Refleksi: Pertamina harus dibersihkan dari lintah darah, wampir dan komparador untuk bisa sehat dan berfaedah. Lain dari pada itu hanya dongeng belaka!
http://www.suarapembaruan.com/News/2005/06/24/index.html SUARA PEMBARUAN DAILY Tajuk Rencana Pertamina vs PLN, Rakyat Sengsara KRISIS bahan bakar minyak (BBM) membawa dampak yang luas. Tak hanya keharusan antre berjam-jam untuk mengisi bensin, masyarakat pun dihadapkan pada kemungkinan tidak dapat menikmati listrik secara normal akibat pemadaman bergilir. Penyebabnya, sejumlah pembangkit listrik milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang menyuplai listrik Jawa dan Balik terpaksa berhenti beroperasi karena kekurangan pasokan BBM. Sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU), masing-masing di Grati (Jawa Timur), Tambak Lorok (Jawa Tengah), dan Gilimanuk (Bali), sempat terganggu operasionalnya akibat ketiadaan BBM. Pasokan listrik di Pulau Jawa dan Bali pun mengalami defisit hingga 700 megawatt. Kabar terakhir, PLTGU Muara Tawar, Jakarta, terancam berhenti beroperasi juga akibat tiadanya BBM. Parahnya, Pertamina menolak permintaan PLN untuk mempercepat pengiriman BBM. Alasannya, PLN masih berutang cukup banyak ke Pertamina, sehubungan dengan pembelian BBM di waktu lampau. KENYATAAN tersebut tentu sangat merisaukan masyarakat. Fungsi-fungsi pelayanan publik yang diemban oleh Pertamina dan PLN, masih belum bisa terlepas dari pertimbangan bisnis. Urusan utang-piutang menjadi ganjalan, meski kedua badan usaha itu sama-sama dimiliki pemerintah. Bagi PLN, ketersediaan BBM menjadi urusan yang sangat penting. Hal itu mengingat hingga saat ini, BBM masih menjadi sumber energi utama di pembangkit-pembangkit listrik yang ada. Akibatnya, biaya yang mesti ditanggung PLN untuk pengadaan BBM pun sangat besar, apalagi di saat harga minyak dunia yang terus melambung. Diperkirakan, porsi biaya BBM mencapai 64 persen dari keseluruhan biaya energi yang dikeluarkan PLN setiap tahun. Sementara biaya untuk energi menyedot 40 persen dari total biaya operasional PLN per tahun. Kondisi keuangan PLN yang kembang-kempis, memaksanya untuk berutang kepada Pertamina. Di sisi lain, hal itu pun mempengaruhi kinerja Pertamina yang juga kesulitan uang. Kelangkaan BBM jelas menyudutkan posisi Pertamina. Tiadanya dana untuk pengadaan BBM menjadi alasan klasik yang dikemukakan. Lambatnya pencairan dana subsidi dari pemerintah menjadi kambing hitam. Meski akhirnya pekan lalu dana itu cair, namun toh tetap terlambat. Kelangkaan minyak telanjur terjadi di sejumlah wilayah. Namun, kondisi stok BBM masih belum aman. Pertamina harus pandai-pandai mengelola stok yang ala kadarnya, di tengah ketiadaan dana. Akibatnya, hitung-hitungan bisnis menjadi alat utama. Ada uang, ada BBM. Itulah yang terjadi dalam hubungannya dengan PLN. Pada akhirnya PLN pun akan berkilah untuk memadamkan listrik dengan alasan ketiadaan BBM. KISAH tersebut adalah kenyataan pahit yang ternyata masih harus terjadi di negara kita, yang tak lama lagi berusia 60 tahun. Manajemen sumber daya tak mampu diciptakan secara efektif oleh pemerintah. Dua BUMN yang meme- gang peran sangat vital bagi masyarakat, yak- ni PLN dan Pertamina, dibiarkan dalam kon- disi tak menentu, dan mengarah pada keterpurukan. Kesulitan keuangan yang tak jelas kapan akan berakhir, jelas mengancam fungsi-fungsi pelayanan publik yang diemban. Baik PLN dan Pertamina, kini terperangkap dalam kondisi yang mahapelik. Dalam kondisi darurat seperti itu, rasanya tidak tepat apabila pemerintah tetap membiarkan cara penyelesaian dilakukan ala kadarnya, sesuai prinsip-prinsip bisnis mengingat keduanya berstatus persero. Pemerintah perlu intervensi kebijakan, agar fungsi pelayanan publik dapat pulih seperti sedia kala. Last modified: 24/6/05 [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

