Refleksi:  .

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/23/opini/1721047.htm

 
Belajar dari Prof Hasan Purbo
Hidup dari Sampah 

Oleh Emil Salim

TENGGOROKAN terasa masih tersumbat bila terkenang masyarakat Leuwigajah dan 
Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, meninggal akibat longsoran 
tumpukan sampah hasil penimbunan terbuka (open dumping).

Ingatan melayang ke 1980-an, saat Imelda Marcos, Menteri Lingkungan Hidup 
merangkap Gubernur Metropolitan Manila, dikecam keras karena membiarkan sampah 
menumpuk melalui sistem "penimbunan terbuka", lalu longsor memakan ribuan jiwa 
penduduk miskin.

BENCANA Manila menjadi peringatan bagi pemerintah kota untuk menghapus sistem 
penimbunan terbuka. Untuk mengganti penimbunan, Prof Hasan Purbo, Pemimpin 
Pusat Studi Lingkungan Hidup Institut Teknologi Bandung (PSLH ITB), 
mengembangkan gagasan "mendaur ulang sampah berbasis masyarakat".

Setiap kota besar pasti menghasilkan sampah dan memiliki pemulung miskin yang 
menggantungkan nafkahnya pada usaha mendaur ulang sampah. Hasan Purbo, pencinta 
lingkungan, berempati pada rakyat miskin. Karena itu, lahir gagasan memadukan 
pengelolaan sampah dan melibatkan pemulung guna meningkatkan pendapatan mereka 
dalam konsep "hidup dari sampah".

Prinsip pertama konsep ini adalah memberdayakan pemulung sebagai ujung tombak 
usaha daur ulang sampah untuk dijual ke pelapak yang memilah sampah menurut 
kegunaannya. Sampah terpilah dijual ke bandar yang mengolahnya menjadi biji 
pelet sebagai bahan baku pembuatan alat rumah tangga dan mainan anak-anak.

Pada tahun 1980-an, Pasar Rumput menjadi outlet barang-barang plastik buatan 
industri rumah kawasan Manggarai dari bahan baku plastik asal sampah. Piring, 
gelas, botol kecap, dan tempat sambal di warung dan penjual makanan kereta 
dorong banyak terbuat dari bahan baku plastik asal daur ulang sampah.

Ketika memberdayakan para pemulung mengelola sampah, terungkap kesulitan 
hubungan pemulung dengan penguasa dan pejabat lokal. Banyak pemulung tidak 
memiliki "kartu tanda penduduk (KTP)" sehingga dianggap bukan penduduk sah dan 
perlu diusir ke luar kota oleh aparat pemerintah kota dan polisi. Tanpa KTP 
mereka menjadi non-person, tanpa hak legal untuk memiliki tempat hunian sah 
bebas dari penggusuran. Sebagai non-person mereka juga tidak bisa menikah 
secara resmi di kantor agama.

Menyadari hal ini, Hasan Purbo dan kawan-kawan PSLH ITB membangun tempat hunian 
dengan lingkungan bersih sebagai domisili pemulung di Kampung Jati Dua, 
Kotamadya Bandung. Dengan alamat yang menetap diurus KTP pemulung. Dengan kartu 
ini, resmilah mereka menjadi warga Kota Bandung dan terbuka kemungkinan 
mengurus perkawinan resmi mereka. Sebanyak 100 pasang menikah secara bersamaan 
di hadapan penghulu kantor agama disaksikan Menteri Lingkungan Hidup, Wali Kota 
Bandung, dan Rektor Institut Teknologi Bandung dalam acara yang meriah murah.

Hubungan antara pemulung dan PSLH terjalin erat dalam kerja sama efektif 
menanggulangi sampah Kotamadya Bandung. Wali Kotamadya Bandung Ateng Wahyudi 
mendukung sepenuhnya usaha ini sehingga Bandung berhasil meraih Adipura Kota 
Terbersih di tahun 1980-an.

Prinsip kedua, menanggulangi sampah selagi volumenya masih kecil di tingkat 
RT/RW atau kelurahan. Sampah, seperti api. Selagi volumenya kecil, lebih mudah 
dikelola ketimbang menjadi besar yang sulit dikendalikan dan membawa bencana. 
Sampah terdiri dari bahan organis yang bisa diolah menjadi pupuk kompos dan 
bahan anorganis yang bisa didaur ulang para pemulung. Pengelolaan sampah lebih 
mudah saat volumenya masih kecil.

Ini membawa kita pada prinsip ketiga menanggulangi sampah dengan pendekatan 
"dari bawah" dalam merencanakan, melaksanakan, kontrol, dan evaluasi dengan 
semangat partisipatif merangsang masyarakat berperan serta secara aktif.

Adalah rumah tangga sendiri yang menghasilkan sampah dan kelak menderita jika 
sampah menumpuk busuk dan mengganggu kesehatan warga. Tetapi lebih dari ini, 
sampah bisa jadi uang bila dikelola dengan baik.

Prinsip keempat, memberi penghargaan dan pengakuan atas jerih payah anggota 
masyarakat yang terbukti berhasil mengelola sampah. Dinas-dinas pemerintahan 
tidak perlu mengerjakan pengelolaan sampahnya sendiri atau "memproyekkannya" 
pada swasta atas dasar komersial murni tanpa lebih dulu menjajaki kesediaan 
masyarakat untuk mengelolanya bersama swasta dan pemerintah. Tugas birokrat 
seyogianya menggunakan retribusi sampah untuk menciptakan iklim agar 
penanggulangan sampah menjadi gerakan masyarakat dengan kesadaran. Tumbuhnya 
kesadaran inilah yang sepatutnya pemerintah rangsang, kembangkan, dan hargai.

Prinsip kelima mengembangkan sanitary landfill, menimbun sampah di tanah yang 
berlekuk untuk ditutup dengan lapisan tanah. Ini dilakukan secara berulang dan 
membentuk "kue lapis" terdiri atas penimbunan sampah yang ditutup tanah. Tanah 
yang semula berlekuk menjadi rata oleh sanitary landfill sehingga harganya naik 
berlipat kali karena bisa dipakai untuk berbagai keperluan, seperti olahraga 
dan taman hijau. Pengelolaan sampah pun tumbuh menjadi "sentra keuntungan". 
Yang penting harus dijaga agar sampah tidak merusak lingkungan, merembes dan 
mencemari air tanah.

SEBUAH film dokumenter berjudul Hidup dari Sampah telah merekam usaha 
pengelolaan sampah oleh PSLH ITB. Pada tahun 1980-an, pola pendekatan 
pengelolaan sampah serupa itu berkembang di berbagai kota. Maka tercatat Linus 
Simandjuntak, Direktur Kebun Binatang Ragunan, berhasil menerapkan pola PSLH 
ITB mengelola sampah menjadi pupuk kompos di kebun binatangnya. Leuwigajah 
menjadi proyek percontohan Kabupaten Bandung untuk pembuatan pupuk kompos dari 
sampah dan pengembangan sanitary landfill.

Proyek percontohan serupa juga dikembangkan di Surabaya, yang merebut Adipura 
Kota Terbersih. Central Policy and Implementation Studies Jakarta, dipimpin 
pelaksana proyek Darwina (kini memimpin Yayasan Pembangunan Berkelanjutan) 
mengembangkan pengelolaan sampah untuk Bumi Serpong. Yayasan Dian Desa 
Yogjakarta dipimpin Anton Sopedjarwo mengembangkan proyek pengomposan sampah 
untuk Kabupaten Bantul. Dalam melaksanakan program Pembinaan Kesejahteraan 
Keluarga (PKK), di bawah pimpinan Ibu Munadi dan Ibu Soepardjo Roestam, 
melibatkan ibu-ibu di RT, RW, dan kelurahan di seluruh Tanah Air ikut mengelola 
kebersihan lingkungan.

Salah satu ibu yang menonjol adalah Ibu Harini, pemimpin PKK RW Banjarsari, 
Cilandak Barat, Jakarta Selatan, dan pemimpin pos pelayanan kesehatan terpadu 
(posyandu), yang melatih dan mendorong mahasiswa dan anggota berbagai kelompok 
masyarakat madani aktif mengelola sampah berbasis masyarakat. Ibu Harini juga 
memelopori pengembangan "tanaman obat keluarga" di halaman rumah kawasan RW 
Banjarsari. Gubernur Jambi Sofwan Maskun saat lalu juga aktif mendorong 
kebersihan kota dan daerah Jambi. Tiap rumah dan pengusaha bertanggung jawab 
memelihara kebersihan emperan rumah atau bangunan masing-masing. Penduduk Ubud, 
Bali, lebih maju dengan mengolah limbah menjadi bio gas energi untuk memasak 
dan penerangan rumah.

Masih banyak contoh yang bisa dikutip untuk menunjukkan kesediaan masyarakat 
aktif berperan serta mengelola sampah, memelihara keasrian lingkungan hidup. 
Penting menjadikan program pengelolaan sampah dengan lima prinsip suatu gerakan 
masyarakat. Prinsip-prinsip ini bisa diperluas dengan mengelola limbah sanitasi 
jamban keluarga. Namun perlu diingat, tiap usaha lingkungan merupakan 
perjuangan jangka panjang yang memerlukan mentalitas pelari maraton, tahan 
napas, dan tidak bosanan untuk waktu lama. Sasaran jangka panjang harus tetap 
dipegang dan program jangan senantiasa ganti haluan dengan perubahan pimpinan. 
Maintenance of objective adalah pegangan manajemen utama.

Dalam memperjuangkan sasaran lingkungan, penting memberi inspirasi pada 
konstituen pendukung gerakan ini. Dalam memimpin gerakan lingkungan, apalagi di 
bidang "kotor" seperti pengelolaan sampah, usaha ini tidak cukup dilaksanakan 
dengan rasio tetapi harus diikuti komitmen

Profesor Hasan Purbo telah tiada. Namun, semangat beliau menanggulangi sampah 
dan kemiskinan tetap menyala tinggi di balik cita-cita luhur "hidup dari 
sampah", membangun kegunaan dari barang terbuang.

Emil Salim Mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke