http://www.suarapembaruan.com/News/2005/06/11/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY
Di NTT, 12 Orang Meninggal Akibat Busung Lapar
KUPANG - Korban anak-anak usia di bawah lima tahun (balita) yang meninggal
dunia akibat busung lapar di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam lima
bulan terakhir sebanyak 12 orang. Data ini terungkap dalam rapat evaluasi
program kerja CARE Intemasional, di Kupang, Jumat (10/6). Care Internatonal,
adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menaruh perhatian pada
masalah gizi buruk di Timor bagian barat.
Dalam terakhir ini, tiga balita meninggal di RSUD Sumba Timur, satu di RSUD
Prof Dr WZ Johannes - Kupang, dan delapan balita lainnya di Kabupaten Timor
Tengah Selatan (TTS) dan Timor Tengah Utara (TTU). Sementara data resmi Dinas
Kesehatan NTT tercatat tiga balita, yakni Yosua Padi (13 bulan) dengan berat
badan 5,3 kg. Menyusul Aris O Janggadimu (14 bulan), berat badan 6 kg serta
Damu Pabundu berusia 1,3 bulan, dengan berat badan 4 kg. Ketiga balita ini
meninggal akibat busung lapar dengan penyakit ikutan berupa gastro enteritis
akut.
Khusus korban yang meninggal di RSUD Prof Dr WZ Johannes Kupang, hingga kini
belum dilaparkan ke Dinas Kesehatan NTT. Namun, keterangan yang diperoleh
Pembaruan menyebutkan, satu balita yang meninggal dunia akibat penyakit busung
lapar adalah Jose beno (4 tahun), asal Desa Naibonat, Kecamatan Kupang Timur.
Dr Novita Yappi yang bertugas di Care International mengemukakan, para korban
meninggal bukan murni gizi buruk atau busung lapar. Tetapi karena komplikasi
berbagai penyakit. Para korban baru dibawa orang tuanya ke Panti Rawat Gizi
dalam kondisi yang sudah sangat parah. Sehingga, meskipun sempat mendapatkan
perawatan, nyawa korban tidak tertolong lagi.
Kepala Bagian Penerangan, Publikasi dan Dokumentasi pada Biro Humas Pemprov
NTT, Welly Th Pah SH, Sabtu (11/6) pagi mengatakan, kasus gizi buruk yang
menyebabkan penyakit busung lapar sebenarnya merupakan persoalan pemerintah
kabupaten/ kota.
Sebab, masyarakat itu ada di kabupaten dan kota. Namun karena kasus ini sudah
menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB), sehingga penanganannya harus dilakukan
secara terpadu dan ditetapkan lewat Satkorlak Penanggulangan Bencana dan
Pengungsi (PBP).
Sementara itu, pemerintah NTT telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 480 juta
untuk membantu pemerintah kabupaten/ kota mengatasi masalah kekurangan gizi.
Dana tersebut bersumber dari dana anggran pendapatan dan belanja daerah (APBD)
NTT tahun 2005 sebesar Rp 11 miliar yang dialokasikan untuk mengantisipasi
bencana kekeringan dan bencana alam lainnya di NTT.
Dijelaskan, sebelum muncul KLB busung lapar, masing-masing kabupaten/ kota
telah memperoleh alokasi dana sebesar Rp 30 juta untuk mengatasi kekurangan
pangan yang dilaporkan kepada Gubernur NTT, Piet Alexander Tallo SH. Setelah
munculnya KLB busung lapar, dilakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten/
kota agar tidak terjadi kesimpangsiuran dalam penanganannya.
Ia menjelaskan, sesuai data terakhir dari Dinas Kesehatan NTT menyebutkan, saat
ini terdapat 464.360 balita dengan rincian status gizi baik 397.527 balita,
gizi kurang 55.543 balita, gizi buturk 11.048 balita, marasmus 236 balita,
khashiorkor lima balita dan satu balita lainnya menderita marasmus-kwashiorkor.
Sedangkan balita yang meninggal dunia sebanyak tiga orang.
Ditambahkan, seluruh balita yang menderita gizi buruk, mendapatkan pelayanan
kesehatan di berbagai fasilitas, yakni 25 balita di Therapeutic Veeding Centre,
235 balita di berbagai puskesmas se-NTT dan 12 balita lainnya di RSU yang ada
di beberapa ibukota kabupaten/ kota.
Sementara itu, dari Medan Sumatera Utara (Sumut) dilaporkan seorang bocah di
bangku kelas dua Sekolah Dasar (SD), Agus Eka (8), terpaksa menjalani perawatan
intensif di Rumah Sakit Pirngadi Medan karena kekurangan gizi.
Penduduk Jalan Gelambir, Tanjung Gusta, Kecamatan Medan Helvetia itu dirawat di
Ruang III Perawatan Anak sejak, Kamis (9/6) lalu. Hingga Jumat, (10/6), kondisi
bocah lelaki tersebut terlihat sangat lemah dengan hidung dan tangannya
terpasang selang oksigen dan jarum infus, sementara nafasnya sesekali terlihat
tesenggal-senggal.
Menurut ibu korban, Rohimah, (46), sejak setahun terakhir, anak dari enam
bersaudara itu enggan makan apapun. Hal itu akibat perut dan rasa sakit di
leher bagian belakang yang dirasakan Agus yang tidak kunjung sembuh.
"Sudah setahun Agus mengalami sakit di leher belakang," ujar Rokimah ketika
ditemui Pembaruan di RS Pirngadi Medan, Jumat (10/6).
Sejak menderita penyakit tersebut itulah, tutur Rokimah, Agus kemudian selalu
menolak ketika diberi makan hinggga kini.
Akibatnya tubuh Agus yang mempunyai tinggi 109 centimeter tersebut, semakin
menyusut hingga kurus kering dengan berat mencapai 13 kilogram. Padahal berat
normalnya yakni 18 kilogram. (120/151)
Last modified: 11/6/05
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/