http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/17/opini/1821945.htm

 
Gaji Pegawai dan Korupsi 

Oleh Harry Seldadyo

BARU-baru ini Kwik Kian Gie mengusulkan cara pemberantasan korupsi. Selain 
penyusunan cetak biru restrukturisasi organisasi dan manajemen pemerintahan, 
diusulkan juga perbaikan sistem penggajian PNS, TNI, dan Polri, termasuk 
kenaikannya hingga tingkat tertinggi (Kompas, 13/5/2005).

Usulan kenaikan gaji ini menarik dicermati karena wacana umum menyebutkan bahwa 
pegawai negeri (PN) bergaji rendah. Jelas tersirat, gaji rendah dianggap 
merangsang terjadi korupsi. Karena itu, kenaikan gaji PN hingga tingkat 
tertinggi-dan kombinasi kebijakan lainnya-bisa menurunkan korupsi.

Sehubungan dengan itu, tiga isu bisa diangkat. Pertama, pernyataan PN bergaji 
rendah memerlukan alat banding, karena gaji di sini bersifat relatif. 
Pertanyaannya, apa atau siapa pembandingnya? Kedua, benarkah gaji rendah 
memancing korupsi? Jika ya, sampai seberapa tinggi gaji harus dinaikkan supaya 
korupsi tereliminasi? Ketiga, pada kondisi apa ia efektif memberantas korupsi?

Perbandingan

Cerita PN bergaji rendah adalah cerita tua. Tahun 1975 di jurnal Economic 
Development and Cultural Change, Theodore Smith dari Yayasan Ford menulis 
artikel "Stimulating Performance in the Indonesian Bureaucracy: Gaps in the 
Administrator's Tool Kit". Dalam artikel itu disebutkan, di antara pegawai 
pemerintah sedunia, PN Indonesia termasuk yang paling murah dibayar. Gaji 
bulanan, menurut tulisannya, tak sanggup menutup biaya hidup lebih dari separuh 
bulan sehingga pegawailah yang sebetulnya menyubsidi pemerintah.

Tahun 1979 Clive Gray di jurnal BIES (Civil Service Compensation in Indonesia) 
juga memberi kesan serupa. Ia keheranan melihat kecilnya gaji PN, lalu ia 
mencoba melacak adanya sumber-sumber pendapatan ilegal.

Tahun 1999 konsultan internasional, Watson Wyatt, dalam Indonesia: Compensation 
Report juga memberi impresi kembar. Dalam laporan itu gaji 12 jabatan di 
pemerintahan dan 79 perusahaan swasta (97,5 persen di antaranya MNC) 
disandingkan. Menurut laporan itu, di dua jabatan terbawah (pesuruh dan 
pengantar surat) perbedaan gaji tak mencolok. Tetapi kesenjangan gaji pegawai 
pemerintah-swasta mulai menganga sejak jabatan sopir, sekretaris junior, hingga 
staf administrasi. Paritas ini melebar agresif mulai dari jabatan penyelia, 
kepala biro, deputi dirjen, hingga dirjen. Di jabatan terakhir ini gaji pegawai 
swasta 10 kali lebih besar daripada gaji PN.

Meski demikian, data Sakernas (1998) sebagaimana dihitung Deon Filmer dan David 
L Lindauer (Does Indonesia Have a 'Low Pay' Civil Service? BIES, 2001) memberi 
gambaran lain. PN berlatar pendidikan SD-SMA lebih makmur ketimbang rekannya di 
swasta meski situasi terbalik terjadi pada pegawai dengan latar belakang 
pendidikan tinggi. Jadi, dari hampir 28.000 sampel Sakernas, rata-rata PN 
bergaji lebih tinggi daripada pegawai swasta dengan rasio 1:0,7.

Pengujian model ekonometrika atas kesimpulan ini memberi impresi serupa. 
Sementara itu, pengujian model yang sama dengan data Susenas (1999) juga sampai 
pada narasi kembar: PN bernasib lebih baik dari rata-rata hampir dan 55.000 
sampel Susenas se-Indonesia.

Jelas ada beberapa catatan dari mixed evidence itu-misalnya keterbaruan data, 
honor tambahan dari pelbagai kegiatan, dan fasilitas bagi pejabat-tetapi kita 
masih bisa merangkainya menjadi satu cerita.

PN memang lebih beruntung ketimbang masyarakat Indonesia umumnya. Gajinya tak 
cukup untuk menanggung beban pengeluaran dan jauh tertinggal ketimbang gaji 
pegawai swasta MNC. Dari sini diperoleh dua pembanding gaji PN: biaya hidup dan 
gaji di sektor swasta.

"Fair wage" atau "efficiency wage"?

Biaya hidup belum dijadikan pembanding dalam penetapan gaji PN. Kesan yang kuat 
mengemuka, gaji pegawai melulu disandarkan pada kalkulasi beban belanja dan 
dampak APBN. Dalam dua APBN terakhir, belanja pegawai memakan sekitar 20 persen 
total belanja. Kalau ia drastis dipompa, akan terjadi kompetisi belanja dengan 
sektor lain.

Dilema lain yang juga mencuat ialah announcement effect, muncul pada inflasi, 
yang boleh jadi lebih besar daripada efek kenaikan permintaan riil atas barang 
dan jasa akibat kenaikan gaji. Sudah lazim, harga-harga merangkak lebih dulu, 
sementara kenaikan gaji baru diumumkan. Announcement effect juga perlu 
perhatian secara serius. Hal serupa terjadi saat ada permintaan tambahan akibat 
kenaikan gaji.

Namun, itu bukan tak bisa disiasati mengingat fenomena semacam ini selalu 
terjadi menjelang hari raya. Pada hari raya seluruh pegawai mendapat pendapatan 
ekstra, ini pun telah diketahui umum. Di saat itu selalu ada lonjakan 
permintaan barang dan jasa. Pemerintah biasanya lihai menghadapi situasi 
seperti ini: ketersediaan dijamin, transportasi barang dipantau, operasi pasar 
dijalankan, sidak pun dilakukan. Artinya, supply dipastikan bisa mengimbangi 
demand. Cara ini efektif menekan harga agar tak lepas melambung. Karena itu, 
cara sama dapat pula dipakai bila pemerintah hendak menaikkan gaji pegawai. 
Dampak inflasi harus menjadi alarm bagi pemerintah, karena ia gemar memukul 
mereka yang berpendapatan tetap dan miskin.

Dalam biaya hidup, pemerintah tampaknya perlu melebarkan perspektif. Selain 
dampak makro APBN, kalkulasi besaran gaji juga perlu memperhitungkan aspek 
mikro biaya hidup pegawai. Barangkali Sakernas dan Susenas terdekat-atau survei 
khusus untuk itu-dapat dipakai untuk mendapat besaran pengeluaran rumah tangga 
pegawai. Jika ini terjadi, PN akan mendapatkan fair wage level. Dalam 
kalkulasinya, fair wage tidak hanya mencakup kebutuhan dasar, tetapi juga ada 
porsi tertentu yang dapat ditabung untuk jangka panjang. Dari sudut APBN, fair 
wage lebih murah daripada efficiency wage karena efficiency wage mematok 
tingkat gaji yang tinggi, lebih tinggi daripada harga pasar.

Pertanyaan berikut, jika gaji dinaikkan apakah korupsi menurun? Sayang, kita 
belum dapat mengonfirmasi pertanyaan ini untuk kasus Indonesia. Tetapi, studi 
mengenai 20-30 negara berkembang dalam bentang 20 tahun (van Rijckeghem dan 
Wede, Kertas Kerja IMF 97/73) memberi sinyal tegas mengenai hubungan itu.

Dari pelbagai variasi modelnya, mereka menemukan gaji PN yang rendah-relatif 
terhadap gaji di manufaktur-merupakan determinan penting bagi terjadinya 
korupsi. Hasil ini nyata dan robust tetapi hanya dalam spesifikasi between 
(lintas-negara) sebab tidak cukup bukti ditemukan dalam spesifikasi within 
(lintas-waktu). Kata lainnya, efek kenaikan gaji terhadap penurunan korupsi 
baru terasa dalam jangka panjang; tidak contemporaneous. Selain itu, studi ini 
juga menyaratkan adanya sistem cegah-tangkal yang mampu meningkatkan 
probabilitas deteksi atas korupsi. Syarat ini amat vital bagi model fair wage.

Akhirnya, menarik merenungkan pepetah tua China, yang di abad VII dituturkan 
Wei Zheng, orang kedua di kekaisaran Tang Taizhong dinasti Tang Dynasty. 
Katanya, "Shui Ke Zai Zhou, Yi Ke Fu Zhou". 'Air memang dapat mengapungkan 
perahu, tapi ia dapat juga menenggelamkannya'.

Harry Seldadyo Mahasiswa PhD Program Ekonomi-Politik di Rijkuniversiteit 
Groningen, Belanda


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke