Dengan pendapatan minyak 700.000 barrel per hari, itu
berarti dgn harga minyak US$ 50 per barrel dalam
setahun didapat uang sebesar Rp 127 trilyun lebih!

Tapi karena dikelola perusahaan asing, pemda Bengkalis
hanya kebagian Rp 1,5 trilyun. Jika dibagi ke 1 juta
penduduk, tiap orang hanya dapat 1,5 juta. Kurang
layak untuk hidup. Akibatnya sebagian orang yang punya
kuasa bisa korupsi akibat "kue" tidak cukup. Cuma
"seupil", akibatnya minyak tersebut tak dapat
dinikmati oleh rakyatnya.

Sudah saatnya bangsa Indonesia mandiri dan mengelola
minyak sendiri. Sesungguhnya, minyak sudah dikelola
dari abad 19. Oleh karena itu, jika di abad 21 bangsa
Indonesia belum bisa mengelola minyak sendiri:
kebangetan.

Oleh karena itu, blok minyak Cepu sebaiknya diserahkan
ke Pertamina
--- Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> MEDIA INDONESIA
> Rabu, 22 Juni 2005
> 
> 
> Busung Lapar di Negeri Kaya Minyak
> 
> 
> KABUPATEN Bengkalis dikenal kaya sumber daya alam
> berupa minyak bumi. Letaknya yang strategis membuat
> Bengkalis menjadi incaran para saudagar di zaman
> Kerajaan Siak Sri Indrapura pada 1900. Kekayaan alam
> wilayah yang dijuluki Negeri Junjungan ini terkenal
> sampai ke mancanegara. Minyak yang mengalir di perut
> bumi Bengkalis menjadi sumber kehidupan bagi
> masyarakat setempat dan bangsa Indonesia.
> 
> PT Caltex Pasific Indonesia (CPI) yang beroperasi di
> Kecamatan Mandau, Bengkalis, mampu menyedot 700.000
> barel minyak setiap hari. Dengan kata lain, 70%
> produksi minyak nasional (1,3 juta barel per hari)
> berasal dari Riau. Dan, 90% produksi minyak Riau
> berasal dari Bengkalis.
> 
> Bengkalis disebut sebagai kabupaten terkaya kedua di
> Indonesia setelah Kutai Kartanegara. Bayangkan,
> Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
> Bengkalis 2005 mencapai Rp1,5 triliun. Sulit
> dibayangkan jika masih ditemukan penyakit busung
> lapar di wilayah tersebut.
> 
> Dinas Kesehatan (Diskes) Bengkalis mencatat dua
> balita menderita busung lapar di daerah ini. Kedua
> penderita itu ialah Nasir, 9 bulan, dan Syahrudin,
> 16 bulan. Nasir, anak kelima dari pasangan Kitan dan
> Asih, sempat dirawat satu minggu di Rumah Sakit Umum
> Daerah (RSUD) Bengkalis. Namun, orang tua Nasir
> membawa pulang anak mereka karena tidak punya dana
> untuk berobat.
> 
> Ketika dirawat di rumahnya di Desa Kelemantan,
> Kecamatan Bengkalis, berat badan Nasir terus menurun
> dari 7,2 kg menjadi 3,2 kg. Bocah malang tersebut
> kembali dibawa ke rumah sakit karena kesehatannya
> memburuk, Sabtu (11/6).
> 
> Kondisi serupa dialami Syahrudin, anak pasangan
> Giman dan Farida. Bocah asal Desa Sekodi, Kecamatan
> Bengkalis, itu berat badannya turun dari 8,8 kg
> menjadi 5,5 kg. Dia juga menderita penyakit
> paru-paru. Kondisi hidup keluarga mereka
> memprihatinkan. Ayah Nasir, Kitan, hanya seorang
> pembuat atap rumah dari daun rumbia, sedangkan ayah
> Syahrudin, Giman, seorang nelayan tradisional.
> 
> Menurut Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan Bengkalis
> Rita Puspa, kemiskinan merupakan faktor utama yang
> menyebabkan penyakit busung lapar di wilayahnya.
> Rita mengatakan penghasilan Nasir hanya Rp13.000
> sehari. Nasir menganyam daun rumbia lima hari dalam
> seminggu.
> 
> "Kadang kala keluarga miskin ini harus meminjam
> untuk makan di warung. Kondisi ini amat
> menyedihkan," kata Rita.
> 
> Pemangku Lembaga Adat Melayu Mandau, Bengkalis,
> Fachruddin Syarif, mengutarakan kasus busung lapar
> di negeri kaya minyak itu 'ibarat tikus mati di
> lumbung padi'. Dia memandang busung lapar muncul
> karena Pemerintah Kabupaten Bengkalis tidak
> konsisten melaksanakan otonomi daerah. Dia
> menyebutkan jumlah penduduk miskin di Bengkalis
> mencapai 47% dari total 659.061 jiwa. Fachruddin
> menilai selama ini penduduk miskin tidak mendapat
> perhatian serius. Buktinya, program ekonomi
> kerakyatan tidak berjalan. (Fitra Asrirama/Tony
> Hidayat/N-2)
> ++++
> MEDIA INDONESIA
> Rabu, 22 Juni 2005
> 
> 
> 
> Kemiskinan Merata, Busung Lapar Melanda
> 
> 
> PENYAKIT busung lapar serta gizi buruk ternyata juga
> melanda beberapa daerah di Provinsi Riau. Pemerintah
> setempat bahkan sudah menetapkan kejadian luar biasa
> (KLB) setelah ditemukannya tiga kasus busung lapar
> serta ribuan kasus balita kurang gizi.
> 
> Penyebab utama merebaknya penyakit busung lapar
> diperkirakan karena ratap kemiskinan serta kebodohan
> masih mendera. Data Dinas Kesehatan Riau menunjukkan
> tiga balita yang positif terserang penyakit busung
> lapar di wilayah Riau berada di Kabupaten Bengkalis
> dan Kota Pekanbaru.
> 
> Mereka ialah Nasir, 9 bulan, dan Syahruddin, 16
> bulan. Keduanya warga Desa Kelemantan dan Sekodi,
> Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis. Satu
> penderita busung lapar lainnya, Laura Mustika, 7
> bulan, warga Jl Tiung No 72, Kelurahan Tangkerang
> Tengah, Sukajadi, Pekanbaru.
> 
> Selain kasus busung lapar, dalam setahun terakhir
> juga ditemukan 11.918 bayi di bawah lima tahun
> (balita) menderita gizi buruk (2,1% dari total
> balita di Riau 567.545).
> 
> Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Riau Ekmal
> Rusdy, di Pekanbaru, kemarin, jumlah penderita gizi
> buruk secara nasional mencapai 27,5%. "Bayi
> menderita gizi buruk ditemukan di sembilan kabupaten
> dan dua kota di wilayah Riau. Sebagian besar
> penderita berada di Kabupaten Rokan Hilir," ujarnya.
> 
> Balita penderita gizi buruk hampir merata tersebar
> di seluruh daerah di Riau. Sejumlah daerah yang
> dinilai rawan dilanda gizi buruk dan busung lapar
> ialah Kabupaten Kampar, Indragiri Hulu, Indragiri
> Hilir Bengkalis, Rokan Hilir, Rokan Hulu, Kota
> Dumai, dan Pekanbaru. Kantong-kantong kemiskinan
> diperkirakan berada di wilayah tersebut, terutama
> masyarakat yang berada di bantaran sungai Siak,
> Indragiri, Rokan, dan Kampar.
> 
> Ekmal menambahkan, pada 2005 Pemerintah Provinsi
> (Pemprov) Riau menganggarkan dana perbaikan gizi
> sebesar Rp250 juta. Satu anak busung lapar mendapat
> bantuan Rp10 juta per tahun. Dana itu sudah
> disalurkan ke setiap rumah sakit yang menampung
> penderita busung lapar.
> 
> Status KLB
> 
> Gubernur Riau Rusli Zainal menyatakan status KLB
> sudah dilaporkan kepada Presiden Susilo Bambang
> Yudhoyono. "Satu anak menderita busung lapar, sudah
> bisa dinyatakan KLB. Penetapan status ini bertujuan
> memberikan pelayanan yang cepat," kata Rusli.
> 
> Rusli menjelaskan, penyakit busung lapar disebabkan
> kurangnya perhatian orang tua terhadap kebutuhan
> gizi anak. Selain itu, faktor rendahnya kualitas
> hidup. Rata-rata anak busung lapar berasal dari
> keluarga miskin yang tidak memiliki dana untuk
> berobat ke rumah sakit.
> 
> Pemerintah daerah, menurutnya, tidak perlu malu
> mengungkap kasus busung lapar. Dengan dibukanya
> kasus ini secara gamblang, pemerintah pusat justru
> memperoleh gambaran lebih lengkap sehingga bisa
> mengambil kebijakan untuk mengatasi.
> 
> "Kasus busung lapar bukan lagi problem daerah, tapi
> sudah menjadi persoalan nasional. Busung lapar tidak
> saja melanda daerah minus, juga kota besar,"
> tuturnya.
> 
> Guna mengantisipasi meluasnya busung lapar, Rusli
> meminta program pembinaan kesejahteraan keluarga
> (PKK), pekan imunisasi nasional, dan apotek hidup
> digalakkan lagi. Selain itu, mengaktifkan kembali
> gerakan orang tua asuh. Dalam mengatasi busung
> lapar, lanjutnya, keberadaan pos pelayanan terpadu
> (posyandu) sangat penting untuk memantau kondisi
> balita setiap bulan. Ia mengatakan, lembaga seperti
> itu sangat membantu memberi penyuluhan kepada
> masyarakat tentang hidup sehat.
> 
> Gubernur mengemukakan, setiap balita penderita
> busung lapar dan gizi buruk akan mendapat perawatan
> gratis, terutama yang disebabkan faktor kemiskinan.
> 
> Ketua Komisi E DPRD Riau Taufan Andoso Yakin
> menyerukan agar setiap dinas kesehatan tidak hanya
> melemparkan data soal gizi buruk serta kasus busung
> lapar yang melanda wilayahnya. Diskes juga diminta
> mencarikan solusi agar kasus busung lapar dan gizi
> buruk tidak meluas. (Fitra Asrirama/Tony Hidayat/N-
> 
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
> 
> 


Bacalah artikel tentang Islam di:
http://www.nizami.org


                
____________________________________________________ 
Yahoo! Sports 
Rekindle the Rivalries. Sign up for Fantasy Football 
http://football.fantasysports.yahoo.com


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke