Mas Bagong,
---- Original Message ----- From: "Mas Bagong" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Thursday, June 23, 2005 6:31 PM Subject: Re: [ppiindia] Re: Dikuras Asing (tanggapan untuk Mas Bagong alias DG) (tanggapan balik) > > Tolong anda baca pendapat saya diatas (yang berada tepat diatas pendapat > > anda ini). Saya mengatakan dengan jelas bahwa harus dilakukan perombakan > > sistem dan mekanisme untuk mengontrol kinerja dan manajemen PERTAMINA. Baca > > dong mas.... (jangan asal nanggapi doang....) > > > DG: Justru saya menanggapi ini setelah membaca semua tulisan anda lho > bung Jopie; nah ini tidak saja masalah teknis, tetapi justru bicara > mengenai kondisi sosial manusia yang sekarang lagi pada pegang > kekuasaan... Coba dilihat lagi jawaban saya, kalau kondisi masih > seperti sekarang, artinya pemegang kekuasaan (termasuk yang di > perusahaan negara) masih kayak gini, pikirannya hanya bagaimana cara > balik modal jabatan atau bagaimana mendapatkan keuntungan dari suatu > jabatan, maka sia-sialah segala fasilitas yang diberikan... Ingat lho > bung, Pertamina ini sudah memonopoli urusan minyak sejak mula > didirikan... Tapi apakah hasilnya? Saya ingat sekitar 4 tahun lalu > sewaktu saya ikut proses seismik di sekitar prabumulih, bagaimana > jalanan dari Prabumulih ke Pendopo (tempat pertamina menambang minyak > ) masih nggak karuan jauh dengan jalanan di Timika ke Kuala Kencana > yang dikelola Freeport... Ini baru soal masalah jalan, belum lagi > pengolahan limbah atau sistem HSE-nya... Persoalan monopoli, tidak adanya pembangunan fasilitas transportasi dan ragam persoalan yang muncul --manakala PERTAMINA menjadi pihak pengelola-nya-- tersebut menjadi titik pembenahan. Bukan lantas menyerahkan pengelolaannya ke tangan Perusahaan asing..... > > Itu sebuah pernyataan dari saya buat pemerintah sebagai sebuah solusi ektrem > > dalam mengatasi berbagai persoalan kebangsaan. Why not? Lihat perkembangan > > terakhir di Venezuela dan Bolivia. Saat Presiden Hugo Chavez dengan dukungan > > rakyat Venezuela dengan tegas dan lugas mengecam praktek kebijakan Ekonomi > > dan Politik USA, dan menolak program Privatisasi yang diajukan IMF dan Bank > > Dunia. Salah satu kebijakan Hugo Chavez yang akan segera dijalankan adalah > > menasionalisasi semua aset-aset asing. Lihat juga bagaimana rakyat di > > Bolivia yang mendesak Pemerintah-nya untuk menasionalisasi Perusahaan > > pertambangan seperti Repsol, British Petroleum, Total Fina, Enron, Shell, > > Petrobras dan lainnya. > > Kesimpulannya : Program Nasionalisasi bukanlah sesuatu yang tidak mungkin di > > masa sekarang. > DG: Bung, orang Venezuela atau Bolivia mendukung pemerintahnya karena > sebagian besar mereka percaya penuh pada pemimpinnya sebagaimana Kuba > atau China; laha kalau kita? Boro-boro mas... Pemimpinnya aja masih > nggak karuan begitu... Mau maksain dan 'gambling'? ya silakan aja, > tetapi ingat lho nasib 200 juta penduduk Indonesia? 200 juta orang populasi penduduk Indonesia merupakan sebuah potensi untuk melakukan perubahan, bukan malah mengkhawatirkan nasib-nya. Daripada melihat sekitar 150 juta orang hidup dibawah garis kemiskinan sementara kekayaan alamnya dibawa lari keluar negeri oleh perusahaan-perusahaan asing. Anda bisa bayangkan busung lapar menyerang Riau yang memiliki kekayaan alam sangat besar. Ironis kan??? Kemana hasil eksploitasi minyak Riau kalau tidak dibawa ke negeri Paman Sam???? > > Pendapat anda diatas ini yang paling menggelitik buat saya......... Apakah > > kekayaan ALAM Indonesia yang dieksploitasi tidak sebanding dengan Investasi > > jutaan dollar tersebut? Apakah mereka bisa berinvestasi dan melipatgandakan > > keuntungan tanpa didukung cadangan MIGAS yang terkadung didalam perut bumi > > Nusantara? Logika sederhananya begini (biar anda dapat mencernanya) : > > Perusahaan asing membawa "MODAL" dan Pemerintah Indonesia memberikan Sumber > > Daya Alamnya. Sampai disini Logikanya "IMPAS". > > Selanjutnya, siapa yang harus menanggung beban kerusakan daya dukung > > lingkungan (darat dan laut) pasca penutupan tambang? Berapa dana yang harus > > dikeluarkan untuk merehabilitasi kerusakan lahan disekitar areal eksploitasi > > pertambangan? > > > DG: Kalau bicara IMPAS, maka dari kacamata teori ya nggak berlaku dong > mas, mana ada orang berusaha cuma sampai BEP doang? Mereka tentu akan > mencari untuk supaya bertahan hidup, supaya bisa melanjutkan bisnis > dan mendapatkan explorasi di tempat lain, memangnya explorasi biayanya > murah? Mahal mas, bahkan jauh lebih mahal daripada exploitasi! > Kalau bicara kerusakan alam, silakan sekali-kali anda jalan-jalan ke > tambang yang dikelola orang asing dengan yang dikelola pengusaha > republik deh... (paling mudah lihatlah tambang-tambang batubara di > Kalsel sana...) Saya sudah saksikan sendiri bagaimana tingkat kerusakan ekologi yang dilakukan perusahaan pertambangan PT.KEM dan KPC (anak perusahaan Rio Tinto) di Kalimantan Timur. Begitu juga yang terjadi di Kalimantan Selatan oleh beberapa perusahaan pertambangan milik Indonesia. Tidak ada beda sama sekali! Tapi catatan untuk Kalsel (mengkonfrontir pernyataan anda) : Sebagian besar perusahaan pertambangan yang beroperasi adalah anak perusahaan Maskapai-maskapai pertambangan raksasa seperti Rio Tinto, Indomuro Kencana (100% saham dimiliki oleh Aurora Gold dari Australia), PT Arutmin (sahamnya dikuasai oleh BHP - Broken Hill Propetiery - asal Australia). Semua perusahaan-perusahaan diatas mempunyai deretan dosa ekologi dan konflik dengan masyarakat sekitar pertambangan. Saya punya data-data dosa perusahaan tersebut. Anda seolah-olah mau mengatakan bahwa pengelolaan pertambangan oleh perusahaan asing lebih ramah lingkungan dan mampu mendongkrak tingkat kesejahteraan rakyat. NONSEN bung! > > Pengalaman selama ini dari berbagai operasi pertambangan (bukan hanya MIGAS) > > membuktikan bahwa keuntungan yang masuk ke KAS pemerintah Indonesia dari > > total produksi pertambangan sangat minim. Kasus Freeport di Papua, Inco di > > Soroako, Caltex di Riau, Newmont di Minahasa dll memberi gambaran potret > > buram dunia pertambangan di Indonesia. Ternyata pertambangan tidak membawa > > manfaat yang berarti buat rakyat Indonesia, apalagi buat masyarakat > > disekitar lokasi pertambangan. Tapi mungkin berbeda pandangan dengan > > "orang-orang Indonesia" yang tercatat sebagai karyawan Perusahaan > > pertambangan, yang mendapat berbagai fasilitas penunjang kehidupan duniawi. > > Anda mungkin salah satu-nya..... Ini Perspektif pertambangan secara umum > > untuk MENJAWAB LOGIKA INVESTASI YANG ANDA SAMPAIKAN. > > > DG: Coba anda lihat apa juga yang telah diberikan perusahaan negara > kepada rakyat di sekitarnya... Coba anda bandingkan kehidupan rakyat > di sekitar tambang yang dikelola perusahaan asing dengan yang dikelola > perusahaan domestik deh.... SIlakan hitung perputaran uang yang > digunakan mereka... Apakah kami yang pekerja ini yang membuat sengsara > rakyat sekitar tambang? > OK, saya ada cerita nyata sewaktu saya ikut proyek eksplorasi seismik > di salah satu wilayah di sumatera; ini dilakukan oleh suatu perusahaan > besar AS di Indonesia. Waktu itu kami membuka lowongan untuk pekerja > di proyek ini. Bos saya waktu itu mengatakan harus 70% orang lokal > sisanya baru orang Jakarta atau tempat lain. Posisi yang dibuka adalah > mulai dari operator hingga junior engineer. Tahu apa yang terjadi? > Orang lokal semuanya maunya menjadi 'clerk', 'security' dan 'driver', > begitu ditawari operator mereka ogah dan hanya sebagian kecil saja > yang mau... Padahal kalau mereka mau jadi operator maka secara jangka > panjang mereka untung, karena begitu proses eksplorasi drilling dan > eksploitasi merekalah yang akan dipakai karena pengalaman sudah ada. > Apa iiya proyek nggak jadi karena tak punya operator? Jadilah terpaksa > 'impor' tenaga operator dari daerah lain! Apakah ini masih salah? > Kalau ini masih dianggap salah, lalu mana yang benar? Tahukah anda > sewaktu kami membuat proyek di sana, semua alat kecuali yang tidak > diproduksi di INdonesia semuanya memakai leveransir atau distributor > lokal! MUlai dari mobil hingga kue snack untuk coffee break! Masih > salah lagi? Untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat sekitar pertambangan bukan dengan cara pembukaan lapangan kerja yang berbasis skill. Mereka tidak mempunyai skill. Gak bisa dong! Itu satu problem terbesar dari beroperasinya pertambangan. Karena akan merubah corak produksi masyarakat, misalnya dari bertani ke pekerja teknis diareal-areal pertambangan. Bukan juga dengan cara menyusun program Community Development yang memaksa masyarakat secara halus untuk memuluskan proses eksploitasi. Tapi mau kah perusahaan tambang mengelokasikasi sekian persen kepemilikan saham-nya ke masyarakat sekitar pertambangan??? Kepemilikan saham yang bersifat kolektif bukan individu ini yang sejatinya dapat mendongkrak kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. > > Yang tidak logis dan rasional itu siapa? Anda menyampaikan pendapat dalam > > persfektif tekhnokrasi. Tapi tidak menyentuh aspek Sosiologis dan Antrologis > > ketika berbicara Pertambangan. Apakah ketika perusahaan pertambangan akan > > menentukan titik eksplorasi sampai proses eksploitasi tidak menyentuh aspek > > sosiologis dan antropologis??? Saya kira orang-orang seperti anda hanya > > dibutuhkan saat proses eksploitasi dan produksi saja... tapi tidak saat > > merumuskan AMDAL-nya....he....he.......Just Kidding. > > > > Penolakan saya TIDAK berpijak pada sisi NASIONALISME SEMPIT, melainkan dari > > sisi yang ideologis yakni PENOLAKAN TERHADAP AGENDA-AGENDA > > NEOLIBERALISME............. > > > DG: Kalau bicara kerusakan sistem sosial atau hubungan kemasyarakatan, > kembali lagi silakan lihat langsung aja masyarakat sekitar tambang; > di mana-mana mas setiap tambang berdiri tentu akan 'cultural shock' > yang akan terjadi, entah itu dikelola asing atau domestik....Nggak > percaya silakan anda cek kalau nggak salah tahun 2000 pernah ada > seorang pejabat perusahaan pelat merah mati di atas perut perempuan > yang bukan istrinya!... Atau anda cek deh berapa banyak pejabat > perusahaan pelat merah yang punya 'gendhakan' atau 'simpanan'.... > Melawan neoliberalisme tidak dengan frontal begitu mas... LIhat apa > yang terjadi dengan sistem sosialis... atau komunis... Neoliberalisme > hanya dapat dilawat dengan fondasi ekonomi nasional yang kuat yang > berakar kepada kerakyatan atau dalam bahasa lain yang langsung > memberikan kontribusi langsung kepada rakyat, silakan anda baca > pemikiran Bung Hatta kalau soal ekonomi deh, kayaknya pas untuk tujuan > anda yang melawan neoliberalisme itu.... Inilah salah satu problem beroperasinya pertambangan, yang merombak nilai-nilai sosial dan kultural masyarakat disekitar lokasi pertambangan. Misalnya, maraknya prostitusi, kawin kontrak, menyebarnya virus HIV dll. Saya sudah saksikan sendiri dibeberapa tempat, misalnya Soroako, Pomalaa, Meratus dan beberapa tempat di Kaltim... termasuk di buyat dan NTB... Salam, Jopi > Tabik... > -- > Dafit Goenito > > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

