Dear all LISI friends and other mailing lists,

 

Sekedar menyuarakan ulang dengan versi berbeda, mudah-mudahan angin
perubahan datang demi kebaikan bersama. Semoga berguna.

 

Wassalam,

 

ES

 

National Development Planning Agency / BAPPENAS

Jl. Taman Suropati 2 Jakarta, 10310, Indonesia

Tel: 62.21.3912422; 3905650 ext 600

Fax: 62.21.3912422; 3145374

Email: [EMAIL PROTECTED] 

Website: www.geocities.com/satriyaeddy ; 

Blog:  eddysatriya.blogspot.com , spaces.msn.com/members/kritikaku

 

=================

"YOU PAY PEANUT, YOU'LL GET MONKEY"

 

Oleh: Eddy Satriya*)

 



 

Catatan: Telah diterbitkan di Kolom Majalah Forum Keadilan 19 Juni 2005

 

Setahun setelah kebakaran besar pertama kali menghabiskan Pasar Atas
Bukittinggi pada tahun 1972, karena suatu alasan, keluarga saya pindah ke
sebuah kawasan perladangan bernama Padang Leba, di pinggiran kota
Payakumbuh, Sumatera Barat. Kasus busung lapar di NTB dan NTT baru-baru ini
mengingatkan saya akan sulitnya kehidupan kami pada waktu itu. Meski
kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anak dapat terpenuhi, tidak
urung kami mengalami juga kondisi makan nasi sehari sekali yang terkadang
diselingi dengan lemper terbuat dari dedak padi yang biasa diolah menjadi
makanan ayam.

Namun kondisi sulit tersebut masih lebih baik dibanding tetangga, keluarga
seorang prajurit ABRI, yang tinggal di seberang ladang. Sangat sering
terdengar pertengkaran yang ditingkahi bentakan, pemukulan dan tangisan yang
disebabkan oleh kesulitan hidup dan minimnya kesejahteraan Sang Prajurit.
Saya tak tahu lagi nasib keluarga tersebut beserta seorang anak mereka
karena setahun kemudian kami kembali ke Bukittinggi.

Kesejahteraan sebahagian besar prajurit TNI (dulu ABRI) sejak puluhan tahun
lalu memang memprihatinkan. Karena itu dialog antara Panglima ABRI almarhum
Jenderal M. Yusuf  yang secara langsung menanyakan kondisi prajurit di
lapangan seperti sering disiarkan TVRI di tahun 1980-an, selalu saja
menimbulkan decak kagum dan simpati. Dialog seperti itu memang sudah jarang
terdengar. Namun itu bukan berarti pimpinan TNI tidak memperhatikan
kesejahteraan prajurit.

Salah satu perhatian yang pernah diberikan oleh negara kepada prajurit
TNI/Polri adalah melalui perbaikan asrama prajurit melalui dana Bantuan
Presiden sebesar Rp 30 Milyar. Namun bantuan Presiden Megawati pada bulan
Februari 2002 untuk memperbaiki asrama yang sudah parah kondisinya di empat
lokasi itu malah berbuntut menjadi masalah politik yang menyulut debat di
DPR. Perbaikan kesejahteraan prajurit yang berujung dengan usulan Tim
Verifikasi Komisi I DPR kepada Presiden Megawati untuk memecat Mensesneg
Bambang Kesowo itupun akhirnya terkenal dengan istilah "Asramagate" (Pikiran
Rakyat, 13/7/02).

Bukan hanya sekali dua rencana baik yang diajukan pemerintah untuk
meningkatkan kesejahteraan aparatnya dimentahkan oleh berbagai pihak. Ketika
Presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur) dengan taktis dan secara bertahap telah
menaikkan gaji serta tunjangan jabatan PNS di awal pemerintahannya, protes
malah datang dari pihak KORPRI sendiri. Alhasil, kenaikan tunjangan jabatan
yang sudah dicicipi oleh PNS itu kemudian diturunkan lagi ke tingkat yang
hanya sekedar menutupi tingkat inflasi.

Rendahnya tingkat gaji dan tunjangan resmi PNS sering menjadi bahan guyonan,
terkadan cemeehan yang mengkaitkannya dengan "sabetan". Seorang pejabat
karena saking senangnya, pernah memamerkan Surat Keputusan (SK) kenaikan
pangkatnya menjadi IVc yang telah lama dinantikan. Seorang teman setelah
membaca SK itu secara serius berkomentar bahwa telah terjadi kesalahan fatal
dalam SK yang membuat Sang Pejabat kaget. Ketika ditanyakan apanya yang
salah, teman tersebut ternyata "meledek" bahwa yang salah adalah gaji
tercantum yang hanya berjumlah sekitar Rp 1,5 juta per bulan.

Rendahnya gaji dan kesejahteraan juga diperburuk dengan berkurangnya
beberapa fasilitas dan tunjangan. Hingga awal 1990-an, sebahagian dana APBN
telah dialokasikan untuk pemeriksaan kesehatan rutin tahunan (general check
up) bagi seluruh pejabat eselon III ke atas. Sebelum terjadi krisis,
fasilitas kesehatan tersebut telah dihentikan dan dibatasi. Alhasil, banyak
PNS yang tidak memerhatikan kesehatannya karena alasan ekonomi dan sering
berakhir dengan timbulnya penyakit-penyakit berat yang menggerogoti
produktivitas mereka. Kualitas dan kemudahan pelayanan Asuransi Kesehatan
(Askes) juga tidak membaik. Ada beberapa anggota keluarga pegawai di kantor
saya yang terserang kanker tidak tertolong lagi karena tidak mampu berobat
secara layak dan teratur.

Karena itu tidaklah sulit memahami betapa korupsi telah mampu mengalahkan
nalar dan moral sebahagian PNS, termasuk guru besar dan intelektual
sekalipun. Juga tidaklah sulit memahami masih banyaknya aparat yang justru
terlibat dalam peristiwa kejahatan seperti pemalsuan uang, judi,
penyelundupan dan penebangan liar. Transisi demi transisi dan ketidakjelasan
prioritas telah memperburuk situasi. Merunut beberapa pidatonya, kita
percaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah sangat memahami
permasalahan ini. Namun, tiada yang tahu kapan pastinya akan datang angin
perubahan kesejahteraan PNS. 

Dituntut bekerja keras, disiplin tinggi, dan loyal sungguh bukan hal yang
gampang untuk dijalani PNS saat ini. Di sisi lain, ratusan direktur
perusahaan milik pemerintah (BUMN), komisaris, politisi, pegawai beberapa
Badan dan Komisi yang minim prestasi terus berfoya-foya dengan gaji dan
tunjangan sangat tinggi.

 Kiranya sangat tepat jawaban yang disampaikan salah seorang pembantu
Presiden SBY dalam menjawab pertanyaan delegasi asing tentang bisnis tentara
dan korupsi aparat dalam Infrastructure Summit 18 Januari 2005 lalu di
Jakarta. "You pay peanut, you'll get monkey!"

 

________

 

*)Penulis adalah PNS di Bappenas. Berdomisili di Sawangan-Depok.

 

 



[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke