Ambon <[EMAIL PROTECTED]> schrieb: .................................. DH: ya inilah yang menyebabkan, bahwa masyarakat tetap saja brgajulan, walau mengaku sangat beragama. Bahkan beragama dijadikan syarat untuk dinamakan manusia. Bukan dharma dan perilakunya. Kalimat dibwah ini benar benar patut kita rekam dalam sanubari. Tak ada gunanya memuja muja peran ibadah, kemurnian Kitab, keaslian ajaran agama, SELAMA perilaku manusia masih demikian menjijikkan. Salam danardono -----> Spanjang cara pandang sebagian besar masyarakat kita belum berubah dalam melihat kebenaran agama, maka selama itu pula, para pencari suaka di wilayah agama itu semakin bertambah jumlahnya. Dan, disadari atau tidak, pada saat itulah gejala disfungsi agama semakin bersemai di tengah-tengah masyarakat kita. Agama difungsikan bukan untuk memberi kedamaian dan rahmat bagi kemanusiaan. Tapi lebih condong dijadikan sebagai alat legitimasi untuk membenarkan dan untuk menutup-nutupi kesalahan. Karena itu tak salah jika muncul ungkapan "Beragama yes, korupsi yes!" Dengan menonjolkan citra keberagamaannya yang kuat secara kasatmata, dan bahkan diakui banyak kalangan, seseorang merasa tidak salah pada saat berbuat kesalahan. Uang hasil korupsi seolah-olah bisa di-laundry pada saat digunakan untuk ibadah haji. Bukankah ada pula doktrin yang mengatakan, perbuatan dosa itu bisa dihapus dengan kebajikan?
----------------- MEDIA INDONESIA Kamis, 23 Juni 2005 Beragama Yes! Korupsi Yes! Abd Rohim Ghazali, Direktur Eksekutif Maarif Institute, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah DALAM Islam, ada doktrin yang menegaskan, "jangan campur adukkan kebenaran dengan kebatilan"; "bila kebenaran sudah datang, kebatilan akan hilang alias tunggang-langgang". Di manakah letaknya kebenaran, di manakah bercokolnya kebatilan? Dan, apakah sekarang ini belum ada kebenaran sama sekali sehingga kebatilan korupsi semakin menjadi-jadi? Korupsi yang bersarang di lembaga-lembaga agama, terutama di tubuh Departemen Agama, telah menjungkirbalikkan logika formal kita. Menurut logika, dalam institusi tempat bersemainya doktrin kebenaran agama, seharusnya tak akan muncul kebatilan, atau minimal kebatilan akan tereduksi. Tetapi, ketika di ruang-ruang tempat kebenaran agama bergema itu justru bersemai kejahatan, lantas logika apa lagi yang bisa kita pakai memahami negeri ini. Tentu bukan logikanya yang salah, yang salah ialah cara kita memandang kebenaran. Kebenaran lebih sering dilihat hanya secara legal-formal, bukan secara substansial. Cara pandang seperti ini bahkan menemukan momentumnya sejalan dengan berseminya euforia demokrasi. Inilah salah satu kelemahan demokrasi, yakni terbukanya ruang bagi kemungkinan "pemaksaan kehendak" mayoritas terhadap minoritas. Formalisme beragama di negeri ini dianut oleh sebagian besar rakyat. Sementara substansialisasi nilai-nilai keberagamaan hanya diinginkan sebagian kecil saja--terutama dari kalangan cerdik pandai yang berwawasan luas. Survei yang beberapa waktu lalu dilakukan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, membuktikan bahwa formalisasi agama menjadi tuntutan sebagian besar warga masyarakat, meskipun formalisasi itu belum mengarah pada pembentukan negara Islam. Cara memandang kebenaran agama yang cenderung formalistik, telah memberikan wewenang kepada lembaga-lembaga formal keagamaan untuk mengelola kegiatan-kegiatan spiritual yang diharapkan mampu memperluas ruang batin kita dalam menerima kebenaran hakiki, yang kemudian diaktualisasikan dalam amalan-amalan kebajikan yang menyejukkan. Kegiatan spiritual seyogianya tak harus diberikan kewenangannya pada lembaga-lembaga formal keagamaan, karena hakikat kebenaran pada dasarnya bukan terletak pada balutan formal institusional. Dalam Islam, bukankah kita diajarkan untuk tidak mengukur derajat ketakwaan seseorang dari tampilannya, tapi dari amal kebajikannya. Kebenaran harus diambil, dari mana pun datangnya. Artinya, kebenaran agama yang hakiki bukan terletak pada balutan formalnya, melainkan pada kualitas substansinya. Agama menjadi suaka Maraknya korupsi di lembaga-lembaga keagamaan, terutama Depag, memang belum tentu disebabkan karena cara pandang kita yang keliru mengenai kebenaran agama. Tetapi, kalau kita cermati, cara pandang yang keliru itu, sangat potensial melahirkan gejala disfungsi agama. Karena kebenaran agama dianggap mutlak keberadaannya di lembaga-lembaga formal keagamaan, tidak jarang lembaga ini dijadikan suaka bagi mereka yang pandai melanggar dan memanipulasi kebenaran agama. Lembaga keagamaan dijadikan tameng untuk melindungi dirinya dari sorotan masyarakat. Supaya lebih meyakinkan, penampilan para pencari suaka kebenaran itu pun diatur, disesuaikan dengan "semangat Islam" misalnya dengan memakai kopiah, sorban, memelihara jenggot, dan tidak lupa menenteng tasbih. Di muka umum, jari-jemarinya cekatan menggeser biji tasbih satu per satu dengan mulut dikomat-kamitkan. Tutur katanya dihalus-haluskan. Lafal basmalah tak pernah lupa diucapkan pada saat memulai pekerjaan. Kata "Insya Allah" senantiasa meluncur dari mulutnya pada saat mengadakan perjanjian. Dan, ungkapan "demi Allah" dijadikan senjata pamungkas untuk menampik tuduhan-tuduhan miring yang dialamatkan pada dirinya. Sepanjang cara pandang sebagian besar masyarakat kita belum berubah dalam melihat kebenaran agama, maka selama itu pula, para pencari suaka di wilayah agama itu semakin bertambah jumlahnya. Dan, disadari atau tidak, pada saat itulah gejala disfungsi agama semakin bersemai di tengah-tengah masyarakat kita. Agama difungsikan bukan untuk memberi kedamaian dan rahmat bagi kemanusiaan. Tapi lebih condong dijadikan sebagai alat legitimasi untuk membenarkan dan untuk menutup-nutupi kesalahan. Karena itu tak salah jika muncul ungkapan "Beragama yes, korupsi yes!" Dengan menonjolkan citra keberagamaannya yang kuat secara kasatmata, dan bahkan diakui banyak kalangan, seseorang merasa tidak salah pada saat berbuat kesalahan. Uang hasil korupsi seolah-olah bisa di-laundry pada saat digunakan untuk ibadah haji. Bukankah ada pula doktrin yang mengatakan, perbuatan dosa itu bisa dihapus dengan kebajikan? Euforia pemberantasan korupsi Untungnya, demokratisasi, selain berdampak pada kuatnya tuntutan formalisasi agama, juga muncul tuntutan pemberantasan korupsi. Tuntutan yang terakhir ini bahkan mengalami euforia sehingga kadang kala kita sulit membedakan antara tuntutan dan kemarahan. Euforia ini bisa kita pahami karena akibat kejahatan korupsilah, negeri ini menjadi terpuruk. Karena korupsi, negara yang menyimpan kekayaan luar biasa (gemah ripah loh jinawi) ini sebagian penduduknya miskin, lapar, dan penyakitan. Karena korupsi, ada segelintir orang yang menikmati kekayaan negeri ini sementara sebagian besar yang lain berjuang antara hidup dan mati di tengah-tengah ancaman wabah penyakit dan kelaparan. Akibat busung lapar, sebagaimana dilansir sejumlah media massa, ada puluhan, atau bahkan ratusan anak-anak negeri ini meregang nyawa. Maka wajar belaka jika banyak orang yang marah kepada para koruptor. Pengungkapan korupsi Depag yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mudah-mudahan dapat membuka mata dan pikiran kita. Bahwa, di negeri ini tak ada satu pun wilayah yang imun dari korupsi, termasuk wilayah yang secara formal seharusnya mencerminkan kebenaran. Harapan kita, kasus korupsi Depag juga mampu mengubah pandangan kita tentang kebenaran agama. Kebenaran agama seyogianya tidak secara apriori diukur dari tampilan-tampilan formalitas. Dengan demikian, ada harapan gejala disfungsi agama bisa dihilangkan, atau minimalisasi. [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------- Yahoo! Groups Links To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. --------------------------------- Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

