http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/30/opini/1852046.htm
Busung Lapar dan Disinformasi
Oleh: AGUS Sudibyo
Busung lapar dan gizi buruk tiba-tiba mengentak kesadaran kita. Di negeri yang
katanya gemah-ripah loh jinawi ini lima juta anak menderita kurang gizi,
ratusan ribu lagi menderita gizi buruk. Bahkan, sudah 49 anak balita meninggal
dunia karena busung lapar.
Mengapa terjadi? Akarnya adalah kemiskinan,kata Menko Kesra Alwi Shihab.
Jawaban yang standar dan tidak elaboratif sehingga pertanyaan itu menjadi tidak
menarik untuk dibahas. Maka kita perlu mengajukan pertanyaan lain, Mengapa
bencana itu tidak segera dikendalikan? Siapa yang bertanggung jawab
mengendalikan?
Bisa diprediksi
Kemiskinan adalah sesuatu yang bisa diprediksi. Krisis ekonomi berkepanjangan
sejak 1997 dengan sendirinya akan berdampak pada meningkatnya tingkat
kemiskinan. Persoalannya, sejauh mana antisipasi kita terhadap masalah-masalah
sosial akibat kemiskinan itu?
Dalam konteks inilah kita mesti mengatakan, merebaknya kasus busung lapar
belakangan adalah cermin kegagalan pemerintah dalam menyelesaikan
masalah-masalah publik terkait problem kemiskinan. Atau bisa jadi pemerintah
lalai dalam menentukan prioritas karena pada saat sama pemerintah berencana
menyalurkan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebesar Rp 60,4
triliun.
Menarik disimak, pemerintah merasa terganggu oleh pemberitaan pers soal busung
lapar. Pemerintah menganggap pers telah menyebarkan informasi yang berlebihan.
Pertanyaannya, apakah pemerintah mempunyai dan menyebarkan data-data memadai
tentang kasus busung lapar sehingga disinformasi tidak terjadi?
Kasus busung lapar dan gizi buruk itu refleksi sistem informasi yang tidak
berjalan, ungkap Prof Budi Utomo, peneliti dari Pusat Penelitian Kesehatan
Sejahtera Universitas Indonesia (Tempo, 26/6/2005).
Masalah kunci kasus busung lapar adalah sistem informasi kesehatan masyarakat.
Pemerintah mungkin menyangkal kesimpulan ini. Versi pemerintah, kasus busung
lapar tahun ini tidak luar biasa. Dengan busung lapar 300 kasus di tiap
provinsi, masih lebih rendah dari tahun lalu (1.500 kasus di tiap provinsi).
Lalu bagaimana menjelaskan 49 anak balita yang mati?
Andai pemerintah jauh-jauh hari menyebarluaskan data-data busung lapar, andai
saja kasus busung lapar menjadi wacana publik sejak awal, mungkin jatuhnya
korban bisa dieliminir.
Namun, di sinilah kelemahan kita. Budaya keterbukaan informasi belum menjadi
bagian integral sistem birokrasi pemerintahan kita. Maka yang terjadi kemudian,
disinformasi. Informasi yang amat penting berkaitan hajat hidup orang banyak
mungkin akan ditutup-tutupi dengan pertimbangan untuk melindungi citra
kekuasaan atau untuk alasan politis tertentu.
Informasi macet
Sementara di lapangan kasus sudah terjadi, korban sudah berjatuhan. Tak pelak,
pers tergerak memberitakan, dengan menggali informasi sendiri. Pada proses
inilah kadang terjadi penyebarluasan informasi yang kurang akurat. Tiadanya
informasi dari pemerintah dihadapkan dengan fungsi pengawasan sosial pers untuk
memberi peringatan sesegera mungkin kepada publik.
Publik tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dikerjakan pemerintah.
Yang publik tahu, begitu banyak saudara, khususnya di wilayah timur, yang hidup
di bawah standar kemiskinan, dengan gizi buruk.
Menariknya, bukan hanya akses informasi dari publik ke pemerintah yang macet,
namun akses antarlembaga pemerintah itu sendiri. Tiadanya arus informasi soal
busung lapar membuat instansi-instansi terkait sulit mengambil tindakan yang
diperlukan. Busung lapar lebih disebabkan oleh koordinasi yang macet, kata
Sumedi Andono Mulyo, Kepala Subdirektorat Pembangunan Daerah Tertinggal
Bappenas (Kompas, 26/6/2005).
Mendengar pernyataan ini, kita perlu bertanya lagi kepada pemerintah, faktor
mana yang lebih menonjol dalam wabah busung lapar, kemiskinan atau disinformasi
dan miskoordinasi dalam tubuh pemerintah sendiri?
Agus Sudibyo, Koordinator Lobi Koalisi untuk Kebebasan Informasi
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/