--- In [email protected], "Lina Dahlan" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
> Oh sangat jelas. Buat saya sekarang ini AlQur'an itu yang paling
TOP.
> Tuhan itu Mutlak adanya, jadi dengan demikian ada Kitab Suci yang
> Mutlak benar isinya, dan ada Kebenaran Mutlak. Kebenaran tidak
> mungkin ganda, yang banyak itu adalah kebenaran. Itu kenapa saya
> memilih Islam.
>
> Sama saja dengan mengapa sampeyan memilih agama sampeyan, toh?
> Mengapa sampeyan memilih agama sampeyan, hayoo..knapa? warisan
ortu?
> kebanyakan orang kan begitu. Jadi, ya udah taken for granted.
>
> Membaca itu pake mata, pake otak. Hati itu sesuatu yang mudah
> berubah. Berubah-rubah apa kata otak. Hati itu hanya perlu dijaga
> kesuciannya dengan memohon kepada Yang Bisa Membulak-Balikkan Hati
> atau Sang Pemilik Hati, supaya bisa memfilter apa kata otak. Baru
> tau kalo hati itu untuk membaca...:-). Hati untuk memfilter mau
> dijadikan apa segala input yang kita terima dari otak, mau dibuang
> atau mau dijadikan iman?
>
> Kalau ditanya agama apa yang bener2 masuk akal, saya tentu akan
> jawab Islam, itu kenapa saya memilih Islam. Paling gak oleh akal
> saya. Saya akan pertangungjawabkan ini dihadapanNya.
> Yakin dan iman itu emangnya dah dateng begitu saja adanya?, tak
> mengalami proses? gak perlu mikir? oh..eM...Gee...
> Semua mengalami proses. Masalahnya...kita tak menyadari..karena
> prosesnya sudah dimulai ketika masih didalam kandungan hingga akil
> baligh dan terus berproses...sampai hari akhir. Jadi lingkungan
> sangat berperan. Makanya orang mengatakan iman itu ada pasang
> surutnya, jadi memang ada proses.
>
------------------------------
DH: Agama adalah sisi institionalization dari bentuk keimanan. Dengan
symbol symbol, peraturan, ajaran yang tertulis dan tersystimatisasi.
Inti dari hal ini adalah hubungan spiritualitas, yang mengandung
dialog dengan sang Pencipta, yang bagi masing masing ditertima dalam
bayangan dan definisi tertentu.
Sebagian dari hal ini tentulah masalah nalar, karena dengan nalar
kita mengadakan pendekatan. Sebagian adalah sisi "ghaib", karena
masalah spiritualitas adalah masalah "indra keenam".
Bagaimana kita mendapatkan agama atau kepercayaan yang kita anut
tergantung dari banyak hal: pendidikan, lingkungan keluarga,
lingkungan budaya dan pengalaman spiritual pribadi. Kebanyakan
mendapatkan agama sebagai warisan dari leluhur yang sangat terkait
budaya.
Kebenaran juga merupakan hal yang dsisatu sisi adalah uniuversal dan
esa, dilain fihak tersaring oleh persepsi dan daya terima masing
masing individu. Matahari, yang adalah sebuah kebenaran, akan muncul
berbeda bagi tiap individu: sebagai sumber sinar yang indah romantis
yang memulai datangnya hari yang baru, sebagai sang Fajar. Sebagai
alat pengering ikan asing, cengkeh, tembakau bagi sipengusaha bahan
bahan ini. Sebagai sumber daya listrik bagi mereka yang memiliki alat
solar energy. Sebagai sumber untuk mencokletakan kulit bagi wanita
yang rebahan dipantai. Dsb. Matahari dalam poem akan sangat beda
dengan matahari yanbg dilihat dari teropong bintang dan dianalisa
secara physica.
Bukan kebenaran itu berbeda, namun indra kita tak mampu mencakup
kebenaran itu sekaligus dan manunggal. Warnapun, dilihat berbeda oleh
mata yang berbeda. Bagi yang buta warna, merah, hijau, kuning, adalah
abu abu.
Demikian juga kebenaran musik. Ada nada yang tak mungkin ditangkap
atau dikenali oleh sebagian manusia. Nada yang sama diterima sebagai
indah, bagi yang lain menyakitkan telinga.
Saya mencernakan agama berbeda, ketika masih seusia kebanyakan dari
Anda (20an sampai 30an), daripada kini, diambang awal 60an. Ada
pergeseran fokus, dari sisi ritual menjadi sisi spiritual.
Yang utama, bagi saya, adalah, bagaimana agama atau kepercayaan ini
meningkatkan kualirtas spiritual seseorang, yang muncul dalam budhi
dharmanya pada sesama. Bukan dalam ketaatan ibadah semata.
Juga pengertian surgawi akan bergeser, dari kanak kanak yang belajar
agama disekolah, remaja, usia pertengahan tahun, dan dimasa akil
baliq.
Dimasa usia lanjut, hubungan spiritual diperdalam dengan samadjhi
yang melengkapi doa secara ibadah, dimana kita berkomunikasi dengan
sumber hidup, sang Pencipta. Dalam berbbudhi dharma, kita mewujudkan
kemuliaan yang meningkatkan daya kemampuan bathiniah kita.
Agama adalah untuk diamalkan, bukan diperdebatkan.
Apakah Rolls Royce lebih tangguh daripada Lambhorgini atau Bentley,
tergantung bagaimana kita menggunakannya. Rolls Royce dan agama ada
kesamaan, keduanya adalah sekedar wahana. Kendaraan.
Memilih satu wahana belum berarti kita automatis sampai pada tujuan.
Demikian juga agama, memilih satu agama tertentu, belum tentu kita
lebih dekat dengan sang Pencipta.
Salam
danardono
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/