http://www.suarapembaruan.com/News/2005/06/14/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY 

Revitalisasi Pertanian?
(Masalah dan Tantangan Faktual 2004-2009)

Oleh Rachmat pambudy dan Syukri Nur
KATA revitalisasi kembali mencuat ketika Pemerintahan Susilo Bambang 
Yudhoyono-Jusuf Kalla mencanangkan tiga jalur pembangunan pada masa bakti 
2004-2009. Ketiga jalan pembangunan itu intinya, adalah pertama, peningkatan 
pertumbuhan ekonomi di atas 6,5 persen melalui percepatan investasi dan ekspor 
(pro growth). Kedua, pembenahan sektor riil untuk mampu menyerap tambahan 
angkatan kerja sekaligus menciptakan lapangan kerja baru (pro job). Ketiga, 
revitalisasi sektor pertanian dan pedesaan untuk berkontribusi pada pengentasan 
rakyat dari kemiskinan (pro poor). 

Grand strategy triple decker pembangunan Kabinet Indonesia Bersatu tersebut, 
telah mengingatkan kita pada Trilogi Pembangunan zaman Orde Baru, khususnya di 
awal pemerintahan Kabinet Pembangunan. Strategi itu mencakup, pertama, upaya 
peningkatan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan telah terbukti selama lebih 
dari 20 tahun rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi selalu di atas 6 persen 
setiap tahun. 

Kedua, pemerataan pembangunan dan hasilnya secara signifikan telah tampak mulai 
dari menurunnya jumlah penduduk miskin, tingkat kematian bayi dan ibu 
melahirkan, menurunnya jumlah penduduk buta huruf dan tidak sekolah, hingga 
meningkatnya pendapatan serta usia rata-rata penduduk Indonesia baik yang di 
kota maupun di pedesaan. 

Ketiga, stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. Hal itu juga tampak nyata 
dari adanya jaminan keamanan nasional dari pemerintah, kecuali di daerah 
bergolak, termasuk pengendalian teroris semaksimal mungkin sehingga rasa aman 
benar-benar dirasakan oleh rakyat. 

Dengan membandingkan kedua strategi pembangunan nasional Indonesia antara 
Trilogi Pembangunan dan Revitalisasi Pembangunan, terbersit semangat serta 
keyakinan baru akan terulangnya keberhasilan pembangunan dan kita harapkan juga 
terhindarnya kesalahan yang pernah dilakukan pada masa-masa pemerintahan 
sebelumnya. Namun demikian, dengan melihat begitu besarnya tantangan yang 
dihadapi anggota kabinet Yudhoyono-Kalla, keyakinan yang besar itu tetap saja 
menimbulkan sederet pertanyaan dan harapan yang terus bergulir mengiringi jalur 
ketiga tersebut, khususnya revitalisasi pedesaan serta pertanian, termasuk 
kehutanan dan kelautan yang dicanangkan 11 Juni 2005 di Jatiluhur. 

Pertanyaan itu mencakup, kenapa revitalisasi dilakukan di sektor-sektor itu. 
Apa dasar filosofinya? Memadaikah sumber dayanya? Cukupkah waktunya? 
Mendukungkah situasinya? Mampukah strategi ini diterjemahkan oleh para menteri 
di Kabinet Indonesia Bersatu tanpa memunculkan ego sektoral (departemental) 
partai dan pemerintah daerah yang tengah mewabah di negeri ini? 

Penjelasan pemerintah yang lebih rinci tentu akan melegakan masyarakat, 
khususnya petani, nelayan, serta masyarakat sekitar hutan dan yang bergerak di 
sector-sektor tersebut, yang menjadi subjek dari strategi besar pemerintahan 
Yudhoyono-Kalla. Penjelasan itu penting selain untuk menepis keraguan bahwa 
revitalisasi pertanian hanya sekedar gimmick pembangunan, tetapi sekaligus agar 
mendapatkan dukungan masyarakat yang juga berupaya keras membangun negeri ini 
bersama. Seperti tema kampanye Yudhoyono-Kalla, "Bersama Kita Bisa". 

Artikel ini berupaya mengungkapkan masalah dan tantangan faktual yang perlu 
diperhatikan pemerintah dalam membuat kebijakannya. Tanpa mengkaji lebih dulu 
masalahnya, apalagi tantangannya ke depan, sudah tentu menteri-menteri di bawah 
pemerintahan Yudhoyono-Kalla akan mengalami kesulitan mewujudkan strategi 
pembangunan nasional, yang sejak awal sudah dirumuskan Yudhoyono-Kalla, bahkan 
sejak sebelum menyusun kabinetnya. 

Masalah dan Tantangan 

Beberapa masalah dan tantangan yang perlu dicermati saat ini, sebelum melangkah 
kepada penjabaran kebijakan pembangunan pertanian, adalah: 

Pertama, utang luar negeri maupun domestik sebagai beban warisan yang harus 
dipikul Pemerintahan Yudhoyono-Kalla sangat besar. Beban pembayaran utang yang 
tercatat pada APBN 2005 sebesar 57,9 triliun, sehingga mengurangi kemampuan 
pemerintah dalam membiayai pembangunan (sebagai perbandingan APBN Departemen 
Pertanian hanya sekitar 3 triliun setiap tahunnya). 

Sementara itu jika melakukan revitalisasi pertanian, pemerintah harus berupaya 
keras menghindari pinjaman yang telah memberatkan keuangan pemerintah. Selain 
itu manajemen alokasi keuangan dan sumber daya untuk sektor itu menjadi sangat 
penting. 

Kekhawatiran itu masuk akal, mengingat alokasi subsidi pupuk, benih dan 
pemeliharaan dan pembangunan infrastruktur perkotaan dan pedesaan saat ini 
sangat tersendat. 

Kedua, masih rendahnya minat lembaga perbankan dan lembaga keuangan lainnya 
untuk membiayai pertanian selain komoditi kelapa sawit. tebu, cokelat atau 
komoditas lain yang dianggap menguntungkan. Pemahaman bahwa usaha tani penuh 
risiko karena faktor alam, hama penyakit, dan margin keuntungan, menjadi faktor 
penghalang untuk pemberian kredit kepada petani dan pengusaha. Kondisi itu 
perlu dikaji ulang dan diperbaiki sistemnya sehingga revitalisasi pertanian 
dapat dirasakan manfaatnya oleh mereka, karena selama ini kesulitan yang selalu 
dialami petani, khususnya petani kecil apalagi buruh tani, antara lain adalah 
masalah permodalan. Implikasi dari kondisi itu adalah perlunya kebijakan khusus 
untuk mengembangkan sistem pembiayaan pertanian dan pedesaan. 

Ketiga, pelaksanaan otonomi daerah terutama dengan adanya pilkada (pemilihan 
kepala daerah secara langsung), di mana bakal lahir pertarungan elite politik 
lokal yang dibantu partai masing-masing calon tanpa memperhatikan visi dan 
konsep pembangunan pertanian yang dicanangkan Pemerintahan Yudhoyono-Kalla, 
telah menyebabkan revitalisasi pertanian, kehutanan dan kelautan, hanya akan 
menjadi kebijakan pusat tanpa keterkaitan ke daerah. 

Padahal, pertanian, hutan dan sektor kelautan adanya di daerah. Kebijakan 
pembangunan pertanian, kehutanan dan kelautan yang lebih terdesentralisasi 
seharusnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam revitalisasi pertanian, 
kehutanan, dan kelautan. 


Lihat REVITALISASI, hal 9 

Keempat, kondisi sosial ekonomi masyarakat yang cukup parah karena terimpit 
kemiskinan. Dampak kemiskinan itu juga sudah terasa dengan terungkapnya 
generasi kita yang mengalami wabah polio, busung lapar, dan kekurangan gizi. 
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2004), kemiskinan di Indonesia sudah 
mencapai 36,1 juta penduduk dengan tingkat pengangguran 9,58 persen dari 
penduduk nasional yang berjumlah 216 juta jiwa. 

Indikator penting lain yang juga memprihatinkan adalah persentase rumah tangga 
yang dapat mengakses sumber air bersih masih 47 persen serta rendahnya akses 
kelahiran balita yang dibantu oleh medis baru mencapai 67,9 persen. Kemiskinan, 
penyebaran penyakit dan kelaparan di mana-mana, seharusnya menjadi pilihan 
sasaran dibanding sekadar revitalisasi pertanian, kelautan, dan kehutanan. 
Karena itu, kebijakan pembangunan pertanian, kehutanan, dan kelautan yang 
berkerakyatan yang langsung dapat membebaskan rakyat dari kemiskinan, 
seharusnya juga menjadi dasar bagi revitalisasi pertanian, kehutanan, dan 
kelautan. 


Perdagangan Bebas 

Kelima, era perdagangan bebas, khususnya AFTA dan WTO telah dimulai, komitmen 
internasional itu perlu dicermati dengan baik untuk tetap pada rencana 
pembangunan pertanian Indonesia tanpa merugikan petani, pengusaha, dan 
pemerintah sendiri. Desakan untuk melepaskan subsidi dan penurunan tarif bea 
masuk perlu dicermati dan disiasati dengan cerdik, sehingga agroindustri 
nasional tetap jalan, tanpa harus mengorbankan petaninya. 

Seperti sering diupayakan oleh industri berbahan baku gula, garam, tembakau, 
dan cengkeh, yang selalu mengharapkan gula, garam, tembakau, dan cengkeh murah 
sekalipun, harus impor. Lobi-lobi industrialis itu sering kali merugikan petani 
tebu, cengkeh, tembakau, dan pe-tambak garam, karena mereka lebih sering dan 
suka membeli produk dumping daripada membeli produk petaninya sendiri. 

Dalam perdagangan internasional yang menjadi persoalan pertanian sekarang dan 
yang akan datang adalah perdagangan bebas tetapi tidak adil. Dalam keadaan 
seperti itu pertanian Indonesia akan selalu dikalahkan dan dirugikan. Bukan 
karena petani kita kurang kerja keras ataupun kurang pintar. 

Seperti kita ketahui selama ini negara-negara maju memaksa kita membuka pasar, 
sementara itu dengan berbagai alasan mereka selalu menutup pangsa pasar mereka. 
Negara-negara tertentu bahkan masih menerapkan program subsidi untuk petani dan 
pertanian sangat besar. 

Hal itu merupakan hambatan bagi kemajuan sektor pertanian Indonesia. Untuk itu 
salah satu penyelesaian hambatan tersebut adalah penerapan kebijakan proteksi 
untuk komoditas pertanian strategis dan sekaligus promosinya. Selama empat 
tahun terakhir ini (2001-2005) sektor pertanian mengalami kemajuan dalam 
tingkat pertumbuhan produksi riil dan dilihat dari berbagai indikator di 
antaranya pertumbuhan PDB, surplus ekspor dibandingkan impor, serta perbaikan 
nilai tukar petani. 

Persoalannya sekarang, sampai kapan kita akan melakukan kebijakan proteksi 
pertanian. Kebijakan itu sebaiknya disertai dengan konsolidasi internasional 
untuk menyelenggarakan free trade yang fair. 

Kebijakan proteksi dapat dihentikan apabila sudah dapat dilakukan fair trade 
dalam perdagangan internasional. Masalah perdagangan internasional yang semakin 
bebas, tetapi semakin tidak adil, harusnya juga menjadi bagian yang tak 
terpisahkan dalam revitalisasi pertanian, kehutanan, dan kelautan. 

Karena itu pula revitalisasi pertanian, kelautan, dan kehutanan, juga harus 
menghasilkan produk yang berdaya saing. Implikasi dari masalah itu adalah 
perlunya kebijakan yang dibuat baik dari Departemen Perindustrian, Departemen 
Perdagangan, dan Departemen Luar Negeri untuk bahu-membahu mengembangkan 
kebijakan proteksi dan promosi untuk sektor pertanian, kelautan, dan kehutanan. 

Keenam, masalah kerusakan lingkungan dan anomali iklim yang makin sering 
terjadi akan berpengaruh pada kemampuan produksi. Selain itu kekurangmampuan 
Indonesia mendayagunakan penelitinya di bidang pertanian, iklim, geologi, 
irigasi, perencanaan wilayah, telematika, dan ahli sosial budaya di berbagai 
lembaga penelitian dan perguruan tinggi untuk menggalang satu konsep mitigasi 
bencana alam dan penanggulangannya, yang berpotensi mengganggu sentra produksi 
pertanian. 

Selain itu, kebijakan pertanian, kehutanan, dan kelautan yang tidak 
direncanakan dengan baik dan hati-hati, akan berpotensi merusak lingkungan atau 
sangat terpengaruh oleh kerusakan lingkungan dan anomali iklim yang sangat 
cepat berubah ubah. Karena itu revitalisasi pertanian, kehutanan, dan kelautan, 
seharusnya juga berwawasan lingkungan dan menganut asas keberlanjutan 
(sustainable), bagi generasi sekarang dan mendatang 

Ketujuh, ketidakmampuan serta ketidakberdayaan mengidentifikasi potensi sumber 
daya alam dan manusianya khususnya petani dan buruh taninya yang mampu 
mengembangkan sistem dan usaha agribisnis sebagai inti penggerak dalam 
revitalisasi pertanian sering menjadi penghambat utama. Pengembangan sistem dan 
usaha agribisnis serta agroindustri yang dapat melibatkan petani, dan kekuatan 
pengusaha kecil menengah, besar, termasuk koperasi dan dukungan pemerintah 
pusat dan daerah secara harmonis akan membuat keunggulan pertanian dapat 
diandalkan melebihi sektor industri barang manufaktur dan elektronika. 


Strategi Berkelanjutan 

Tujuh butir masalah itu seharusnya juga menjadi landasan bagi arsitek kebijakan 
revitalisasi pertanian dan pedesaan. Semoga tujuh poin yang menjadi masalah dan 
tantangan revitalisasi pertanian, kehutanan, dan kelautan, menjadi perhatian 
utama kabinet Indonesia Bersatu. 

Pemerintahan Yudhoyono-Kalla perlu ekstrahati-hati jika tidak ingin terjebak 
dalam jargon dan retorika politik yang menghapuskan harapan rakyat Indonesia 
setidaknya dalam empat hingga lima tahun mendatang. 

Jika terlambat mengantisipasi, taruhannya adalah kekecewaan rakyat yang pada 
akhirnya berakibat ditinggalkan pemilih ayun (swing voter) atau bahkan pemilih 
setianya. Tetapi, jika berhasil maka harapan terpilih kembali tahun 2009 tidak 
terlalu sulit dicapai. 

Pengembangan kebijakan revitalisasi pertanian seharusnya sudah lebih mudah 
karena langkah awal sebagai panduan sudah dikembangkan oleh Presiden Yudhoyono 
sendiri, termasuk yang ditulis dalam disertasi S3-nya di Institut Pertanian 
Bogor, yaitu "Pembangunan Pertanian dan Perdesaan sebagai Upaya Mengatasi 
Kemiskinan dan Pengangguran". Tugas dari anggota kabinet adalah bagaimana 
menerjemahkan strategy triple decker yang sudah baik itu supaya down to earth, 
membumi, tidak ahistoris, ada kesinambungan dari kebijakan yang baik 
sebelumnya. 

Tujuan akhirnya adalah kebijakan revitalisasi pertanian, kelautan, dan 
kehutanan tersebut menjadi strategi yang berkelanjutan, berkerakyatan, lebih 
berwawasan otonomi daerah, serta kelak kebijakan itu akan menghasilkan produk 
yang berdaya saing, baik di pasar Indonesia sendiri maupun di pasar 
internasional. Dengan strategi itu kita harapkan dapat terwujud masyarakat yang 
adil makmur seperti cita-cita pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia. * 


Penulis pertama Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB). 

Penulis kedua adalah peneliti Agroindustri di Visidata Riset Indonesia dan 
LAPAN, Pekayon, Jakarta 


Last modified: 14/6/05 

++++
http://www.suarapembaruan.com/News/2005/06/14/index.html 

SUARA PEMBARUAN DAILY 
--------------------------------------------------------------------------------

Tajuk Rencana I

Revitalisasi Pertanian Harus Serius
EMERINTAH telah mencanangkan tiga program strategi pembangunan, yaitu menjaga 
stabilitas ekonomi makro dengan pertumbuhan 6,6 persen per tahun, pengembangan 
sektor riil, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dan program 
revitalisasi pertanian, perikanan, dan kehutanan (RPPK). RPPK, menurut Menko 
Perekonomian Aburizal Bakrie, merupakan strategi umum untuk meningkatkan 
kesejahteraan petani, nelayan, dan petani hutan, meningkatkan daya saing produk 
pertanian, perikanan dan kehutanan, serta menjaga kelestarian sumber daya 
ketiga sektor tersebut. 

Langkah pemerintah untuk merevitalisasi pertanian menunjukkan niat yang baik 
untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Menurut Aburizal Bakrie, apabila 
persoalan di tiga sektor ini dapat diselesaikan dan potensinya dapat 
didayagunakan, lebih dari separuh permasalahan mendasar bangsa ini, seperti 
kemiskinan, pengangguran, daya saing, dan kelestarian sumber daya alam akan 
dapat diselesaikan. 

TIDAK bisa dipungkiri bahwa sumber daya alam yang menyentuh langsung kehidupan 
rakyat banyak, yaitu pertanian, perikanan, dan kehutanan, semakin tergeser oleh 
sektor lain, terutama industri. Setiap tahun kita menyaksikan ratusan ribu 
hektare lahan pertanian disulap menjadi kawasan industri dan perumahan, 
sedangkan para petani mulai tersingkir. Demikian pula rakyat yang selama ini 
hidup dari hasil hutan juga semakin tersisih karena terjadinya konversi lahan 
dari hutan ke perkebunan atau kawasan pertambangan. Sedangkan di sektor 
perikanan, para nelayan semakin ketinggalan teknologinya dan kalah bersaing 
dengan perusahaan perikanan dan pencuri ikan. Kenaikan bahan bakar minyak 
semakin menyengsarakan nelayan karena mengurangi pendapatan mereka. 

Berbagai fakta tersebut bisa menjadi cermin bagaimana sebenarnya keberpihakan 
pemerintah kepada para petani dan nelayan. Sudah sering kita dengar betapa 
menderitanya para petani saat panen raya karena harga padi anjlok. Padahal, 
saat mereka mulai menanam kesulitan mendapatkan pupuk, kalaupun ada harganya 
sudah sangat tinggi dibandingkan pendapatan yang mereka peroleh. 

Pemerintah sendiri berupaya untuk menekan biaya usaha tani dengan memberikan 
subsidi gas bagi BUMN pupuk agar harga pupuk bisa lebih murah. Subsidi langsung 
belum memungkinkan dengan alasan ada kendala dalam mendapatkan data petani, 
baik dari segi kepemilikan maupun pengusahaan lahan. Namun, belum tercermin 
perhatian pemerintah terhadap harga riil pupuk di tingkat petani. Pemerintah 
telah menetapkan harga eceran tertinggi (HET), tanpa melihat harga pupuk sampai 
ke lahan petani. Selama ini HET hanya berlaku di lini IV (agen pupuk/ KUD), 
sedangkan ongkos angkut dari lini IV ke rumah/sawah petani harus ditanggung 
sendiri. 

KITA menyambut baik kebijakan pemerintah untuk mengatasi persoalan ekonomi 
bangsa ini dengan memperhatikan kesejahteraan para petani dan nelayan. Namun, 
kita juga berharap pemerintah bisa melihat kondisi petani di tingkat paling 
bawah. Kendala sulitnya mendapat data petani sebenarnya menunjukkan 
ketidakberesan birokrat mengurus warga negara, yang seharusnya tidak boleh 
terjadi. 

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bimbingan kepada para petani. Dulu 
pemerintah menerjunkan para penyuluh pertanian sampai ke desa-desa, yang 
kemudian program itu dihapuskan karena desentralisasi. Akibatnya, petani yang 
rata-rata pendidikannya rendah, kurang mendapat bimbingan. Bahkan, profesi 
petani semakin ditinggalkan. Benar apa yang dikatakan petani dari Jawa Barat 
saat dialog dengan Presiden Yudhoyono, Indonesia akan kehilangan satu generasi 
petani. Lalu, siapa yang akan memasok bahan pangan? 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 14/6/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke