akan membuat "orang beriman" jengkel 
habis), buku
itu layak dibaca dan dikaji secara kritis pula.

Ulil




[Non-text portions of this message have been removed]





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke