http://www.suarapembaruan.com/News/2005/06/22/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY
Muntaber di Tangerang Dinyatakan KLB
Pembaruan/Alex Suban
PENDERITA MUNTABER - Sekitar 24 anak yang menderita penyakit muntaber dirawat
di Puskesmas Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (22/6).
Hingga saat ini, penyakit tersebut telah merenggut sedikitnya 17 nyawa di tiga
kecamatan, yakni Kecamatan Sepatan, Kecamatan Pakuhaji dan Kecamatan Sukadiri.
TANGERANG - Jumlah penderita muntah berak (muntaber) di Kabupaten Tangerang,
Banten, bertambah. Hingga Rabu (22/6) tenaga kesehatan di Puskesmas Sepatan,
Pakuhaji, dan Kedaung Barat, Tangerang, masih sibuk menerima pasien baru.
Berdasarkan data dari Depkes, kasus muntaber di Tangerang 362. Serangan
muntaber ini sudah dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Menko Kesra
Alwi Shihab Rabu pagi mengunjungi penderita muntaber di Puskesmas Sepatan dan
Pakuhaji. Alwi meminta pemda setempat mengantisipasi penyakit ini, sehingga
jumlah korban bisa ditekan.
Alwi Shihab berkali-kali meminta wabah muntaber ini dijadikan pelajaran dan
pemda introspeksi untuk lebih meningkatkan pelayanan terutama mencegah
muntaber. Ia juga meminta aparat setempat lebih waspada serta memperbanyak
penyuluhan akan arti pentingnya kebersihan.
Jumlah korban meninggal akibat muntaber di Kecamatan Sepatan tercatat 17 orang.
Sedang menurut sumber lain jumlah yang meninggal 20 orang, umumnya anak-anak
berusia di bawah lima tahun (balita).
Lamban
Beberapa warga yang dihubungi berpendapat Pemerintah Kabupaten Tangerang
dinilai lamban dalam menangani muntaber yang menyerang sejumlah kecamatan ini.
Penyakit ini sudah menyerang sejak 8 Juni lalu, namun hingga kini data yang
diperoleh masih simpang-siur. Dinkes setempat hanya menyebutkan jumlah korban
meninggal 13 orang, tetapi temuan di lapangan menunjukkan angkanya lebih besar.
Wartawan Pembaruan yang menyusuri sejumlah desa di Kecamatan Sepatan menemukan
nama-nama korban meninggal yang tidak tercantum dalam data yang dikeluarkan
Dinkes setempat seperti Musfi (4), warga Rawa Gempol, Desa Gempolsari, Hayadi
dan Arif, keduanya warga Kramat Pakuhaji.
Nama Musfi diberikan neneknya di kampung Kelor. Dia menyebutkan cucunya itu
meninggal hari Senin tanpa sempat dibawa ke rumah sakit karena kedua
orangtuanya tengah bekerja. Cucunya meninggal hanya beberapa jam setelah
terserang muntaber.
Masih terdapat sejumlah korban yang belum diketahui namanya, namun dipastikan
alamatnya juga tidak tercantum seperti dari Kampung Buaran Jatimulya.
Kepala Desa Kampung Kelor, Madrudin, menyebutkan, dia cukup kesulitan memantau
warganya yang terserang muntaber karena ada yang tidak melapor. "Kami sudah
minta setiap kepala dusun untuk melaporkan setiap kematian yang dicurigai
sebagai korban muntaber," ujar Madrudin. Perintah itu baru disampaikan Selasa
setelah diketahui korban terus berjatuhan dan mendapat perhatian banyak pihak.
Madrudin menyebutkan, warga kampung Kelor berjumlah 1.800 orang.
Diakuinya kondisi tempat tinggal korban umumnya tidak memiliki sanitasi baik
karena mereka sebagian adalah warga miskin yang mengandalkan penghidupannya
sebagai petani dan buruh.
Menurut dia, saat ini warganya sangat membutuhkan air bersih karena sumur
mereka telah tercemar dan sedang dalam proses kaporitisasi oleh Dinas Kesehatan
setempat. Selain air bersih warga juga membutuhkan obat-obatan.
Camat Sepatan Eddy Sumarna mengatakan, dia tidak mengetahui jika daerahnya
terserang wabah muntaber. "Saya kurang paham masalah kesehatan dan saya pikir
masih bisa ditanggulangi," ujarnya.
Dia juga mengaku belum mengetahui apakah jumlah korban meninggal yang cukup
banyak di daerahnya dapat disebut sebagai kejadian luar biasa. "Yang berobat ke
Sepatan itu bukan hanya warga sini, tapi dari kecamatan lain," katanya.
Kesan tidak mengetahui persis keadaan daerahnya sangat disesalkan oleh kalangan
DPRD Kabupaten Tangerang. Mereka meminta agar pemerintah setempat tanggap dan
segera menangani kasus muntaber ini.
'' Masa sudah 12 hari baru diketahui," ujar Ahmad Zaini, Ketua Fraksi Partai
Golkar, kepada wartawan, Selasa, saat mengunjungi Puskesmas Sepatan.
Menurut Zaini, dia merasa kecolongan dengan musibah yang kini menimpa ratusan
warga yang merupakan daerah pemilihannya itu.
"Semestinya Dinkes proaktif, sehingga penanganan dan pencegahan bisa dilakukan
lebih dini sebelum jatuh banyak korban," katanya.
Wakil Ketua Komisi A Ozi Saeroji mengatakan akan meminta kepada pemerintah
daerah untuk mengeluarkan dana tambahan atau dana taktis bagi korban muntaber.
"Semua korban harus mendapat pengobatan gratis baik di Puskesmas maupun rumah
sakit," kata Ozi.
Pemerintah Kabupaten Tangerang sendiri sudah menyatakan wabah muntaber di tiga
kecamatan, Sepatan, Pakuhaji, dan Sukadiri, sebagai kejadian luar biasa. "Ini
kejadian luar biasa karena hanya dalam waktu singkat menelan banyak korban dan
terjadi di banyak desa," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Dr
Bachtiar Oesman, Selasa.
362 Kasus
Jumlah kumulatif kasus muntaber di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, sejak
8 Juni lalu sebanyak 362. Penyebab muntaber belum bisa dipastikan karena masih
diperiksa.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen
Kesehatan dr I Nyoman Kandun MPH mengatakan di Jakarta, Rabu, penyebab muntaber
itu akan diketahui dua hari lagi. Sejak Selasa tenaga kesehatan dari Balai
Teknis Kesehatan Lingkungan (BTKL) sudah mengambil spesimen. Rabu pagi tenaga
kesehatan dari Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso juga turun
ke lokasi untuk mengambil spesimen dari penderita baru.
Dikatakan, berdasarkan gejala klinis di antaranya penderita yang tidak demam
dan diare terus-menerus maka kasus diare di Kabupaten Tangerang merupakan wabah
muntaber.
Menurut Nyoman, kematian karena muntaber disebabkan penanganannya terlambat
sehingga terjadi kekurangan cairan (dehidrasi). Bila ditangani dengan baik di
lapangan angka kematian karena muntaber kurang dari satu persen. Kecuali bila
penderita muntaber juga mengalami komplikasi. Dikatakan, keterlambatan
penanganan bisa berawal dari pihak keluarga yang tidak segera membawa penderita
ke Puskesmas. Sekarang di lokasi kejadian dibuka posko.
"Belum bisa dipastikan apakah penyebab muntaber itu bakteri kolera. Masih harus
menunggu hasil laboratorium," katanya.
Lebih jauh dikatakan, bila kasus muntaber tersebut adalah kolera maka hal itu
harus dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Penyakit ini berdampak
besar bagi dunia pariwisata. Turis tidak akan datang ke daerah yang terkena
wabah kolera. Kolera merupakan penyakit lama yang tidak bisa dieradikasi.
Namun, kasus penyakit ini bisa ditekan sehingga tidak menjadi wabah.
Dikatakan, selama warga buang air besar tidak di jamban dan di sembarang tempat
maka kasus kolera akan muncul. Pasalnya, bakteri penyebab penyakit ini, Vibrio
cholera, ada pada feses sehingga ketika seseorang buang air besar, tapi tidak
mencuci tangan dengan sabun maka bakteri tersebut mencemari makanan. Penularan
kolera bisa juga melalui air dan tanah. Bakteri ini juga bisa disebarkan lalat.
Masa inkubasi penyakit ini dalam hitungan jam sampai lima hari. Biasanya dua
sampai tiga hari. Pada kasus kolera yang tidak diobati kematian bisa terjadi
dalam beberapa jam dan tingkat kematian bisa mencapai 50 persen. (132/N-4)
--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 22/6/05
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/