MEDIA iNDONESIA
Jum'at, 17 Juni 2005
Orde Balita Plus-Minus
Toeti Adhitama, Ketua Dewan Redaksi Media Group
INGAT tayangan-tayangan tentang kelaparan di Ethiopia? Siapa mengira, sekarang
pun kita sama, kaya akan tayangan-tayangan serupa: anak-anak kurus kering,
dengan mata melotot dan wajah cekung. Seandainya tayangan seperti itu lolos ke
pasar media internasional, bayangkan apa kesan mereka tentang negeri ini.
Sarang teroris, sarang korupsi, dan sarang kelaparan. Kita umumnya tahu apa
dampak negatifnya.
Bahwa kita menyadarinya, sudah pasti. Setiap kali Media Indonesia membedah
editorial dengan topik korupsi, terorisme, atau kasus paling akhir: busung
lapar, bukan makin perhatian pemirsa. Ada komentar pemirsa tentang editorial
busung lapar yang membuat kami berpikir ke belakang. Misalnya, ada yang
bertanya, berapa lama prosesnya sebelum akibat penyakit itu terlihat dengan
kasat mata? Bulanan, atau sampai tahunan? Menurut dr Samuel Oetoro, ahli gizi,
banyak faktor yang mempengaruhi. Kekurangan makanan bergizi, terutama yang
mengandung protein, membuat anak mudah terinfeksi. Dalam kondisi demikian,
penyakit busung sangat cepat prosesnya. Bisa hanya beberapa bulan. Ini umumnya
akibat kemiskinan. Tetapi bisa juga karena orangtua tidak mengerti soal gizi,
walaupun dia tidak miskin.
Melihat lebih jauh ke belakang, musibah itu besar kemungkinan akibat kemiskinan
berlarut-larut selama beberapa tahun. Ini mungkin saja timbul setelah Orde Baru
lengser, berarti terjadi dalam orde di bawah lima tahun plus-minus. Masalah
pangan dan gizi rakyat terabaikan karena elite politik di masa reformasi sibuk
dengan program kelompok masing-masing untuk memenangkan pemilu.
Dulu ada sekitar 250-300 ribu Posyandu tersebar di seluruh Indonesia. Mereka
aktif menjadi ujung tombak yang mencermati situasi kesehatan masyarakat. Maka
kalau di masa Orde Baru kita tidak pernah mendengar tentang busung lapar, saya
rasa karena masalah pangan rakyat jelata dicermati. Mungkin, seandainya terjadi
komunikasi antara tokoh-tokoh pimpinan Orde Baru dan Orde Reformasi, para
pemimpin Orde Baru akan mengatakan, paling tidak, mereka mengusahakan
swasembada beras demi kepentingan rakyat miskin. Analoginya, sekarang ini kita
ibarat tikus mati di lumbung padi. Daerah yang dikenal sebagai lumbung,
tiba-tiba dilanda musibah kelaparan. Bahwa kita pernah mendapat puja-puji
karena berhasil mencapai swasembada beras, rasanya itu hanya mimpi.
Banyak program masa lampau yang sebenarnya masih kita butuhkan sampai sekarang.
Sayangnya, sebagian di antara kita alergi tentang apa pun yang ada kaitannya
dengan Orde Baru. Sudah paranoid. Sekarang ini banyak orang menjadi parvenu,
terlalu cepat terangkat status sosialnya untuk menggantikan posisi orang-orang
Orde Baru. Perkembangan ini yang mungkin membuat mereka kurang jeli melihat apa
yang terjadi di akar rumput.
Setelah sekian lama dibawahi kekuasaan otoriter yang sentralistik --dalam
pengertian semua-mua tergantung pada presiden waktu itu-- kebebasan memang
terasa amat nikmat. Hampir sama situasinya dengan setelah proklamasi
kemerdekaan. Dilihat dari sudut penghidupan rakyat, situasi waktu itu
hiruk-pikuk. Repot tetapi tidak terarah, khususnya di bidang ekonomi. Banyak
yang kemudian mengimpikan "zaman normal", artinya masa penjajahan. Sekarang
terjadi situasi serupa. Euphoria kebebasan membuat orang seolah bebas melakukan
apa pun. Lupa bahwa demokrasi bukan hanya hak, tetapi yang lebih penting adalah
kewajiban. Jangan heran kalau banyak yang merindukan masa Orde Baru, terutama
di kalangan rakyat jelata, yang tidak terlalu memahami arti kebebasan karena
mereka terbelenggu oleh kemiskinan.
Di zaman revolusi, banyak siswa sekolah menengah-atas menjadi drop-out karena
angkatan muda waktu itu ikut dalam perjuangan kemerdekaan. Untungnya mereka
terselamatkan oleh program-program pendidikan yang khusus disediakan bagi
mereka. Begitu pula situasi setelah malari. Demo-demo yang marak waktu itu
membuat anak-anak muda merasakan kenikmatan kebebasan, lupa pelajaran atau
pendidikan. Maka sekarang kita perlu cemas, jangan-jangan angkatan muda yang
menikmati euphoria demokrasi setelah masa otoriter, yang mengadakan berbagai
demonstrasi tanpa henti, akan melupakan juga peran mereka sebagai mahasiswa.
Sayang kalau sebagian kemudian akan jatuh menjadi drop-out.
Yang ingin ditegaskan dalam tulisan ini, tuntutan sistem demokrasi terbukti
lebih berat. Tanggung jawab kelancaran kehidupan dan penghidupan bukan hanya
dipikul oleh pemerintahan pusat, tetapi juga akan dipikul pemerintahan daerah,
dan bahkan oleh setiap lapisan masyarakat. Itulah arti pemilihan-pemilihan
langsung yang sudah terjadi dan akan terus terjadi sesuai spirit reformasi.
Maka seruan-seruan agar pemerintah pusat harus begini atau begitu, tidak sesuai
lagi dengan zaman. Untuk bidang-bidang tertentu, memang. Tetapi tidak untuk
semua-mua seperti di bawah kekuasaan pemerintahan otoriter yang sentralistik.
Maka menghadapi kasus-kasus seperti korupsi, terorisme, dan busung lapar
--antara lain-- semua bertanggung jawab. Tidak akan terjadi teror kalau tiap
rumahtangga, RT maupun RW yakin tidak ada teroris di lingkungannya. Begitu juga
dengan korupsi dan kelaparan. Pengaturan lebih lanjut akan dilakukan oleh
pemerintah, tetapi itu pun tidak lagi sentralistik. Dengan hasil-hasil Pilkada,
tahun depan akan terjadi desentralisasi tugas pemerintahan. Apakah kita sudah
siap untuk itu, mungkin masih akan perlu waktu. Sampai kapan? Tergantung pada
tingkat pendidikan masyarakat, khususnya pendidikan politik. Dan, tentu saja,
juga tergantung pada gencar tidaknya penerangan untuk semua lapisan
masyarakat.***
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/