--- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> --- In [email protected], "Lina Dahlan" <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> > Lina:
> > Karena manusia BELUM mampu menentukannya sendiri, tentu saja dia
> > menjadi TIDAK bisa berkehendak lain. Dia disebut anak pemulung,
> > karena memang bapaknya seorang pemulung. Itu memang tak bisa
diubah > > bukan? meski kemudian dia menjadi seorang Presiden
kemudian, tetap > > saja bapaknya pemulung.
>
> DH: manusia terdiri dari roh dan jasad. Dalam kombinasi dengan
jasad, > memang si jabang bayi itu masih belum berkehendak. Namun,
roh itu, > menurut pandangan sebagian falsafah (Auguste Compte,
dll) sudah ada, > dan sudah selalu dewasa. Roh disini tidaklah just
created waktu > dikandungan. memang, dalam Kreistiani juga diimani,
bahwa dengan > kehamilan, hidup yang baru, muncul. Tetapi ini
dimaksudkan pasti > hidup dari roh + jasad yang bernama si Aminah
atau Jalaludin. > kematian juga mengakhiri hayat si manusia tertentu
itu, namun tak > mengkahiri existensi sang roh.
LD:
Wah berat..berat...ngomong soal roh. Tadinya ngomong soal anak yang
bapaknya pemulung. Nanti ada penampakan...:-) Kita gak usah
ngomongin roh yang berkehendak deh Mbah. Urusan roh itu urusan
Tuhan, kita cuma dikasih tau dikiiiit aja. Kita omongin manusia
dewasa aja yang dah bisa berkehendak menurut akalnya (itu kali
maksudnya akil baligh). Saya bisa sepakat kalau dikatakan kematian
(didunia toh?)itu hanya jasad yang mati, roh kembali ke alamnya,
alam roh deh.
>
> Kalau kita berangkat dari titik tolak, bahwa sang Pencipta
> menghendaki nasib yang sama dari semua makhlukNya yang
dikasihiNya, > maka seharusnya semua manusia ber-kans yang sama.
Menurut saya sih, faktanya "nasib" orang gak sama. Jadi, Sang
Pencipta memang tidak menghendaki nasib yang sama kepada semua
manusia agar manusia bisa belajar dari keberagaman nasib...:-).Sang
Pencipta menginginkan kebaikan yang sama kepada semua mahluknya.
Banyak disediakan nasib (ini sunatullah/takdirullah), tinggal
manusia milih mau yang mana. Tapi manusia gak usah bersedih hati,
apapun nasibnya kalau manusia itu taqwa, he..he...itu yang
membedakan di mata Tuhan kan?
>
> >
> > Saya teringat ada hadist yang mengatakan,"semua manusia terlahir
> > suci, namun ortunya lah yang menjadikannya Islam, Kafir, atau
> > Majusi" (cmiiw)...Sangat berat ya menjadi ortu itu ya?
> > >
>
> DH: Seberapa besarkah pengaruh ortu dalam hal ini? Ingatlah,
sampai > akhir abad ke XV leluhur kita, anda dan saya dan teman
teman disini, > ortu bin ortu bin ortu, adalah Buddha. Tetapi dengan
perkembangan > sejarah, sebagian memeluk agama baru yakni Islam,
yang lain menjadi > Katholik. Jadi, pasti bukan sang ortu yang
mempengaruhinya.
Sangat besar. Ortu kita membiarkan kita (ketika kita masih belum
akil baligh) terpengaruh oleh perkembangan dan perkembangan...:-)
>
>
> > Lina: Mati sudah ditakdirkan: artinya kadar hidupnya udah sampe
> situ > > saja. Sunatullah mengatakan kalo kamu perampok, kamu akan
mati:> > a) dipenjara, b) digantung, c)... d)...Kalo kamu mau
merubah, rubah > > lah jangan jadi perampok...
>
> DH: Bagaimana dengan manusia yang masih muda, kemudian bunuh diri.
> Sudah sampai ajalnya? Bukankah kemauannya sendiri yang
memperpendek > ajal ini? Sebaliknya, manusia yang bertahun dalam
keadaan koma, > praktis sudah mati suri. Bilamanakah ajal itu?
Ketika dia benar benar > mati, atau sejak dia tak lagi hidup normal?
> Bagaimana dengan kematian yang ditunda dengan obat obatan dan
mesin > mesin pernapasan dll?
Lina: ya gak bagaimana-bagaimana..itu cuma cara matinya aja yang
jadi pilihan manusia. Tuhan cuma nentuin umur sampeyan cuma 17tahun
(ini takdir/kadar). Kalo sampeyan gak belajar agama dengan benar,
sampeyan akan mudah frustasi menghadapi kegagalan (Ini sunatullah).
Ajal itu kalau orang udah bener-bener mati. Kematian yang ditunda
dengan obat2an or mesin, cuma buang-buang duit. Berobat untuk sembuh
dari penyakit bukan menunda kematian. Mungkin, masalahnya
Mbah...siapa yang bisa menentukan bahwa pasien ini udah mati apa
masih koma. Siapa yang bisa menentukan berapa besar kesempatan hidup
bagi yang koma tsb?
>
> > Lina:
> > Takdir yang bisa dirubah...:-) karena sunatullah mengatakan kamu
> dah > > diberi otak untuk berfikir dan memilih. Seperti pengalaman
Umar bin > > Khattab itu,"aku menghindari takdir yang ini dan
memilih takdir > yang > > itu"...:-)
>
> DH: lalu siapa yang mampu mengubah takdir itu? lalu apakah exactly
> defini takdir menurut pak Umar bin Khattab?
Manusia mampu merubah takdir dengan ijin Sang Pemberi Takdir.
Masalahnya, manusia gak tau gimana takdirnya, makanya diperlukan doa
dan usaha. Saya belum pernah menemukan definisi Umar bin Khattab
tentang takdir, hanya mempelajari secuil sejarah hidup beliau kita
dapat mengerti bagaimana Umar ra memaknai takdir, diantara nya
seperti yang telah disinggung oleh eyang Quraish Shihab tsb.
>
> > Lina:
> > he..he...ini kembali ke soal jodoh (sayangnya cak huttaqi gak
bisa > > terima imil dari ppindia). Menghindari takdir yang A
memilih takdir > > yang B. Dahulunya sudah tertulis disono bahwa
takdir kamu, kalo > kamu > > kawin sama A kamu..akan begini. kalo
kamu kawin ama si B..kamu akan > > begono. Sayangnya kita tak bisa
ngintip takdir kita yang dah > ditulis > > disono.
>
> DH: ada paranormal yang sudah dapat meramal jauh jauh hari, bahwa
> pernikahan seseorang akan berakhir dini. Apakah paranormal ini
> telah "membaca" buku takdir?
Saya belum belajar ilmu paranormal. Tapi tak ada yang bisa "membaca"
buku takdir manusia. Pengalaman saya baca buku or majalah "mysteri"
sangat minim, meski pernah sesekali. Ini soal ghaib. Dunia ghaib
yang fantastis dan biarlah makhluk ghaib yang melakoninya. Masing-
masing mahluk ada daerah kekuasaannya. Jangan bersekongkol dengan
mahluk ghaib. Saling hormat aja..:-)
>
> >
> > Kalau orang bercerai, sering dikatakan begini,"memang cuma sampe
> > disini jodoh sampeyan sama dia"...:-)
>
> DH: Bagaimana dengan pasangan bercerai yang kembali lagi? Sampai
> kemana parameter dapat dihindari, agar perceraian tak terjadi?
Kalau > perceraian itu takdir, alangkah angkuhnya ajaran Katholik
yang > melarang perceraian. Melarang takdir?
wak..he..he..Perceraian itu takdir sama dengan pernikahan...(karena
ini jodoh)dalam arti Kalau kamu tidak bisa memperbaiki kehidupan
rumah tanggamu ada dua takdir: satu cerai, dua tetep dalam kehidupan
pernikahan yang pura-pura (ini takdir).
Parameternya bergantung masing-masing keimanan seseorang. Saya kira
ajaran Katholik yang melarang perceraian, sama saja dengan aturan
dalam Islam yang mempersulit proses perceraian di pengadilan.
Maksudnya baik agar bisa dirujukan kembali. Bedanya lagi, Katolik
sudah masuk dalam tataran Dogma/Ajaran, sedang Islam hanya pada
tataran aplikasi hukum manusia.
Mbah, bagaimana seseorang tidak boleh bercerai kalau sudah pasti
rumah tangga itu tidak membawa manfaat dalam kebaikan? Bagaimana
tidak boleh bercerai kalau seseorang mengalami seperti yang dialami
Nurafni Octavia, yang jadi sasaran tinju suami? Adakah hasrat
Nurafni untuk bermesraan kepada suami semacam itu? Haruskah Nurafni
berpura-pura pada publik? Ato Nurafni harus menunggu kematian
ditinju suami dilain waktu? Manusiawi kah ajaran yang melarang
perceraian?
wassalam,
> >
> > Eyang Shihab cuma bilang gini:
> >
> > Yang jelas, Nabi dan sahabat-sahabat utama beliau, tidak
> > pernah mempersoalkan takdir sebagaimana dilakukan oleh para
> > teolog itu. Mereka sepenuhnya yakin tentang takdir Allah
> > yang menyentuh semua makhluk termasuk manusia, tetapi
> > sedikit pun keyakinan ini tidak menghalangi mereka
> > menyingsingkan lengan baju, berjuang, dan kalau kalah
> > sedikit pun mereka tidak menimpakan kesalahan kepada Allah.
> > Sikap Nabi dan para sahabat tersebut lahir, karena mereka
> > tidak memahami ayat-ayat Al-Quran secara parsial: ayat demi
> > ayat, atau sepotong-sepotong terlepas dari konteksnya,
> > tetapi memahaminya secara utuh, sebagaimana diajarkan oleh
> > Rasulullah Saw.
> >
> DH: penjelasan sang eyang ini masih belum menjelaskan, apakah
takdir > itu sebenarnya. tak membahasnya tak berarti fenomena ini
tidak exist.
LD:
Sepengertian saya, takdir menurut eyang Quraish Shihab telah
dituliskan diawal kutipan eyang Qurasih sendiri dan telah dibahas
oleh eyang Quraish. Kalau Mbah tidak mengerti, bukan berarti
fenomena itu tidak eksist menurut eyang Quraish Shihab, tapi tidak
eksis menurut Mbah.
>
> Sebenarnya, hanya ada dua opsi: percaya bahwa semua telah
ditentukan > sebelumnya, macam pagar yang tak boleh dilangkahi. Atau
kita yakin, > bahwa kesemuanya itu adalah variabel, dapat diubah.
>
> Setengah ini, setengah itu, hanya menandakan kebingungan.
LD:
Ada takdir yang opsi pertama (hidup & mati) ada takdir yang opsi
kedua (jodoh, nasib..)
>
> Saya sendiri percaya, setelah mendekati kepala enam beberapa saat
> yang lalu, bahwa sang Pencipta telah menciptakan kita dengan
> kemampuan memilih apa yang akan terjadi dengan kita, dimana,
apapun > kita pilih, kita menanggung 100% konsewensinya. Juga dimana
kita > lahir, sebagai apa, dan bagaimana kita menemui ajal, adalah
rangkaian > rantai sebab akibat, yang tak terlepas dari apa yang
kita lakukan.
LD:
Itulah takdir/ukuran/batas dalam diri yang maksimal..kata eyang
QS...:-). Kalau anda begini, hasilnya begini. Kalu begitu, hasilnya
begitu (opsi kedua). Lalu bagaimana dengan kapan kita mati? kita tak
bisa pilih (opsi pertama). Semua namanya Takdir.
Inget lagunya Desi Ratnasari,"takdir memang kejam..."...:-)
wassalam,
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/