Mudah"an gak bosan dengan topik korupsi, hukuman tegas, 
nasib wong cilik.. hiks..

Wassalam,

Irwan.K

====
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=203353&kat_id=19

Rabu, 29 Juni 2005

Ikan Busuk dari Kepalanya

Ini berita dari Malaysia. Pekan lalu, Perdana Menteri Abdullah Ahmad
Badawi yang juga Ketua United Malays National Organisation (UMNO)
menonaktifkan Menteri Teritori Federal, Isa Samad. Isa dituduh
terlibat korupsi karena menyuap delegasi partai berkuasa itu untuk
mendapatkan jabatan wakil presiden UMNO. Dewan Kedisiplinan UMNO
memutuskan Isa diskors selama enam tahun dan diberi waktu 14 hari
untuk banding. Jika bandingnya ditolak, dia harus meninggalkan jabatannya.

Di sejumlah negara, pemecatan terhadap pejabat dan bahkan pimpinan
partai yang sedang berkuasa karena terlibat korupsi, bukanlah suatu
yang mengejutkan. Semasa Cina dipimpin Zhu Rongji, sejumlah pejabat,
pimpinan Partai Komunis Cina, polisi, hakim, jaksa, dan juga bankir
dihukum mati setelah terbukti korupsi. Zhu membuktikan benar
kata-katanya: Sediakan seratus peti mati, sembilan puluh sembilan
untuk koruptor, satu untuk saya apabila saya korupsi.

Zhu dikritik. Amnesti Internasional mengecam dan menuduh Zhu melanggar
hak asasi manusia. Tapi, Zhu tak mundur. Rakyat yang sudah sangat muak
terhadap para koruptor --terutama koruptor yang suka bersembunyi dalam
baju partai-- mendukung Zhu. Bagi Zhu, kepentingan rakyat jauh lebih
utama daripada menanggapi teriakan dari mereka yang tak tahu apa-apa.
Pemerintah Cina juga membuat peraturan yang mengharuskan pejabat
melapor ke atasannya jumlah uang yang dibawa jika bertugas ke luar
negeri. Ini setelah diketahui sekitar 4.000 pejabat membawa lari lebih
dari Rp 600 miliar hasil korupsi ke luar negeri. Pemimpin yang
bertanggung jawab memang harus bersikap dan memiliki karakter kuat.
Zhu dan Badawi melakukan itu, tak peduli jika harus menghukum teman
sendiri, juga para menteri --pejabat-pejabat yang mestinya jadi
panutan rakyat. Keduanya paham betul pepatah kuno: Ikan tidak busuk
dari ekornya, melainkan dari kepalanya.

Kita telah banyak membuang waktu, meski tidak ada kata terlambat untuk
kebaikan. Presiden silih berganti setelah reformasi, baru kali ini
pemerintah serius menangani penyakit busuk ini. Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono sedang menjadikan dirinya sebagai sapu membersihkan
rumah yang sangat kotor. Sampah bertumpuk hampir di semua sudut.
Namun, harus ada skala prioritas: Membersihkan halaman rumah lebih
dahulu, ruang tamu, ruang makan, kamar, atau dapur? Gairah
pemberantasan korupsi yang mulai muncul, jelas harus didukung semua
kekuatan. Ini karena pilihan hanya tinggal dua: Memberantas korupsi
dengan sangat keras atau membiarkan bangsa ini jatuh ke lubang sangat
dalam bahkan tanpa dasar?

Namun, gairah yang menggebu tidak cukup. Apabila tidak terencana, ia
bahkan bisa menjadi tidak terkendali. Setelah kasus Bank Mandiri,
sejumlah pengusaha dan bankir mulai dilanda kekhawatiran menentukan
kebijakan, bukan karena mereka terlibat dalam permainan kotor dan
busuk, tapi ada perbedaan perspektif dan penafsiran dengan auditor dan
penegak hukum, sehingga mereka mudah terjerat pasal-pasal antikorupsi.
Ikan busuk memang dari kepalanya, bukan dari ekornya. Pemberantasan
korupsi dipercaya efektif dari atas. Tapi, rakyat sehari-hari telah
memakan ekor ikan yang busuk: Oknum polisi memalak pelapor dan
melindungi penjahat, jaksa masih dapat disogok, ada hakim memutuskan
dengan pertimbangan uang, petugas jalan raya mengutip uang dari
sopir-sopir miskin. Banyak lagi yang menghimpit rakyat. Sehari-hari
seperti itu, tidak ada pilihan, kecuali terpaksa memakan ikan busuk.
(Asro Kamal Rokan )





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke