Kesaksian sejarah yang harus diarsipkan

----- Original Message -----
From: "RM Danardono HADINOTO" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Wednesday, June 22, 2005 12:43 PM
Subject: [ppiindia] Re: Tertembak jatuhnya Allen Pope - pertempuran udara
diatas Morotai


--- In [email protected], Mas Bagong <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Matur Nuwun Mas Don,
> Memang sampai sekarang masih jadi masalah apakah yang nembak Alan
Pope
> pilot AURI atau ALRI, tetapi kalau memang ditembak dengan meriam
> bofors 40 mm (yang menjadi senjata standar RI Sawega) pesawat ini
> harusnya meledak karena efek kinetis ledakan meriam yang begitu
besar;
> kalau melihat cerita bahwa pesawatnya rusak sehingga mereka harus
> eject, maka kemungkinan bahwa pesawat ini ditembak dengan senjata
0.5
> inch senapan mesin standar P-51  lebih besar karena efek kinetis
> peluru ini lebih kecil dibandingkan peluru bofors 40 mm.
(kemungkinan
> peran Dewanto sengaja 'dikecilkan' sebagai efek persaingan antara AD
> dan AU serta AL).
> Anyway, memang waktu itu banyak sekali 'mercenary' yang bekerja
> sebagai freelance untuk berperang di daerah konflik termasuk di
> Indonesia.
> Tapi kok nggak disebut peran keluarga Aquino dan pemerintah
Philipina
> ya dalam pemberontakan PRRI-Permesta? Padahal B-26 tidak mungkin
> terbang ferry dari Taiwan langsung ke Mapanget atau Sanga-sanga
(dekat
> daerah Handil - Kutai sana).
> Tetapi saya angkat topi atas kehandalan BK dalam melakukan penukaran
> Pope dengan pesawat Hercules dan senjata 7 kargo untuk AD. Memang
> hebat beliau ini, sayangnya penggantinya tidak ada yang memiliki
> kemampuan diplomasi sehebat beliau...(sampai sekarang).
> DG
>
------------------------------

DH:

Mungkin kita dapat perdalam pengetahuan kita mengenai adegan
pertarungan udara ini, membaca kesaksian seorang saksi
sejarah,seorang pensiunan wartawan Antara:

Tertembaknya pembom B-26 yang diterbangkan agen CIA, Allan Pope, pada
masa pergolakan Permesta (1958), masih diselimuti tabir. TNI AU
bersikeras, pesawat tersebut rontok dihajar Mustang yang diterbangkan
pilot Ignatius Dewanto.

Dua Maret 1957, Permesta (Perjuangan Semesta) diproklamasikan di
Makassar dengan dukungan 50 orang tokoh militer dan sipil Indonesia
Bagian Timur. Berbarengan dengan proklamasi Permesta, Letkol H.N.
Ventje Sumual, Panglima Tentara dan Teritorium VII/Indonesia Timur
(TT/VII) Wirabuana menyatakan seluruh wilayah TT-VII dalam keadaan
darurat perang serta berlakunya Pemerintahan Militer.

Perundingan-perundingan yang dilakukan antara pemerintah pusat yang
dalam hal ini Presiden Soekarno dengan Permesta serta Dewan Banteng
(PRRI) di Sumatera tidak mampu menyelesaikan rasa ketidakpuasan
daerah-daerah bergolak terhadap kebijaksanaan Pusat yang dianggap
sangat merugikan kepentingan (pembangunan) daerah.

Dengan dukungan Amerika Serikat (AS) awal tahun 1958, tidak kurang 10
pesawat pembom-tempur plus para penerbang bayarannya muncul di
wilayah Sulawesi Utara dengan mengambil basis lapangan terbang
Mapanget (sekarang Bandara Sam Ratulangi), yang selanjutnya menjadi
inti kekuatan militer Permesta. Pada 13 April 1958, lapangan terbang
Mandai (sekarang Bandara Hasanuddin) Makassar dibom oleh Angkatan
Udara Revolusioner (Aurev) Permesta di bawah pimpinan Mayor Petit
Muharto. Menyusul Pelabuhan Donggala, Balikpapan, Ambon, Ternate, dan
tempat lainnya menjadi target gempuran. Kapal perang TNI AL RI
Hangtuah ­ satu dari empat korvet yang dihibahkan Belanda yang sedang
buang sauh di pelabuhan Balikpapan, dibom hingga kemudian tenggelam.

Pada 29 April 1958, satu batalion Permesta di bawah pimpinan Mayor
Nun Pantouw menduduki Morotai. Dari pulau kecil ini Nun Pantouw
menggeser pasukannya menyeberang ke Pulau Halmahera hingga menduduki
Jailolo yang berada di bagian tengah Halmahera. Melihat perkembangan
ini, Pangdam XV Pattimura Kolonel Herman Piters segera mengadakan
rapat khusus dengan seluruh staf inti Kodam. Dari Jakarta muncul
permintaan laporan situasi terakhir dari Kepala Staf Angkatan Darat
(KSAD) Jenderal AH Nasution, KSAL Laksamana Subyakto dan KSAU
Laksamana Suryadi Suryadarma. Laporan yang sama juga diberikan ke
istana atas permintaan Bung Karno.

Berdasarkan data yang diterima dari wilayah Indonesia bagian timur
inilah, segera disiapkan satu kekuatan pemukul untuk merebut kembali
Pulau Morotai secara khusus dan wilayah Indonesia bagian timur
umumnya yang telah dikuasai Permesta. Pulau Morotai sendiri sangat
strategis, dengan lapangan terbang yang terkenal sejak Perang Dunia
II. Morotai pernah diduduki pasukan AS di bawah komando Jenderal
Douglas Mac Arthur dalam "Operasi Lompat Kodok" pasukan Sekutu
sebelum menuju Tokyo pada PD II.

Pertengahan Mei 1958, satu armada yang didukung oleh beberapa kapal
perang, kapal pengangkut, dan penyapu ranjau, bergerak dari Pelabuhan
Halong, Ambon, menuju Morotai. Pada 18 Mei 1958 pagi ketika armada
sedang bergerak di luar Pulau Ambon, sebuah pesawat pembom Aurev B-26
Invader datang menyerang.

Letkol Herman Piters, komandan "Operasi Mena I" yang berada di atas
kapal pengangkut pasukan RI Sawega punya catatan sebagai
berikut: "Sekitar jam tujuh pagi 18 Mei 1958, saat kami sedang
bersiap-siap untuk makan pagi, sayup-sayup terdengar bunyi pesawat
terbang. Saya yang berada di atas kapal Sawega bersama Mayor Laut
Sudomo memerintahkan seluruh pasukan bersiap. Kapal-kapal perang yang
dilengkapi peralatan mutakhir (kala itu) bergerak cepat dalam formasi
tempur. Kapal pengangkut Sawega dijaga ketat. Berbarengan bunyi
pesawat terbang, saya lihat bintik-bintik datang dari balik awan.
Saya berteriak pesawat musuh pesawat musuh siap siap. Benar dugaan
saya. Dengan kecepatan tinggi, pesawat yang kemudian kami kenal
sebagai B-26 muncul sangat rendah.

Kedatangan pesawat yang tidak punya tanda-tanda itu kami sambut
dengan rentetan tembakan. Penangkis serangan udara yang ada di atas
kapal perang memuntahkan tembakan-tembakan gencar. Pertempuran udara
dan laut berkobar. Sebuah bom yang dijatuhkan dari B-26 meledak pada
jarak hanya kira-kira 50 meter dari buritan Sawega. Kapal berguncang.

Ketika B-26 akan menukik lagi untuk mengadakan serangan tiba-tiba,
saya lihat api mengepul di B-26. Terbakar! Dalam keadaan terbakar itu
nampak pesawat berusaha untuk naik dan membelok ke arah timur. Namun
tidak berhasil, malah jatuh ke laut. Dua parasut muncul dari dalam
pesawat yang sedang terbakar. Kami bersorak. Kedua parasut jatuh di
sebuah pulau kecil.

Saya bersama beberapa orang perwira dan prajurit KKO Marinir dengan
perahu karet bermotor menuju pulau tempat jatuhnya kedua parasut.
Kami temukan dua orang anak buah B-26 yang tertembak. Sesudah
diperiksa ternyata seorang berkebangsaan Amerika bernama Allan
Lawrence Pope dan seorang lagi berdasarkan dokumen yang dia bawa
bernama Pedro kelahiran Davao, Filipina, 1930 (dialah Harry Rantung,
kopral AURI di pangkalan Morotai yang kemudian bergabung dengan
Permesta).

Dokumen yang ada di tangan Pope disita. Namun sebuah dompet yang
berisi uang dan selembar foto (istrinya) dikembalikan. Dari dokumen
yang ada diketahui Pope punya kode 11 (sebelas) sebagai tentara
sewaan yang digerakan CIA (Central Intelligence Agency) untuk
mengacau Pasifik." Demikian penuturan Piters kepada penulis di Desa
Poka, Ambon, 28 Juni 1996.

Versi Rantung

Penuturan Piters ini ditambahkan oleh Harry Rantung dalam percakapan
dengan penulis yang secara tidak sengaja menemuinya di atas kapal
penumpang Arumarinir ­ kapal penumpang yang dicarter PT Pelni untuk
melayani rute Jakarta-Indonesia Timur pada 1963. Berikut
pengakuannya.

"Pada tanggal 15 Mei 1958 subuh, saya dan Allan Pope dengan B-26
terbang dari lapangan udara Mapanget. Sasaran utama Ambon. Ketika
memasuki pelabuhan Ambon, penangkis udara menyambut kedatangan kami.
Allan Pope yang punya pengalaman tempur sejak dari Perang Korea,
santai saja menuju sasaran. Sebuah bom dijatuhkan di lapangan
terbang. Tembakan senapan mesin diarahkan ke kubu-kubu pertahanan
yang tersebar di sekitar lapangan terbang dan pinggiran Kota Ambon.
Pertempuran jadi ramai. Pope tanpa ampun menghantam obyek-obyek
militer.

Saya, Rantung, sebagai operator radio melapor ke Manado (Markas
Permesta) tentang operasi yang sedang berlangsung di Ambon. Ketika
meninggalkan wilayah Ambon, cuaca cukup cerah. B-26 yang digunakan AS
pada PD II itu masih lincah. Ketika pesawat berada pada ketinggian
sekitar 10.000 kaki, Pope bicara kepada saya. "Bung, coba lihat arah
bawah, saya lihat ada titik-titik dalam jumlah cukup banyak. Dugaan
saya konvoi kapal," kata Pope. Apa yang dilihat dari ketinggian
10.000 kaki itu, kami laporkan ke Manado. Manado instruksi untuk
diteliti.

Atas instruksi Manado itu, Pope turun dari ketinggian 10.000 kaki.
Sampai pada ketinggian sekitar 4.000 kaki, jelaslah bagi kami bahwa
titik-titik itu adalah konvoi armada yang sedang melaju dalam
kecepatan tinggi menuju utara. Pope melaporkan lagi ke Manado bahwa
yang mereka lihat adalah satu konvoi armada kapal perang dan
pengangkut Republik Indonesia. Untuk itu dia minta instruksi Manado.
Hanya dalam waktu tidak cukup satu menit, datang instruksi dari
Manado yang meminta agar armada yang sedang bergerak ke arah utara
itu diserang.

Tanpa banyak komentar, Pope turun pada ketinggian hanya beberapa
meter di atas permukaan laut. Saat itu jelas terlihat kapal
pengangkut ukuran besar bernama Sawega penuh pasukan dan tank
pendarat (amfibi). Allan Pope dengan pengalaman tempur yang cukup,
langsung menukik dan menjatuhkan bom. Sasarannya Sawega. Namun
meleset hanya beberapa meter dari buritan kapal.

Berbarengan dengan jatuhnya bom, datang rentetan tembakan pengangkis
udara dari kapal-kapal perang yang mengawal Sawega. Saat itu saya
melapor ke Manado bahwa pertempuran sudah berkobar. "Kami sudah
menyerang dengan bom, tetapi sayang meleset," lapor saya ke Manado.

Sesudah menghamburkan peluru maut dari mulut pesawat ke atas geladak
kapal, Pope berputar dan naik pada satu ketinggian. Saat itu kami
merasa ada goncangan keras. "Kita kena tembak, pesawat terbakar,
segera lapor Manado," kata Pope.

Api berkobar di bagian ekor pesawat. Manado sudah menerima laporan
tentang tertembaknya B-26 itu dan menginstruksikan agar kami berusaha
untuk terbang ke arah Irian Barat. Dengan segala keahliannya, Pope
berusaha mengendalikan B-26. Pope berusaha untuk berputar dan naik.
Tetapi tidak bisa. Kobaran api semakin menjadi. Menghadapi situasi
yang sangat gawat, Pope memerintahkan saya untuk terjun. Kami jatuh
di sebuah pulau kecil. Paha Pope robek.

Dari pinggangnya Pope mencabut pistol dan menyerahkan kepada saya.
Kemudian dia membuka mulut, maksudnya agar saya tembak. No no, tolak
saya. Beberapa saat kemudian dua buah perahu karet merapat. Satu regu
Marinir langsung mengepung. Pope dan saya dibawa ke atas perahu
karet. Dalam pemeriksaan awal, saya mengaku bernama Pedro,
berkewarganegaraan Filipina. Akan tetapi saya tidak bisa
menyembunyikan samaran. Soalnya di atas Sawega kebetulan ada seorang
sersan AURI satu angkatan dengan saya di Morotai."

Dengan kondisi terluka di paha, Pope dinaikkan ke atas Sawega, lalu
didudukan. Kepada Piters, Pope meminta rokok dan wiski. "Kebetulan
saya punya satu kaleng rokok 555 dan sebotol wiski. Ketika
disodorkan, Pope tersenyum dan bilang, "Thanks." Saya ganti kemejanya
yang kotor dengan kemeja milik saya pribadi. Sesudah itu Pope geleng-
gelengkan kepalanya. Selalu saya unggul (dalam pertempuran udara),
kali ini Indonesia yang unggul," kata Piters menceritakan dialognya
dengan Pope.

Tertangkapnya Pope dilaporkan ke Jakarta. Tapi tidak segera diumumkan
dengan maksud untuk tetap menjaga kerahasiaan operasi di Morotai yang
masih dalam tahap penuntasan.

Allan Pope dijatuhi hukuman mati dan Rantung diganjar 15 tahun. Namun
pemerintah AS berusaha keras untuk menyelamatkan Pope. Jaksa Agung AS
Robert Kennedy diutus ke Jakarta menemui Presiden Soekarno. Dalam
kunjungannya, Kennedy membawa surat Presiden Dwight D. Eisenhower
yang isinya minta kebijaksanaan Soekarno agar Pope bisa bebas.
Disamping itu, istri Pope yang cantik diterbangkan dari AS untuk
secara khusus menghadap Bung Karno. Konon, Bung Karno menerima dengan
penuh keramahan. Kekaguman Bung Karno kepada wanita cantik,
dimanfaatkan AS untuk membujuk sang presiden.

Kata Rantung lagi, satu ketika menjelang subuh pada Februari 1962,
dia dan Pope yang dalam status terpidana didatangi beberapa anggota
CPM bersenjata lengkap. Keduanya diminta ikut. Pope diminta mengemasi
milik pribadinya, sedangkan Rantung diperintahkan ikut saja tanpa
perlu membawa apa-apa. Di luar penjara sudah menunggu sebuah panser.
Mereka naik, sesaat kemudian kendaraan melaju kencang ke arah yang
mereka tidak tahu. CPM tidak ngomong sepatah katapun. Rantung buka
mulut yang diarahkan ke Pope, "Kira-kira ada apa, ya?" Pope yang
terlihat tenang menjawab, "Saya tidak tahu, tapi saya kira mereka
tidak berani berbuat apa-apa kepada kita," kata Pope enteng karena
tahu pemerintahnya sudah mengirim utusan khusus.


Di Pulau Halmahera, Operasi Mena I (Mena berarti menang) di bawah
pimpinan Kapten Suptandar berhasil merebut kembali Jailolo dari
tangan Permesta. Jailolo merupakan kota cukup strategis di Halmahera
dengan lapangan terbangnya yang pernah digunakan oleh Jepang pada PD
II. Operasi tidak berjalan mulus. Medan terlalu berat hingga hampir
tidak ada samasekali hubungan darat.

Letnan Thom Nusi, mantan Komandan Baret Merat RMS (Republik Maluku
Selatan) yang memimpin satu kompi Pattimura Muda terlibat dalam
pertempuran sengit dengan pasukan Permesta yang bertahan di atas
bukit-bukit kecil di pinggiran timur laut Jailolo. Walau pasukan
Permesta dapat dipukul mundur hingga lari ke pedalaman Halmahera,
beberapa orang anggota Nusi terluka. Karena medan sangat berat Kapten
Suptandar, Komandan Operasi Mena I memutuskan naik kapal Bekaka
ukuran 100 ton untuk bertolak menuju Desa Ibu yang terletak di
pesisir barat Halmahera Tengah. Maksud Suptandar akan mengadakan
gempuran dengan memotong dari pantai Desa Ibu. Perhitungannya dari
Ibu untuk menjangkau pedalaman Halmahera lebih mudah. Akan tetapi
pasukan bergerak ke arah pedalaman, hingga pasukan Suptandar mendapat
perlawanan keras. Dua orang komandan peleton melapor bahwa medan
sangat berat.

Menghadapi medan yang sangat berat itu, Kapten Suptandar didampingi
beberapa orang staf dengan kapal Bekaka menuju Morotai yang telah
diduduki akhir Mei 1958. Tiba di Morotai, mereka langsung menuju
markas AURI. Di lapangan berjejer beberapa buah pesawat tempur P-51
Mustang (cocor merah) dan pembom PBY-5A Catalina. Dua penangkis
serangan udara terlihat siaga di ujung landasan. Namun yang
menimbulkan pertanyaan bagi saya, bendera setengah tiang berkibar di
depan markas pangkalan. Belakangan saya ketahui, pengibaran bendera
itu untuk menghormati tertembaknya P-51 yang diterbangkan Letnan
Udara I Nayarana Soesilo oleh gerilyawan Permesta yang masih tersisa
di sekitar landasan pada operasi udara 15 Mei 1958 yang dipimpin
Mayor Leo Wattimena.

Tiga orang berpangkat mayor udara menerima kami ­ Suptandar,
ajudannya, dan saya. Dua orang langsung saya kenali karena wajahnya
sering muncul di surat kabar. Mereka adalah Mayor (Pnb) Leo Wattimena
dan Mayor (Pnb) Omar Dhani. Yang seorang saya tidak kenal. Tapi
sepertinya penerbang Catalina. Ketiga penerbang itu masih muda, tegap
dan gagah.

Omar Dhani dan Leo Wattimena keduanya dikenal sebagai penerbang jet
pertama yang pernah mendapat pendidikan di Inggris. Di Morotai, Leo
dan Omar Dhani sebagai pimpinan dalam penyerangan ke kubu-kubu
pertahanan Permesta di Minahasa, Sulawesi Utara. Waktu Morotai masih
diduduki Permesta, Leo dan Omar Dhani merupakan penerbang-penerbang
yang punya misi khusus dalam operasi jarak jauh Ambon-Manado. Ketika
Morotai telah diduduki TNI, serangan udara Morotai-Manado lebih
diintensifkan. Kepada Leo dan Omar Dhani, Kapten Suptandar
membeberkan situasi terakhir di Pulau Halmahera, utamanya medan yang
sangat berat. Dilaporkan tentang pasukan Permesta yang telah berhasil
dipukul mundur sejak dari Desa Tauro dan Jailolo.

Dengan alasan medan yang sangat sulit, Suptandar minta bantuan AURI
untuk melumpuhkan pemusatan Permesta di pedalaman Halmahera. Leo dan
Omar Dhani pada prinsipnya siap membantu, sejauh memang menyangkut
keselamatan negara. Tetapi kata mereka, ada sedikit persyaratan yang
menghambat yaitu bahwa setiap operasi melalui udara perlu diketahui
oleh KSAU.

"Lalu bagaimana?" tanya Suptandar. Sesudah dipertimbangkan secara
matang oleh kedua perwira AURI itu, Leo berkata, "Baiklah, besok
sekitar jam sembilan pagi, sesudah saya dan Pak Omar Dhani kembali
dari operasi udara di Manado-Minahasa, kami akan singgah dan membantu
Anda dari udara," janji Leo. Perwira bertubuh gempal itu lalu meminta
peta pemusatan pasukan Permesta di sektor pedalaman Desa Ibu.
Suptandar membuat gambar Pulau Halmahera di atas secarik kertas. Ia
memberikan tanda-tanda khusus di pedalaman Desa Ibu. Gambarnya sangat
kasar dan hanya merupakan perkiraan. Leo dan Omar Dhani memperhatikan
peta buatan Suptandar, lalu mereka mengambil peta asli Halmahera.
Sesudah menatap beberapa menit, Leo mengangguk. "Oke oke bisa, bisa.
Pak Suptandar siap-siap saja di sana besok pagi," kata Leo.

Kami segera pamit. Dapat oleh-oleh dua kaleng biskuit. Kapal Bekaka
sebagai kapal komandan kembali melaju menuju perairan Ibu. Pagi-pagi
Suptandar telah menyatu dengan pasukan induknya di pesisir pantai
Desa Ibu. Kapal-kapal pengangkut pasukan berjejer pada jarak sekitar
200 meter dari tepi pantai. Suptandar memberitahukan kepada seluruh
pasukannya bahwa pagi itu akan datang dua buah pesawat Mustang AURI
untuk membantu memberikan tembakan dari udara.

Beberapa menit menjelang jam sembilan pagi, muncul dari arah barat
dua buah pesawat Mustang yang terbang rendah hampir rata dengan
permukaan laut (on the deck). Mendekati Desa Ibu, kedua pesawat
terbang meninggi dan kemudian membuat dua kali putaran. Keduanya
mengelilingi empat kapal pengangkut yang sedang berlabuh. Sebuah dari
Mustang itu seakan-akan menari, merendah turun naik di atas permukaan
laut. Sesudah itu keduanya terbang tinggi menghilang ke arah timur
menuju pedalaman Halmahera. Beberapa menit kemudian terdengar
berondongan peluru maut dimuntahkan dari kedua pesawat Mustang.
Kemudian kedua Mustang muncul lagi, merendah, berayun-ayun, seakan-
akan menyampaikan selamat bertempur kepada seluruh pasukan yang ada
di Desa Ibu.

Beberapa hari kemudian, Radio Australia yang cukup populer di Maluku
menyiarkan berita tentang munculnya Mayor Nun Pantouw dan pasukannya
di Irian Barat yang waktu itu masih dijajah Belanda. Penduduk Desa
Kao (Teluk Kao) dan Desa Maba di pesisir timur Pulau Halmahera
sebagai saksi mata mengatakan, pasukan Permesta turun dari hutan
Halmahera tengah menuju Teluk Kao. Dengan perahu-perahu kecil mereka
menyeberangi Teluk Kao, untuk selanjutnya memotong gunung tiba di
Desa Maba. Dari Maba dengan menggunakan perahu menyeberang ke Irian
Barat.
-----------------

Demikianlah secarik lembaran sejarah. Saya masih duduk di SMP kala
itu, dan mengikuti tiap berita pertempuran dengan seksama. Maklum ini
pertempuran besar pertama setelah usai Revolusi.

Salam

Danardono





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links




DISCLAIMER: The information contained in this communication is intended solely 
for the use of the individual or entity to whom it is addressed and others 
authorized to receive it. It may contain confidential, legally privileged 
information or otherwise protected by law from disclosure and is intended 
solely for the use of the addressee. If you are not the intended recipient you 
are hereby notified that any disclosure, copying, distribution or taking any 
action in reliance on the contents of this information is strictly prohibited 
and may be unlawful. Unless otherwise specifically stated by the sender, any 
documents or views presented are solely those of the sender and do not 
constitute official documents or views of  PT Apexindo Pratama Duta Tbk. If you 
received this email in error, please immediately notify the sender or our email 
administrator at [EMAIL PROTECTED] and delete it from your system. Thank you.




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke